NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Retakan Tersembunyi di Balik Awan Beku

​Gema dari pukulan gong perunggu itu masih mengalun di udara, namun suasana di Alun-Alun Pualam Putih terasa seperti telah ditarik ke dalam ruang hampa. Ribuan pasang mata menahan napas. Angin musim semi yang berhembus melewati arena raksasa itu seolah enggan bersuara.

​Di atas panggung pualam seluas lima puluh tombak persegi, dua dunia yang saling bertolak belakang akhirnya berdiri berhadapan.

​Di sisi timur, Lin Feng berdiri dengan keanggunan seorang pangeran langit. Jubah sutra birunya tidak menyentuh debu, tertopang oleh lapisan tipis Qi murni yang memancar dari tubuhnya. Fluktuasi Lapisan Keenam Kondensasi Qi miliknya menekan udara di sekitarnya, menciptakan hawa dingin yang membuat embun di ujung-ujung arena langsung membeku.

​Di sisi barat, Shen Yuan berdiri layaknya sebuah batu karang tua yang telah dihantam ombak ribuan kali. Pakaian raminya yang kasar dijahit asal-asalan, mengeluarkan bau herba murahan yang kontras dengan aroma dupa dari lawannya. Ia tidak memancarkan aura megah. Qi-nya terkunci rapat di Lapisan Keempat, terlihat redup dan rapuh di bawah bayang-bayang kekuatan Lin Feng.

​"Aku selalu membenci bau kotoran dari pelataran pelayan," ucap Lin Feng memecah keheningan. Ia perlahan menarik tangan kanannya dari balik lengan jubah. "Tapi hari ini, aku akan membuat pengecualian untuk membersihkan kotoran itu sendiri."

​Shen Yuan menekan ujung topi bambunya sedikit ke bawah. "Tuan Muda Lin terlalu banyak berbicara tentang kebersihan, namun lupa bahwa bunga terindah pun tumbuh dari tanah yang kotor. Silakan."

​Sebuah urat biru menonjol di pelipis Lin Feng. Kesabarannya terhadap kelancangan pelayan ini telah habis.

​"Mati!"

​Lin Feng tidak mengambil kuda-kuda. Ia hanya mengayunkan lengan bajunya dengan elegan. Seketika, energi Qi Lapisan Keenam yang berwarna biru es meledak, memadat di udara membentuk sebuah telapak tangan raksasa tembus pandang. Suhu udara anjlok drastis.

​Telapak Awan Beku!

​Ini adalah teknik bela diri tingkat menengah yang telah disempurnakan oleh keluarga Lin. Telapak es itu melesat melintasi arena dengan kecepatan kilat, meninggalkan jejak embun beku di lantai pualam. Tekanannya cukup untuk meremukkan tulang rusuk sepuluh orang dewasa secara bersamaan.

​Bagi penonton, serangan pembuka ini sudah cukup untuk mengakhiri nyawa seorang kultivator Lapisan Keempat. Li Mu di pinggir arena menutup wajahnya dengan kedua tangan.

​Namun, di mata Shen Yuan, telapak raksasa itu penuh dengan celah.

​Besar, namun tidak padat. Terlihat menakutkan, namun esensinya menyebar ke segala arah, analisis Shen Yuan berputar dalam sepersekian detik. Ia bisa dengan mudah menghindarinya menggunakan Langkah Penghancur Bayangan, namun menghindar berarti ia memberi Lin Feng ruang untuk serangan berikutnya.

​Maka, Shen Yuan tidak mundur selangkah pun.

​Ia membumikan kedua kakinya. Benih Hitam di dalam Dantian-nya berputar sekilas, memompa setetes energi emas gelap murni ke dalam otot-otot dadanya dan lengannya, memperkeras pertahanan fisiknya hingga melampaui baja.

​Shen Yuan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menerima hantaman telapak es itu secara langsung.

​BLLAAARRR!!!

​Ledakan energi es memecah keheningan alun-alun. Kabut putih sedingin es meledak ke segala arah, menutupi radius tiga tombak di sekitar titik benturan. Serpihan es berterbangan, menyayat udara dengan suara desingan tajam.

​"Hah! Bodoh sekali! Dia mencoba menahan serangan Tuan Muda Lin dengan tubuhnya!" seru Lin Hai dari paviliun penonton, tertawa girang. "Tulangnya pasti sudah menjadi serbuk es sekarang!"

​Di tribun kehormatan, Tetua yang mengawasi pertandingan hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Keberanian yang bodoh tidak bisa menggantikan perbedaan ranah."

​Lin Feng menurunkan tangannya, senyum mengejek menghiasi wajahnya. Ia bahkan tidak perlu menggunakan pedangnya untuk membunuh serangga.

​Namun, angin perlahan menyapu kabut es di tengah arena.

​Senyum di wajah Lin Hai dan Lin Feng seketika membeku. Ribuan penonton menahan napas panjang, mata mereka membelalak tidak percaya.

​Di tengah lantai pualam yang kini tertutup lapisan es setebal satu inci, Shen Yuan masih berdiri di tempatnya.

​Kedua lengannya masih tersilang di depan dada. Lengan baju raminya telah hancur sepenuhnya, memperlihatkan otot-otot lengannya yang terdefinisi dengan sempurna, berkilat bagaikan logam kelabu di bawah sinar matahari. Ada lapisan es tipis yang menutupi kulitnya, dan beberapa luka goresan kecil yang meneteskan darah, namun ia tidak hancur. Ia bahkan tidak mundur dari garis pijakannya semula.

​Shen Yuan menurunkan kedua lengannya perlahan, membiarkan serpihan es berjatuhan dari tubuhnya dengan bunyi gemerincing. Ia menatap telapak tangannya sendiri, mengepalkan dan membukanya beberapa kali, lalu menatap lurus ke arah Lin Feng.

​"Dinginnya... kurang menggigit, Tuan Muda Lin," ucap Shen Yuan datar. "Apakah Anda lupa sarapan pagi ini?"

​GILA! Umpatan itu bergema dalam benak setiap murid luar yang menonton. Seorang pelayan Lapisan Keempat baru saja menerima serangan mematikan Lapisan Keenam secara langsung, dan ia masih bisa berdiri sambil melontarkan ejekan?!

​Wajah Lin Feng yang setampan giok kini berubah menjadi merah padam. Harga dirinya sebagai seorang jenius diinjak-injak di depan para Tetua. Ia merasa ditampar oleh kenyataan bahwa kekuatannya tidak bisa menghancurkan seekor semut dalam satu pukulan.

​"Kau mencari mati dengan cara yang paling menyakitkan, Pelayan!" raung Lin Feng, kehilangan seluruh keanggunannya.

​Sring!

​Lin Feng menarik pedang panjang dari pinggangnya. Bilah pedang itu memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Itu adalah Pedang Bintang Jatuh, pusaka tingkat menengah milik keluarga Lin. Begitu pedang itu dicabut, hawa membunuh yang pekat menyelimuti arena.

​"Aku akan memotong anggota tubuhmu satu per satu!"

​Lin Feng melesat maju. Kecepatannya jauh melampaui Lu Chen. Ia tidak lagi menggunakan serangan jarak jauh yang menyebar. Ia memfokuskan seluruh Qi Lapisan Keenamnya ke ujung bilah pedangnya.

​Seni Pedang Awan Beku: Tebasan Membelah Gunung!

​Lin Feng melompat ke udara, pedangnya diayunkan dari atas ke bawah. Tekanan dari tebasan itu begitu kuat hingga lantai pualam di bawah Shen Yuan mulai retak bahkan sebelum pedang itu menyentuhnya.

​Ini bukan lagi serangan main-main. Ini adalah teknik pembunuh mutlak.

​Di bawah bayangan pedang yang mematikan itu, mata Shen Yuan berubah menjadi setajam pisau algojo. Waktu bermain-main telah usai. Menahan serangan fisik adalah satu hal, namun menahan tebasan pusaka tingkat menengah dengan daging adalah kebodohan.

​Logika Shen Yuan berpindah gigi. Dia membawa pedang. Aku hanya punya sepasang tangan. Jika aku mundur, dia akan terus menekan. Maka... hancurkan saja pedangnya.

​Shen Yuan mengambil kuda-kuda setengah jongkok. Ia tidak mengaktifkan Qi untuk melindungi tubuh bagian luarnya—itu akan membongkar kultivasi Lapisan Keenamnya. Alih-alih demikian, Benih Hitam di Dantian-nya berputar dengan kegilaan absolut.

​Energi emas gelap yang maha berat ditarik dengan paksa, dipompa, dan dimampatkan langsung ke dalam sumsum tulang lengan kanannya.

​Ssssshhhh!

​Pembuluh darah di lengan kanan Shen Yuan menonjol keluar, berwarna nyaris kehitaman akibat kompresi energi purba yang ekstrem. Lengan itu terasa seperti memikul gunung besi, memanas hingga keringat di sekitarnya menguap seketika.

​Seni Tinju Runtuh Gunung.

​Tepat ketika ujung pedang perak Lin Feng berjarak dua jengkal dari kepalanya, Shen Yuan melepaskan tekanannya. Ia tidak meninju ke arah bilah tajam pedang itu, melainkan melesatkan pukulannya sedikit ke samping, menghantam tepat di bagian samping datar (badan pedang) tempat Lin Feng memusatkan aliran Qi-nya.

​BZZZZTTTT—TRAAANNNG!

​Sebuah benturan yang tidak masuk akal terjadi.

​Tinju daging beradu dengan pedang pusaka, namun bukan suara daging terkoyak yang terdengar. Suaranya adalah dentingan logam yang memekakkan telinga, disusul oleh ledakan sonik yang menyapu seluruh debu pualam keluar dari ring.

​Gelombang kejut dari benturan itu begitu dahsyat hingga beberapa murid di barisan terdepan harus menutup telinga mereka dan terhuyung mundur.

​Di tengah arena, waktu seolah membeku untuk kedua kalinya.

​Lin Feng masih berada di udara, kedua tangannya mencengkeram gagang pedangnya dengan erat. Matanya terbelalak lebar, memancarkan kengerian yang murni dan tidak tercampur.

​Di ujung pedangnya, kepalan tangan kanan Shen Yuan menempel dengan kokoh. Tangan pelayan itu berdarah, buku-buku jarinya robek meneteskan darah segar ke lantai.

​Namun... itu adalah satu-satunya luka yang ia terima.

​Dari titik di mana kepalan tangan Shen Yuan bersentuhan dengan badan pedang perak tersebut, sebuah retakan kecil berbentuk jaring laba-laba muncul.

​Mata Lin Feng menyusut. Pusaka tingkat menengah... retak oleh pukulan tangan kosong?! Sebelum otak sang jenius sempat memproses kemustahilan itu, energi destruktif dari Tinju Runtuh Gunung meledak. Kekuatan ini tidak menyebar keluar, melainkan merambat masuk ke dalam medium yang disentuhnya.

​KRAAAAK... PRYARRR!

​Pedang Bintang Jatuh kebanggaan keluarga Lin meledak menjadi puluhan serpihan logam perak di udara. Hancur lebur layaknya kaca murahan yang dihantam batu bata.

​Tidak berhenti sampai di situ, sisa gelombang kejut yang maha berat itu terus merambat menelusuri gagang pedang yang telah hancur, dan langsung menghantam kedua lengan Lin Feng.

​"ARRRGGGHHH!"

​Jeritan melengking yang belum pernah terdengar dari mulut seorang bangsawan merobek langit alun-alun.

​Kedua lengan jubah sutra Lin Feng meledak menjadi sobekan-sobekan kain. Tulang hasta dan pengumpilnya berderak patah di dalam dagingnya sendiri akibat hantaman energi tumpul yang merambat masuk. Tubuh Lin Feng terpelanting ke belakang dengan kecepatan peluru, terbang melintasi setengah arena sebelum punggungnya menghantam pilar pembatas batu hingga pilar itu retak berantakan.

​Lin Feng jatuh merosot ke lantai, memuntahkan seteguk darah segar yang mengotori sisa jubah mewahnya. Kedua lengannya terkulai lemas di sisi tubuhnya, lumpuh total.

​Arena Utama tenggelam dalam keheningan yang menyerupai kuburan. Ribuan pasang mata, para Diakon, hingga ketiga Tetua di tribun kehormatan, mematung di tempat mereka duduk. Otak mereka menolak mencerna pemandangan di depan mereka.

​Seorang Pelayan Lapisan Keempat. Menghancurkan pedang pusaka tingkat menengah. Mematahkan kedua lengan seorang Jenius Lapisan Keenam. Hanya dengan satu pukulan fisik dari tangan yang kini meneteskan darah.

​Di tengah keheningan yang membekukan darah itu, Shen Yuan berdiri perlahan. Ia menurunkan tangan kanannya yang bergetar hebat menahan rasa sakit dari Tinju Runtuh Gunung. Darah menetes dari buku jarinya, berirama dengan detak jantung kematian.

​Shen Yuan melangkah maju. Langkah kakinya terdengar sangat pelan, namun di telinga Lin Feng yang kini menatapnya dengan teror absolut, langkah itu terdengar seperti derap kaki malaikat maut.

​Shen Yuan berhenti dua langkah di depan Lin Feng yang sedang tersengal-sengal menahan sakit. Sang pelayan menundukkan pandangannya, menatap sang jenius yang kini bersujud di bawah bayangan topi bambunya.

​"Sudah kubilang, Tuan Muda Lin," bisik Shen Yuan pelan, suaranya sangat tenang, tidak ada sedikit pun nada kemenangan arogan, hanya ada kepastian hukum alam. "Pohon tertinggi pun, pada akhirnya akan menyentuh debu."

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!