Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Perut Kenyang Adalah Kunci
Mangkuk keramik cap jago itu beradu pelan.
Cekatan, tangan kapalan Sigit membilas sisa minyak wijen di pancuran sumur belakang. Matanya menatap tajam ke arah buih sabun yang luruh menyapu tanah.
Gito mengekor rapat di sebelahnya, lidahnya masih menjilat sisa gurih di sudut bibir.
Selesai mengeringkan tangan di celana gombrongnya, Sigit menarik adiknya masuk ke kamar barat.
Sinta duduk meringkuk di atas dipan, mendekap Syaiful yang perutnya membuncit kekenyangan.
Sigit berjongkok. Menarik selembar kain jarik usang, menutupi kaki telanjang Syaiful.
"Sinta, dengerin Mas." Suara Sigit ditekan serendah mungkin.
"Aku sama Gito mau cari dahan kering lagi. Kowe kunci pintu dari dalam. Nek Syaiful mau kencing, suruh kencing di pispot kaleng itu. Ojo keluar kamar."
Gadis kecil itu mengangguk cepat. Matanya menyiratkan ketakutan kental.
"Iya, Mas. Aku jagain adek."
Dua bocah laki-laki itu mengendap-endap keluar melintasi pekarangan.
Matahari siang bolong menyengat ubun-ubun. Tanah berdebu mengepul di bawah telapak kaki mereka yang tak beralas.
Baru saja mereka melewati deretan pohon pisang pembatas pekarangan Lasmi, sebuah tangan menarik kerah baju Sigit dari belakang.
Sigit nyaris melayangkan pukulan refleks kalau saja hidungnya tak mencium aroma minyak telon.
Wati berdiri terengah-engah. Istri dari paman ketiga mereka itu celingukan ke kiri dan kanan, memastikan Lasmi tidak sedang mengintai.
Tangannya merogoh tergesa ke dalam lipatan kebaya, menarik keluar dua buntalan daun pisang.
"Git... To... kowe kelaparan to, Le?" Wati menyorongkan buntalan itu. Napasnya masih ngos-ngosan.
"Iki, Bulik curi dua potong tiwul gaplek dari dandang Nenekmu. Cepat makan. Nanti malam Bulik usahain petik timun di kebon belakang."
Sigit menatap gumpalan singkong kering berwarna kecokelatan itu. Hatinya mencelos.
Di tengah neraka keluarga Priyanto, hanya Bulik Wati yang sesekali memanusiakan mereka.
Tapi memori tentang mi telur kuah kaldu yang baru saja meluncur ke perutnya terlalu kuat.
Sigit mendorong tangan Wati pelan.
"Ndak usah, Bulik. Bawa masuk lagi aja buat Bulik."
Mata Wati membelalak. "Gendeng! Nanti kowe semaput kepanasan di bukit!"
"Ibu wes masak, Lik." Gito menyela tak sabar.
"Masak mi putih keriting pakai telur mata sapi. Enak tenan. Perutku masih penuh."
Wajah Wati pias seketika. "Ibumu... masak? Sukma bisa bangun dari dipan?"
Tepat saat Wati kebingungan mencerna informasi mustahil itu, suara cempreng membelah udara panas.
"Heh, ngapain koen di situ, Mbak Wati?!" Jamilah muncul dari balik pagar bambu, mengipas lehernya dengan tampah beras. Matanya memicing sinis menatap buntalan di tangan kakak iparnya.
"Habis nyolong dari dapur Ibu, ya?"
Wati buru-buru menyembunyikan tiwul itu ke balik punggungnya. Jantungnya berdebar liar.
"Ndak, Mil! Iki... aku mau ngecek Mbakyu Sukma. Kata Sigit ibunya wes bisa masak." Wati mencari alasan.
Jamilah mendengus keras. Mencibir jijik. "Masak ndhasmu! Paling juga mau mati. Sana jenguk. Biar ketularan sial!"
Jamilah membalikkan badan, membanting tampah ke bale-bale.
Wati menghela napas panjang. Demi menghindari amukan Lasmi, langkahnya terpaksa berbelok menuju rumah bata peninggalan Sutrisno.
Bau apotek.
Itu hal pertama yang menusuk hidung Wati saat mendorong pintu kayu jati rumah bata.
Bukan bau apek keringat seperti biasanya. Aroma mint segar bercampur wangi obat menguar dari ruang tengah.
Sukma duduk bersandar di amben bambu. Wajahnya pucat, tapi bersih terawat.
Tak ada daki menempel di lehernya. Sinta dan Syaiful duduk beringsut di ujung dipan.
"Eh... Dik Wati." Sukma menoleh perlahan.
"Mbakyu... badane wes mendingan?" Wati melangkah masuk ragu-ragu. Matanya menyapu meja. Sebuah gelas seng berisi cairan kecokelatan mengepul tipis di sana.
Sukma tersenyum tipis. Sangat tipis. Tangan pucatnya mendorong gelas itu ke arah Wati.
"Duduklah, Wati. Iki, minum air gula merah. Buat anget-anget perut. Kowe lagi meteng butuh tenaga."
Wati menelan ludah. Gula merah adalah barang mewah di desa ini. Niatnya menolak lenyap seketika saat aroma manis kelapa bakar itu membelai hidungnya.
Wati menempelkan bibirnya ke ujung gelas. Hangat. Manisnya sempurna.
Syaiful di ujung dipan tanpa sadar menjilat bibirnya sendiri.
Melihat pergerakan balita itu, Sukma mengambil alih gelas dari tangan Wati. Ia meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke bibir Syaiful.
Bocah tiga tahun itu meneguknya ragu, tapi tak bisa menolak manisnya gula.
Selesai memberi minum anak bungsunya, tangan Sukma merogoh laci kayu di bawah dipan. Sebuah bungkusan koran ditarik keluar.
Kertas buram itu dibuka perlahan.
Napas Wati tercekat.
Gulungan kain katun motif bunga mawar hijau menyala terhampar di sana. Warnanya begitu pekat dan mewah, jauh dari kain-kain pudar di pasar loak kelurahan.
Tapi bukan kain itu yang membuat Wati merinding.
Sukma menarik keluar gumpalan kapas dari balik kain.
Kapas putih bersih. Selembut awan. Tanpa sebutir pun biji atau kotoran hitam yang biasa menempel pada kapas panenan desa.
Itu kapas murni kualitas pabrik dari dimensi spasial milik Sukma, dibawa langsung dari masa depan.
"Wat." Suara Sukma memecah kebisuan Wati.
"Koen lak pinter jahit. Aku... aku ndak bisa megang jarum. Tanganku gemetar."
Sukma menatap lurus ke mata Wati. Memainkan perannya dengan sempurna.
"Ini kain sama kapas sengaja ku simpan jauh-jauh hari. Dari sisa wesel Mas Trisno bulan lalu. Tolong... jahitkan jaket buat Sinta. Musim hujan sebentar lagi turun. Anak perempuanku ndak punya baju hangat satupun."
Di sudut ruangan, Sinta terkesiap. Tangan kurusnya meremas ujung baju kumalnya. Kain hijau itu... benar-benar untuknya?
Air mata Sinta tumpah tanpa aba-aba.
"Ibu..."
Syaiful yang tak mengerti apa-apa, mengikuti kakaknya menangis. Balita itu merangkak nekat, menabrakkan tubuh mungilnya ke dada Sukma.
Aroma mint menyergap hidung Syaiful. Wangi. Sangat menenangkan. Tak ada bau keringat asam atau tamparan yang menyusul.
Syaiful menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sukma.
"Iya, Nduk. Buat Sinta." Tangan Sukma membalas pelukan Syaiful. Mengusap rambut kaku bocah itu canggung.
Wati buru-buru menyeka sudut matanya yang ikut basah. "Gusti... nggih, Mbak. Sini aku yang jahit. Mumpung kandunganku belum membesar, aku masih luang. Nanti sisa kainnya aku buatkan celana kain buat Syaiful pisan."
Di balik celah jendela nako yang terbuka separuh, dua pasang mata membelalak horor.
Gito membekap mulutnya sendiri kuat-kuat. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya berdetak liar menghantam tulang rusuk.
Ibu memeluk Syaiful? Ibu mengelus rambut Sinta? Ibu memberikan kain mewah?
Ini gila. Ini tidak masuk akal.
"Mas..." bisik Gito dengan gigi bergemeretak.
"Ibu kesurupan jin penunggu sumur belakang tah?"
Sigit tak menjawab. Tangan kapalannya mencengkeram erat ambang jendela sampai buku-buku jarinya memutih pasi. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
Bukan kesurupan. Otak sembilan tahun Sigit memproses pemandangan absurd itu dengan logika hitam yang ia pelajari dari jalanan.
Wedokan iblis itu tidak mungkin berubah. Sapii saja diberi makan enak dan dielus-elus lehernya tepat sebelum disembelih di hari raya.
Makanan enak, baju baru, pelukan hangat.
"Ayo pergi." Sigit menarik kerah baju adiknya kasar. Menyeret Gito menjauh dari dinding rumah bata.
"Loh, Mas? Adik piye?"
"Dia lagi ambil hati Bulik Wati." Tatapan Sigit segelap malam.
"Dia mau jual adik-adik kita ke orang kota. Ndak ada alasan lain. Kita harus kumpulin kayu yang banyak buat dijual. Kita butuh uang buat kabur bawa Sinta sama Syaiful dari desa ini."
Matahari makin condong ke barat, memanggang ladang jagung di perbatasan desa.
Joko mengusap keringat yang membanjiri lehernya. Punggungnya serasa mau patah memanen berhektar-hektar jagung titipan tengkulak.
Karyo, pemuda desa bermulut lemes teman main Joko, duduk bersila di bawah pohon beringin. Topi capingnya dikipas-kipaskan santai ke wajah.
"Koen ki aneh, Jok." Karyo melempar batang rumput ke arah Joko.
"Makmu wes ngasih rumah bata, bojomu malah mbok bawa balik ke kandang wedus di rumah tua. Opo ndak pusing otakmu denger Jamilah ngomel tiap malam?"
Joko mendengus emosi. Disabarnya batang jagung itu ganas. "Cangkemmu! Mbakyu Sukma iku kesambet setan apa piye, mendadak berani ngancam lapor Kades. Terpaksa aku ngalah timbang urusan jadi panjang sama Mas Trisno."
Karyo terkekeh sinis. Mengubah posisi duduknya jadi bersila penuh semangat gosip.
"Eh, kowe tahu ndak? Tadi siang keponakanmu si Sigit sama Gito lewat depan kuburan bawa keranjang kayu. Kurus kering koyo mayat hidup. Wong-wong desa pada nyinyir. Neneknya sugih, tapi cucunya dibiarin kelaparan. Ibue Sukma yo ndak ngurus."
Karyo maju sedikit, memelankan suaranya.
"Jok, timbang kowe babak belur ngerjain ladang... kowe kan adiknya Sutrisno. Mas-mu iku kenal akrab sama komandan Kodim. Kenapa kowe ndak minta Mas-mu nulis surat rekomendasi ke kelurahan? Posisi Carik kan kosong bulan depan. Enak kowe leyeh-leyeh pakai seragam safari, dapat gaji bulanan."
Tangan Joko yang memegang sabit terhenti di udara.
Otaknya langsung bekerja cepat. Benar juga. Selama ini dia mengandalkan wesel Sutrisno yang dikelola Lasmi. Kalau dia bisa dapat jabatan di balai desa, Jamilah pasti diam tak banyak menuntut lagi.
"Iya juga ya, Yo..." Senyum licik perlahan mekar di wajah lelah Joko.
Sore turun membawa semilir angin sejuk.
Brukk!
Dua keranjang anyaman penuh berisi dahan pinus kering dibanting ke tanah pekarangan rumah bata.
Sigit dan Gito jatuh terduduk. Napas mereka memburu. Kaki mereka penuh goresan duri salak, berdarah mengering bercampur debu.
Target kayu bakar mereka melampaui batas hari ini. Sigit merencanakan untuk menyembunyikan sebagian di semak-semak untuk dijual esok hari.
Terdengar langkah pelan dari arah dapur luar.
Sukma melangkah keluar membawa nampan kayu. Dua mangkuk seng lusuh bertengger di sana.
Asap tipis mengepul membawa aroma pandan wangi dan manisnya gula kelapa.
"Cuci kaki kalian di sumur." Titah Sukma dingin. Matanya melirik luka di kaki anak-anak itu sekilas, tapi ia menahan diri untuk tidak langsung panik.
"Habis itu minum ini. Jangan sampai lantai rumah kotor sama tanah."
Sukma meletakkan nampan itu di bale-bale teras, lalu masuk kembali tanpa menoleh.
Gito saling pandang dengan kakaknya. Ragu.
Tapi aroma pandan itu menyiksa kewarasan. Gito berlari ke sumur, mengguyur kakinya asal-asalan, lalu melompat ke bale-bale.
Tangannya menyambar mangkuk seng yang masih panas. Bubur kacang hijau. Bukan kacang hijau keriput panenan sisa, tapi kacang montok yang pecah merekah sempurna, berendam dalam kuah santan kental yang dimasak dengan daun pandan segar dan gula batu utuh.
Gito meniupnya sekilas lalu menyeruput tepiannya.
Manis legit gula batu asli meledak di lidahnya. Menghancurkan dinding pertahanan anak tujuh tahun itu dalam hitungan detik. Sensasi hangat menyapu kelelahan ototnya tanpa sisa.
"Gusti..." Gito nyaris menangis keenakan.
"Mas... ini manis banget, Mas..."
Sigit tak bergeming. Berdiri kaku di dekat keranjang kayu. Matanya menatap tajam ke arah bubur di tangannya sendiri.
Ini bukan jatah makan orang miskin.
Di dalam kamarnya, Sukma duduk bersandar di balik pintu yang sengaja ia renggangkan sedikit.
Telinganya menangkap seruputan nikmat dari luar.
Hembusan napas lega keluar dari belah bibirnya. Langkah pertama menaklukkan trauma masa lalu. Perut kenyang adalah kunci.