NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEMURAN SUMPAH SERAPAH

Matahari Jakarta sore itu terasa lebih menyengat dari biasanya, seolah ikut memanaskan suhu hati Jingga yang baru saja mendapat teguran dari Adrian karena laporan mingguan yang dianggap ‘kurang greget’. Jingga membanting pintu apartemen dengan tenaga yang sanggup meruntuhkan pigura foto pernikahan palsu mereka di ruang tamu—yang untungnya hanya berisi foto pemandangan, karena mereka menolak berfoto berdua.

“SINTA! ANGKAT JEMURAN LU SEKARANG!” teriak Jingga tanpa melepas sepatu pantofelnya terlebih dahulu.

Hening. Tidak ada sahutan.

Jingga melongok ke ruang tengah. Kosong. Dia melangkah ke arah dapur, hanya menemukan sisa bungkus mi instan yang nampaknya dimakan Sinta sebelum berangkat kerja tadi pagi. “Dasar jorok. Cewek sinting itu bener-bener nggak ada fungsi estetikanya di rumah ini,” gerutunya sambil melempar tas kerja ke sofa.

Tiba-tiba, suara kunci diputar terdengar. Sinta masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya ditekuk habis-habisan. Dia bahkan tidak melihat Jingga yang sedang berdiri berkacak pinggang di depan TV.

“Eh, Sin! Lu budek? Itu jemuran di balkon udah kering kerontang, bisa jadi kerupuk kalau lu biarin kelamaan!”

Sinta mendongak, matanya berkilat marah. “Berisik, Jing! Gue baru balik, habis kena semprot Adrian gara-gara lu yang sengaja naruh file salah di folder sharing! Lu mau sabotase karier gue, hah?!”

“File salah apaan? Lu-nya aja yang nggak teliti baca label! Dasar emosian!”

“Lu yang mancing!” Sinta melempar tasnya ke arah Jingga, yang dengan sigap ditangkis pria itu. “Lagian, kenapa lu nyuruh-nyuruh gue angkat jemuran? Kan jadwal lu yang nyuci dan jemur tadi pagi!”

Jingga terdiam sejenak. Otaknya memutar memori subuh tadi. Benar. Karena kalah hompimpa semalam, Jingga yang bertugas mencuci baju. “Ya... ya kan gue yang nyuci, otomatis lu yang angkat dong! Itu namanya pembagian kerja yang adil!”

“Adil pala lu peyang! Aturannya siapa yang jemur, dia yang angkat!”

Sinta berjalan menuju balkon dengan langkah yang menghentak-hentak bumi. Dia menyibakkan gorden dengan kasar, membiarkan cahaya oranye kemerahan masuk ke dalam ruangan. Jingga, yang tidak mau kalah, mengekor di belakangnya.

“Lu lihat itu! Gara-gara lu jemurnya nggak rapi, kemeja mahal gue jadi kusut!” protes Jingga sambil menunjuk deretan baju yang menggantung di hanger.

“Kemeja mahal tapi otaknya murah! Minggir!” Sinta mulai menarik baju-bajunya dari jemuran dengan gerakan brutal.

Namun, di detik itulah bencana terjadi.

Saat Sinta menarik salah satu daster satin tipisnya, ada sesuatu yang tersangkut. Sesuatu yang berwarna hitam, berbahan karet elastis, dan jelas-jelas bukan milik Sinta. Itu adalah celana dalam boxer milik Jingga. Dan malangnya, kaitan renda di daster Sinta entah bagaimana sudah membelit erat kawat jemuran sekaligus karet pinggang boxer Jingga.

“Eh, eh! Jangan ditarik paksa, Sin! Robek nanti kemeja gue!” teriak Jingga panik saat melihat dasternya Sinta menarik paksa jemuran.

“Ini nyangkut, Jing! Lu jemurnya gimana sih? Kenapa celana dalem lu bisa pelukan sama daster gue begini?!” Sinta berusaha melepaskan lilitan itu, tapi jari-jarinya yang gemetar karena emosi malah membuat simpulnya makin rumit.

“Sini, biar gue yang kerjain! Tangan lu itu kasar kayak parutan kelapa!” Jingga menepis tangan Sinta dan mencoba mengurai benang renda daster yang tersangkut di kancing boxer-nya.

Posisi mereka sekarang sangat konyol. Keduanya berhimpitan di balkon sempit lantai 12. Jingga membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari tumpukan kain yang ‘bersatu’ itu, sementara Sinta menempel di punggungnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.

“Buruan, Jing! Malu kalau ada tetangga lihat!” bisik Sinta dengan nada cemas yang tiba-tiba muncul.

“Makanya diem! Lu bikin gue nggak konsen!”

“Aduh, aduh... itu daster mahal gue! Jangan ditarik gitu!” Sinta tanpa sadar memegang bahu Jingga, mendorongnya lebih dekat ke arah pagar balkon.

Tepat saat itu, suara dehaman keras terdengar dari balkon sebelah.

“Ehem! Permisi... Mas Jingga, Mbak Sinta? Lagi ngapain ya sore-sore begini kok... mesra banget di balkon?”

Keduanya membeku. Suara itu tidak asing lagi. Itu adalah suara Pak RT, pria paruh baya yang punya hobi memata-matai warga dari balkon unitnya yang hanya terpisah sekat kaca tipis.

Jingga dan Sinta perlahan menoleh dengan leher yang terasa kaku. Mereka melihat Pak RT sedang memegang segelas kopi, menatap mereka dengan kacamata yang melorot ke ujung hidung.

“Eh... ini, Pak RT...” Sinta mencoba tertawa, tapi suaranya malah terdengar seperti ringkikan kuda yang sesak napas. “Kami lagi... anu... lagi belajar teknik jemur baju yang efektif!”

Jingga langsung menimpali dengan senyum palsu paling lebar yang pernah dia buat. “Iya, Pak! Ini namanya teknik cross-linking. Biar bajunya nggak terbang kalau ada angin kencang. Kebetulan Mbak Sinta lagi nanya gimana caranya, jadi saya praktekin.”

Pak RT menyipitkan mata. “Oalah... teknik jemur baju kok sampai nempel-nempel gitu badannya? Mas Jingga itu celana dalemnya kok kayak lagi ditarik-tarik sama Mbak Sinta?”

Sinta segera menarik tangannya dari bahu Jingga seolah-olah bahu pria itu baru saja dialiri listrik tegangan tinggi. “Enggak, Pak! Ini... ini kancingnya nyangkut! Iya, kancing!”

“Ooh, kancing,” Pak RT mengangguk-angguk, meski wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan total. “Hati-hati lho ya, Mas, Mbak. Di sini banyak angin. Jangan sampai 'barang-barangnya' jatuh ke bawah. Bahaya kalau kena kepala orang di lobi.”

“Siap, Pak! Aman!” sahut Jingga cepat.

Begitu Pak RT masuk kembali ke dalam unitnya, Jingga langsung berbalik dan menatap Sinta dengan tatapan membunuh. “Lu lihat?! Hampir aja reputasi gue hancur gara-gara lu!”

“Gara-gara gue?! Lu yang jemur baju kayak orang mabuk!” Sinta menarik daster dan boxer itu dengan satu sentakan kuat.

SREEEEKKKK!

Bunyi kain robek terdengar sangat jelas di telinga mereka. Keduanya terdiam. Sinta menatap dasternya yang kini memiliki lubang besar di bagian pinggang, sementara Jingga menatap boxer-nya yang karetnya sudah melar dan kancingnya hilang entah ke mana.

“Daster gue...” gumam Sinta dengan suara bergetar. “Ini daster hadiah dari Adrian, Jingga! Lu ngerusak daster dari pacar gue!”

Jingga, yang awalnya merasa bersalah, langsung berubah jadi sinis begitu mendengar nama Adrian. “Halah, daster gitu doang. Paling beli di pasar loak. Lagian, kenapa lu pakai daster pemberian selingkuhan lu di rumah gue?”

“Adrian bukan selingkuhan! Dia pacar gue! Lu yang selingkuhan di hidup gue karena lu suami paksa!” Sinta melemparkan boxer Jingga ke wajah pria itu. “Ganti rugi! Gue mau lu ganti daster ini sekarang juga!”

Jingga menangkap celana dalamnya dengan jijik. “Ogah! Beli sendiri! Duit lu kan banyak hasil dapet bonus dari 'menjilat' si Adrian di kantor!”

“Jaga mulut lu, Jing!” Sinta melangkah maju, tangannya sudah terangkat ingin mencubit lengan Jingga.

“Apa?! Mau apa lu?! Mau manggil gue 'Jing' lagi? Di depan Pak RT tadi lu manggil gue 'Mas', kan? Jijik banget gue dengernya!”

Sinta mendengus, napasnya memburu. “Itu akting, bego! Kalau gue nggak panggil lu 'Mas', si Pak RT bakal makin curiga kenapa ada cowok dan cewek tinggal satu atap tapi panggilannya kayak penghuni kebun binatang!”

Mereka berdua terengah-engah, berdiri di balkon yang kini sudah mulai gelap. Ketegangan di antara mereka bukan lagi sekadar soal jemuran, tapi soal ego yang terluka dan kecemburuan yang mereka tutupi rapat-rapat dengan kata-kata kasar.

“Denger ya, Sinting,” Jingga merendahkan suaranya, bicara tepat di depan wajah Sinta. “Besok, jangan pernah lagi jemur barang-barang lu deket kemeja kerja gue. Gue nggak mau bau parfum murahan lu nempel di baju gue saat gue ketemu Luna.”

Sinta tersenyum miring, sebuah senyum yang sangat menjengkelkan. “Oh, tenang aja. Gue juga nggak mau bakteri-bakteri dari badan lu nular ke baju-baju gue. Gue bakal kasih pembatas di jemuran ini. Sisi kanan punya gue, sisi kiri punya lu. Siapa pun yang ngelewatin garis, denda seratus ribu!”

“Deal!” Jingga menyambar jemuran bajunya yang tersisa. “Dan satu lagi. Jangan pernah lagi bahas daster dari Adrian itu di depan gue. Bikin mual.”

Jingga melangkah masuk ke dalam, membanting pintu balkon, dan meninggalkan Sinta sendirian di kegelapan sore.

Sinta menatap dasternya yang robek dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kesal, tapi ada juga rasa aneh yang menggelitik di perutnya saat mengingat betapa dekatnya wajah Jingga tadi. Dia segera menggelengkan kepala kuat-kuat.

“Nggak mungkin. Gue pasti cuma laper. Iya, laper,” gumam Sinta sambil memeluk jemurannya.

Di dalam kamar, Jingga melempar boxer-nya yang rusak ke tempat sampah. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin. Pikirannya melayang ke kejadian di balkon tadi. Kenapa dia merasa sangat kesal saat Sinta menyebut daster itu dari Adrian? Padahal dia sendiri punya Luna.

Jingga mengusap wajahnya kasar. “Sialan. Gara-gara remah roti sama jemuran, otak gue jadi ikutan sinting kayak dia.”

Malam itu, apartemen nomor 1205 kembali hening, tapi di balik pintu kamar yang tertutup masing-masing, ada dua orang yang sedang berpura-pura tidur sambil memikirkan bagaimana caranya agar tidak saling membunuh—atau saling jatuh cinta—esok hari di kantor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!