NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pantas

Udara malam di balkon terasa sejuk, kontras dengan keriuhan di dalam aula yang masih dipenuhi denting gelas dan tawa para kolega bisnis. Nathaniel menyandarkan kedua lengannya di pagar pembatas, menatap kerlip lampu kota yang membentang luas. Pikirannya masih terpaku pada pemandangan Alessia yang berdansa dengan Noah tadi, sebuah pemandangan yang menurut logikanya "pantas", namun entah mengapa terasa menyesakkan.

Ketenangannya buyar saat pintu kaca balkon terbuka dengan terburu-buru. Sosok Alessia muncul, langkahnya tampak tidak stabil dan wajahnya sedikit meringis menahan sesuatu.

"Kak... kaki aku sakit banget," keluh Alessia tanpa basa-basi. Ia segera menjatuhkan dirinya di sebuah bangku kayu kecil di sudut balkon, lalu dengan gerakan cepat melepas sepatu hak tingginya yang berkilauan.

Melihat hal itu, insting pelindung Nathaniel langsung mengambil alih. Tanpa memedulikan jas mahalnya yang mungkin akan kusut, ia spontan berjongkok di depan Alessia. Matanya melebar saat melihat kondisi kaki mungil itu; tumit dan sela-sela jari Alessia tampak memerah, bahkan ada beberapa bagian yang sudah mulai lecet dan sedikit berdarah karena terlalu lama dipaksa berdansa dengan heels yang runcing.

"Kenapa baru bilang sekarang, Al? Kamu memaksakan diri berdansa dengan Noah tadi?" tanya Nathaniel, suaranya terdengar cemas sekaligus kesal karena Alessia selalu berusaha tampak kuat di depan orang lain.

"Tadi... aku tidak enak kalau menolak, Kak. Tapi sekarang rasanya seperti berjalan di atas paku," jawab Alessia lirih, jari-jarinya mencoba memijat telapak kakinya yang kaku.

Nathaniel tidak menjawab lagi. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sopir pribadinya dengan nada bicara yang singkat namun mendesak. "Bawa kotak P3K dari mobil ke balkon sayap barat sekarang. Cepat."

Sambil menunggu, Nathaniel meraih pergelangan kaki Alessia dengan sangat lembut, meletakkannya di atas lututnya sendiri agar Alessia tidak perlu menyentuh lantai yang dingin.

"Maaf, Kak... jadi merepotkanmu lagi," bisik Alessia, menatap puncak kepala Nathaniel yang masih setia berjongkok di hadapannya.

Nathaniel mendongak sebentar, menatap mata Alessia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jangan pernah meminta maaf karena membutuhkan aku, Alessia. Itulah gunanya aku ada di sini."

Tangannya yang kokoh namun lembut mulai mengusap sekitar bagian yang lecet, mencoba memberikan rasa nyaman sementara sebelum obat merah dan plester datang. Di balkon yang sunyi itu, keriuhan pesta di dalam sana terasa sangat jauh. Bagi Nathaniel, tidak ada lagi urusan bisnis atau standar "pantas" yang tadi ia pikirkan. Yang ada hanyalah rasa ingin memastikan bahwa tidak ada lagi luka yang harus ditanggung oleh gadis di depannya ini.

Kotak P3K itu akhirnya tiba. Dengan gerakan yang sangat telaten, seolah sedang menangani barang pecah belah yang paling berharga di dunia, Nathaniel mulai membersihkan luka lecet di tumit Alessia. Kapas yang dibasahi cairan antiseptik itu ia tepuk-tepukkan dengan sangat lembut, sesekali ia meniupnya kecil agar rasa perihnya berkurang.

Alessia menatap puncak kepala Nathaniel dari atas bangkunya. Ada kehangatan yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan aman yang tidak pernah ia dapatkan dari pria mana pun, termasuk Noah yang tadi memujinya setinggi langit. Ia merasa bahwa di dunia ini, tidak ada yang bisa merawatnya sedetail dan seikhlas Nathaniel.

"Kak, kalau nanti sudah punya istri... masih bisa perhatian sama adiknya begini tidak sih?" tanya Alessia tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit parau dan penuh keraguan yang kekanak-kanakan.

Nathaniel menghentikan gerakannya sejenak. Ia fokus menempelkan plester medis dengan presisi di luka Alessia. "Jangan bertanya yang aneh-aneh. Kenyataannya sekarang aku belum punya istri, kan?" jawab Nathaniel tanpa mendongak, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya sendiri.

"Iya, kan suatu saat nanti pasti ada," gerutu Alessia lagi, bibirnya mengerucut sebal. "Apa Kakak bakal cuekin aku? Apa Kakak bakal membiarkan aku mengobati luka sendiri kalau istrimu nanti cemburu?"

Nathaniel perlahan berdiri. Ia tidak langsung menjauh, melainkan justru mengikis jarak di antara mereka. Ia menumpukan kedua tangannya di sandaran bangku, mengunci posisi Alessia sehingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci saja. Aroma maskulin Nathaniel seketika mengepung indra penciuman Alessia.

"Tentu saja situasinya akan berubah, Alessia," jawab Nathaniel, suaranya rendah dan dalam, menatap tepat ke manik mata gadis itu. "Sama halnya denganmu. Kamu juga suatu saat nanti akan punya suami, kan? Seseorang yang akan mengambil alih tugasku untuk mengobatimu.”

Tatapan Nathaniel tampak begitu intens, seolah ada jutaan kata yang tertahan di balik kalimat formal itu. Alessia tertegun, jantungnya berdegup kencang bukan karena rasa sakit di kakinya, melainkan karena kenyataan pahit yang baru saja diucapkan Nathaniel.

Membayangkan Nathaniel memberikan perhatian yang sama pada wanita lain, atau membayangkan dirinya harus bergantung pada pria lain selain Nathaniel, terasa seperti mimpi buruk yang nyata.

"Tapi aku tidak mau pria lain," gumam Alessia sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin malam di balkon itu.

Nathaniel terdiam, matanya menatap bibir Alessia sejenak sebelum kembali ke matanya. Keheningan di antara mereka terasa sangat berat, penuh dengan ketegangan yang belum pernah mereka rasakan selama sepuluh tahun kebersamaan mereka sebagai "kakak dan adik".

Tatapan Nathaniel yang semula tajam mendadak melunak, seolah pertahanan kaku yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh hanya dengan satu kalimat sederhana dari Alessia. Ia masih mengunci posisi di depan Alessia, namun kini jemarinya sedikit bergetar saat menyentuh pinggiran bangku kayu itu.

"Kalau sudah ada Kakak dan Ayah, kenapa aku butuh pria lain?" lanjut Alessia dengan suara yang lebih mantap, meski matanya mulai berkaca-kaca menatap Nathaniel.

Keheningan di balkon itu terasa semakin pekat. Nathaniel memejamkan matanya sejenak, menghirup aroma vanila dari rambut Alessia yang tertiup angin malam. Kalimat itu adalah pujian tertinggi sekaligus beban terberat yang pernah ia terima.

"Dunia tidak berjalan seperti itu, Al," bisik Nathaniel, suaranya kini serak. "Ayah akan menua, dan aku... aku tidak bisa selamanya menjadi satu-satunya pria yang berdiri di sampingmu. Kamu butuh seseorang yang bisa memberikanmu masa depan, bukan hanya perlindungan."

Alessia menggeleng keras, ia meraih ujung kemeja Nathaniel, menggenggamnya erat seolah takut pria di depannya akan menghilang jika ia lepaskan. "Tapi tidak ada pria lain yang mengenalku seperti Kakak.

Tidak ada yang tahu kapan kakiku lecet hanya dengan melihat caraku berjalan. Tidak ada yang mengerti kenapa aku menangis tanpa aku harus bicara."

Nathaniel menundukkan kepalanya, dahi mereka hampir bersentuhan. "Itu karena aku menghabiskan sepuluh tahun hidupku hanya untuk memperhatikanmu, Alessia. Setiap detik, setiap langkahmu."

Ia perlahan melepaskan tangannya dari sandaran kursi dan beralih mengusap pipi Alessia dengan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa sangat panas di kulit Alessia yang dingin karena angin malam.

"Tapi suatu saat nanti, akan ada pria yang datang bukan karena tugas dari Ayahmu, tapi karena dia benar-benar memilihmu di atas segalanya. Dan saat itu tiba..." Nathaniel menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat. "...aku harus tahu kapan saatnya aku harus melangkah mundur."

"Lalu bagaimana kalau aku tidak ingin Kakak mundur?" tantang Alessia, menatap Nathaniel dengan binar pemberontakan yang berpadu dengan kerinduan.

Nathaniel tertegun. Ia menatap bibir Alessia yang gemetar, lalu kembali ke matanya yang basah. Jarak di antara mereka kini benar-benar terkikis habis, menyisakan ketegangan yang sanggup meledakkan akal sehat siapa pun yang merasakannya.

Tiba-tiba, suara pintu kaca balkon yang tergeser sedikit membuat mereka berdua tersentak.

"Kamu mengganggu kakakmu lagi pasti," ucap William, memecah kecanggungan dengan nada suara kebapakan yang khas, meski matanya yang tajam sempat menangkap betapa dekatnya posisi mereka tadi.

Alessia buru-buru menyeka sudut matanya yang sedikit basah dan mencoba mengatur napasnya. "Kaki aku luka, Ayah. Tadi lecet karena terlalu lama berdansa," jawab Alessia sambil menunjuk kakinya yang kini sudah tertutup plester rapi hasil kerja tangan Nathaniel.

William melangkah mendekat, menatap kotak P3K yang masih terbuka di samping kursi. Ia menghela napas panjang, lalu beralih menatap Nathaniel yang kini berdiri mematung di sisi balkon, kembali ke mode "pengawal" yang kaku.

"Iya, dan seperti biasa kamu merengek pada kakakmu yang sudah pasti akan memanjakanmu," tukas William dengan senyum tipis yang sarat akan makna. Beliau menepuk bahu Nathaniel cukup keras.

"Nathan, kamu ini terlalu lunak kalau sudah menyangkut Alessia. Dia akan terus menjadi anak manja jika kamu selalu siap siaga seperti ini."

Nathaniel hanya menunduk hormat, menyembunyikan gejolak di matanya. "Sudah tugas saya memastikan Alessia baik-baik saja, Tuan William."

William tertawa kecil, suara tawanya bergema di balkon yang sunyi. "Tugas? Ya, mungkin awalnya begitu. Tapi aku tahu, bahkan tanpa tugas dariku pun, kamu akan tetap melakukannya."

William kemudian mengulurkan tangan pada Alessia, membantunya berdiri. "Ayo, pesta di dalam sudah hampir selesai. Ibu sudah mencarimu karena dia ingin segera pulang. Biarkan Nathaniel membereskan kotak obat ini dan menyusul kita ke mobil."

Alessia menatap Nathaniel sejenak, sebuah tatapan yang penuh dengan kata-kata yang belum sempat terucap di balkon tadi. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun kehadiran Ayahnya membuatnya harus menelan kembali semua keberanian itu.

"Terima kasih, Kak. Untuk... semuanya," bisik Alessia pelan saat ia melewati Nathaniel.

Nathaniel hanya mengangguk kecil, matanya mengikuti punggung Alessia yang perlahan menghilang di balik pintu kaca bersama William. Begitu ia sendirian di balkon, Nathaniel mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Ia menatap telapak tangannya yang baru saja menyentuh pipi Alessia, merasakan sisa hangat yang masih tertinggal di sana.

Peringatan William tadi, meski terdengar seperti candaan, terasa seperti pengingat tajam bagi Nathaniel. Bahwa ia memang telah melampaui batas "tugas", dan ia harus segera menentukan di mana posisi sejatinya dalam hidup Alessia sebelum segalanya menjadi semakin rumit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!