NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Sisa wangi yang tertinggal

Angin subur berhembus melewati celah jendela kayu yang catnya sudah mulai mengelupas. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa begitu dingin itu, Ajil duduk termenung di tepi kasur kapuk yang sudah menipis. Sorot matanya kosong, menatap dinding kusam yang seolah menjadi layar proyektor bagi kenangan-kenangan masa lalunya. Sudah lebih dari satu tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari lebih sejak tawa renyah itu lenyap dari telinganya. Semenjak Ami, separuh jiwanya, menghembuskan napas terakhirnya tepat dua bulan setelah melahirkan bidadari kecil mereka, Dara.

Ajil menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang kasar dan kapalan. Ekonomi keluarganya hancur lebur. Segala tabungan terkuras habis untuk biaya rumah sakit Ami tempo hari, dan rentetan kesialan di tempat kerja membuatnya kehilangan posisi yang stabil. Kini, di usianya yang menginjak 37 tahun, ia harus rela menjadi pekerja serabutan, terombang-ambing dari satu proyek luar kota ke proyek lainnya hanya demi sekeping koin untuk menyambung napas kedua malaikat kecilnya.

Tangan Ajil perlahan bergerak mengambil sebuah syal rajut berwarna krem yang terlipat rapi di atas bantal. Ia mendekatkan syal itu ke wajahnya, memejamkan mata rapat-rapat saat menghirupnya dalam-dalam. Sisa wangi vanilla dan lavender samar-samar masih tertinggal di sana—aroma khas Ami yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalanya. Namun kini, wangi itu justru menjadi belati kasat mata yang menusuk-nusuk rongga dadanya hingga ia kesulitan meraup oksigen. Setetes air mata, yang mati-matian ia tahan sejak semalam, akhirnya lolos dan jatuh meresap ke dalam serat benang syal tersebut.

Hari ini, ia harus kembali pergi. Sebuah pekerjaan kasar sebagai kuli proyek di kota seberang memanggilnya. Bayarannya tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli susu Dara dan buku tulis Arzan bulan depan.

Ajil bangkit berdiri, mengenakan pakaian kebesarannya: sebuah kaus hitam pudar yang bagian kerahnya sudah melar, dibalut jaket parasut berwarna biru tua yang warnanya sudah kusam termakan cuaca, serta celana jeans berserat kasar yang ujungnya mulai terkoyak. Ia memasukkan beberapa potong pakaian ganti ke dalam tas kanvas usang, lalu meresletingnya dengan gerakan berat. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan pecahan kaca.

Ia melangkah keluar kamar, menuju ruang tengah rumah mertuanya—keluarga almarhumah istrinya yang berbaik hati menampung anak-anaknya selama ia berjuang mencari nafkah di jalanan. Di atas tikar pandan yang tergelar di lantai, dua malaikat kecilnya tengah duduk. Arzan, jagoan kecilnya yang baru berusia 7 tahun, sedang mencoba menyuapi adiknya, Dara, yang genap berusia 2 tahun, dengan bubur ayam sederhana bersaus kecap.

Pemandangan itu, melihat anak sekecil Arzan harus dewasa sebelum waktunya, membuat lutut Ajil lemas.

"Arzan... Dara..." panggil Ajil dengan suara serak, berusaha sekuat tenaga menelan bongkahan batu yang mengganjal di tenggorokannya.

Mendengar suara parau ayahnya, Arzan menoleh. Sendok plastik di tangannya terhenti di udara. Mata bocah laki-laki itu sudah berkaca-kaca, seolah tahu apa arti dari tas kanvas besar yang disandang di bahu kanan ayahnya. Dara yang belum mengerti apa-apa, hanya membeo memanggil, "Ayah... Yah..." sambil merentangkan kedua tangan mungilnya, meminta digendong.

Ajil berlutut di atas tikar, meletakkan tasnya, dan langsung merengkuh tubuh mungil Dara. Ia menciumi puncak kepala putrinya, menghirup aroma bedak bayi yang bercampur dengan aroma minyak telon. Kulit Dara yang lembut bersentuhan dengan rahang Ajil yang dipenuhi sisa cambang yang belum dicukur.

"Ayah harus pergi kerja lagi ya?" tanya Arzan. Suara bocah tujuh tahun itu bergetar. Ia menunduk, meremas ujung kausnya sendiri hingga kusut.

Ajil menarik napas panjang, menahan agar air matanya tidak tumpah di depan anak-anaknya. Ia mengulurkan tangan kirinya, menarik Arzan ke dalam pelukannya. Kini, ia mendekap dua harta paling berharga yang tersisa dalam hidupnya.

"Iya, jagoan. Ayah harus kerja di luar kota sebentar. Arzan jaga adik Dara, ya? Jaga nenek juga. Kalau jagoan ayah pintar, nanti ayah kirim uang buat beli mainan robot yang Arzan mau, dan susu rasa stroberi buat Dara," ucap Ajil, suaranya dipaksakan untuk terdengar tegar, meski hatinya menjerit hancur.

Tiba-tiba, Arzan membalas pelukan Ajil dengan sangat erat. Tangis bocah itu pecah. Pertahanannya runtuh. "Arzan nggak mau mainan, Yah! Arzan mau Ayah di sini... Jangan pergi lagi... Nanti kalau Ayah pergi, Arzan sama Dara ditemani siapa kalau malam? Ibu sudah nggak ada, Ayah juga terus pergi..."

Tangisan Arzan menular pada Dara. Balita itu ikut menangis keras, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ajil, mencengkeram erat kerah jaket kusam ayahnya seolah takut ayahnya akan menguap menjadi udara.

Nuansa kesedihan yang pekat menyelimuti ruang tengah yang remang tersebut. Udara pagi yang seharusnya menyegarkan, kini terasa mencekik.

Ajil memejamkan mata. Rahangnya mengeras menahan isak tangisnya sendiri. Ia membelai punggung kedua anaknya yang bergetar hebat. Di momen yang penuh keputusasaan ini, Ajil membisikkan sebuah kalimat, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada anak-anaknya.

"Air mata seorang ayah tidak boleh jatuh membasahi tanah keputusasaan, melainkan harus mengalir ke dalam hatinya, menenggelamkan sisa-sisa egonya demi menciptakan pijakan yang kuat untuk senyuman anak-anaknya."

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Ajil perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Arzan yang basah oleh air mata, mengusap pipi putranya dengan ibu jarinya yang kasar.

"Ayah janji," bisik Ajil, menatap lurus ke dalam mata Arzan. "Ayah akan selalu pulang untuk kalian. Maafkan Ayah karena belum bisa memberikan kebahagiaan yang layak. Tapi percayalah, semua tetes keringat Ayah di luar sana, hanya untuk melihat kalian berdua tertawa lagi."

Ajil berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Ia menyerahkan Dara yang masih terisak kepada ibu mertuanya yang sejak tadi berdiri diam di ambang pintu dapur, menyeka air matanya sendiri menggunakan ujung daster. Ajil meraih tangan keriput wanita paruh baya itu, mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.

"Titip Arzan dan Dara ya, Bu. Ajil berangkat. Nanti kalau upah mingguan sudah turun, Ajil langsung transfer ke rekening Ibu untuk makan anak-anak," ucap Ajil pelan.

"Hati-hati di jalan, Jil. Jangan lupa makan. Anak-anak aman sama Ibu," balas mertuanya dengan suara parau.

Ajil mengangguk. Ia memutar tubuhnya, meraih tas kanvasnya, dan melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi. Ia tidak berani menoleh. Jika ia menoleh dan melihat wajah anak-anaknya yang basah oleh air mata dari balik kaca jendela, ia tahu langkah kakinya akan terpaku dan ia tidak akan pernah bisa pergi.

Ia berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya, di mana bus antarkota yang murah meriah sudah menunggunya. Udara pagi terasa menggigit kulit, namun rasa dingin itu tidak sebanding dengan kebekuan yang perlahan mulai menyelimuti hati Ajil. Kejamnya dunia, hilangnya sang istri, dan beban ekonomi yang mencekik perlahan membunuh sisi hangat dalam dirinya. Tanpa ia sadari, duka yang terlalu dalam ini sedang mengukir jiwanya, mempersiapkannya untuk sebuah takdir yang jauh lebih besar dan mengerikan di dimensi yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Di dalam bus yang berderit bising dan berbau asap solar, Ajil duduk di kursi paling belakang. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang buram. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah foto usang—foto dirinya, Ami yang tersenyum cerah sambil menggendong Dara yang baru lahir, dan Arzan yang berpose mengacungkan dua jari. Ia terus menatap foto itu saat bus mulai melaju meninggalkan kota, membawa tubuhnya pergi, namun meninggalkan separuh jiwanya di rumah kecil itu bersama sisa wangi yang tertinggal.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!