"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: SURAT WASIAT YANG TERBAGI
Hujan rintik-rintik yang turun di pemakaman keluarga Pratiwi di Bogor terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit Sasmita. Suasananya jauh berbeda dari beberapa malam lalu saat ia membakar Buku Merah. Kini, area itu dijaga oleh garis polisi yang sudah mulai memudar warnanya, dan beberapa petugas keamanan swasta yang disewa Agatha tampak berjaga di gerbang utama.
Namun, Sakti tahu celah di pagar belakang yang tertutup semak belukar berduri. Dengan perlahan, ia memapah Sasmita masuk. Bahu Sasmita sudah dibalut ulang dengan kain sisa dari koper besi Bong, namun rembesan darah merah masih terlihat kontras di atas jaket hitamnya yang basah.
"Nona, Anda yakin ada sesuatu di sini?" bisik Sakti sambil menyapu kegelapan dengan senter kecil yang cahayanya hanya selebar koin.
"Ibu tidak pernah meletakkan semua telurnya dalam satu keranjang, Sakti," jawab Sasmita, napasnya terdengar berat dan tersengal. "Buku Merah itu adalah umpan. Dia tahu Hendra atau Agatha akan mengejarnya. Tapi wasiat yang sebenarnya... wasiat yang bisa membatalkan seluruh hak kepemilikan Waskita atas aset Janardana, ada di bawah nisan tanpa nama itu."
Mereka sampai di sebuah nisan kecil yang tampak terabaikan di pojok makam kakeknya. Nisan itu hanya berupa bongkahan batu kali kasar tanpa ukiran nama, hanya ada sebuah simbol kecil berbentuk bunga melati yang sudah tertutup lumut.
Sakti mulai menggali dengan sekop lipat kecil. Tanah makam yang basah terasa berat dan lengket. Setelah menggali sedalam setengah meter, ujung sekop menghantam sesuatu yang keras. Klang!
"Sebuah kotak timah," ujar Sakti sambil mengangkat benda berbentuk persegi panjang yang sudah berkarat.
Sasmita menerimanya dengan tangan gemetar. Ia membersihkan lumpur yang menempel dengan ujung bajunya. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah map plastik kedap air. Sasmita membukanya dan mengeluarkan selembar kertas tua yang memiliki stempel resmi notaris internasional dari Swiss.
Mata Sasmita membelalak saat membaca baris demi baris dokumen tersebut. "Ini... ini bukan sekadar wasiat. Ini adalah bukti bahwa pernikahan Hendra Waskita dengan istri pertamanya, Agatha, tidak pernah sah secara hukum internasional karena Agatha melakukan pemalsuan identitas pelarian politik. Jika pernikahan itu batal, maka seluruh pengalihan aset Waskita ke tangan Agatha sepuluh tahun lalu adalah tindakan ilegal."
"Itu berarti Agatha tidak punya hak sepeser pun atas perusahaan itu?" tanya Sakti terperangah.
"Secara hukum, ya. Dan yang lebih gila lagi... Ibu mencantumkan bahwa Wirya Janardana sebenarnya telah mengadopsiku secara sah jauh sebelum ia tahu tentang perselingkuhan ibuku dengan Hendra. Dokumen ini menyebutkan bahwa aku adalah ahli waris tunggal dari 'Dana Abadi' yang dikumpulkan Wirya untuk menebus dosa-dosanya."
Tiba-tiba, ponsel Sasmita bergetar hebat. Sebuah notifikasi berita muncul di layarnya.
BREAKING NEWS: Rumah Sakit Polri Kramat Jati Diserang Hacker. Sistem Penunjang Hidup di Ruang Isolasi Narapidana Korupsi Hendra Waskita Mengalami Gangguan Massal.
Sasmita mematung. Aris.
"Dia benar-benar gila," desis Sasmita. "Aris mencoba membunuh Hendra dengan cara mematikan ventilator dan sistem pemantau jantungnya secara jarak jauh. Dia ingin menghilangkan saksi kunci sebelum aku bisa menggunakan kesaksian Hendra untuk melawan Agatha."
"Nona, jika Hendra mati sekarang, dokumen ini mungkin tidak akan cukup kuat di pengadilan lokal tanpa pengakuan lisan darinya tentang keterlibatan Agatha," ujar Sakti cemas.
"Kita harus ke rumah sakit itu sekarang, Sakti!" Sasmita bangkit berdiri, rasa sakit di bahunya mendadak hilang tertutup oleh adrenalin yang memuncak. "Aris tidak mencoba membunuh Hendra karena benci. Dia melakukannya karena dia butuh 'kekacauan' untuk masuk ke sistem rumah sakit dan mengambil data sidik jari Hendra yang tersimpan di server medis. Dia ingin memalsukan akses biologis!"
Mereka berlari kembali ke mobil jip nelayan yang tersembunyi. Di dalam perjalanan menuju Jakarta, Sasmita membuka laptop dari koper Bong. Ia mencoba masuk ke dalam frekuensi radio yang digunakan oleh tim medis rumah sakit.
"Pasien di kamar 402 kritis! Oksigen drop! Sistem kunci elektronik pintu ruang isolasi tidak bisa dibuka dari luar!" suara panik perawat terdengar lewat earpiece.
Sasmita dengan cepat mengetik baris-baris kode pengacau yang ia pelajari. Ia harus melakukan counter-hack. Ia tidak mencintai Hendra, ia membenci pria itu dengan segenap jiwanya. Namun, ia butuh Hendra tetap hidup sebagai pion terakhirnya.
"Sakti, melaju lebih cepat! Kita punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum jantung Hendra berhenti!"
Di layar laptop, Sasmita melihat pergerakan digital yang sangat agresif. Aris menggunakan protokol 'Hydra'—setiap kali Sasmita memutus satu jalur serangan, sepuluh jalur baru muncul. Aris benar-benar seorang jenius yang mengerikan.
"Jangan ikut campur, Sasmita! Biarkan pak tua itu mati! Dia tidak berguna lagi bagi kita!" sebuah pesan muncul di layar laptop Sasmita, menutupi seluruh kodenya.
"Aku tidak melakukan ini untuknya, Aris!" teriak Sasmita pada layar, seolah Aris bisa mendengarnya. "Aku melakukan ini untuk menghancurkan kalian semua secara adil!"
Sasmita menggunakan kartu as-nya. Ia memasukkan fragmen kode yang ia ambil dari makam ibunya tadi—kode yang ternyata merupakan backdoor ke seluruh sistem yang pernah dibangun oleh keluarga Waskita.
Override initiated. System Restored.
Sasmita berhasil membuka kunci pintu ruang isolasi dan menyalakan kembali sistem oksigen secara paksa. Namun, di saat yang sama, ia menyadari bahwa posisinya telah terlacak oleh Aris karena ia menggunakan backdoor tersebut.
"Sakti, buang laptopnya! Sekarang!" perintah Sasmita.
Sakti menyambar laptop itu dan melemparkannya ke luar jendela mobil saat mereka melaju di jalan tol dalam kota. Beberapa detik kemudian, sebuah ledakan kecil terjadi pada laptop yang tergeletak di aspal itu—Aris telah mengirimkan perintah overload baterai secara jarak jauh.
"Dia hampir membunuh kita," bisik Sakti dengan wajah pucat.
"Tapi Hendra masih hidup," Sasmita menyandarkan kepalanya, napasnya tersengal. "Dan sekarang Agatha tahu bahwa aku memegang wasiat yang sesungguhnya. Perang ini bukan lagi tentang siapa yang punya uang paling banyak, Sakti. Ini tentang siapa yang akan bertahan paling lama di bawah tekanan."
Mereka sampai di area rumah sakit yang sudah dijaga ketat oleh Brimob. Sasmita tidak bisa masuk lewat pintu depan. Ia melihat sebuah mobil ambulans yang sedang menurunkan pasien di pintu darurat.
"Sakti, kamu tunggu di sini. Aku akan masuk sendiri sebagai perawat. Mereka tidak akan curiga pada wanita yang terluka jika aku menutupi bahuku dengan seragam putih," ujar Sasmita.
"Nona, itu terlalu berisiko! Aris pasti mengirimkan orang secara fisik juga ke sana!"
"Aku tidak punya pilihan, Sakti. Aku harus memberikan dokumen ini kepada Hendra agar dia menandatanganinya di depan pengacara publik sebelum Agatha berhasil membungkamnya selamanya."
Sasmita menyelinap masuk, mengambil seragam perawat dari ruang ganti yang tidak terkunci. Dengan wajah yang pucat dan gerakan yang menahan sakit, ia berjalan melewati lorong-lorong yang riuh karena kepanikan serangan siber tadi.
Ia sampai di depan kamar 402. Dua orang polisi berjaga di depan pintu. Sasmita berpura-pura membawa nampan berisi obat-obatan.
"Suster, dokter bilang tadi pintunya terkunci otomatis, apa sudah bisa dibuka?" tanya salah satu polisi.
"Sudah, Pak. Saya diperintah untuk mengecek kondisi vital pasien segera," jawab Sasmita dengan suara yang ia buat serendah mungkin.
Polisi itu mengangguk dan membukakan pintu. Sasmita masuk ke dalam ruangan yang dingin dan berbau antiseptik. Di sana, Hendra Waskita terbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Matanya terbuka sedikit, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
Sasmita mendekat. Ia melepas maskernya. Hendra menoleh, dan saat ia melihat wajah Sasmita, ada ketakutan murni di matanya.
"Kamu... kamu mau membunuhku?" bisik Hendra serak.
"Tidak sekarang, Tuan Waskita," Sasmita mengeluarkan dokumen dari makam tadi. "Aku datang untuk memberimu kesempatan terakhir untuk melakukan satu hal benar dalam hidupmu yang busuk. Tandatangani ini. Akui bahwa Agatha memalsukan dokumen pernikahan kalian dan bahwa kamu membunuh Wirya atas perintahnya."
Hendra terbatuk, darah merembes dari sudut mulutnya. "Jika aku menandatanganinya... dia akan membunuhku di sini... dia punya orang di dalam..."
"Dia akan membunuhmu entah kamu menandatanganinya atau tidak," balas Sasmita dingin. "Tapi jika kamu tanda tangan, aku berjanji akan memastikan hartamu tidak jatuh ke tangannya. Aku akan menggunakannya untuk menghancurkan Agatha sampai ke akar-akarnya. Bukankah itu yang kamu inginkan? Melihat wanita yang mengkhianatimu itu jatuh miskin?"
Hendra terdiam. Kebenciannya pada Agatha ternyata lebih besar daripada rasa takutnya akan kematian. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengambil pena yang disodorkan Sasmita. Ia menandatangani dokumen itu di bawah cahaya lampu ruang isolasi yang berkedip.
"Satu hal lagi..." bisik Hendra sambil menarik kerah seragam Sasmita. "Aris... dia bukan hanya peretas. Dia adalah anak kandung Agatha dengan pria Meksiko itu. Dia bukan adik Bramasta. Dia disusupkan ke keluargamu sejak bayi untuk menghancurkan Janardana dari dalam..."
Sasmita terpaku. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. Aris adalah anak Agatha? Berarti pengkhianatan ini sudah direncanakan selama puluhan tahun, bahkan sebelum Sasmita lahir.
Tiba-tiba, suara alarm di rumah sakit kembali berbunyi. Kali ini bukan alarm siber, tapi alarm kebakaran. Asap mulai masuk melalui ventilasi udara.
"Mereka sudah di sini," bisik Sasmita.
Ia segera melipat dokumen itu dan menyimpannya kembali di balik seragamnya. Ia menatap Hendra untuk terakhir kalinya. "Selamat tinggal, Tuan Waskita. Semoga neraka menerimamu dengan tangan terbuka."
Sasmita keluar dari ruangan tepat saat sekelompok orang berpakaian hitam dengan masker gas menyerbu lorong. Ia berlari menuju tangga darurat, mengabaikan rasa sakit di bahunya yang kini mulai berdarah lagi karena gerakan yang terlalu dipaksakan.
Di dalam tangga darurat yang gelap, ia berpapasan dengan seseorang. Seorang pria dengan hoodie hitam dan mata yang sangat ia kenali.
Aris.
Aris memegang sebuah detonator kecil di tangannya. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang kini terlihat sangat mirip dengan senyuman Agatha.
"Halo, Saudari tiri," ujar Aris. "Aku tidak menyangka kamu akan seberani ini. Tapi sayang, permainan ini harus berakhir dengan ledakan."
Sasmita tidak bicara. Ia hanya menatap Aris dengan kebencian yang sudah mendarah daging. Ia tahu, di balik dinding rumah sakit ini, rumah yang ia perjuangkan memang sudah terbagi habis. Namun di tangannya, ia memegang sumbu yang akan meledakkan seluruh kebohongan Keluarga Waskita.
"Kamu pikir ledakan ini akan menghentikanku, Aris?" Sasmita melangkah maju, tidak mempedulikan moncong senjata yang diarahkan Aris ke dadanya. "Aku sudah mati di Bogor. Kamu tidak bisa membunuh orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang."