NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Keheningan adalah bahasa yang paling jujur, karena di dalamnya tidak ada ruang untuk berbohong. Di dalam aula Sayap Utara yang luas dan kosong, keheningan itu terasa seperti zat cair yang kental, menyelimuti setiap sudut pilar marmer yang masih setengah jadi. Suara napas yang berat dan gesekan kasar spons di atas batu menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian malam di Aethelgard.

Arlo Valerius berlutut di atas lantai yang dingin, tidak lagi mempedulikan celana kain mahalnya yang kini basah dan kotor oleh air keruh. Tangannya yang biasanya menggenggam kendali kuda atau pedang upacara, kini mencengkeram erat sebuah sikat kasar. Ia sedang berperang—bukan melawan musuh dari kerajaan seberang, melainkan melawan noda hitam yang sengaja ditumpahkan Helena di atas karya Kalea.

Setiap gerakan tangannya adalah sebuah pengakuan dosa sekaligus pernyataan cinta yang tidak terucap. Arlo menggosok permukaan ukiran singa itu dengan ritme yang konstan, mengabaikan rasa perih di otot lengannya yang mulai menegang. Di bawah cahaya satu-satunya lampu minyak yang hampir habis, bayangan Arlo tampak raksasa di dinding, seolah-olah sisi lain dari dirinya sedang memperhatikan dengan sinis apa yang dilakukan sang Putra Mahkota.

Ia teringat betapa telitinya Kalea saat mengerjakan bagian ini. Ia teringat bagaimana gadis itu bicara tentang batu yang memiliki ingatan. Jika benar begitu, maka batu singa ini sekarang sedang merekam pengorbanan Arlo. Ia sedang menghapus jejak kejahatan Helena, namun ia juga sedang menghapus jejak keberadaan Kalea di istana ini.

Arlo berhenti sejenak, menyeka keringat yang menetes ke matanya dengan punggung tangan yang belepotan cairan kimia. Bau menyengat itu kini sudah menyatu dengan indra penciumannya, tidak lagi terasa asing. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang memerah dan lecet. Rasa sakit fisik ini anehnya terasa sangat menenangkan. Ini adalah rasa sakit yang jujur, sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dari jamuan makan malam atau pujian palsu para menteri.

Jauh di luar sana, melewati tembok-tembok tebal Aethelgard, sebuah kereta kuda mungkin sedang melaju menembus hutan. Arlo membayangkan Kalea duduk di dalam kegelapan kereta itu, memeluk ayahnya, dan menatap surat identitas baru yang ia berikan. Ia membayangkan rasa takut di mata cokelat itu perlahan memudar menjadi harapan. Pikiran itu membuat Arlo tersenyum kecil di tengah keletihannya.

"Kau harus selamat, Kalea," bisik Arlo pada kegelapan aula. "Jangan pernah menoleh ke belakang."

Waktu berlalu tanpa ampun. Saat cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap dari celah-celah langit-langit yang belum tertutup, Arlo menyelesaikan bagian terakhir dari singa itu. Noda hitamnya tidak hilang sepenuhnya—masih ada bayang-bayang gelap yang tertinggal di pori-pori batu—namun ukirannya sudah kembali terlihat. Singa itu tampak lebih tua, lebih lelah, namun tetap tegak. Sama seperti Arlo sekarang.

Arlo berdiri dengan kaki yang gemetar hebat. Ia merapikan pakaiannya yang sudah hancur total. Kemeja sutranya robek di bagian lengan, dan noda zat kimia memenuhi permukaannya. Ia sengaja membuat penampilannya terlihat sekacau mungkin. Ia mengambil sebuah palu kecil di dekat tangga, lalu dengan gerakan yang diperhitungkan, ia memukul permukaan batu di samping pintu gerbang hingga retak dan pecah.

Ia harus membuat sebuah adegan. Sebuah adegan penculikan atau pelarian yang kasar.

Arlo mengacak-acak tumpukan kayu, menjatuhkan beberapa kaleng cat hingga isinya tumpah ke lantai, lalu ia duduk di sudut ruangan, menyandarkan kepalanya ke dinding batu. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam kelelahan yang nyata agar aktingnya tidak perlu diperdebatkan lagi.

Satu jam kemudian, suara derap sepatu bot yang teratur mulai terdengar dari koridor luar. Suara itu semakin keras, beradu dengan suara kunci-kunci besar yang dibuka.

"Pangeran Arlo? Yang Mulia?" suara Jenderal Marcus terdengar berat dan penuh kecemasan.

Pintu aula terbuka lebar. Marcus masuk lebih dulu dengan pedang terhunus, diikuti oleh sekelompok prajurit dan Putri Helena yang masih mengenakan jubah tidur sutranya yang tertutup mantel bulu. Begitu mereka melihat kondisi aula yang berantakan, semua orang membeku.

"Yang Mulia!" Marcus berlari mendekati Arlo yang duduk di lantai.

Arlo membuka matanya perlahan, berpura-pura baru saja sadar dari pengaruh sesuatu. Ia memegang kepalanya, meringis kesakitan saat Marcus membantunya berdiri.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Marcus, matanya menyapu seisi ruangan.

Arlo menatap ke arah tempat persembunyian Kalea yang kini sudah kosong. "Gadis itu... dia menyerangku."

Helena melangkah maju, wajahnya yang cantik tampak pucat pasi karena amarah dan kebingungan. Ia menatap Arlo dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Menyerangmu? Bagaimana mungkin seorang tukang cat kecil bisa menyerangmu, Arlo?"

"Dia menyembunyikan sesuatu di dalam embernya," Arlo bicara dengan suara serak, seolah-olah tenggorokannya masih sakit. "Dia menyiramkan sesuatu ke wajahku—aku tidak tahu apa—lalu dia memukul kepalaku saat aku mencoba menahannya. Saat aku tersadar, dia sudah menghilang."

"Dan singa ini..." Helena menunjuk ke arah ukiran yang sudah dibersihkan Arlo. "Kau membersihkannya?"

Arlo menatap singa itu dengan pandangan hampa. "Aku mencoba menghentikannya saat dia menyiramkan noda hitam itu lagi. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Aku hanya ingin memastikan istana ini tidak dihina oleh keteledorannya."

Helena memicingkan mata. Ia berjalan mendekati ukiran singa itu, menyentuh permukaannya yang masih terasa lembap oleh cairan pembersih. Ia menoleh ke arah jendela kecil di bagian atas yang terbuka—jalur pelarian palsu yang sudah disiapkan Cedric.

"Dia melarikan diri melalui jendela itu?" tanya Helena, suaranya terdengar sangat tajam dan penuh curiga.

"Sepertinya begitu," jawab Arlo pendek.

"Jenderal Marcus!" Helena berteriak, membuat seluruh prajurit tersentak. "Kirim semua pasukan pencari ke setiap gerbang kota! Cari gadis itu sampai ketemu! Dan bawa ayahnya ke penjara bawah tanah sekarang juga! Dia harus membayar apa yang dilakukan anaknya pada Putra Mahkota!"

Jantung Arlo berdegup kencang saat mendengar perintah tentang ayah Kalea. Namun sebelum ia sempat bicara, Lord Cedric masuk ke dalam aula dengan wajah yang dibuat sepucat mungkin.

"Maafkan saya, Putri Helena, Jenderal Marcus," Cedric membungkuk dalam. "Saya baru saja memeriksa barak pekerja. Ayah gadis itu... dia sudah tidak ada. Sepertinya dia sudah dibawa pergi oleh rekan-rekannya sejak tengah malam tadi karena kondisinya yang memburuk. Tidak ada satu pun pekerja di barak yang tahu ke mana mereka pergi."

Helena menghantam pilar di sampingnya dengan tangan yang terkepal. "Sialan! Mereka sudah merencanakan ini!"

Arlo merasa lega luar biasa di balik wajahnya yang tetap datar. Cedric telah melakukan tugasnya dengan sempurna. Kalea dan ayahnya sudah tidak ada di jangkauan Aethelgard.

"Cari mereka ke pemukiman di kaki bukit! Geledah setiap rumah!" perintah Helena lagi, matanya yang biru kini berkilat-kilat penuh kebencian. "Aku ingin gadis itu diseret kembali ke sini hidup atau mati!"

"Cukup, Helena," suara Raja Valerius terdengar dari ambang pintu.

Pria tua itu masuk dengan langkah yang sangat berwibawa. Matanya menatap Arlo, lalu beralih ke singa yang sudah dibersihkan, dan terakhir ke jendela yang terbuka. Raja tidak terlihat marah seperti Helena. Ia justru terlihat sangat tenang—ketenangan yang jauh lebih menakutkan bagi Arlo.

"Ayah, lihat apa yang dia lakukan pada Arlo!" Helena menunjuk kemeja Arlo yang robek.

Raja berjalan mendekati Arlo, berdiri tepat di depan putranya. Ia menatap mata Arlo cukup lama, seolah-olah sedang membaca naskah kebohongan yang sedang Arlo tuliskan di kepalanya. Raja kemudian mengulurkan tangan, mengambil sisa serat kain kemeja Arlo yang robek, lalu menjatuhkannya ke lantai.

"Seorang tukang cat yang bisa melumpuhkan Putra Mahkota dan melarikan diri tanpa terdeteksi oleh penjaga gerbang?" Raja bertanya dengan nada rendah. "Aethelgard pasti sedang dalam kondisi keamanan yang sangat buruk jika itu benar terjadi."

Arlo menelan ludah, ia tetap berdiri tegak meski kakinya terasa ingin patah. "Saya lengah, Yang Mulia. Saya terlalu meremehkannya."

Raja tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Arlo menyadari bahwa ayahnya mungkin tidak percaya sepenuhnya pada cerita ini, namun sang Raja punya alasan politik untuk tidak memperpanjangnya sekarang.

"Marcus, batalkan pencarian besar-besaran di kota," perintah Raja.

"Tapi Ayah!" Helena memprotes.

"Kita tidak ingin rakyat melihat bahwa seorang pangeran bisa dikalahkan oleh seorang gadis tukang cat, Helena. Itu akan merusak citra kekuatan kerajaan menjelang pernikahan kalian," Raja menatap Helena dengan tajam, membungkam wanita itu seketika. "Katakan pada rakyat bahwa pekerja itu dipecat karena keteledoran dan telah diusir secara resmi. Dan untukmu, Arlo..."

Raja kembali menatap Arlo. "Karena keteledoranmu yang membiarkan seorang tahanan kabur, kau akan dikurung di Menara Barat selama satu minggu. Tanpa kunjungan, tanpa pesta, dan tanpa Helena. Gunakan waktu itu untuk merenungkan bagaimana cara menjadi seorang pemburu yang lebih baik, bukan menjadi mangsa yang mudah."

Arlo menundukkan kepala sedalam mungkin. "Saya menerima hukuman itu, Yang Mulia."

Helena tampak tidak puas, namun ia tidak berani membantah Raja. Ia hanya menatap Arlo dengan pandangan yang sarat akan kecurigaan. Helena tahu ada sesuatu yang hilang dari teka-teki ini, dan ia bersumpah dalam hati untuk menemukannya suatu hari nanti.

Saat Arlo dibawa pergi oleh para pengawal menuju Menara Barat, ia sempat melewati koridor yang menghadap ke arah pelabuhan di kejauhan. Matahari pagi kini sudah naik sepenuhnya, menyinari laut biru yang luas. Di sana, jauh di garis cakrawala, mungkin ada sebuah kapal kecil yang sedang membawa Kalea menuju kebebasan.

Arlo masuk ke dalam ruangannya di Menara Barat. Sebuah ruangan besar yang indah, namun tetap saja sebuah penjara. Begitu pintu besi itu tertutup dan terkunci dari luar, Arlo berjalan menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana.

Ia menatap telapak tangannya yang lecet. Rasa sakitnya mulai mereda, digantikan oleh rasa sepi yang sangat tajam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sendirian tanpa ada tugas, tanpa ada protokol, dan tanpa ada Kalea.

Ia merogoh saku celananya, mencari sesuatu yang ia ambil dari sumur tua semalam.

Beberapa koin perunggu kusam. Koin-koin yang diberikan Kalea sebagai "hutang".

Arlo menggenggam koin itu erat-erat di dadanya. Ia memejamkan mata, membiarkan aroma debu kapur yang masih tertinggal di kemejanya membawanya kembali ke aula Sayap Utara. Ia membayangkan Kalea sedang tertawa, menunjuk dadanya, dan menyebutnya sebagai pangeran yang tidak punya otak.

"Kau berhutang satu hal padaku, Kalea," bisik Arlo lirih, air mata kecil akhirnya jatuh dari sudut matanya, membasahi bantal sutranya yang mahal. "Kau berhutang untuk tetap hidup dan tetap membenciku. Agar suatu hari nanti, saat aku berhasil meruntuhkan dinding-dinding ini, aku bisa menemukanmu lagi."

Di luar menara, burung-burung berkicau menyambut hari baru yang penuh dengan kepalsuan istana. Namun di dalam Menara Barat, seorang pangeran baru saja menemukan arti dari sebuah kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan bukan karena ia berhasil mempertahankan mahkotanya, tapi karena ia berhasil melepaskan satu nyawa dari cengkeramannya.

Pesta pertunangan tetap akan berjalan. Helena tetap akan menjadi calon ratu. Namun Arlo Valerius tahu, noda di bajunya malam itu adalah satu-satunya hal paling bersih yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Dan rahasia tentang seorang gadis tukang cat akan menjadi retakan abadi yang tidak akan pernah bisa ditutup oleh cat mana pun di seluruh Kerajaan Aethelgard.

Malam-malam di menara itu akan menjadi sangat panjang. Tapi bagi Arlo, setiap detiknya adalah doa agar angin membawa kapalnya Kalea lebih jauh, ke tempat di mana warna putih bukan lagi sekadar cat untuk menutupi retakan, melainkan warna dari sebuah awal yang baru.

Arlo membalikkan tubuhnya, menatap dinding menara yang kusam. Ia mengambil sepotong batu kecil dari lantai dan mulai menggoreskan sesuatu di sana. Bukan lambang kerajaan, bukan namanya sendiri.

Ia menggambar sebuah retakan kecil. Sebuah simbol bahwa di tempat ini, pernah ada seorang pangeran yang mulai belajar untuk mencintai sebuah kehancuran demi sebuah kejujuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!