Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Malam di Jakarta selalu terasa bising, namun bagi Alisa, keheningan di dalam rumah pribadi Davino terasa jauh lebih memekakkan telinga. Sudah tiga puluh enam jam sejak Alvin datang ke rumah sakit dengan wajah tegang dan kabar tentang tim Davino yang terjepit di zona merah. Meskipun Alvin meyakinkan bahwa bala bantuan sudah dikirim, kecemasan itu seperti parasit yang menggerogoti ketenangan Alisa.
Pukul tiga dini hari, Alisa baru saja sampai di rumah setelah menyelesaikan double shift yang melelahkan. Tubuhnya terasa remuk, bau antiseptik seolah menempel permanen di kulitnya. Ia melangkah masuk ke ruang tengah yang gelap. Biasanya, ia akan melihat cahaya temaram dari balkon atau mendengar suara ketikan laptop Davino yang sedang meninjau laporan kasus. Namun malam ini, rumah itu mati.
Alisa duduk di sofa ruang tamu tanpa menyalakan lampu. Ia menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Ada perasaan aneh yang menyelinap di dadanya—sebuah perasaan hampa yang tidak masuk akal.
"Kenapa aku merasa sepi?" bisiknya pada kegelapan. "Bukannya aku benci kalau dia ada di sini dan terus mengatur hidupku?"
Ia merebahkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan mata. Ingatannya kembali pada momen kecupan di kening itu. Ia tahu itu hanya akting untuk Maura, tapi kehangatan yang tertinggal di sana seolah menjadi jangkar yang menahan pikirannya agar tidak hanyut dalam kepanikan. Alisa benci mengakui bahwa kehadiran pria kaku itu telah menjadi bagian dari "normalitas" barunya.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas dokter yang ia sampirkan di lengan sofa bergetar. Alisa tersentak, jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru menyambar benda pipih itu, berharap itu bukan kabar duka dari markas.
Sebuah pesan masuk dari nomor Davino.
Davino: Sudah pulang?
Hanya dua kata. Singkat, padat, tipikal Davino. Namun bagi Alisa, dua kata itu terasa seperti oksigen yang baru saja dipompakan ke paru-parunya. Ia segera mengetik balasan dengan tangan yang sedikit gemetar.
Alisa: Baru saja sampai. Mas di mana? Apa Mas terluka? Alvin bilang situasi di sana sedang gawat.
Alisa menunggu. Satu menit terasa seperti satu jam. Ia melihat status typing... di bagian atas layar, lalu hilang, lalu muncul lagi. Sepertinya pria di seberang sana sedang bergulat dengan kata-katanya sendiri.
Davino: Di markas taktis sementara. Tidak ada luka serius, hanya goresan. Jangan dengarkan Alvin, dia terlalu dramatis. Tidurlah, wajahmu pasti sudah seperti zombie kalau baru pulang shift malam.
Alisa mendengus, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Bahkan di tengah misi berbahaya, pria ini masih sempat mengejeknya.
Alisa: Aku serius, Mas. Beritanya bilang ada kontak senjata parah. Jangan berbohong padaku. Aku ini dokter, aku tahu kalau goresan yang Mas maksud biasanya adalah luka yang butuh jahitan.
Davino: Hanya butuh tidur sebentar. Besok tim penjemput akan tetap menjagamu ke RS. Pastikan Maura tidak telat kuliah. Aku kembali ke lapangan sekarang.
Pesan berakhir di sana. Alisa menatap layar ponselnya yang perlahan meredup. Ia merasa lega, namun rasa hampa itu tetap ada. Davino tidak sedang di sini. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu untuk memastikan keadaannya. Alisa baru menyadari bahwa ia merindukan interaksi dingin mereka—merindukan tatapan tajam yang seolah-olah sedang menginterogasinya setiap kali ia pulang terlambat.
Di perbatasan, di dalam sebuah tenda taktis yang hanya diterangi lampu senter merah, Davino menyandarkan punggungnya pada tumpukan peti logistik. Lengannya memang terluka, sebuah luka robek akibat serpihan ledakan yang kini sudah dibalut perban seadanya. Alvin benar, mereka terjepit, namun Davino berhasil memimpin timnya keluar dari kepungan.
Ia menatap ponselnya. Sebenarnya, ia tidak punya alasan untuk mengirim pesan pada Alisa. Tugasnya adalah memastikan keamanan, bukan melakukan basa-basi. Namun, sejak ia mengecup kening Alisa kemarin pagi, ada sesuatu yang aneh yang tumbuh di sela-sela kekosongan hatinya. Bayangan Alisa yang berdiri di ambang pintu dengan rambut berantakan terus menghantuinya di tengah hujan peluru.
"Kenapa aku jadi begini?" gumam Davino, jempolnya mengusap layar yang menampilkan nama 'Alisa'.
Ia teringat Sarah. Dulu, ia tidak pernah merasa secemas ini bahkan saat Sarah dalam bahaya. Namun dengan Alisa, ada rasa tanggung jawab yang bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum berani ia beri nama. Davino merasa harus memastikan Alisa tahu bahwa ia masih hidup, meskipun itu hanya lewat pesan singkat yang dingin.
"Kapten, tim alfa sudah siap bergerak ke koordinat B," lapor seorang anggota timnya.
Davino berdiri, memasukkan ponselnya ke saku taktis di dada kiri, tepat di atas jantungnya. "Bergerak sekarang. Selesaikan ini secepat mungkin agar kita bisa pulang."
Pulang. Kata itu kini memiliki arti yang berbeda bagi Davino. Dulu, pulang berarti kembali ke rumah sepi yang penuh bayangan masa lalu. Sekarang, pulang berarti kembali ke rumah di mana ada seorang wanita keras kepala yang akan mengomelinya karena ia pulang dengan luka baru.
Hari berikutnya di Rumah Sakit, Alisa tampak seperti orang yang berbeda. Ia bekerja dengan efisiensi yang menakutkan, namun matanya terus melirik ponsel setiap lima menit. Fani menyadarinya.
"Al, kalau kamu terus-terusan menatap ponsel itu, aku akan menyitanya," goda Fani saat mereka berada di kafetaria.
"Aku cuma menunggu kabar perkembangan pasien pasca-operasi tadi pagi," kilah Alisa cepat.
"Oh ya? Sejak kapan pasien pasca-operasi punya inisial 'D' di kontakmu?" Fani menunjuk layar ponsel Alisa yang menyala karena sebuah notifikasi.
Alisa segera menyambar ponselnya.
Davino: Makan siang. Jangan cuma minum kopi.
Alisa terpaku. Ini benar-benar tidak masuk akal. Davino Narendra, pria yang bahkan tidak tahu cara mengucapkan "terima kasih", baru saja mengirim pesan pengingat makan siang?
Alisa: Mas sendiri sudah makan? Masih di lapangan?
Davino: Sudah. Masih. Jangan banyak tanya, kerjakan saja perintahnya.
Fani yang ikut membaca (secara ilegal) langsung memekik tertahan. "Ya ampun! Mas Robot mulai bisa perhatian! Al, ini bukan akting buat Maura, kan? Maura nggak ada di sini sekarang!"
Wajah Alisa memerah sempurna. "Ini... ini mungkin cuma bagian dari protokol keamanan dia. Dia takut aku pingsan dan merepotkan tim pengawalnya."
"Halah! Protokol keamanan apanya? Itu namanya benih-benih cinta, Dokter Alisa Widanata!" Fani tertawa puas, sementara Alisa hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik gelas jus jeruk.
Namun jauh di dalam hatinya, Alisa merasakan sebuah kehangatan yang mulai menjalar. Rasa hampa yang ia rasakan semalam perlahan terisi oleh perhatian-perhatian kecil yang aneh ini. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak lagi melihat Davino sebagai "polisi yang menjengkelkan", melainkan sebagai seseorang yang kehadirannya—bahkan lewat teks singkat—sangat ia butuhkan untuk tetap waras.
Malam itu, Alisa pulang lebih awal. Ia sengaja mampir ke supermarket untuk membeli bahan-bahan masakan. Ia tidak tahu kapan Davino akan pulang, tapi ia ingin kulkas penuh jika pria itu kembali. Saat ia sedang memilih sayuran, ponselnya kembali bergetar.
Davino: Aku pulang malam ini. Mungkin jam 11. Jangan dikunci pintu balkon, aku masuk lewat sana agar tidak membangunkan Maura.
Jantung Alisa melonjak. Ia segera mendorong trolinya dengan lebih cepat. Ada rasa antusias yang sulit ia bendung. Ia ingin melihat goresan yang dikatakan Davino. Ia ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar "utuh".
Sesampainya di rumah, Alisa segera memasak sup ayam hangat—makanan yang menurutnya cocok untuk seseorang yang baru pulang dari medan tempur. Pukul 10.45, ia duduk di ruang tengah, menunggu dengan gelisah. Ia mematikan lampu ruang tamu, hanya menyalakan lampu kecil di dapur agar suasana tetap tenang seperti permintaan Davino.
Tepat pukul 11.15, terdengar suara gesekan halus di balkon lantai dua. Alisa berdiri, berjalan pelan ke arah tangga. Sosok hitam muncul dari balik tirai balkon. Davino masuk dengan langkah berat, pakaian taktisnya kotor oleh tanah dan darah kering. Wajahnya tampak sangat letih, matanya merah karena kurang tidur.
Davino berhenti saat melihat Alisa berdiri di depannya. Ia tidak menyangka Alisa akan menunggunya.
"Sudah kubilang jangan menungguku," ucap Davino dengan suara serak.
Alisa tidak menjawab. Ia melangkah maju, lalu tanpa sadar tangannya terulur menyentuh lengan Davino yang dibalut perban kasar. "Mas bohong. Ini bukan sekadar goresan."
Davino menatap tangan Alisa yang menyentuhnya. Sentuhan itu lembut, sangat kontras dengan kekasaran dunianya beberapa jam yang lalu. Ia ingin menarik diri, namun rasa lelah yang luar biasa membuatnya hanya bisa diam.
"Aku sudah pulang, Alisa," bisik Davino, suaranya kini terdengar lebih lembut, kehilangan otoritasnya yang biasa.
Alisa mendongak, menatap mata Davino. Di sana, di bawah keremangan lampu, ia tidak melihat seorang kapten polisi yang ditakuti. Ia melihat seorang pria yang butuh tempat untuk bersandar. Dan saat itu, Alisa tahu bahwa rasa hampa yang ia rasakan seharian ini bukan karena ia benci rumah yang sepi, tapi karena rumah itu tidak terasa seperti rumah tanpa kehadiran Davino.
"Ayo, aku obati dengan benar. Lalu Mas harus makan sup yang kubuat," ucap Alisa tegas, kali ini ia yang menggunakan otoritas dokternya.
Davino hanya bisa mengangguk pasrah. Di balik topeng robotnya, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang kembali berdenyut. Perhatian Alisa, omelannya, dan aroma sup dari dapur—semua itu mulai terasa jauh lebih nyata daripada misi-misinya. Benih-benih yang tumbuh itu mulai menembus lapisan es di hatinya, membuat Davino menyadari bahwa ia mungkin tidak hanya ingin "melindungi" Alisa karena tugas, tapi karena ia memang ingin wanita ini tetap ada di sisinya.
Kehidupan normal mereka telah kembali, namun dengan warna yang mulai berubah. Sebuah normalitas di mana ada rindu yang terselip di antara shift malam dan patroli polisi, dan ada cinta yang mulai mekar di antara dinginnya dinding rumah sakit dan panasnya peluru di perbatasan.
Bersambung