NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAK SURYADI DAN BUKU YANG TIDAK PERNAH SELESAI

Pak Suryadi berusia enam puluh delapan tahun, memiliki toko buku bekas selama tiga puluh dua tahun, dan punya kebiasaan membaca sinopsis buku baru tanpa pernah membeli satu pun karena "sinopsis sudah cukup, hidup terlalu pendek untuk semua buku yang ada."

Ini filosofi yang Wren tidak setuju tapi tidak pernah berdebat tentangnya karena Pak Suryadi punya cara menyampaikannya yang terlalu meyakinkan untuk dilawan sebelum pagi.

Arsa bertemu Pak Suryadi untuk pertama kalinya secara tidak sengaja — ia datang lebih awal dari jadwal dan Wren masih di sesi rekaman, jadi ia menunggu di toko. Pak Suryadi yang membuka pintu, melihat pria asing di depannya dengan tas selempang dan ekspresi orang yang biasa menunggu di tempat-tempat yang bukan miliknya, dan langsung berkata:

"Rekonstruktor, ya?"

Arsa terkejut. "Bagaimana Bapak tahu?"

"Wren cerita." Pak Suryadi membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Saya sedang sortir buku psikologi, mungkin ada yang berguna."

Itu awal dari sebuah persahabatan yang tidak direncanakan — antara Arsa dan pemilik toko buku bekas yang dua kali lipat usianya dan punya cara memandang dunia yang secara mengejutkan tidak jauh berbeda dengannya.

Mereka bicara tentang buku, tentang memori, tentang cara manusia merekonstruksi masa lalu mereka sendiri secara tidak akurat dan mengira itulah kebenaran. Pak Suryadi adalah orang yang sudah membaca lebih banyak dari yang bisa ia ingat tapi menyimpan tidak ada yang tertulis — "semua ada di sini," katanya mengetuk kepalanya. Arsa menangkis bahwa kepala adalah penyimpanan yang tidak reliable. Pak Suryadi tertawa.

"Kamu bilang begitu karena pekerjaanmu adalah membuktikan bahwa orang-orang salah ingat," kata Pak Suryadi. "Tapi coba pikir — kalau memori kita akurat sempurna, kita tidak akan punya kenangan. Kita hanya akan punya rekaman."

Arsa menatapnya. "Itu... cukup bagus."

"Saya punya banyak yang bagus. Tapi tidak ada yang mau bayar untuk mendengarnya.

Pagi setelah amplop Dito dibuka, Arsa datang ke toko sebelum naik ke studio Wren — ia ingin sebentar duduk diam di antara buku-buku sebelum hari dimulai, dan toko Pak Suryadi sudah menjadi tempat yang nyaman untuk itu.

Pak Suryadi sedang menyeduh kopi dengan cara yang tidak jauh berbeda dari Wren menyeduh teh — penuh perhatian, ritualistik.

"Duduk," katanya tanpa menoleh. "Kamu kelihatan seperti orang yang baru membaca sesuatu yang berat."

"Baru membaca sesuatu yang berat semalam, ya."

"Tentang adikmu?"

Arsa duduk di kursi rotan di sudut — kursi yang sudah ada di sana sejak sebelum ia pertama datang, dengan bantal yang sudah gepeng dari terlalu sering diduduki. "Tentang adik saya dan seseorang yang mencintai adik saya."

Pak Suryadi menuangkan kopi. Membawa dua cangkir ke sudut, menyerahkan satu ke Arsa, duduk di kursi sebelahnya. "Surat?"

"Surat."

"Dikirim?"

"Tidak."

Pak Suryadi mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang mendengar cerita yang sudah familiar. "Saya punya buku di toko ini," katanya, "yang judulnya Surat yang Tidak Pernah Sampai. Antologi. Saya tidak jual — saya simpan untuk koleksi pribadi." Ia menyesap kopinya. "Semua manusia punya versi surat itu. Kata-kata yang sudah dibentuk tapi tidak dikirim. Rasa yang sudah ada nama tapi tidak diucapkan."

"Bapak punya?"

Pak Suryadi tersenyum dengan cara yang mengatakan tentu saja tanpa mengatakannya. "Istriku yang pertama," katanya. "Kami pacaran dua tahun tapi saya tidak pernah bilang langsung bahwa saya ingin menikahi dia. Saya pikir ia tahu. Ia tidak tahu. Ia menikah dengan orang lain." Ia mengangkat bahu dengan cara yang ringan tapi bukan karena tidak pernah sakit. "Sekarang saya baik-baik saja. Tapi waktu itu, beberapa minggu setelah undangan pernikahannya datang, saya menulis surat. Panjang. Enam halaman."

"Dikirim?"

"Dibakar." Pak Suryadi mengetuk pelipisnya. "Tapi masih di sini. Setiap kata."

Arsa menatap kopinya. "Apakah bapak menyesal tidak mengatakannya waktu masih ada waktu?"

"Dulu ya. Sekarang..." Pak Suryadi berpikir. "Sekarang saya rasa penyesalan itu mengajari saya sesuatu yang tidak bisa saya pelajari dari buku manapun." Matanya bergerak ke arah tangga yang menuju ke studio di atas. "Kamu belajar itu juga, ya?"

Arsa mengikuti pandangannya ke tangga. Ke atas, di mana suara langkah kaki Wren yang baru turun dari kasur terdengar sayup-sayup melalui lantai.

Ia tidak menjawab pertanyaan Pak Suryadi. Tapi dari ekspresinya, sepertinya Pak Suryadi tidak memerlukan jawaban verbal.

Episode kesembilan Suara Asing adalah yang paling banyak dipersiapkan Wren sejak ia memulai kanal itu.

Biasanya ia hanya duduk di depan mikrofon, menempatkan surat di hadapannya, dan membaca. Proses yang organik, yang justru menghasilkan rekaman terbaiknya karena tidak ada jarak antara kata dan pengiriman. Pembaca pertama dan pengisi suaranya adalah orang yang sama dalam momen yang sama.

Tapi episode kesembilan berbeda.

Episode kesembilan adalah surat dari Dito untuk Raka — Untuk Tanah — yang akan ia bacakan bukan sebagai bagian dari dua belas surat asli dalam kotak kayu, tapi sebagai semacam jawaban. Satu jawaban yang datang dari arah yang berlawanan, terlambat bertahun-tahun, tapi ada.

Ia sudah berbicara dengan Arsa dan Ibu Sari. Keduanya setuju — dengan cara yang berbeda, Ibu Sari dengan syarat-syarat yang hati-hati tentang detail apa yang boleh disebutkan, Arsa dengan cara yang lebih sederhana: "Lakukan."

Wren duduk di depan mikrofon. Mengatur posisi surat Dito di hadapannya.

Tapi sebelum mulai, ia menekan rekam — dan berbicara tanpa membaca apapun:

"Selama delapan minggu terakhir, saya membacakan surat-surat dari seseorang kepada orang yang ia cintai. Orang yang menulis tidak ada lagi. Orang yang seharusnya menerima surat-surat itu juga tidak ada lagi. Tapi kata-kata itu ada — dan jutaan dari Anda telah mendengarnya.

"Hari ini ada sesuatu yang berbeda. Hari ini saya akan membacakan sebuah surat — satu surat — yang ditulis dari arah yang berlawanan. Dari Langit kepada Tanah. Dari orang yang dicintai kepada orang yang mencintai.

"Saya tidak tahu apakah ada yang namanya terlambat untuk kata-kata yang layak diucapkan. Saya pikir tidak. Saya pikir kata-kata yang benar tidak pernah kadaluarsa. Mereka hanya menunggu cara untuk sampai.

"Ini cara mereka sampai hari ini."

Ia berhenti. Menarik napas.

Membaca.

Di apartemen Kemang Selatan, Arsa duduk di depan monitornya dengan earphone di telinga, mendengarkan siaran langsung episode itu.

Mendengarkan suara Wren membawa kata-kata Dito.

Dan untuk pertama kalinya sejak empat tahun — pertama kalinya sejak ia berdiri di ruang jenazah yang berbau antiseptik dan menandatangani dokumen-dokumen yang tidak pernah seharusnya ia tandatangani di usia dua puluh enam tahun — ia merasa sesuatu yang tidak sepenuhnya ia bisa namai bergerak di dalam dadanya.

Bukan hancur. Bukan seperti malam-malam di tahun pertama setelah Raka pergi, malam-malam yang terasa seperti gravitasi berlipat ganda dan bahkan duduk tegak perlu usaha ekstra.

Lebih seperti — mencair. Sesuatu yang sudah beku sangat lama mulai mengalir lagi dengan perlahan, dengan cara yang tidak menyakitkan tapi terasa asing karena sudah sangat lama ia lupa bagaimana rasanya.

Kamu adalah orang pertama yang melihat foto-foto langitku dan tidak bilang cantik atau keren atau wow.

Kamu memang tanah. Selalu ada. Selalu bisa dipijak.

Raka. Raka yang selalu ada di mana-mana tapi tidak pernah cukup dekat. Raka yang dicintai dengan cara yang paling jujur oleh seseorang yang tidak punya kata-kata yang cukup besar untuk itu.

Raka yang sekarang didengarkan jutaan orang meski ia tidak ada.

Episode berakhir. Wren tidak berkata apa-apa setelahnya — tidak ada outro, tidak ada komentar penutup. Hanya diam beberapa detik, lalu rekaman berhenti.

Arsa melepas earphone.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!