Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Besok Pagi?
Keesokan paginya, studio desain Oxford terasa lebih dingin dari biasanya, setidaknya bagi Gaby. Ia melangkah masuk dengan senyum yang dipaksakan sempurna. Di depannya, Melvin sudah sibuk dengan maket struktur "Sanctuary", tampak begitu fokus dan tulus dengan pekerjaannya.
"You’re late, Gaby. The dragon kept you up all night?" tanya Melvin tanpa menoleh, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur namun tetap terdengar tajam.
"Hanya obrolan keluarga yang membosankan," jawab Gaby ringan, meletakkan tasnya dan segera mengaktifkan tabletnya.
Sepanjang sesi asistensi, Gaby melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia tidak lagi hanya melihat estetika. Sambil berpura-pura mendiskusikan tekstur bahan, jemarinya lincah membuka folder-folder lampiran teknis dalam dokumen proyek kolaborasi mereka. Ia mencari celah, mungkin sebuah klausul hak cipta yang janggal, akses data pihak ketiga, atau rincian pendanaan yang disisipkan Melvin.
"Gaby? Kau melamun?" suara Melvin memecah konsentrasi Gaby.
Gaby tersentak kecil, namun segera menetralkan ekspresinya. "Aku hanya berpikir... apakah struktur penyangga ini tidak terlalu berlebihan? Rasanya seperti kau ingin mengunci isi di dalamnya, bukan sekadar melindunginya."
Melvin menghentikan gerakannya. Ia menatap Gaby cukup lama, matanya yang kelam seolah sedang membedah pikiran gadis itu. "Protection and imprisonment are two sides of the same coin, Gaby. You should know that better than anyone."
(Perlindungan dan pemenjaraan adalah dua sisi dari mata uang yang sama, Gaby. Kau seharusnya tahu itu lebih baik dari siapapun.)
Gaby merasakan jantungnya berdegup kencang. Apakah itu sindiran untuk Emrys, atau pengakuan atas niatnya sendiri?
Saat Melvin pergi ke kantin untuk mengambil kopi, Gaby dengan cepat menyalin beberapa file log aktivitas proyek ke dalam drive pribadinya. Ia harus memastikan bahwa tidak ada kode tersembunyi atau transmisi data keluar ke server Blackwood Group tanpa sepengetahuannya.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar monitor utama yang sedang terhubung dengan laptop Melvin. Sebuah email masuk dengan subjek: "Kaito's Weak Point - Progress Report".
Darah Gaby mendidih. Tangan Gaby gemetar hebat saat ia mengarahkan kamera ponselnya ke layar monitor Melvin. Klik. Gambar itu tertangkap sempurna. Subjek email yang seolah mengonfirmasi ketakutan terdalam Emrys: "Kaito's Weak Point - Progress Report".
Tepat saat ia mengunci ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku, Melvin melangkah masuk dengan dua cup kopi di tangannya. Aroma kafein yang tajam memenuhi ruangan, namun Gaby merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
"You look like you've seen a ghost, Gaby," ujar Melvin santai, menyodorkan satu cup kopi ke arahnya. Matanya yang tajam melirik sekilas ke arah monitornya yang masih menyala, lalu kembali menatap Gaby dengan senyum miring yang sulit diartikan.
"Hanya... kurang tidur," jawab Gaby singkat, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia segera kembali ke mejanya, berpura-pura sibuk dengan sketsa pola kain, padahal pikirannya sedang berteriak.
Sisa hari itu terasa seperti siksaan. Setiap tawa Melvin, setiap sentuhan ringan pria itu pada bahunya saat mengoreksi desain, dan setiap kata-kata manis tentang "masa depan karier Gaby" kini terasa seperti bisa ular yang mematikan. Gaby merasa bodoh. Apakah selama ini ia hanya menjadi "pintu masuk" yang tidak terkunci bagi keluarga Blackwood?
Sore harinya, Gaby memacu Ferrari merahnya membelah London dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Ia tidak lagi menikmati angin atau kebebasan. Yang ia rasakan hanyalah keinginan untuk segera sampai di penthouse.
Sesampainya di rumah, ia tidak menunggu makan malam. Ia langsung menuju ruang kerja Emrys tanpa mengetuk.
Emrys sedang berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu. Ia berbalik perlahan saat mendengar langkah kaki Gaby yang terburu-buru. Wajahnya tetap tenang, seolah ia sudah menduga kepulangan adiknya yang tidak biasa ini.
"Kau benar, Kak," suara Gaby parau, hampir pecah. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Emrys. "Melvin... dia benar-benar melakukannya. Dia melaporkan setiap kemajuanku sebagai 'titik lemah' Kaito."
Emrys mengambil ponsel itu, matanya menyipit saat membaca baris subjek email di foto tersebut. Rahangnya mengeras, dan aura dingin yang mencekam seketika memenuhi ruangan. Keheningan yang menyusul terasa jauh lebih menakutkan daripada ledakan kemarahan mana pun.
"Jadi, serigala itu akhirnya menunjukkan taringnya," gumam Emrys dengan suara rendah yang menggetarkan. Ia mengembalikan ponsel itu pada Gaby, lalu menatap adiknya dengan tatapan yang kini dipenuhi rasa protektif yang meledak-ledak. "Sekarang kau mengerti kenapa aku mengekangmu, Gaby?"
Gaby menunduk, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Proyek ini... 'Sanctuary'... apakah semuanya harus hancur?"
Emrys terdiam cukup lama, memandangi foto di layar ponsel Gaby dengan tatapan yang bisa membekukan aliran darah siapa pun. Keheningan di ruang kerja itu terasa mencekam, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur waktu kehancuran seseorang.
"Jangan hapus foto itu," ucap Emrys rendah. Ia mengembalikan ponsel Gaby, lalu berjalan pelan mengelilingi meja mahagoninya, jemarinya mengetuk permukaan kayu dengan ritme yang teratur. "Dan besok... kau akan tetap masuk ke studio. Bersikaplah seolah tidak ada yang terjadi. Tersenyumlah padanya, diskusikan desainmu, dan biarkan dia merasa sudah menang."
Gaby menatap kakaknya dengan nanar. "Tetap masuk? Kak, dia sedang membedah kelemahan kita lewat aku! Aku tidak bisa berpura-pura setelah melihat itu!"
Emrys berhenti melangkah tepat di depan Gaby. Ia mencengkeram bahu adiknya, memberikan tekanan yang mantap namun menenangkan. "Kau adalah bagian dari Kaito, Gaby. Akting adalah bagian dari pertahanan kita. Jika kau lari sekarang, dia akan tahu kita sudah mencium busuknya. Biarkan dia tetap di sana, merasa nyaman di posisinya, sementara aku..."
Emrys mengeluarkan ponsel enkripsi khususnya dan menekan sebuah kode singkat. "Tim IT Kaito sedang bergerak sekarang. Jika dia ingin mencari 'titik lemah' kita melalui server pendidikan Oxford, maka aku akan membongkar seluruh isi 'brankas' keluarga Blackwood melalui server pribadi mereka. Kita tidak hanya akan menghentikan proyek ini, Gaby. Kita akan memastikan keluarga Blackwood tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di London."
Mata Emrys berkilat dingin. "Biarkan dia terus mengetik laporannya. Setiap karakter yang dia ketik besok adalah umpan yang akan menarik tim IT-ku masuk lebih dalam ke jantung pertahanan ayahnya. Kau hanya perlu menjadi 'umpan' yang manis, Gaby. Bisakah kau melakukannya?"
Gaby menelan ludah. Ia merasakan gejolak antara rasa sakit karena dikhianati dan keinginan untuk membalas dendam yang mulai membakar dadanya. Ia menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya.
"Aku bisa, Kak. Aku akan memberinya pertunjukan yang sangat meyakinkan," jawab Gaby dengan nada yang kini jauh lebih tegas.
Emrys mengangguk puas. Ia mengusap pipi Gaby dengan ibu jarinya, sebuah gestur kasih sayang yang langka namun tulus. "Tidurlah. Besok pagi, bawalah Ferrari merahmu. Biar seluruh dunia termasuk Melvin melihat bahwa 'aset' Kaito tetap bersinar, meski di tengah pengkhianatan."
.
.
.
Pintu ruang kerja tertutup dengan bunyi klik yang halus, meninggalkan Emrys dalam kesunyian yang berat. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, menatap pintu kayu ek itu seolah-olah ia masih bisa melihat bayangan adiknya di sana.
Emrys menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat dengan beban yang tidak akan pernah ia bagikan pada Gaby. Ia berjalan perlahan menuju jendela besar, menatap gemerlap lampu London yang tampak seperti jaring laba-laba raksasa.
Ia tahu. Melvin Jabulani-Blackwood tidak sebodoh itu hingga membiarkan email dengan subjek sevulgar itu terbuka di hadapan Gaby.
Melvin sebenarnya telah menyadari satu hal yang jauh lebih berbahaya. Emrys telah mulai melepaskan kendalinya pada Gaby.
Bagi Melvin, "titik lemah" Kaito yang sesungguhnya bukanlah data perusahaan atau rahasia dagang yang bisa dicuri lewat server. Titik lemah itu adalah perasaan Emrys sendiri terhadap adiknya. Melvin sengaja membiarkan Gaby melihat email itu. Itu bukan kecerobohan. Itu adalah umpan. Melvin ingin melihat apakah Emrys akan kembali mengurung Gaby karena rasa takut, atau apakah Emrys akan membiarkan Gaby menjadi pemain di tengah papan catur yang berdarah ini.
Melvin sedang menguji sejauh mana Emrys bersedia mempertaruhkan keselamatan mental Gaby demi memenangkan perang antar keluarga.
Emrys mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu jika ia memberi tahu Gaby bahwa Melvin sengaja menjebaknya untuk melihat reaksi Emrys, Gaby akan hancur karena menyadari bahwa dirinya hanyalah instrumen eksperimen bagi kedua pria itu.
"Kau bermain dengan api, Blackwood," gumam Emrys rendah, suaranya nyaris seperti geraman binatang buas. "Kau pikir kau sedang memancingku keluar dari bayangan? Kau tidak tahu bahwa aku sudah berada tepat di belakangmu."
Emrys meraih ponselnya, membatalkan perintah serangan siber skala penuh yang baru saja ia berikan. Ia mengubah strateginya. Jika Melvin ingin bermain dengan emosi dan persepsi, maka Emrys akan memberikan pertunjukan yang jauh lebih gelap.
Ia tidak akan memberi tahu Gaby. Biarlah adiknya percaya bahwa ia sedang memegang kendali atas balas dendam ini. Karena di dunia Kaito, ketidaktahuan terkadang adalah bentuk perlindungan yang paling murni meskipun itu berarti Emrys harus membiarkan adiknya berjalan masuk ke sarang serigala dengan senyuman palsu di wajahnya.
Emrys kini bermain dua langkah di depan Melvin, namun Gaby berada di tengah-tengahnya!
Apa yang akan terjadi di studio esok pagi?