Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Pagi di St. Jude’s High School terasa lebih berat dari biasanya bagi Salene Lumiere. Di tangannya, sebuah tablet transparan menampilkan daftar pembagian kelompok untuk proyek akhir sejarah seni: “Analisis Estetika Modernitas London”. Matanya menyipit, membaca baris kelima dengan rasa tidak percaya yang mendalam.
Kelompok 5: Salene Lumiere & Nikolas Martinez.
"Ini pasti kesalahan sistem," desis Salene, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Clark... si kutu komputer itu pasti pelakunya."
"Alen! Kita satu tim besar, tapi kau berpasangan langsung dengan Nik!" Lauren muncul di sampingnya, menarik-narik lengan baju sutra Salene. "Dan aku? Aku satu kelompok dengan Kent! Oh, terima kasih Tuhan, terima kasih algoritma sekolah!"
Salene tidak mendengar ocehan Lauren. Matanya tertuju pada pintu masuk kelas di mana Nikolas baru saja melangkah masuk dengan gaya santainya—jaket kulit tersampir di bahu, kemeja seragam yang tidak dikancing rapi, dan senyum miring yang selalu ingin Salene hapus dari wajahnya.
Nikolas berjalan mendekat, diikuti oleh Leonard dan Dion yang sudah cekikikan di belakang. Kent mengekor di posisi paling belakang dengan wajah datar tanpa dosa.
"Halo, Partner," sapa Nikolas, duduk di atas meja tepat di depan kursi Salene. "Sepertinya semesta ingin kita menghabiskan waktu lebih banyak bersama."
Salene menutup tabletnya dengan dentuman keras. "Jangan harap. Aku akan mengerjakan bagianku sendiri. Aku tidak sudi namaku bersanding dengan remaja urakan yang hobi sampah seperti kalian. Keberadaan mu di proyek ini hanya akan merusak nilai sempurnaku."
"Sampah?" Nikolas mengangkat alis, tampak tidak tersinggung sama sekali. "Kau bicara soal motor atau soal kami?"
"Keduanya!" Salene berdiri, menatap Nikolas dengan tatapan menghina. "Kalian hanya sekumpulan pengacau yang tidak punya masa depan. Hobi balapan liar dan berkelahi itu... kalian pasti akan berakhir mati mengenaskan di jalan. Kalau tidak mati digebukin orang karena sok jagoan, ya paling tidak hancur di bawah lintasan truk. Dunia tidak butuh sampah jalanan seperti kalian."
Suasana kelas mendadak hening. Kata-kata Salene terlalu tajam, bahkan untuk standar seorang gadis porselen. Namun, alih-alih marah atau membalas dengan makian, Nikolas justru memiringkan kepalanya, menatap Salene dengan binar jenaka yang aneh.
"Kematian yang dramatis," gumam Nikolas pelan. Lalu, dia menoleh ke arah Dion. "Dion, kau tahu kenapa bibir Nona Porselen ini selalu berwarna merah menyala?"
Dion, yang sudah paham kode bosnya, langsung menyambar, "Kenapa, Bos? Apa karena dia baru saja memakan hati pria-pria malang yang dia tolak?"
"Bukan," Nikolas kembali menatap Salene, memajukan wajahnya hingga hanya tersisa jarak beberapa inci. "Itu karena dia pakai lipstik terlalu tebal. Warna merah itu... itu pasti cara dia menutupi betapa dinginnya kata-kata yang keluar dari sana."
Salene tertegun, lalu tawa sinis keluar dari bibirnya. "Aku pakai lipstik? Kau benar-benar buta atau memang bodoh, Nik? Dasar begajulan. Lipstik dari mana?"
Salene dengan kasar mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan, menggosoknya berulang kali hingga kulitnya sedikit memerah. Dia menunjukkan tangannya yang bersih tanpa noda warna sedikit pun kepada Nikolas.
"Lihat! Ini bukan lipstik. Aku hanya pakai pelembab bibir tanpa warna. Kau salah besar, Nik. Ini warna asli," ucap Salene bangga, dadanya naik turun karena emosi.
Lauren, yang berdiri di antara kerumunan, ikut menyahut dengan suara cemprengnya. "Iya, Kent suamiku, beritahu Nik! Alen memang tidak pernah pakai lipstik merah. Dia benci kosmetik berlebihan. Itu warna alami bibirnya dari lahir!"
Kent hanya melirik sekilas, lalu mengangguk pendek sekali, membenarkan ucapan Lauren tanpa mengeluarkan suara.
"Warna alami?" Nikolas bergumam, suaranya tiba-tiba merendah. "Masa???"
Tanpa peringatan, Nikolas mengulurkan tangannya. Jari telunjuknya yang kasar, dengan sedikit bekas luka di buku jari, bergerak menuju wajah Salene. Salene membeku. Dia seharusnya menghindar, seharusnya menampar tangan lancang itu, namun tubuhnya seolah dikhianati oleh sarafnya sendiri.
Jempol Nikolas mendarat di sudut bibir pink alami milik Salene.
Saat itu juga, udara di sekitar mereka seolah tersedot habis. Nikolas bisa merasakan kelembutan yang mustahil di bawah jarinya—sesuatu yang sangat kontras dengan aspal keras yang biasa dia sentuh. Jakun Nikolas bergerak naik turun saat dia menelan ludah. Darahnya berdesir hebat, menciptakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dia menekan pelan sudut bibir itu, mengusapnya sedikit untuk memastikan tidak ada pigmen buatan yang menempel.
"Ini... warna asli?" tanya Nikolas, suaranya serak dan hampir berbisik.
Mata mereka bertabrakan. Untuk pertama kalinya, Salene tidak melihat ejekan di mata Nikolas. Dia melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kekaguman yang jujur. Dan untuk pertama kalinya pula, porselen itu merasa seolah dia sedang dipanggang di dalam api yang sangat panas, siap untuk dilelehkan.
"Lepaskan," bisik Salene, namun suaranya kehilangan ketajaman biasanya.
Nikolas tidak langsung melepaskannya. Dia menatap bibir itu sekali lagi, lalu ke mata Salene, sebelum akhirnya menarik tangannya perlahan.
"Ternyata," Nikolas tersenyum, kali ini senyum yang berbeda—lebih lembut dan penuh rahasia. "Porselen ini punya warna yang lebih indah dari yang kukira. Sayang sekali warnanya hanya digunakan untuk memaki orang."
Leonard dan Dion saling lirik, lalu bersiul bersamaan, memecah ketegangan yang hampir membuat seisi kelas meledak.
🌷🌷🌷