NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: MOMEN IMPULSIF ARDI

Setelah Maya pergi, Ardi masih duduk di kafe sendirian.

Kopinya sudah dingin. Kopi Sari juga. Dua cangkir di hadapannya, satu masih setengah, satu hampir penuh karena Sari tidak sempat menyesap setelah semuanya pecah. Ardi menatap kedua cangkir itu, lalu memanggil pelayan untuk membayar.

“Teman Bapak tadi sudah bayar,” kata pelayan itu.

Ardi mengangguk, berdiri, berjalan ke pintu keluar. Di luar, hujan sudah reda, tapi langit masih kelabu. Mobilnya parkir di basement, tapi dia tidak segera ke sana. Dia berdiri di trotoar, menghirup udara yang masih lembab, mencoba menenangkan detak jantungnya.

Ponselnya bergetar.

Maya: Aku pulang sendiri. Aku butuh sendiri.

Dia membaca pesan itu tiga kali, lalu memasukkan ponsel ke saku. Tidak membalas.

Di dalam mobil, Ardi duduk lama tanpa menyalakan mesin. Jari-jarinya di setir, matanya kosong menatap dinding parkir yang kelabu. Dia memikirkan wajah Sari ketika dia melihat tangan Ardi menggenggam tangan Maya. Bukan marah. Bukan histeris. Tapi sesuatu yang lebih hancur: kepercayaan yang runtuh dalam sekejap.

Kalian selingkuh. Di belakang aku. Di belakang ayah kau, Ardi.

Ardi menutup mata, membenturkan kepalanya ke sandaran kursi pelan. Bodoh. Dia pikir dengan membawa Maya, semuanya akan selesai dengan bersih. Sari akan tahu bahwa dia sudah punya orang lain, dan Sari akan berhenti berharap. Tapi dia tidak menghitung bahwa Sari akan tahu siapa orang itu. Dan dia tidak menghitung bahwa Maya akan hancur melihat Sari hancur.

Dia menyalakan mesin, keluar dari parkiran, melaju tanpa arah.

---

Ardi tidak pulang.

Dia berkendara selama satu jam tanpa tujuan, melewati jalan-jalan yang tidak dikenalnya, masuk ke wilayah Jakarta Selatan yang asing. Rumah-rumah mewah berganti ruko-ruko kecil, lalu perumahan padat, lalu jalan setapak yang sempit. Akhirnya dia berhenti di sebuah pom bensin, membeli rokok meskipun dia sudah berhenti setahun lalu.

Duduk di mobil, membuka bungkus rokok dengan jari yang sedikit gemetar. Menyalakan satu, menghisap dalam-dalam. Asap memenuhi kabin, membuat matanya perih. Dia batuk kecil—tubuhnya sudah lupa.

Ponselnya bergetar lagi.

Bukan Maya. Sari.

Aku nggak akan diem aja. Kalian nggak bisa sembunyi selamanya.

Ardi menatap layar, membaca pesan itu. Jari-jarinya menggantung di atas keyboard, ingin membalas, ingin bilang maaf, tapi kata itu terlalu kecil. Dia mematikan ponsel, membuangnya ke kursi penumpang.

Rokok habis, dia menyalakan satu lagi. Di luar, langit mulai gelap. Di dalam mobil, Ardi duduk dengan kemeja yang sudah kusut, dasi yang sudah dia lepas, rambut yang berantakan karena sering diusap.

Telepon berdering. Sari menelepon.

Ardi membiarkannya berdering sampai putus. Kemudian Sari menelepon lagi. Dan lagi. Tiga kali berturut-turut, Ardi tidak menjawab.

Setelah yang ketiga, Sari mengirim pesan suara. Ardi menekan putar dengan ragu.

Suara Sari terdengar serak, seperti baru selesai menangis. Ardi, aku nggak peduli kau sama Maya. Tapi kau harus jelasin ke aku. Kau janji ketemu, tapi kau malah bawa dia. Itu nggak adil. Aku di apartemen. Aku tunggu sampai jam sembilan. Kalau kau nggak datang, aku akan datang ke rumah. Dan aku nggak akan diam di depan ayah kau.

Pesan itu berakhir. Ardi menatap ponsel, melihat jam: pukul setengah tujuh. Satu setengah jam lagi.

Dia membuang puntung rokok, menyalakan mesin, dan melaju menuju apartemen Sari.

---

Di perjalanan, hujan mulai turun lagi. Gerimis kecil yang membasahi kaca depan, membuat lampu-lampu jalan terlihat buram. Ardi menyetir dengan tangan tegang di setir, pikirannya kemana-mana. Dia membayangkan Sari duduk di apartemennya, mungkin masih dengan blus putih yang dia kenakan tadi pagi, rambut yang sudah tidak rapi, mata yang bengkak.

Dia membayangkan Maya di rumah, duduk di tepi ranjang, menggambar sesuatu yang tidak akan pernah selesai.

Dia membayangkan ayahnya, Bram, yang suatu hari akan tahu.

Ardi menginjak gas lebih dalam, memotong beberapa mobil di depannya. Sebuah klakson panjang membuyarkan lamunannya. Dia sadar dia hampir menabrak mobil di lajur kanan. Dengan cepat dia membelokkan setir, mobilnya oleng sebentar, lalu stabil. Jantungnya berdebar kencang.

Dia menepi di bahu jalan, menurunkan kaca, menghirup udara dingin yang bercampur bau hujan.

“Kau bodoh,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Dia menutup mata, mencoba mengatur napas. Ketika membuka mata lagi, dia melihat ponselnya bergetar di kursi penumpang.

Maya: Di mana kau?

Ardi menatap pesan itu, ingin membalas, tapi tidak tahu harus berkata apa. Aku mau ke apartemen Sari? Maya akan panik. Aku di jalan? Maya akan tahu dia berbohong.

Dia tidak membalas.

Sepuluh menit kemudian, pesan lain masuk. Masih dari Maya.

Ardi, aku khawatir. Balas.

Ardi membuang ponsel ke dashboard, menyalakan mesin, dan melanjutkan perjalanan.

---

Apartemen Sari berada di gedung tinggi di kawasan Kuningan. Ardi parkir di basement, naik lift ke lantai 12, berdiri di depan pintu nomor 127. Dia ragu sebentar, jarinya di bel pintu, tidak menekan.

Pintu terbuka sebelum dia sempat menekan.

Sari berdiri di ambang pintu, masih dengan blus putih yang sama, tapi sudah kusut dan basah di bagian kerah—mungkin karena air mata. Matanya merah, hidungnya kemerahan, rambutnya dibiarkan tergerai kusut. Dia menatap Ardi dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.

“Masuk,” katanya. Suaranya datar, tidak seperti di pesan suara tadi.

Ardi masuk. Apartemen Sari selalu rapi, tapi hari ini kacau. Bantal sofa jatuh, tisu berserakan di meja kopi, ada gelas wine yang setengah kosong meskipun Sari tidak pernah minum sendirian.

Sari menutup pintu, berjalan ke sofa, duduk. Dia tidak menawarkan Ardi duduk, tapi Ardi duduk di kursi seberangnya.

Mereka diam sebentar.

“Kau datang,” kata Sari akhirnya.

“Kau menelepon tiga kali.”

“Aku akan datang ke rumah kalau kau tidak datang.” Sari menarik napas, jari-jarinya memainkan ujung blus yang basah. “Tapi aku nggak akan bilang apa-apa ke ayah kau. Aku hanya ingin tahu.”

“Tahu apa?”

Sari menatap Ardi, matanya tajam. “Sejak kapan? Sejak kapan kau sama Maya?”

Ardi tidak menjawab.

“Sejak sebelum atau sesudah dia nikah sama ayah kau?”

“Sari—”

“Jawab.” Suara Sari naik sedikit, tapi cepat-cepat diturunkan. “Aku berhak tahu.”

Ardi menunduk, menatap tangannya sendiri yang terkepal di pangkuan. “Setelah.”

“Setelah berapa lama?”

“Beberapa bulan.”

Sari tertawa. Bukan tertawa bahagia, tapi tertawa pahit yang membuat Ardi merinding. “Beberapa bulan. Berarti saat aku sama kau, saat aku masih pacaran sama kau, saat aku masih percaya kau bakal berubah—kalian sudah mulai.”

Ardi tidak membantah.

Sari berdiri, berjalan ke jendela, membuka tirai. Di luar, lampu-lampu kota menyala, tapi pandangannya buram karena hujan yang membasahi kaca. Dia berdiri di sana, membelakangi Ardi, bahunya naik turun perlahan.

“Kenapa Maya?” suaranya pelan. “Kenapa bukan perempuan lain? Kenapa harus istri ayah kau?”

Ardi menatap punggung Sari, mencari kata-kata yang tidak akan menyakitkan, tapi tidak ada. Semua yang dia katakan akan menyakitkan.

“Aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya. Itu jujur.

Sari berbalik, matanya merah tapi tidak menangis. “Kau tidak tahu? Kau tidur dengan ibu tiri kau, kau menghancurkan hatiku, kau mengkhianati ayah kau—dan kau bilang kau tidak tahu?”

“Aku tahu ini salah. Tapi aku tidak bisa—aku tidak bisa berhenti.”

“Berhenti?” Sari mendekat, berdiri di depan Ardi, menatapnya dari atas. “Kau tidak mau berhenti. Itu bedanya. Kau nyaman dengan Maya. Kau nyaman karena dia di rumah, karena dia selalu ada, karena dia nggak pernah protes. Aku terlalu banyak protes, ya? Aku terlalu banyak minta perhatian?”

“Sari, bukan itu—”

“Apa? Apa yang kurang dari aku?” Suara Sari pecah. “Empat tahun aku setia. Aku selalu ada. Aku maafin setiap kali kau cuek, setiap kali kau batalkan janji, setiap kali kau lebih memilih kerja daripada aku. Dan sekarang aku tahu kenapa. Bukan karena kerja. Karena kau lebih milih dia.”

Ardi berdiri, meraih tangan Sari. “Aku minta maaf.”

Sari melepaskan tangannya dengan kasar. “Maaf? Maaf nggak akan mengembalikan empat tahun hidupku. Maaf nggak akan menghapus semua kebohongan kau.”

Dia mundur, menjauh, berdiri di dekat meja kopi. Tangannya gemetar, meraih gelas wine, menyesap cepat, lalu meletakkannya kembali dengan suara keras.

“Kau harus putus sama Maya,” kata Sari tiba-tiba.

Ardi terdiam.

“Kau dengar aku? Kau harus putus. Sebelum ayah kau tahu. Sebelum semuanya hancur.”

Ardi menatap Sari, matanya gelisah. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa? Karena kau cinta?” Sari tersenyum pahit. “Cinta? Itu bukan cinta, Ardi. Itu obsesi. Itu egoisme. Kau hanya nggak mau kehilangan sesuatu yang mudah kau dapat.”

“Sari—”

“Kau pilih. Maya atau semuanya. Perusahaan, nama keluarga, ayah kau, masa depan kau. Kalau kau terus sama Maya, suatu hari semua akan tahu. Dan kau akan kehilangan segalanya.”

Ardi tidak menjawab.

Sari menatapnya lama, lalu menghela napas panjang. “Kau nggak akan putus, ya?”

“Aku—”

“Cukup.” Sari mengangkat tangan, menyuruhnya diam. “Aku tahu jawabannya. Kau nggak akan pernah memilih aku. Dan kau juga nggak akan memilih ayah kau. Kau cuma mikirin diri kau sendiri.”

Dia berjalan ke pintu, membukanya lebar. “Pulang. Sebelum aku berubah pikiran dan telepon ayah kau sekarang.”

Ardi berdiri, berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti, menoleh. “Sari, aku—”

“Jangan.” Sari tidak menatapnya. Matanya tertuju ke lantai, tangannya di gagang pintu. “Jangan bilang apa-apa. Pulang.”

Ardi melangkah keluar. Pintu ditutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa berat.

Dia berdiri di koridor, menatap pintu tertutup itu, mendengar isak tangis yang tertahan dari baliknya. Tangannya terangkat, ingin menekan bel lagi, tapi tidak jadi. Dia menurunkan tangan, berjalan ke lift, meninggalkan Sari yang menangis sendirian.

---

Di mobil, Ardi duduk lama tanpa menyalakan mesin.

Ponselnya sudah penuh dengan notifikasi. Pesan Maya yang tidak dibalas. Panggilan tidak terjawab dari Maya. Dan satu pesan dari Sari yang dikirim setelah dia keluar:

Aku nggak akan bilang apa-apa ke siapapun. Tapi jangan harap aku akan diam kalian bahagia. Aku hanya butuh waktu. Tapi suatu hari, kalian akan lihat apa akibat dari pilihan kalian.

Ardi membaca pesan itu sekali, lalu menghapusnya.

Dia menyalakan mesin, keluar dari basement, melaju pulang. Di jalan, hujan sudah reda, tapi jalanan basah dan licin. Ardi menyetir pelan, tidak seperti tadi. Pikirannya kacau.

Dia membayangkan Maya yang menunggu di rumah. Wajahnya yang kosong, matanya yang basah, suaranya yang bilang kita menghancurkannya. Dan dia membayangkan Sari yang menangis di balik pintu, yang memintanya memilih, yang tahu dia tidak akan pernah memilih.

Ketika lampu merah, Ardi membuka ponsel, membaca pesan Maya yang belum dibalas. Yang terakhir: Ardi, aku khawatir. Aku telepon kamu berkali-kali. Di mana kamu?

Jari-jarinya mengetik: Aku di jalan. Nanti sampai.

Dia mengirim, lalu mematikan ponsel.

Lampu hijau. Ardi melaju, meninggalkan lampu-lampu kota di belakang, menuju rumah yang terasa semakin berat setiap kali dia mendekat.

---

Di rumah, Maya sedang duduk di ruang keluarga ketika Ardi masuk.

Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Yuni sudah pulang. Rumah terasa sunyi, hanya suara jam dinding dan napas mereka berdua.

Maya menatap Ardi dari sofa, matanya lelah. “Kamu dari mana?”

Ardi melepas jaket, menggantungnya di belakang pintu. “Jalan-jalan. Butuh udara.”

“Sari menghubungimu?”

Ardi berhenti. Dia menatap Maya, mencari kebohongan yang akan membuat semuanya lebih mudah. Tapi matanya bertemu dengan mata Maya yang sudah tahu.

“Aku ke apartemennya,” kata Ardi akhirnya.

Maya tidak terkejut. Dia hanya mengangguk pelan, seperti sudah menduga. “Dia bagaimana?”

“Marah. Sedih. Kecewa.” Ardi duduk di sofa di seberang Maya, tidak mendekat. “Dia minta aku putus sama kamu.”

Maya tersenyum pahit. “Kamu bilang apa?”

“Tidak.”

Maya menatap Ardi, matanya mencari sesuatu. “Kamu yakin?”

“Aku sudah memilih.”

“Kamu bilang itu juga ke Sari. Tapi lihat apa yang terjadi.” Maya menunduk, jari-jarinya memilin ujung baju. “Dia hancur. Kita hancur. Dan suatu hari, Bram akan tahu. Lalu kita akan hancur lebih parah.”

Ardi diam. Dia ingin meraih Maya, membantah, bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Karena dia tahu, semuanya tidak akan baik-baik saja.

Maya berdiri, berjalan ke tangga. Di anak tangga pertama, dia berhenti tanpa menoleh.

“Ardi, aku tidak tahu apakah kita melakukan hal yang benar. Tapi aku terlalu lelah untuk berhenti.” Suaranya pelan, hampir berbisik. “Tapi suatu hari, mungkin kita akan menyesal.”

Dia naik, meninggalkan Ardi duduk sendirian di ruang keluarga yang sunyi.

Ardi menatap tangga kosong itu, mendengar langkah kaki Maya yang perlahan menjauh. Di tangannya, ponsel bergetar. Bukan Maya. Bukan Sari.

Bram: Ardi, besok pagi rapat jam 8. Jangan telat. Kita bahas laporan yang kau kirim.

Ardi membaca pesan itu, lalu mematikan layar. Dia menunduk, menatap tangannya yang kosong, dan untuk pertama kalinya malam ini, dia menangis. Diam-diam, tanpa suara, di ruang keluarga yang gelap.

---

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!