NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:647
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Mama Sarah yang masih terjaga melihat Zira dan Nathan pulang dari pasar malam, langsung menyambut mereka. "Loh, kok sudah pulang cepat?" tanyanya.

"Iya, Ma, Zira sudah kecapekan," jawab Zira.

"Memangnya kamu naik berapa wahana, Nak?" tanya Mama Sarah lagi.

"Cuma satu, itu pun sudah bikin mual," ujar Nathan sambil menahan tawa.

"Mas, jangan gitu dong, malu tau!" protes Zira.

"Kamu memang nggak berubah ya. Dulu waktu kecil juga begitu. Setiap ke pasar malam, maksa banget naik kincir angin, ujung-ujungnya mual terus muntah sampai wahananya dihentikan," lanjut Mama Sarah sambil tersenyum kecil mengingat kejadian lama.

Mama Sarah tertawa, "Hahaha, ya ampun, Zira. Kamu masih sama aja ya," ucap Mama Sarah dengan nada gembira.

Zira yang malu, "Mah, jangan diingetin lagi deh," ucap Zira dengan nada memohon.

Aryan yang tadinya sudah tidur, bangun dan berlari ke arah Zira, "Kak Zira, aku mau kue!" ucap Aryan dengan nada gembira.

Zira tersenyum, "Hmm, ada Aryan. Ini, Aryan. Kue favorit kamu," ucap Zira dengan nada gembira, sambil memberikan kue kepada Aryan.

Aryan langsung mengambil kue dari Zira dan mulai makan, "Mmm, enak!" ucap Aryan dengan nada gembira.

Mama Sarah tersenyum, "Terima kasih, Zira. Kamu selalu tahu apa yang Aryan suka," ucap Mama Sarah dengan nada lembut.

Iyah dong, untuk adikku tercinta, apa pun pasti Zira tahu, ujar Zira dengan penuh keyakinan. Setelah itu, ia menambahkan, "Ya sudah, Mah, Zira sama Mas Nathan ke kamar dulu, ya. Capek banget rasanya setelah seharian ini."

Mendengar itu, Mama Sarah pun membalas dengan lembut, "Iya nak, sana istirahat dulu. Pasti kalian lelah sekali."

Setelah tiba di kamar, Nathan memecah keheningan dengan berkata, "Dek, Mas baru ingat, besok kita harus ke Bandung."

Zira yang tampak terkejut langsung merespons, "Loh, kok tiba-tiba banget sih, Mas? Kenapa gak bilang dari kemarin-kemarin?"

Nathan pun menjawab dengan nada sedikit bersalah, "Iya maaf ya, mas lupa. Soalnya di sana ada pekerjaan penting yang harus mas selesaikan dan memang gak bisa ditunda lagi. Tapi kalau kamu gak mau ikut, ya gak apa-apa kok. Mas bisa berangkat sendiri aja."

Zira dengan nada penuh rasa ingin tahu bertanya, "bagaimana dengan kuliahku, mas?" Nathan kemudian menjawab dengan tenang, "mungkin untuk sekarang kamu ambil cuti dulu saja, toh kita di Bandung kemungkinan hanya akan berada di sana selama satu minggu."

Setelah obrolan dengan Nathan selesai, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Zira mengambil ponsel untuk memberi tahu sahabat-sahabatnya bahwa ia akan pergi ke Bandung selama satu minggu.

"Assalamualaikum, guys," kata Zira membuka percakapan.

"Eh, tumben nih malam-malam ngajak video call. Ada apa, Zir?" tanya Aliya.

"Iyah nih, ada sesuatu. Padahal gue lagi nonton drama Korea," celetuk Zita.

"Maaf ya ganggu. Gue cuma mau kasih tahu, besok gue bakal ke Bandung selama seminggu," ujar Zira.

"Kuliah lo gimana, Zir?" Zita penasaran.

"Tenang aja, gue udah ngambil cuti guys," jawab Zira dengan santai.

"Wah, kelas kita bakal sepi dong tanpa lo," Aliya sedikit mengeluh.

"Tapi gak apa-apa sih, yang penting nanti pulang jangan lupa bawa oleh-oleh ya," lanjut Aliya.

"Iyah, kalian mau dibawain apa?" tanya Zira.

"Keponakan," ujar Aliya dan Zita kompak.

"Hah? Selain itu ada permintaan lain nggak?" balas Zira heran.

"Jangan-jangan lo sama Pak Nathan belum pernah ngelakuin itu lagi sejak insiden waktu itu?" tanya Zita penasaran.

Zira tidak menjawab, satu tanda bahwa perkiraan mereka benar.

"Zir, lo masih trauma, ya?" tanya Aliya lembut.

"Nggak juga sih," sahut Zira singkat.

"Lalu kenapa belum juga lakuin itu?" desak Aliya.

"Dia gak pernah minta," jawab Zira jujur.

"Gimana mau minta kalau Pak Nathan takut lo masih trauma, Zir," sahut Aliya mencoba mengerti situasi mereka.

Zira tersenyum, "Gue gak tahu, ya. Mungkin gue yang harus lebih berani," ucap Zira dengan nada lembut.

Aliya dan Zita terdengar tertawa, "Hmm, Zira dan Nathan, pasangan yang paling romantis," ucap Aliya dengan nada gembira.

Zira tersenyum, "Gue gak mau bahas ini lagi, ya. Nanti gue kabari lagi kalau sudah sampai Bandung," ucap Zira dengan nada gembira.

Aliya dan Zita menjawab, "Oke, zir. Hati-hati di jalan, ya," ucap Aliya.

Zira menjawab, "Iyah, makasih guys. Love you," ucap Zira dengan nada manis.

Aliya dan Zita menjawab, "Love you too, zir," ucap mereka berdua secara bersamaan.

Nathan melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak segar, lalu mengajukan pertanyaan kepada Zira, "Sudah selesai video call-nya, Dek?" Zira segera mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menjawab, "Iya, Mas. Mas sendiri sudah selesai dari tadi?" sambil berusaha terdengar santai. Nathan tersenyum kecil sebelum berkata, "Baru saja selesai, kok."

Zira mencoba menenangkan hatinya yang sempat cemas. Ia merasa lega mengetahui bahwa Nathan kemungkinan besar hanya mendengar bagian akhir dari percakapannya dengan sahabatnya melalui video call tersebut. Ada topik pembicaraan yang membuatnya khawatir jika sampai didengar Nathan topik itu tak lain adalah diskusi mereka tentang hubungannya dengan Nathan. Perempuan itu hanya bisa berharap Nathan tak sempat mendengar hal-hal yang lebih sensitif dan pribadi dalam obrolan tadi.

"Kamu bersih-bersih dulu, lalu setelah itu baru rapikan pakaian yang akan dibawa nanti." Ucap Nathan . Setelah selesai, Zira pun langsung menuju ke kamar mandi. Kali ini, ia tidak lupa membawa handuk karena kejadian sebelumnya sangat memalukan baginya.

Ketika Zira tiba di Bandung nanti, dia berencana untuk menyampaikan isi hatinya dengan tulus kepada sang suami. Selain itu, dia juga berniat untuk sepenuhnya menjalankan tanggung jawab serta kewajibannya sebagai seorang istri yang baik terhadap suaminya, demi menjaga keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangganya.

Zira tersenyum sendiri memikirkan rencana itu, "Hmm, nanti di Bandung, Zira akan membuat Mas Nathan bahagia," ucap Zira dalam hati.

Zira merasa jantungnya berdebar, "Semoga Mas Nathan juga merasakan hal yang sama," ucap Zira dalam hati, sambil tersenyum manis.

Nathan yang sedang membereskan pakaian, menoleh ke arah Zira, "Dek, kamu kenapa? Kok tersenyum sendiri?" tanya Nathan dengan nada penasaran.

Zira langsung tersipu, "Ah, gak apa-apa, mas. Zira cuma... senang aja," ucap Zira dengan nada gembar-gembor.

Nathan tersenyum, "Hmm, pasti ada sesuatu, dek. Kamu gak perlu sembunyiin, tahu?" ucap Nathan dengan nada lembut.

Zira merasa jantungnya berdebar lagi, "Gak ada apa-apa, mas. Zira cuma senang karena kita bisa ke Bandung," ucap Zira dengan nada cepat.

Nathan mendekati Zira, "Dek, kamu gak perlu bohong, tahu? Mas bisa lihat kamu senang banget. Ada apa?" ucap Nathan dengan nada lembut, sambil memegang pipi Zira.

Zira merasa wajahnya semakin panas, "Gak ada, mas... Zira cuma... " ucap Zira dengan nada terhenti.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!