NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELUIT PERAK DAN TEMBOK BETON

Sepanjang pagi di kantor, Dina bekerja dengan semangat yang berlipat ganda. Olan yang duduk di sebelahnya sampai heran melihat Dina yang terus-menerus tersenyum sambil mengetik laporan logistik.

"Ciyee, yang mau beli motor baru bareng Letnan ganteng," bisik Olan sambil menyenggol bahu Dina. "Hati-hati lho Mbak, nanti bukannya pilih motor, malah pilih warna pelaminan."

"Olan! Apa sih, ini murni buat mobilitas kerja," protes Dina, meski pipinya memerah.

"Iya deh, percaya. Tapi beneran, Din. Aku senang kamu ambil langkah ini. Motor itu simbol kebebasan kamu. Kamu nggak perlu nunggu angkot, nggak perlu nunggu jemputan, kamu bisa pergi ke mana pun kamu mau saat itu juga. Itu tamparan paling keras buat si Rama yang bilang kamu nggak bisa apa-apa tanpa dia."

Dina mengangguk mantap. Olan benar. Keputusannya membeli motor bukan sekadar soal transportasi, tapi soal pernyataan diri. Bahwa Dina yang dulu sering dihina oleh ayahnya dan dikontrol oleh Rama, kini sudah sanggup menentukan arah jalannya sendiri.

Tepat jam dua belas, deru motor Adrian terdengar di depan kantor. Dina bergegas keluar. Kali ini, Adrian sudah mengganti seragam lorengnya dengan kemeja flanel kotak-kotak yang membuatnya terlihat lebih santai, namun tetap dengan aura kewibawaan yang tak luntur.

Mereka sampai di sebuah dealer motor yang cukup besar di pusat kota. Begitu masuk, jajaran motor matic berbagai warna menyambut mereka. Dina merasa sedikit bingung melihat begitu banyak pilihan.

"Jangan lihat warnanya dulu, Mbak," bisik Adrian di sampingnya. "Lihat fungsionalitasnya. Di sini jalannya banyak tanjakan dan sering hujan. Kita cari yang bannya agak lebar supaya nggak licin, tapi bodinya ramping supaya Mbak gampang kendalikan."

Adrian tampak sangat ahli. Ia bertanya detail kepada petugas dealer soal kapasitas mesin ($110$ cc atau $125$ cc), sistem pengereman, hingga konsumsi bahan bakarnya. Ia bahkan meminta Dina untuk mencoba duduk di beberapa tipe motor untuk memastikan kaki Dina bisa menapak sempurna ke tanah.

"Coba yang ini, Mbak. Ini tingginya pas, nggak terlalu berat kalau Mbak harus geser-geser di parkiran," saran Adrian sambil menunjuk sebuah motor matic berwarna biru navy yang elegan.

Dina mencoba duduk di atasnya. Rasanya pas. Tidak terlalu besar, namun terasa kokoh.

"Gimana, Mas? Ini bagus?" tanya Dina meminta pendapat.

"Ini pilihan cerdas. Mesinnya bandel, suku cadangnya gampang dicari, dan yang paling penting, Mbak Dina terlihat cocok memakainya. Kelihatan mandiri," jawab Adrian dengan tatapan yang tulus.

Dina akhirnya memutuskan untuk mengambil motor tersebut dengan sistem cicilan ringan. Saat mengurus berkas administrasi, Dina merasa sangat bangga saat menuliskan namanya sendiri di kolom pembeli, tanpa perlu tanda tangan penjamin dari ayah atau siapa pun.

"Selamat ya, Mbak Dina. Besok motornya diantar ke kosan," ucap petugas dealer.

Setelah dari dealer, Adrian mengajak Dina makan siang di sebuah warung soto legendaris di pinggir sungai. Suasananya sejuk dengan gemericik air yang menenangkan.

"Mas Adrian," buka Dina saat soto mereka sudah tersaji. "Kenapa Mas baik sekali sama saya? Padahal kita baru kenal sebentar, dan saya datang dengan banyak masalah."

Adrian meletakkan sendoknya, menatap Dina lekat-lekat. "Mbak Dina, di militer kami diajarkan untuk melindungi yang lemah. Tapi jujur, saya membantu Mbak bukan karena Mbak lemah. Justru karena saya melihat Mbak itu kuat. Mbak berani lari dari lingkungan beracun, berani mulai dari nol di kota asing. Itu butuh nyali besar."

Adrian terdiam sejenak, suaranya melunak. "Dulu, saya juga pernah ada di posisi Mbak. Kehilangan arah karena dikhianati orang terdekat. Jadi saya tahu rasanya butuh satu orang saja yang percaya kalau kita bisa bangkit."

Dina tertegun. Ia baru menyadari bahwa Letnan yang tampak sempurna ini juga punya luka di masa lalu, persis seperti yang Olan bilang. Hal itu justru membuat Dina merasa lebih dekat dan nyaman.

"Terima kasih sudah percaya sama saya, Mas," ucap Dina tulus.

Sore itu, Adrian mengantar Dina kembali ke kantor. Sebelum turun, Adrian memberikan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk peluit perak kepada Dina.

"Ini buat kunci motor barumu besok," ucap Adrian. "Anggap saja ini simbol kalau Mbak sudah punya kendali penuh. Dan kalau ada apa-apa, tiup saja peluitnya, saya atau anggota saya pasti dengar."

Dina menerima gantungan kunci itu dengan tangan gemetar karena haru. "Mas Adrian... ini terlalu manis."

"Sudah, masuk sana. Olan pasti sudah nungguin cerita 'pembelian motor' ini dengan heboh," Adrian terkekeh, lalu memakai helmnya kembali.

Dina berdiri di teras kantor, melihat Adrian menjauh. Ia meraba gantungan kunci perak di tangannya. Besok, saat motor matic birunya datang, ia tidak hanya akan berkendara di jalanan kota ini, tapi ia akan berkendara menuju kehidupan yang benar-benar ia impikan.

Kaset rusak itu kini benar-benar sudah berhenti. Ayahnya, ibu tirinya, dan Rama hanyalah debu di kaca spion masa lalunya. Di depannya, ada jalanan panjang yang luas, dan Dina memegang kendali penuh atas arah yang ingin ia tuju.

Sore itu, suasana di depan gerbang kosan Dina mendadak berubah menjadi seperti pasar kaget. Begitu motor Adrian berhenti untuk mengantar Dina pulang, beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul di teras rumah Bu Ani langsung berdiri dan mendekat dengan wajah penuh binar penasaran.

Dina turun dari boncengan dengan wajah sedikit merona, apalagi saat melihat Bu Yeyen—sang Ibu RT yang dikenal sebagai pusat informasi desa—sudah berdiri paling depan sambil berkacak pinggang jenaka.

"Wah, wah! Pulang-pulang wajahnya cerah sekali, Nduk Dina habis dari mana sama Mas Letnan?" goda Bu Yeyen sambil melirik ke arah Adrian yang hanya membalas dengan hormat sopan dan senyum tipis.

"Ini tadi habis dari dealer, Bu. Mbak Dina baru saja pesan motor matic supaya mobilitas kerjanya lancar," jawab Adrian mewakili Dina yang mendadak lidahnya kelu.

Begitu Adrian pamit untuk kembali ke asrama, "serangan" dari para ibu-ibu pun dimulai. Mereka langsung mengerumuni Dina, menggiringnya masuk ke halaman rumah Bu Ani.

"Nduk, Ibu rasa Mas Adrian itu naksir kamu," celetuk Bu Yeyen tanpa basa-basi. "Mana ada seorang Letnan mau repot-repot jemput, antar ke dealer, sampai nungguin urusan administrasi kalau nggak ada 'rasa'?"

Dina tertawa canggung, mencoba menyembunyikan debaran aneh di dadanya. "Ah, Ibu-ibu ini gimana sih... Mas Adrian itu kan memang sigap sama warga. Beliau menganggap saya warga biasa yang butuh bantuan prosedur keamanan saja, kok."

Bu Ani, yang sedari tadi menyimak sambil tersenyum keibuan, menggelengkan kepala. Ia memegang tangan Dina dengan lembut, sorot matanya berubah menjadi serius namun hangat.

"Dengar ya, Nduk. Ibu ini sudah lama tinggal di sini. Mas Adrian itu orangnya tertutup sekali soal hati. Dia itu pernah pacaran sekali, dulu sekali... tapi patah hati hebat karena pacarnya direbut oleh rekan kerjanya sendiri. Sejak saat itu, hatinya seperti tembok beton, nggak pernah ada perempuan yang bisa sedekat ini sama dia," ungkap Bu Ani.

Dina tertegun. Informasi itu terasa seperti kepingan puzzle yang hilang. Ia teringat ucapan Adrian di warung soto tadi siang tentang "dikhianati orang terdekat". Ternyata lukanya sedalam itu.

"Makanya, kalau memang kamu adalah perempuan yang bisa buat dia jatuh cinta lagi dan membuka hatinya, Ibu-ibu di sini mendukung penuh," tambah Bu Ani sambil menepuk bahu Dina. "Kamu anak baik, dia orang hebat. Kalian berdua itu sama-sama punya luka, mungkin memang Tuhan pertemukan supaya bisa saling mengobati."

Dina terdiam seribu bahasa. Kalimat Bu Ani meresap dalam ke sanubarinya. Ia teringat bagaimana Adrian menjaganya dari fitnah Rama, bagaimana Adrian sabar mengajarinya motor, dan bagaimana Adrian memberinya nasi kuning asrama hanya karena tidak ingin ia sakit maag. Semua itu terlalu manis untuk sekadar "tugas negara".

"Tapi Bu... saya baru saja lepas dari masa lalu yang buruk. Saya belum terpikir untuk..." kalimat Dina menggantung.

"Nggak perlu buru-buru, Nduk," sahut Bu Yeyen sambil terkekeh. "Biarkan saja mengalir. Yang penting sekarang, motor matic barumu besok datang. Kamu harus buktikan ke semua orang, terutama ke mantanmu yang kurang ajar itu, kalau Dina yang sekarang sudah bisa 'gas pol' sendiri!"

Malam itu, di dalam kamarnya, Dina menatap gantungan kunci peluit perak pemberian Adrian. Ia menyadari bahwa di kota kecil ini, ia tidak hanya mendapatkan perlindungan fisik, tapi juga dukungan moral dari "ibu-ibu paspampres" yang tulus menyayanginya.

Dina tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa masa depannya tidak lagi berkabut. Ada jalan yang luas di depannya, dan mungkin, di salah satu persimpangan jalan itu, ada Adrian yang sedang menunggu dengan senyum tipisnya yang menenangkan.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp nasib sina dibuat begini?/Sob//Sob//Sob//Sob/
nanuna26: kan perempuan yang selalu ditinggalkan jadi dibikin kasian ka wkwk
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!