Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 24
Malam telah mencapai puncaknya di wilayah kediaman klan Eldersheath.
Di saat sebagian besar penghuni klan telah terlelap dalam mimpi, cahaya temaram masih berpendar dari balik jendela ruang kerja Marc. Ruangan itu berbau cerutu mahal dan kertas lama.
Marc duduk di balik meja besarnya, wajahnya tampak lelah namun matanya tetap waspada seperti seekor serigala yang sedang mengintai mangsa.
*Tok! Tok!*
Suara ketukan pintu yang ritmis memecah kesunyian malam.
Tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya, Marc menjawab dengan suara berat, "Masuk."
Kepala pelayan setianya melangkah masuk dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar.
Di tangannya, ia memegang sebuah amplop tersegel lilin berwarna hitam—lambang dari organisasi **The Nightshade**.
"Ada apa? Apakah ada perkembangan baru?" tanya Marc sambil meletakkan penanya.
"Ini laporan terbaru hari ini dari assassin yang kita tempatkan di paviliun Tuan Muda Ilwa, Tuan," ucap kepala pelayan itu sambil menyodorkan surat tersebut.
Marc merobek amplop itu dengan kasar. Begitu matanya menyisir baris demi baris laporan yang tertulis di sana, keningnya berkerut tajam.
Ekspresinya berubah dari dingin menjadi penuh ketidakpercayaan yang mendalam.
"Apa ini?" geram Marc, suaranya naik satu nada.
"Laporan ini mengatakan bahwa Ilwa terlihat berlatih di halaman belakang dan mampu menggunakan teknik ksatria tingkat lanjut? Bahkan kecepatannya dikatakan melampaui standar ksatria magang?"
Marc melemparkan surat itu ke atas meja seolah-olah kertas itu adalah bara api yang membakar tangannya.
"Ini tidak masuk akal! Bocah itu mengidap *Aura-Lock*. Sirkuit mananya adalah sampah, dan fisiknya seharusnya hancur hanya dengan mencoba memegang pedang kayu selama satu jam. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan teknik tingkat lanjut?"
Kepala pelayan itu membungkuk dalam, suaranya tetap tenang namun tegas.
"Laporan itu datang langsung dari kode name'L' yang berada di lokasi, Tuan. Dia menyaksikan sendiri bagaimana Tuan Muda Ilwa bergerak dengan kelincahan yang tidak wajar. Agen kami tidak pernah memberikan laporan palsu."
Marc bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela, menatap kegelapan malam dengan rahang yang mengeras. "Apakah laporan ini benar-benar asli? Kau yakin tidak ada kesalahan identitas atau trik sihir dari pihak Elara?"
"Semuanya sudah diverifikasi, Tuan. Itu benar-benar Ilwa Eldersheath," jawab kepala pelayan itu.
Marc terdiam cukup lama, pikirannya berkecamuk antara logika medis dan kenyataan yang baru saja ia baca.
"Katakan pada mereka untuk mengawasi bocah itu lebih ketat lagi. Jangan lewatkan sekecil apa pun kegiatannya. Jika dia memang menyembunyikan kekuatan, aku ingin tahu dari mana dia mendapatkannya. Dan jika dia menggunakan cara terlarang... aku ingin tahu itu juga. Mengerti?"
"Paham, Tuan. Saya akan segera mengirimkan instruksi tersebut," kepala pelayan itu membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
---
Sementara itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Ilwa sedang duduk bersila di atas tempat tidur.
Ia sedang melakukan meditasi mendalam, mencoba mengatur kembali aliran mana yang bergejolak setelah latihan keras sore tadi. Napasnya teratur, namun keringat masih membasahi pelipisnya.
Mandi obat yang ia lakukan memang memperkuat fisiknya, namun luka internal akibat penggunaan sihir penguat kecepatan tetap membutuhkan penanganan manual.
Ia mengarahkan mana murninya untuk membungkus sirkuit yang terluka, meredakan peradangan di dalam pembuluh darahnya.
Waktu merambat perlahan menuju tengah malam.
Suasana di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi sangat dingin—dingin yang tidak wajar, seolah-olah udara di sekitarnya membeku secara instan.
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang di sudut ruangan, sesuatu mulai bergerak.
Cairan hitam yang kental seolah merayap keluar dari dinding, berkumpul menjadi satu entitas yang mengerikan.
Dari gumpalan kegelapan itu, muncul sosok bayangan hitam yang menyerupai ular raksasa.
Namun, ini bukan ular biasa; sisiknya tampak seperti asap yang berputar-putar, dan matanya hanya berupa lubang kosong yang memancarkan aura kematian.
Ular bayangan itu merayap dengan suara desisan yang aneh—suara yang tidak terdengar oleh telinga, melainkan langsung bergema di dalam jiwa Ilwa.
Makhluk itu melilit tubuh Ilwa yang masih terpejam dalam meditasi.
Desisannya terdengar seperti ribuan suara kutukan yang saling bersahutan.
Tanpa peringatan, ular hitam itu membuka rahangnya yang lebar dan seolah-olah "memakan" kepala Ilwa dalam satu lahapan kegelapan total.
*Gasppp!*
Ilwa tersentak bangun dari meditasinya dengan napas yang memburu.
Jantungnya berdegup kencang seolah-olah baru saja berhenti berdetak selama beberapa detik.
Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin, dan tangannya gemetar hebat.
Ia segera melihat ke sekeliling kamarnya. Cahaya bulan masuk melalui celah jendela dengan tenang.
Tidak ada ular hitam, tidak ada bayangan yang bergerak, dan tidak ada suara desisan. Semuanya tampak normal. Sunyi.
Ilwa menyentuh kepalanya dengan tangan yang masih gemetar, lalu menghela napas panjang untuk menenangkan diri. "Hah... hah... Apa itu tadi?" bisiknya dengan suara serak.
Ia mencoba merasakan apakah ada energi asing di dalam ruangannya, namun sisa-sisa sihir *Silent Sphere* miliknya masih utuh. Tidak ada tanda-tanda penyusup.
"Apakah itu hanya perasaan saja? Atau mungkin efek samping dari latihan fisik yang terlalu membebani saraf otakku?" Ilwa bergumam sambil menyeka keringat di keningnya.
Namun, meskipun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah halusinasi, rasa dingin yang tadi menyentuh kulitnya terasa sangat nyata.
Sensasi saat rahang ular itu menutup di atas kepalanya meninggalkan jejak teror yang sulit dihapus.
Ilwa menatap daggernya yang tergeletak di atas meja. Untuk sesaat, ia merasa bilah hitam itu seolah-olah sedang menatapnya balik.
"Entah kenapa... itu terlihat terlalu nyata untuk disebut sebuah mimpi," ucapnya dengan nada rendah penuh kewaspadaan.
Malam itu, Ilwa tidak bisa kembali bermeditasi dengan tenang. Ada sesuatu yang baru saja terbangun, sesuatu yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada sekadar penyakit *Aura-Lock*.
-----
Sinar matahari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela paviliun, menyinari butiran debu yang menari di udara.
Ilwa melangkah keluar dari kamarnya dengan sisa rasa dingin dari kejadian semalam yang masih membekas di tengkuknya.
Di ruang makan, aroma roti panggang dan sup jamur hangat sudah menyeruak. Martha dan Lina tampak sibuk menata piring-piring porselen.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Tidur Anda nyenyak?" sapa Martha dengan senyum hangatnya yang khas.
Ilwa hanya mengangguk singkat, mengambil posisi duduk dan mulai menyantap sarapannya dengan tenang.
Pikirannya tidak berada di atas piring; ia masih terbayang akan sosok ular hitam yang seolah menelan kepalanya semalam.
Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, Ilwa berdiri. "Martha, aku akan menghabiskan waktu di perpustakaan hari ini. Jangan ada yang menggangguku kecuali jika ada urusan yang sangat mendesak."
"Tentu, Tuan Muda," jawab Martha patuh.
Lina hanya menunduk, namun telinganya menangkap setiap kata.
"Perpustakaan? Apa yang dicari oleh anak yang seharusnya tidak punya masa depan sihir di dalam sana?" batinnya penuh selidik.
---
Perpustakaan paviliun itu adalah ruangan favorit ibunya, Elara.
Ruangan itu luas, dengan rak-rak kayu hitam yang menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ribuan jilid buku tua yang berbau kertas kering dan tinta kuno.
Ilwa melangkah menyusuri lorong-lorong rak tersebut, jarinya meraba punggung buku satu per satu.
Ia tidak mencari buku sejarah klan atau teori mana dasar.
Tujuannya sangat spesifik. Kejadian semalam—halusinasi ular hitam dan cara bilah hitamnya menyerap darah—membuat insting Albus-nya bergejolak.
Setelah hampir setengah jam mencari di bagian "Artefakta Langka", jemarinya berhenti pada sebuah buku dengan sampul kulit berwarna merah tua yang sudah mengelupas di bagian sudutnya.
Judulnya tertulis dalam huruf emas yang sudah kusam: **"Anima In Ferro: Sejarah dan Manifestasi Senjata Berjiwa."**
"Siapa sangka Ibu menyimpan buku seberat ini di sini," bisik Ilwa pelan.
Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Elara memang bukan sekadar kesatria biasa; koleksi bukunya menunjukkan selera pengetahuan yang melampaui masanya.
Ilwa membawa buku tebal itu ke sebuah meja kayu di sudut ruangan yang cukup gelap, jauh dari jangkauan pandangan pintu masuk.
Ia membuka halaman pertamanya dengan hati-hati. Suara gesekan kertas kuno itu terdengar seperti bisikan di tengah keheningan perpustakaan.
---
Di dalam buku tersebut, dijelaskan dengan sangat mendalam bahwa senjata bukan hanya sekadar alat pembunuh yang terbuat dari besi dan baja.
Ada kasta tertinggi dalam dunia persenjataan yang dikenal sebagai **"Sentient Armaments"** atau Senjata Berjiwa.
Buku itu memaparkan sejarahnya dalam beberapa bab yang panjang dan mendetail:
Proses Terciptanya Jiwa (The Genesis of Soul)
Senjata bisa memiliki jiwa melalui tiga cara utama. Pertama, melalui **Pengorbanan Darah** selama proses penempaan, di mana sang pandai besi atau pemilik senjata memberikan sebagian esensi hidupnya.
Kedua, melalui **Medan Perang yang Abadi**, di mana sebuah senjata telah meminum darah ribuan nyawa hingga kebencian dan kehausan akan darah dari para korban tersebut mengkristal menjadi sebuah kesadaran gelap.
Ketiga, melalui **Penyegelan Roh**, di mana makhluk kuat atau iblis disegel secara paksa ke dalam bilah senjata.
Ikatan Darah dan Resonansi (Blood Bond)
Senjata berjiwa tidak bisa digunakan oleh sembarang orang.
Mereka memilih tuannya. Buku itu menyebutkan bahwa ketika darah calon tuan menyentuh bilah, senjata itu akan "mencicipi" potensi jiwa sang pemilik.
Jika tidak cocok, senjata itu hanya akan menjadi sepotong besi tumpul atau bahkan mengutuk penggunanya hingga gila.
Namun, jika terjadi resonansi, senjata itu akan tumbuh bersama tuannya, berbagi penglihatan, insting, dan bahkan memberikan kekuatan tambahan yang tidak masuk akal.
Manifestasi Ego (The Ego's Form)
Senjata berjiwa memiliki kepribadian atau "Ego". Manifestasi ini jarang terlihat dalam bentuk fisik di dunia nyata, melainkan melalui alam bawah sadar atau mimpi tuannya.
Manifestasi ini sering kali mengambil wujud hewan buas atau sosok yang mencerminkan sifat asli dari logam penyusunnya.
"Jika kau melihat sosok kegelapan yang mencoba menelan kesadaranmu, itu bukanlah tanda kematian, melainkan tanda bahwa jiwa di dalam bilah itu sedang mencoba menguji apakah kau layak menjadi tuannya atau hanya akan menjadi makanannya."*
Ilwa terpaku membaca kalimat terakhir tersebut. Matanya membelalak. "Jadi, ular hitam semalam... itu adalah manifestasi dari ego belati hitam ini?"
Buku itu juga menjelaskan bahwa senjata yang memiliki jiwa biasanya ditemukan dalam kondisi "rusak" atau "gagal" di mata orang awam karena jiwa di dalamnya menolak untuk ditempa oleh pandai besi yang tidak kompeten.
Mereka sengaja menyembunyikan kilau mereka, menunggu sosok yang memiliki frekuensi jiwa yang sama untuk membangkitkan mereka kembali.
Ilwa menatap buku itu dengan suara *debukan* yang pelan namun mantap. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit perpustakaan yang gelap.
Rasa ngeri yang ia rasakan semalam kini berubah menjadi rasa antusias yang dingin. Jika belati itu memang memiliki jiwa, dan jiwa itu mencoba "memakannya" semalam, berarti belati itu mengakui potensi Ilwa namun sekaligus menantangnya.
Bersambung....