Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - Penghianat Keluarga
Alyssa tidak sempat melepas sepatu ketika suara ibunya memanggil dari ruang tengah, terdengar lebih tegang dari biasanya dan penuh tekanan yang sulit dijelaskan. Nada itu membuat langkahnya terhenti sejenak, seolah ada sesuatu yang tidak beres sejak awal ia menginjakkan kaki di rumah. Ia baru pulang kerja, pikirannya masih dipenuhi angka dan laporan, tetapi perasaan tidak nyaman itu datang lebih dulu sebelum ia sempat memahami situasinya.
“Alyssa, sini. Ada yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan.”
Tanpa menjawab, ia berjalan mendekat dengan langkah pelan. Setiap detik terasa lebih berat dari biasanya, seolah jarak dari pintu ke ruang tengah berubah menjadi jauh lebih panjang. Lampu rumah menyala terang, tetapi suasananya justru terasa dingin dan tidak bersahabat.
Ruang tengah itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suara televisi, tidak ada percakapan ringan, hanya keheningan yang menggantung di udara. Ayahnya duduk dengan wajah kaku, sementara ibunya tampak pucat dengan jemari saling menggenggam, seolah sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kecemasan.
“Ada apa?” tanya Alyssa, mencoba terdengar tenang meskipun dadanya mulai terasa sesak.
Ayahnya menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke depan sebelum akhirnya berbicara. “Kakakmu… Arin… dia kabur.”
Kata-kata itu tidak langsung masuk ke dalam pikirannya. Alyssa mengernyit, mencoba memahami maksudnya sambil menatap kedua orang tuanya bergantian. “Kabur? Maksudnya apa?”
“Dari pernikahan besok,” jawab ibunya pelan, suaranya bergetar dan hampir tidak terdengar. “Dia pergi sejak siang. Tidak bisa dihubungi sampai sekarang.”
Sejenak dunia seperti berhenti berputar. Alyssa berdiri diam, pikirannya kosong, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Ia berharap ini hanya kesalahpahaman, atau setidaknya kabar yang dibesar-besarkan.
“Ini bercanda, kan?” tanyanya dengan nada yang terdengar lebih seperti harapan daripada pertanyaan.
Ayahnya menggeleng pelan. “Ini serius.”
Jantung Alyssa mulai berdetak lebih cepat, perasaan tidak enak yang tadi muncul kini berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata. “Terus kenapa aku dipanggil mendadak cuma buat denger itu?”
Tidak ada jawaban langsung. Keheningan itu justru menjadi jawaban tersendiri, membuat firasat buruknya semakin menguat. Ia menatap ibunya yang tampak ragu, lalu kembali pada ayahnya yang masih terlihat kaku.
“Alyssa,” ibunya akhirnya berbicara lagi, kali ini menatap lurus ke matanya dengan sorot penuh harap. “Kamu harus menggantikan kakakmu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan, seolah sesuatu yang wajar untuk diucapkan. Alyssa terdiam beberapa detik, mencoba mencerna arti di balik kata-kata tersebut.
Lalu ia tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam suaranya. “Apa?”
“Kamu yang menikah besok,” lanjut ayahnya tegas, tidak memberi ruang untuk penolakan. “Dengan calon suami kakakmu.”
Alyssa langsung berdiri. Tubuhnya menegang, matanya melebar tidak percaya. “Ayah, ini gila.”
“Jaga bicaramu,” potong ayahnya dengan nada dingin.
“Enggak, ini memang gila,” balas Alyssa tanpa menahan diri. Suaranya meninggi, emosinya mulai meluap tanpa bisa dikendalikan. “Itu pernikahan Kak Arin, bukan aku. Aku bahkan tidak kenal pria itu.”
Ibunya bangkit dan mendekat perlahan. Wajahnya terlihat semakin pucat, tetapi ia tetap berusaha bicara dengan suara yang terdengar meyakinkan. “Dia bukan pria sembarangan, Alyssa. Dia CEO, perusahaannya besar, masa depanmu akan terjamin kalau kamu menikah dengannya.”
Alyssa menatap ibunya dengan tatapan yang sulit dijelaskan, antara marah dan kecewa yang bercampur menjadi satu. “Jadi karena dia kaya, aku harus menggantikan kakak? Semudah itu?”
Ayahnya menghela napas berat. “Ini bukan soal mudah atau tidak. Ini soal nama baik keluarga kita.”
“Nama baik?” ulang Alyssa dengan nada getir. Ia hampir tertawa, tetapi yang keluar justru rasa pahit yang menekan dada. “Nama baik keluarga lebih penting daripada hidupku?”
“Jangan bicara seolah kami tidak memikirkanmu,” kata ayahnya, suaranya mulai meninggi. “Kalau pernikahan ini batal, kita akan hancur. Kau tahu berapa banyak yang sudah kita terima dari pihak sana?”
Alyssa terdiam. Ia tahu keluarganya sedang kesulitan, tetapi ia tidak pernah menyangka sejauh ini. Pikirannya mulai menyusun kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan.
“Ayah menerima uang dari mereka?” tanyanya pelan.
Ibunya memalingkan wajah, tidak sanggup menatapnya. Sikap itu sudah cukup menjadi jawaban. Alyssa merasa sesuatu di dalam dirinya runtuh perlahan.
“Ayah… Ibu… kalian serius?” suaranya melemah, dipenuhi luka yang tidak bisa disembunyikan. “Kalian menjual Kak Arin, dan sekarang mau menjual aku juga?”
Tamparan itu datang cepat, tanpa jeda. Wajah Alyssa terhuyung ke samping, rasa perih langsung menjalar di pipinya. Tangannya refleks menyentuh bagian yang sakit, tetapi yang lebih terasa adalah sesuatu yang retak di dalam hatinya.
“Jangan pernah bilang kami menjual anak kami,” ucap ayahnya dingin. “Semua yang kami lakukan untuk keluarga ini.”
“Untuk keluarga, atau untuk hutang kalian?” balas Alyssa spontan.
Ruangan kembali sunyi. Kali ini keheningan terasa jauh lebih menekan, seolah udara di dalam rumah itu ikut menipis.
Ibunya mulai menangis pelan. Bahunya bergetar, suaranya lirih ketika kembali berbicara. “Alyssa, dengarkan Ibu. Ini satu-satunya cara. Kalau pernikahan ini gagal, kita harus mengembalikan semuanya. Kita tidak punya uang sebanyak itu.”
Alyssa menatap ibunya lama. Ia ingin marah, ingin tetap keras, tetapi melihat ibunya seperti itu membuat semuanya terasa semakin sulit. “Jadi solusinya aku harus menikah dengan pria yang bahkan aku tidak kenal?”
“Iya,” jawab ayahnya tanpa ragu.
Jawaban itu terasa seperti palu yang menghantam keras. Alyssa menggeleng pelan, mencoba menolak kenyataan yang dipaksakan padanya. “Aku enggak mau.”
“Kamu harus,” tegas ayahnya.
“Aku enggak akan menikah hanya karena uang dari pria itu.”
“Ini bukan sekadar uang,” bentak ayahnya. “Ini tanggung jawab.”
“Tanggung jawab siapa?” suara Alyssa kembali meninggi. “Kak Arin yang kabur, kenapa aku yang harus menanggung semuanya?”
Ibunya mendekat lagi, mencoba meraih tangannya dengan hati-hati. “Karena kamu satu-satunya yang bisa menyelamatkan keluarga ini.”
Alyssa menarik tangannya menjauh. Ia merasa terpojok, seolah tidak ada satu pun jalan keluar yang tersisa. “Aku bukan penyelamat siapa-siapa.”
Ia berbalik, ingin pergi dari ruangan itu. Kepalanya terasa penuh, napasnya mulai tidak teratur. Ia butuh ruang untuk berpikir, butuh menjauh dari semua tekanan yang terus menghimpitnya.
Namun suara ayahnya menghentikannya.
“Kalau kamu menolak, jangan salahkan kami atas apa yang terjadi pada ibumu.”
Langkah Alyssa langsung terhenti. Kalimat itu seperti mengunci kakinya di tempat. Ia perlahan menoleh, matanya menatap ayahnya dengan ekspresi yang berubah.
“Ayah bilang apa?” suaranya nyaris berbisik.
Ayahnya menatapnya tanpa ragu. “Kamu tahu ibumu butuh pengobatan. Biayanya tidak kecil.”
Dada Alyssa terasa sesak. Ia menoleh pada ibunya yang kini hanya bisa menunduk sambil menangis. Perasaan bersalah, marah, dan takut bercampur menjadi satu, membuat pikirannya semakin kacau.
“Ayah jangan bawa Ibu ke dalam ini,” katanya pelan, suaranya mulai bergetar.
“Ini kenyataan,” jawab ayahnya dingin. “Kalau kita tidak bisa membayar, pengobatan itu harus dihentikan.”
Alyssa menggeleng cepat, mencoba menolak kemungkinan itu. “Enggak. Kita bisa cari cara lain.”
“Cara apa?” tanya ayahnya tajam. “Gajimu bahkan tidak cukup untuk satu bulan perawatan.”
Kata-kata itu menampar lebih keras dari sebelumnya. Ia tidak bisa menyangkalnya. Semua yang ia lakukan selama ini memang tidak pernah cukup untuk menyelamatkan keadaan.
“Alyssa…” ibunya memanggil pelan, air matanya terus mengalir. “Ibu hanya ingin tetap hidup.”
Kalimat itu menghancurkan segalanya. Semua pertahanan yang ia bangun runtuh dalam sekejap. Ia ingin menolak, tetapi suara itu terlalu lemah untuk diabaikan.
“Aku akan cari uang,” katanya cepat, hampir putus asa. “Aku bisa kerja lebih, aku bisa pinjam, aku bisa apa saja.”
“Kita tidak punya waktu,” potong ayahnya. “Pernikahan itu besok.”
Besok.
Kata itu terasa seperti hukuman. Tidak ada waktu untuk berpikir, tidak ada ruang untuk mencari jalan lain.
Alyssa menutup matanya sejenak. Napasnya tidak teratur, pikirannya berputar tanpa arah. Bayangan masa depan yang tidak pernah ia pilih kini berdiri tepat di depannya.
“Ayah, aku enggak bisa,” katanya pelan. “Aku enggak bisa menikah dengan orang asing.”
Ayahnya tidak menjawab panjang. Ia hanya mengatakan satu hal yang cukup untuk menghancurkan semua kemungkinan penolakan.
“Kalau begitu, bersiaplah kehilangan ibumu.”
Sunyi kembali menguasai ruangan. Kali ini tidak ada yang berani berbicara lebih dulu. Alyssa merasa seperti terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Ia menatap ibunya lagi. Wajah itu penuh harap sekaligus ketakutan. Dalam tatapan itu, Alyssa melihat sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.
“Alyssa…” suara ibunya lirih. “Ibu mohon.”
Air mata akhirnya jatuh. Ia tidak bisa menahannya lagi. Semua yang ia tahan sejak tadi pecah begitu saja.
“Aku benci ini,” bisiknya. “Aku benci semua ini.”
Ia mengangkat kepalanya perlahan. Matanya masih basah, tetapi ada sesuatu yang berubah di dalamnya.
“Siapa pria itu?” tanyanya akhirnya.
Ayahnya terlihat sedikit lega. “Namanya Daren Wijaya. CEO dari Wijaya Group.”
Nama itu terasa asing, tetapi berat. Seolah membawa konsekuensi yang tidak sederhana.
“Apa dia tahu soal ini?” tanya Alyssa lagi.
“Belum,” jawab ayahnya singkat. “Yang penting pernikahan tetap berjalan.”
Alyssa tertawa kecil. Tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. “Jadi aku akan muncul sebagai pengganti di hari pernikahan, dan dia harus menerima begitu saja.”
“Itu urusan nanti,” kata ayahnya.
Alyssa menggeleng. Ia sadar tidak ada yang benar dalam situasi ini. Namun satu hal mulai jelas, ia memang tidak benar-benar punya pilihan.
Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri. “Aku akan menikah.”
Ibunya langsung menangis lebih keras, sementara ayahnya hanya mengangguk pelan. Bagi mereka, keputusan itu sudah cukup.
“Tapi ini bukan karena aku setuju,” lanjut Alyssa dengan nada lebih dingin. “Ini karena aku tidak punya pilihan.”
Tidak ada yang menanggapi. Mereka tidak peduli alasan di balik keputusannya, selama semuanya berjalan sesuai rencana.
Alyssa berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang terasa berat. Begitu pintu tertutup, ia bersandar di sana, tubuhnya perlahan meluncur hingga duduk di lantai.
Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Semua yang ia tahan sejak tadi keluar begitu saja, memenuhi ruang kecil itu dengan suara yang tertahan.
Besok hidupnya akan berubah. Bukan karena keinginannya, bukan karena pilihannya, tetapi karena keadaan yang memaksanya.
Dengan pria yang tidak ia kenal.
Dengan alasan yang tidak ia terima.
Dan dengan harga yang terlalu mahal untuk dibayar.
Alyssa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah tidak ada ruang tersisa untuk bernapas.
Di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berulang.
Apakah ini benar-benar jalan keluar, atau justru awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk?
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔