NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Broken Reed Bend

Han Lu kembali dua hari kemudian, menjelang sore.

Saat itu langit di atas Stone Reed Town sedang berubah warna. Cahaya matahari turun miring ke permukaan sungai, memantulkan kilau merah kusam di antara tiang-tiang dermaga dan atap-atap gudang. Dari dapur Mud Heron Inn terdengar suara pemilik penginapan memaki seseorang yang menumpahkan sup ikan, sementara di gudang belakang Shou Wei sedang mengikis halus satu pelat latihan baru, mencoba menstabilkan minor sound-softening mark yang masih terlalu rakus qi.

Ketukan datang cepat di pintu.

Tok. Tok. Tok.

Bukan ragu-ragu. Bukan seperti orang asing.

Shou Wei memadamkan aliran qi ke pelat, menyembunyikannya ke bawah jerami, lalu membuka pintu setengah.

Han Lu berdiri di luar, bahunya basah lumpur sampai ke siku, jubah kasarnya berbau air rawa dan ganggang busuk. Namun ada hal lain juga: ekspresi wajahnya tidak sekeras saat pertama datang.

“Mark-mu bekerja,” katanya tanpa pembukaan.

Shou Wei membuka pintu sedikit lebih lebar. “Bagus.”

“Bukan cuma bagus.” Han Lu mengangkat wadah kayu kecil yang dulu dibawanya. “Aku bawa ini melewati arus liar, kabut tebal, dan genangan qi busuk dekat tebing utara. Dalamnya tetap kering. Biasanya serbuk di sini sudah menggumpal sebelum aku sampai pulang.”

Shou Wei menerima wadah itu, memeriksanya cepat. Mark buatannya memang mulai pudar, tapi inti simpulnya tidak pecah.

Berhasil.

Han Lu melipat tangan. “Aku bilang kalau ini jalan, aku mungkin punya kerja lain.”

“Kerja seperti apa?”

Pria itu melirik halaman belakang penginapan, memastikan tak ada orang terlalu dekat. “Aku berangkat lagi ke Broken Reed Bend besok pagi. Perjalanan pendek. Bukan jauh ke jantung rawa, hanya sampai cabang tebing miring dan bekas kapal karam. Aku butuh satu orang ringan yang bisa melihat detail, tidak banyak bicara, dan tidak panik kalau melihat beast sungai.”

Jantung Shou Wei berdetak sedikit lebih berat.

Broken Reed Bend.

Akhirnya pintu itu benar-benar terbuka.

“Aku bukan pemburu beast,” katanya datar.

“Aku juga tidak minta kau jadi pemburu.” Han Lu menyandarkan bahu ke kusen. “Aku butuh seseorang yang matanya bagus dan kepalanya dingin. Ada beberapa peti tua tersangkut di antara akar buluh dan lambung kapal. Salah satu segelnya aneh. Mungkin rusak. Mungkin cuma trik air. Kalau aku paksa buka, isinya bisa hancur. Kalau kau bisa menilai, aku bayar.”

“Aku belum pernah lihat langsung segel kapal karam.”

“Kalau begitu kau akan mulai besok.”

Han Lu mengeluarkan satu koin perak dan memutarnya di antara jari. “Bayaran awal setengah perak. Kalau dapat hasil, tambah lagi. Kalau kau berguna, lebih banyak. Kalau kau memberatkan, kuikat di buritan.”

Shou Wei menatap koin itu, tapi pikirannya sudah melompat lebih jauh.

Jika Han Lu menuju Broken Reed Bend, dan Wei Kuan memang menyewa perahu kecil ke arah yang sama, maka ada kemungkinan:

Wei Kuan sudah menemukan sesuatuWei Kuan masih mencariatau keduanya akan bertemu di tempat yang sama tanpa sengajaSemua pilihan berbahaya.

Semua juga bernilai.

“Kapan berangkat?” tanya Shou Wei.

“Sebelum fajar. Dari dermaga utara, bukan dermaga utama.”

Shou Wei berpikir sejenak. Lalu mengangguk. “Aku ikut.”

Han Lu melemparkan koin perak itu. “Bagus. Bawa makanan sendiri. Jangan bawa barang terlalu banyak. Dan kalau punya utility mark tahan lembap lagi, bawa dua. Sungai utara suka menggigit barang yang tak disukainya.”

Setelah pria itu pergi, Shou Wei berdiri cukup lama di ambang pintu gudang.

Ini langkah yang lebih besar dari Stone Reed Town.

Bukan lagi menjual barang di meja belakang. Bukan lagi menawar di minor auction. Kali ini ia akan masuk langsung ke tempat di mana rumor-rumor itu lahir.

Broken Reed Bend.

Ia menutup pintu dan segera mulai bersiap.

Malam itu dipakai untuk memilih, bukan membuat.

Shou Wei tidak mencoba menggambar formasi baru. Ia justru menyusun apa saja yang benar-benar perlu dibawa:

pisau pendektiga jarum besigulungan Mistwater Breathing Methodmanual array anchoring and node balancedua utility marks tahan lembapsatu pelat kecil cadangansalep luka dari Mu Qinglanroti kering dan sedikit daging asinserta sebagian kecil uangSisanya ia simpan lagi di celah batu dekat sungai.

Kalau ia tidak kembali cepat, setidaknya semua tidak hilang.

Setelah itu ia duduk bersila dalam gelap.

Tarik napas.

Tahan.

Turunkan.

Putar.

Lepaskan.

Qi malam mengalir tipis. Tidak banyak, tapi cukup membuat pikirannya jernih. Di bawah semua perhitungan, darah naga di dadanya bergerak sangat pelan, seolah merespons nama tempat yang akan ia tuju esok hari. Sungai utara, kapal karam, marker tua—semuanya seperti membentuk satu jalur yang makin lama makin sulit diabaikan.

Ia membuka mata perlahan.

“Besok,” gumamnya.

Bukan pada siapa-siapa. Mungkin pada sungai. Mungkin pada dirinya sendiri.

Fajar belum benar-benar datang saat Shou Wei tiba di dermaga utara.

Bagian kota ini jauh lebih sunyi daripada dermaga utama. Tidak ada kedai. Tidak ada pedagang teriak. Hanya beberapa perahu sempit, tumpukan jala lembap, dan dua tiang kayu condong yang nyaris putus dimakan cuaca. Kabut tebal menempel di permukaan air. Suara sungai terdengar lebih besar di sini, seperti napas makhluk yang tidur.

Han Lu sudah menunggu di sebuah perahu kayu panjang dan sempit. Bukan perahu dagang, melainkan perahu pemburu sungai—lambungnya ringan, dasarnya lebih datar, dan bagian depan diperkuat dengan lapisan kayu keras serta kait besi kecil.

Di dalam perahu ada:

dua peti kosongsatu tombak kaittali gulungjala pendekdan seorang pria muda bertubuh kekar dengan alis tebal, sedang memeriksa ujung tombakHan Lu mengangkat dagu. “Itu Guo Fen. Sepupuku. Otot lebih banyak daripada akal, tapi cukup kuat untuk menarik peti dari lumpur.”

Guo Fen mendengus. “Dan ini bocah mark?”

“Namaku Wei Shou,” kata Shou Wei.

Pria muda itu memandangnya sejenak, lalu mengangkat bahu. “Kalau kau tidak pingsan melihat mayat sungai, kita akan akur.”

Han Lu melemparkan buntalan kecil ke kaki Shou Wei. “Duduk di tengah. Kalau perahu miring, pegang sisi kiri. Jangan berdiri tanpa kubilang. Sungai utara tidak suka orang yang terlalu percaya diri.”

Mereka pun berangkat.

Perahu meluncur keluar dari Stone Reed Town seperti panah tanpa bunyi. Han Lu mendayung di buritan, Guo Fen di depan, dan Shou Wei duduk di tengah sambil mengamati.

Semakin jauh mereka dari kota, sungai menjadi lebih liar.

Tepian kayu dan gudang digantikan buluh tinggi dan akar pohon air yang mencuat seperti cakar hitam. Arus tidak lagi lurus. Ia bercabang, berputar, lalu menyempit di antara tebing rendah atau meluas di cekungan dangkal penuh kabut. Beberapa kali mereka melewati bangkai perahu kecil setengah tenggelam. Sekali, seekor beast sungai seukuran anjing dengan moncong pipih dan mata putih muncul sesaat di permukaan lalu menyelam lagi.

Han Lu tidak banyak bicara.

Ia jelas hafal jalur ini bukan dari peta, tapi dari tubuh. Kapan mendayung keras, kapan membiarkan arus membawa, kapan memotong cabang kecil, semua dilakukan tanpa ragu.

Shou Wei memanfaatkan perjalanan itu untuk merasakan sungai.

Semakin ke utara, qi air di udara memang berbeda. Lebih tua. Lebih liar. Bukan kuat seperti arus besar sekte atau tempat kultivasi, tapi seperti air yang terlalu lama menyimpan rahasia di bawah lumpur. Darah naga di dalam dirinya terasa sedikit lebih aktif, seolah mendengar gema jauh yang tak bisa diurai kepala.

Setelah lebih dari satu jam, Han Lu mendayung perahu mereka masuk ke cabang sungai yang lebih sempit. Buluh di kanan kiri tumbuh lebih rapat. Tebing batu mulai muncul, miring dan licin, dengan akar pohon besar menjuntai ke air. Kabut di sini tidak putih lagi, tapi keabu-abuan, bercampur bau lumpur, kayu busuk, dan sesuatu yang logam.

“Broken Reed Bend,” kata Han Lu pelan.

Di depan, sungai berbelok tajam seperti siku patah. Di tikungan itu, banyak buluh tumbuh tidak teratur—sebagian tegak, sebagian patah miring ke air, seperti pernah dihantam sesuatu besar. Dan tepat di balik tikungan, tersangkut di antara akar dan tebing, tampak bayangan gelap yang tidak alami.

Lambung kapal tua.

Tidak utuh. Hanya sebagian, miring, setengah tenggelam dalam lumpur dan air hitam. Kayunya pecah di banyak tempat, tapi masih cukup jelas untuk dikenali sebagai kapal yang dulu lumayan besar. Besi-besi pengikatnya berkarat. Pada sisi samping, lambang atau tulisan apa pun telah lama terkikis air.

Han Lu menurunkan suara, seolah tempat itu bisa mendengar. “Dua bulan lalu, banjir besar menyeret bangkai ini dari arah utara. Sejak itu banyak orang datang mencari sisa muatan. Sebagian dapat sampah. Sebagian tidak kembali.”

Guo Fen mendecak. “Atau kembali tanpa lengan.”

Ia mengangkat tombak kaitnya. “Aku tidak suka tempat ini.”

Shou Wei juga tidak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena sejak perahu mereka mendekat, darah naganya mulai berdetak lebih jelas. Bukan liar, tapi berat. Seolah ada sesuatu di bawah air yang masih mempertahankan alur tertentu, meski nyaris mati.

Han Lu membawa perahu mereka merapat ke sisi tebing rendah, tidak terlalu dekat ke kapal. “Pertama kita ambil peti yang kulihat kemarin tersangkut di akar bawah. Lalu baru cek lambung.”

Mereka turun ke tepian lumpur satu per satu. Guo Fen lebih dulu, menancapkan tongkat untuk mengecek kedalaman. Han Lu menyusul dengan tali. Shou Wei paling akhir, langkahnya ringan di atas batu licin.

Tempat itu sunyi sekali.

Tidak ada burung. Tidak ada serangga. Hanya suara air menampar lambung kapal tua dan gelegak lumpur dari bawah akar.

Han Lu menunjuk ke bawah. Di sela akar besar yang setengah terendam, benar saja terlihat sudut sebuah peti tua tertutup lumpur hitam. Ukurannya sedang, tapi jelas lebih kokoh dari peti barang biasa.

“Tarik pelan,” katanya pada Guo Fen.

Mereka mulai bekerja. Guo Fen mengait ujung peti dengan besi melengkung. Han Lu menahan tali. Lumpur menggelembung saat peti itu bergerak sedikit demi sedikit keluar dari kubangan akar.

Shou Wei tidak ikut menarik. Ia berdiri agak dekat, mengamati.

Dan saat peti itu mulai tampak lebih jelas, ia melihat sesuatu.

Di sudut penutup, tepat di bawah lapisan lumpur, ada jejak garis melengkung tipis. Bukan pola kayu biasa. Bukan hiasan.

Simpul.

“Berhenti,” katanya.

Han Lu dan Guo Fen langsung menahan tarikan.

Han Lu menoleh tajam. “Apa?”

“Ada segel.”

Guo Fen mengumpat pelan dan hampir melepas kait. “Segel macam apa?”

Shou Wei berjongkok di dekat peti, menyeka lumpur tipis dengan ujung jarinya. Di bawahnya tampak ukiran yang sangat pudar: tiga garis setengah lingkaran, satu node dalam, dan jalur pendek ke arah samping. Polanya rusak oleh air dan benturan, tapi masih ada.

Bukan segel kuat.

Bukan jebakan mematikan.

Lebih seperti... pengunci yang mempertahankan keseimbangan isi.

Jantungnya berdetak.

Pola ini punya arah alir yang mirip dengan yang sempat ia tiru dari bayangan cakram kayu gelap.

Guo Fen gelisah. “Bisa dibuka atau tidak?”

“Kalau dipaksa sekarang, isi di dalam bisa rusak,” kata Shou Wei pelan.

Han Lu menatapnya. “Kau yakin?”

“Tidak sepenuhnya. Tapi pola ini bukan untuk menjaga peti tetap tertutup. Lebih untuk menjaga sesuatu di dalam tetap stabil.”

Han Lu berpikir cepat, lalu mengangguk. “Baik. Jangan buka di sini. Tarik naik dulu.”

Mereka pun melanjutkan. Dengan tenaga Guo Fen dan tali Han Lu, peti itu akhirnya berhasil diangkat ke tanah lebih kering dekat tebing. Ukurannya tidak besar, tapi beratnya aneh. Terlalu berat untuk kayu kosong, terlalu seimbang untuk batu biasa.

Shou Wei menempelkan telapak tangan ke sisi peti beberapa detik.

Dingin.

Dan di balik dingin itu, ada getaran halus seperti aliran air tertahan.

Tepat saat itu, Han Lu yang sedang memeriksa lambung kapal mendesis pelan. “Sial.”

Shou Wei menoleh.

Di sisi lumpur dekat tebing, ada jejak kaki.

Bukan jejak mereka.

Masih cukup baru, separuh tertutup air tipis, tapi jelas milik manusia. Satu set lebih kecil, satu lebih berat. Keduanya menuju ke lambung kapal lalu hilang di atas papan pecah.

Han Lu menatap jejak itu, lalu ke arah kapal. “Ada orang datang sebelum kita.”

Guo Fen menggenggam tombak kait lebih erat. “Pemburu bangkai?”

Shou Wei tidak bicara.

Tapi dalam hati, satu nama sudah muncul.

Wei Kuan.

Dan saat ia mengangkat kepala ke lambung kapal tua itu, darah naga di dalam dirinya bergerak lagi—lebih jelas daripada sebelumnya, seolah ada sesuatu di atas sana yang belum mereka lihat.

Sesuatu yang mungkin berkaitan dengan peti ini.

Sesuatu yang mungkin membuat jejak kaki itu tidak berhenti di satu peti saja.

Han Lu menatap keduanya cepat. “Kita ambil peti ini dulu ke perahu. Setelah itu baru putuskan apakah naik ke lambung atau tidak.”

Itu keputusan yang masuk akal.

Tapi Shou Wei tahu, mulai detik ini perjalanan ke Broken Reed Bend tidak lagi sesederhana mengambil barang sungai.

Sekarang mereka mengikuti jejak orang lain.

Jejak yang mungkin mengarah ke rahasia formasi tua.

Dan di tempat seperti ini, rahasia jarang datang sendirian.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!