Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dan Jejak
Kampus Universitas Nusantara yang biasanya terasa luas, kini seolah menyempit bagi Leah Ramiro. Ke mana pun ia melangkah—mulai dari perpustakaan yang sunyi hingga koridor fakultas yang bising—ia selalu bisa merasakan sepasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi sekadar pengawasan dari kejauhan, tapi kehadiran yang nyata, konstan, dan tak terelakkan.
Denzel Shaquille telah bertransformasi. Ia bukan lagi asisten yang hanya muncul saat jam jemput tiba. Kini, ia adalah bayangan yang memiliki jejak.
Leah menghela napas kasar saat ia keluar dari ruang seminar akuntansi biaya. Di pilar seberang ruangan, Denzel berdiri tegak dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Pria itu tidak membawa buku, tidak pula bermain ponsel. Ia hanya berdiri di sana, memindai setiap wajah mahasiswa yang berpapasan dengan Leah. Kehadirannya begitu mencolok sehingga beberapa teman sekelas Leah mulai berbisik-bisik, mengira Leah adalah anak pejabat yang sedang terancam nyawanya.
"Bisa berhenti melakukan itu, Denzel?" tanya Leah saat ia sampai di depan pria itu. Suaranya ketus, sarat dengan kejengkelan yang sudah menumpuk sejak pagi tadi.
Denzel sedikit menundukkan kepalanya. "Melakukan apa, Leah?"
"Berhenti berdiri seperti patung di depan kelasku! Orang-orang menganggapku aneh. Kau membuatku merasa seperti tawanan, bukan mahasiswi."
"Instruksi Tuan Zefan adalah pengawasan melekat, Leah. Mengingat insiden dengan Daniel dan... ketidakstabilan situasi saat ini, saya tidak bisa membiarkan Anda berada di luar jangkauan penglihatan saya lebih dari sepuluh meter," jawab Denzel dengan nada yang sangat profesional, seolah-olah ia sedang membacakan SOP perusahaan.
Leah mendengus, ia berjalan cepat menuju kantin, berharap keramaian di sana bisa menenggelamkan sosok Denzel. Namun, Denzel mengikuti dengan langkah yang lebar namun tanpa suara, menjaga jarak konstan di belakangnya. Di tengah kerumunan, Denzel tidak hanya sekadar berjalan; ia secara halus menggunakan bahunya untuk membuka jalan bagi Leah, memastikan tidak ada bahu mahasiswa lain yang bersenggolan dengan gadis itu. Ia adalah perisai manusia yang tidak terlihat namun sangat efektif.
Saat Leah duduk di salah satu meja kayu kantin bersama Seraphina, Denzel tidak ikut duduk. Ia berdiri di dekat pilar terdekat, membelakangi meja Leah, namun matanya terus memantau setiap orang yang masuk ke area kantin.
"Leah, pengawalmu itu... dia benar-benar serius, ya?" bisik Seraphina sambil melirik Denzel dengan tatapan kagum yang tidak disembunyikan. "Maksudku, dia sangat tampan untuk ukuran seorang asisten. Cara dia menjagamu... itu seperti di film-film pengawalan pribadi."
Leah memutar matanya, menusuk potongan siomay di piringnya dengan kasar. "Dia bukan pengawal di film, Sera. Dia adalah pengingat bahwa hidupku sedang diatur oleh Kak Zefan dan Jeff Chevalier. Dia tidak punya perasaan, dia hanya robot yang menjalankan perintah."
Seraphina terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada punggung tegap Denzel. "Tapi kau merasa lebih aman, kan? Sejak dia ada di sana, Daniel tidak berani mendekat lagi. Bahkan teman-teman Daniel yang biasanya hobi menggoda mahasiswi langsung diam saat melihat asistenmu itu menatap mereka."
Leah terdiam. Seraphina benar. Ada rasa aman yang aneh di tengah ketidakpastian ini. Meski ia membenci fakta bahwa Denzel seolah menjadi perpanjangan tangan Zefan untuk "menyerahkannya" pada Jeff, ia tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Denzel adalah satu-satunya hal yang membuatnya tidak benar-benar meledak karena tekanan Jeff.
Namun, rasa aman itu hanyalah satu sisi dari koin. Sisi lainnya adalah penderitaan batin Denzel yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Di posisinya, Denzel sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ia mendengar setiap kata ketus yang diucapkan Leah. Ia merasakan kemarahan gadis itu yang diarahkan kepadanya. Dan itu menyakitkan. Sangat menyakitkan bagi seseorang yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan gadis tersebut. Namun, Denzel tahu ini adalah satu-satunya cara. Dengan berada sangat dekat secara fisik, ia bisa mencegah Jeff untuk bertindak terlalu jauh saat pria itu datang "mengklaim" waktunya dengan Leah.
Siang itu, Jeff Chevalier kembali muncul. Seperti predator yang tahu kapan mangsanya sedang beristirahat, ia masuk ke kantin dengan gaya flamboyan yang membuat semua mata tertuju padanya. Ia langsung menuju meja Leah.
"Leah, ikut aku. Ada buku referensi baru di kantorku yang perlu kau lihat untuk tugas akhirmu," ucap Jeff tanpa basa-basi. Tangannya sudah siap untuk menarik kursi Leah.
Leah menatap Denzel dengan tatapan memohon, sebuah panggilan darurat yang tanpa sadar ia kirimkan kepada pria yang tadi ia maki-maki.
Denzel bergerak. Sebelum Jeff sempat menyentuh Leah, Denzel sudah berada di samping meja, membungkuk sedikit untuk merapikan tas Leah yang sebenarnya tidak berantakan.
"Maaf mengganggu, Tuan Chevalier," ucap Denzel dengan nada yang sangat sopan namun tegas. "Nona Leah memiliki jadwal bimbingan dengan dosen wali sepuluh menit lagi. Saya sudah diinstruksikan oleh Tuan Zefan untuk memastikan Nona Leah tidak melewatkan jadwal akademisnya hari ini."
Jeff menatap Denzel dengan mata menyipit. "Jadwal bimbingan? Aku tidak tahu ada jadwal itu."
"Tentu, Tuan. Itu adalah jadwal tambahan yang baru saja saya konfirmasikan," bohong Denzel tanpa berkedip. "Saya akan mengantar Nona Leah sekarang. Mari, Leah."
Leah yang mengerti sinyal itu segera berdiri dan menyambar tasnya. Ia berjalan mendahului mereka dengan jantung berdebar. Jeff tampak geram, namun ia tidak bisa membantah alasan "akademis" di depan mahasiswa lain tanpa merusak citranya sebagai dosen yang profesional.
"Kau mulai berani bermain-main denganku, asisten," bisik Jeff pada Denzel saat Leah sudah agak menjauh.
Denzel menatap Jeff dengan tatapan kosong yang mematikan. "Saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Zefan, Tuan Chevalier. Keselamatan dan reputasi Nona Leah adalah prioritas utama."
Denzel kemudian berbalik dan menyusul Leah. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi, namun kali ini rasa sesaknya sedikit berbeda. Leah menatap punggung Denzel dari kursi belakang melalui spion tengah. Ia tahu Denzel baru saja berbohong demi melindunginya dari Jeff.
"Terima kasih," bisik Leah pelan.
Denzel tidak menoleh, jemarinya di atas setir sedikit mengetat. "Itu bagian dari tugas saya, Leah."
"Kenapa kau selalu bilang itu tugas? Apa kau tidak bisa mengakuinya satu kali saja kalau kau melakukannya karena kau peduli padaku?" suara Leah mulai meninggi kembali, ia frustrasi dengan dinding es yang dibangun Denzel.
Denzel memarkir mobil di pinggir jalan yang sepi dalam perjalanan pulang. Ia mematikan mesin, membuat kesunyian di dalam kabin terasa memekakkan telinga. Ia berbalik perlahan, menatap Leah dengan sorot mata yang begitu dalam hingga Leah merasa seolah ia sedang melihat ke dasar samudera yang paling gelap.
"Jika saya membiarkan diri saya 'peduli' lebih dari yang diizinkan oleh tugas saya, Leah, maka saya tidak akan bisa berdiri di sampingmu hari ini," ucap Denzel, suaranya parau dan sarat akan luka yang tertahan selama bertahun-tahun. "Saya harus menjadi mesin agar saya tidak hancur saat melihat Tuan Chevalier menyentuhmu. Saya harus menjadi bayangan agar saya tetap bisa berada di jejakmu."
Leah terpaku. Ini adalah pertama kalinya Denzel bicara dengan emosi yang begitu mentah. Ia melihat tangan Denzel yang bergetar di atas setir.
"Denzel..."
"Jangan," potong Denzel cepat. Ia kembali menyalakan mesin mobil. "Jangan katakan apa pun. Kita harus sampai di rumah sebelum Tuan Zefan menanyakan keberadaan Anda."
Sisa perjalanan itu dihabiskan dalam kebisuan yang lebih menyiksa. Denzel kembali menjadi asisten yang dingin, dan Leah kembali menjadi majikan yang bingung. Namun, bayangan dan jejak Denzel kini terasa berbeda bagi Leah. Ia mulai menyadari bahwa di balik setiap langkah Denzel yang kaku, ada pengorbanan yang tak terucapkan.
Malam itu, Denzel berdiri di balkon kamarnya, menatap jendela kamar Leah yang sudah gelap. Ia memegang sapu tangan biru tua yang tadi siang sempat ia gunakan untuk menghapus noda di meja Leah. Ia tahu, tugas 24 jam ini hanyalah permulaan. Jeff akan semakin agresif, dan Zefan semakin terdesak.
Ia adalah bayangan yang akan terus mengikuti, bahkan jika cahaya di depan Leah semakin meredup. Ia akan memastikan jejak Leah tetap bersih, meski jejaknya sendiri harus tertutup lumpur dan darah. Denzel Shaquille telah memilih jalannya: menjadi pelindung yang paling setia, sekaligus pengamat yang paling tersiksa.