"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Cemburu nggak jelas?" Bintang mengulang kalimat itu dengan nada rendah, namun penuh penekanan yang menusuk. Ia mencengkeram setir mobil lebih kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. "Fis, kalau laki-laki itu orang asing, aku tidak akan peduli. Tapi ini Guntur. Orang yang sembilan tahun lalu membuatmu hancur, dan sekarang dia berdiri di sampingmu seolah-olah dia adalah pahlawan yang menyelamatkan kasusmu."
Afisa memejamkan mata rapat-rapat. "Dia stafku, Mas. Pak Baskoro yang menempatkannya di sana. Aku bahkan tidak tahu dia ada di Semarang sampai hari pertama aku masuk kantor!"
"Tapi kamu tidak menolak, kan? Kamu bisa saja bilang pada Pak Baskoro kalau kamu tidak nyaman!" Bintang menoleh sekilas, tatapannya tajam. "Atau jangan-jangan, jauh di lubuk hatimu, kamu menikmati kehadirannya? Menikmati cara dia menatapmu dengan rasa bersalah itu?"
"Mas, cukup!" teriak Afisa, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Aku bekerja mati-matian untuk membangun karierku di sini. Aku begadang, aku membedah berkas, aku menghadapi hakim yang sulit. Dan saat aku menang, hal pertama yang suamiku lakukan bukan mengucapkan selamat, tapi menginterogasiku soal masa lalu yang sudah lama mati!"
Suasana di dalam mobil mendadak senyap. Hanya suara isakan kecil Afisa yang terdengar di sela-sela deru mesin. Bintang tertegun melihat air mata istrinya. Kemarahannya yang tadi meluap, tiba-tiba surut digantikan oleh rasa sesak yang lain. Ia sadar ia telah melewati batas.
Bintang perlahan memelankan kecepatan mobilnya, lalu menepi di bahu jalan yang agak sepi. Ia mematikan mesin, namun tidak langsung bicara. Ia melepaskan sabuk pengamannya, lalu bergeser mendekat ke arah Afisa.
"Fis..." panggil Bintang lirih. Tangannya terulur ingin menghapus air mata di pipi Afisa, namun Afisa sedikit menjauhkan wajahnya.
"Aku capek, Mas. Aku hanya ingin pulang, mandi, dan tidur," bisik Afisa tanpa menatap Bintang. "Kalau kamu datang ke Semarang hanya untuk mengawasiku seperti tersangka, lebih baik kamu kembali ke Jakarta."
Kalimat itu menghantam Bintang tepat di ulu hati. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam egonya yang terluka. Ia tahu ia terlalu posesif, tapi bayangan Afisa yang pernah meninggalkannya demi Guntur di masa lalu adalah luka yang belum sepenuhnya pulih, meski mereka sudah menikah.
"Maaf," gumam Bintang akhirnya. Suaranya terdengar sangat menyesal. "Maafkan aku, Mas terlalu takut kehilangan kamu lagi. Mas janji... Mas akan coba lebih tenang."
Afisa tidak menjawab, ia hanya menyandarkan kepalanya ke jok mobil, merasa lelah yang luar biasa—lelah fisik karena persidangan, dan lelah batin karena drama yang tak kunjung usai.
Sementara itu, di kantor firma hukum, Citra sedang menunggu kepulangan Guntur dengan segelas kopi di tangannya. Ia sudah mendengar kabar kemenangan sidang pertama, ia akan memberi selamat pada stafnya meskipun dulu ia pernah menyakiti sahabatnya
Guntur melangkah masuk ke area kantor dengan bahu yang tampak sedikit turun. Kemenangan di pengadilan tadi seharusnya membuatnya terbang tinggi, namun pertemuan dengan Bintang di lobi pengadilan justru menyeretnya kembali ke bumi dengan keras. Ia baru saja meletakkan tas kerjanya saat sebuah gelas kopi hangat disodorkan ke arahnya.
"Selamat, Guntur. Argumen agraria tadi... itu brilian."
Guntur mendongak dan menemukan Citra berdiri di sana dengan senyum tipis yang tulus—pemandangan langka yang belum pernah ia lihat sejak pertama kali mereka bertemu di firma ini.
"Terima kasih, Bu Citra," jawab Guntur pendek, sedikit terkejut.
Citra menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Guntur, melipat tangan di dada. "Aku tahu sejarahmu dengan Afisa. Aku juga tahu betapa berantakannya sahabatku itu dulu gara-gara kamu. Tapi, melihat kinerjamu semalam dan bagaimana kamu 'menghajar' pengacara lawan di sidang tadi... aku rasa aku harus adil."
Citra menyesap kopinya sejenak, matanya menatap Guntur dengan lebih lunak. "Masa lalu memang pahit, tapi Afisa yang sekarang adalah wanita yang sudah sembuh. Dia sudah menemukan kebahagiaannya, dan kamu... kamu sudah membayar utang profesionalmu hari ini. Sekarang kita adalah satu tim."
Guntur tertegun. Ia tidak menyangka Citra, orang yang paling skeptis terhadap kehadirannya, justru menjadi orang pertama yang memberinya pengakuan manusiawi.
"Jangan terlalu dipikirkan soal Bintang," lanjut Citra seolah bisa membaca pikiran Guntur. "Dia hanya seorang suami yang terlalu mencintai istrinya. Wajar kalau dia sedikit 'berisik'."
Guntur mengangguk kecil. "Saya mengerti, Bu. Saya tidak punya niat apa pun selain bekerja."
"Bagus. Karena itu, sebagai bentuk apresiasi atas kemenangan kecil kita hari ini, aku mau traktir kamu makan sore. Anggap saja ini perayaan kecil tim kita, mumpung Afisa sedang 'diculik' suaminya," Citra menepuk bahu Guntur dengan santai. "Ayo, jangan ditolak. Aku tahu kamu belum makan dari pagi."
Guntur sempat ragu, namun melihat keramahan Citra yang mulai membuka pintu pertemanan, ia akhirnya mengulas senyum tipis. "Baik, Bu. Terima kasih banyak."
Saat mereka berjalan menuju area parkir, Guntur merasakan sedikit beban di dadanya terangkat. Setidaknya di kantor ini, ia mulai diterima bukan sebagai "sang mantan", melainkan sebagai rekan kerja yang kompeten.
Namun, di tengah perjalanan menuju tempat makan, ponsel Citra bergetar. Sebuah pesan masuk dari Afisa yang berisi satu kalimat singkat yang membuat Citra menghentikan langkahnya sejenak.
"Bintang bener-bener keterlaluan Cit "