Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Perisai Kembar
Matahari sore di Surabaya menggantung rendah, membiaskan cahaya jingga yang pekat menembus jendela kaca ruang inap eksekutif. Dalam ruangan yang didominasi warna putih tulang dan aroma antiseptik yang samar.
Adnan duduk di kursi kayu jati yang berat di samping ranjang. Wajahnya adalah sebuah kanvas ketenangan yang sempurna, sebuah topeng yang ia asah selama bertahun-tahun dalam negosiasi bisnis bernilai triliunan. Tenang dan selalu dingin bagai ombak badai yang tak pernah bisa ditebak arahnya.
"Pelan-pelan, Arini. Masih panas," ucap Adnan lembut.
Tangannya yang kokoh memegang sendok perak. Menyuapkan bubur gandum halus ke bibir istrinya. Arini menerima suapan itu dengan binar mata yang tampak begitu tulus. Sebuah pandangan yang jika dilihat oleh orang asing, akan dianggap sebagai potret kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ia menyesap susu hangat dari gelas yang disodorkan Adnan, lalu bersandar pada bantal dengan helaan napas yang manja.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sangat baik padaku, padahal aku sudah membuatmu malu dengan kejadian mabuk itu," bisik Arini, suaranya parau namun mengandung nada menggoda yang halus.
Adnan hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Namun cukup untuk meyakinkan Arini bahwa suaminya masih berada dalam kendalinya. Di dalam benaknya, Adnan terus berperang.
Ia mencoba menepati janji pada mertuanya untuk memberi Arini kelonggaran, sebuah kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri. Namun, setiap kali ia melihat bibir Arini, ia teringat bagaimana bibir itu bergerak di layar monitor semalam. Ia merasa sedang menyuapi seekor ular yang baru saja menyuntikkan bisa ke jantungnya.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas Adnan bergetar. Getaran itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke tulang belakangnya. Adnan merogoh ponselnya.
Sebuah nama muncul di layar, membuat pupil matanya melebar sepersekian milidetik.
Reza – Kapolres,
Reza adalah sahabat karibnya sejak masa kuliah di Universitas Negeri. Jika Adnan memilih jalan arsitektur untuk membangun gedung, Reza memilih jalan hukum untuk membangun keamanan.
Di usia yang masih relatif muda. Reza sudah menjabat sebagai Kapolres Surabaya, sebuah posisi yang membuktikan betapa tajam dan tegasnya pria itu. Mereka jarang berhubungan di jam kerja, kecuali jika ada sesuatu yang sangat mendesak.
"Siapa, Mas?" tanya Arini, matanya sedikit menyipit mengikuti gerakan tangan Adnan.
"Ah, ini rekan bisnis lama dari Jakarta. Sepertinya ada revisi kontrak yang tidak bisa ditunda," dusta Adnan dengan lancar.
Ia berdiri, mengusap kepala Arini sekilas, sebuah sentuhan yang terasa dingin dan kaku di telapak tangannya sendiri.
"Aku angkat sebentar di luar ya? Supaya tidak mengganggu ketenanganmu."
"Iya, jangan lama-lama ya, Sayang," jawab Arini dengan senyum manis yang mengerikan bagi Adnan.
Begitu pintu ruang inap yang tebal itu tertutup rapat di belakangnya. Adnan segera menekan tombol terima. Ia melangkah menjauh dari pintu, menuju ujung koridor yang sepi. Agar suaranya tak terdengar oleh Arini.
"Halo, Rez? Ada apa?" suara Adnan rendah, penuh otoritas.
"Nan... kamu di mana sekarang?" Suara Reza di seberang sana terdengar sangat berat.
Jauh dari nada ceria yang biasanya ia gunakan. Ada kebisingan sirene dan suara radio polisi yang statis di latar belakangnya. Seolah ia sedang di dalam sebuah area reka adegan atau di tempat kejadian perkara.
"Aku di rumah sakit, menemani Arini. Suaramu terdengar gawat. Ada masalah?"
Ada jeda panjang Reza terdengar menarik napas dalam-dalam. Sebuah helaan napas yang mengandung duka, "Nan, aku baru saja berada di lokasi penemuan mayat di daerah pergudangan Margomulyo. Anggotaku menemukan dua mayat pria di dalam sebuah mobil yang dipaksa masuk ke dalam kontainer kosong. Kondisinya sangat rapi selayaknya eksekusi profesional."
Adnan merasakan hawa dingin merayap dari kakinya menuju ulu hati. Ia memegang pinggiran jendela koridor hingga buku-buku jarinya memutih, "Lalu? Apa hubungannya denganku?"
"Identitas mereka, Nan, dua pria kembar Jo Bima Arianto dan Bima Jo Arianto. Bukankah mereka orang kepercayaanmu? Orang yang bertugas menjaga keamanan pribadimu dan istrimu?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Adnan. Telinganya berdenging hebat Jo dan Bima. Perisai kembarnya dua orang yang memegang kunci rahasia. Tentang pengkhianatan Arini semalam. Dua orang yang seharusnya mengirimkan laporan padanya pukul sembilan pagi tadi. Namun malah menghilang tanpa jejak di dalam ponselnya yang bersih.
"Kamu yakin, Rez?" suara Adnan bergetar, sebuah retakan langka dalam pertahanan dirinya.
"Sangat yakin, kami menemukan kartu identitas mereka dan alat komunikasi yang terdaftar atas nama perusahaanmu. Nan, ini bukan pembunuhan biasa. Mereka disiksa terlebih dahulu. Sepertinya seseorang ingin menghapus jejak digital atau informasi yang mereka pegang. Aku akan kirim tim intelijen untuk berjaga di rumah sakit secara rahasia. Jangan percaya pada siapa pun di sekitarmu sekarang. Aku akan menyusul ke sana setelah olah TKP awal selesai."
Adnan menutup teleponnya. Tangannya gemetar hebat. Amarah yang tadinya ia tekan di depan Arini kini meledak menjadi api yang dingin.
Penghapusan data semalam, bau bius di kerah bajunya, dan sekarang kematian dua orang yang menjadi matanya. Ini bukan lagi sekadar perselingkuhan. Ini adalah konspirasi yang melibatkan nyawa.
Ia berdiri diam selama beberapa menit. Mencoba mengatur napasnya yang memburu. Ia harus kembali ke dalam, ia harus bersandiwara sekali lagi di depan wanita yang mungkin adalah otak di balik semua ini atau setidaknya, pemicu dari semua pertumpahan darah ini.
Adnan membuka pintu kamar inap dengan perlahan. Wajahnya kembali menjadi topeng tenang, meski matanya berkilat penuh dendam yang tersembunyi.
"Arini," panggil Adnan.
Arini menoleh, wajahnya tampak sedikit bingung melihat perubahan aura Adnan, "Ada apa, Mas? Wajahmu tegang sekali."
Adnan melangkah masuk, menyambar jas dan kunci mobilnya yang diletakkan di sofa. Ia memaksakan sebuah senyum kecil, sebuah kebohongan lagi yang kini mulai membias terbiasa di bibirnya yang keluar dengan begitu pahit dari mulutnya.
"Maafkan aku, Sayang. Urusan kolega di kantor ternyata sangat mendesak. Ada kebocoran data pada proyek apartemen di pusat kota dan aku harus menemuinya secara langsung di lokasi sekarang juga. Kamu di sini bersama suster dulu, ya? Aku akan meminta tim keamanan rumah sakit untuk lebih memperhatikan kamarmu."
Arini tampak kecewa, namun ia mengangguk patuh, "Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah."
Adnan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat dan melangkah keluar dengan cepat. Begitu pintu tertutup, langkah kakinya berubah menjadi lari kecil menuju parkiran. Di dalam lift yang turun menuju lantai dasar, Adnan menatap pantulan dirinya di cermin besi.
Ia tidak lagi melihat seorang suami yang dikhianati. Ia melihat seorang pemburu yang telah kehilangan anjing pelacaknya dan kini ia harus berburu sendirian di tengah kegelapan Surabaya.
"Jo... Bima..." desis Adnan dengan suara yang sangat rendah, "Aku bersumpah, siapa pun yang melakukan ini, mereka akan memohon untuk mati saat aku menemukan mereka."
Saat pintu lift terbuka dan ada beberapa orang yang tengah menunggu di balik pintu. Adnan merasa ada sesuatu yang ia rasakan janggal. Tapi ia masih tetap mengabaikannya, mungkin perasaannya yang tengah kalut.
Setelah beberapa langkah ada sekelebat sosok pria yang semestinya Adnan kenal. Sedang berjalan berpapasan dengannya. Adnan sempat berhenti sejenak, saat pria itu melewatinya. Tapi otak dan pikiran serta hatinya, kini hanya terfokus pada penemuan mayat kembar.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...