Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Bab 30 Kejutan Di Tepi Jalan
Setelah Denzel dan Fiona mengambil obat di apotek dan berjalan ke arah aula Rumah Sakit Ibu Anak, waktu sudah menunjukkan pukul 01:30.
Denzel tidak berani menunda dan segera membawa Fiona ke rumah makan di sekitar rumah sakit. Dia juga memesan beberapa lauk yang mengandung daging.
Kali ini Fiona tidak berani memilih-milih makanan dan makan cukup banyak banyak daging dengan patuh. Fiona hanya berharap dapat memenuhi nutrisi-nutrisi bayi-bayi di perutnya.
Di meja makan ...
Denzel mengisi semangkuk sup yang berisi daging suwir dan meletaknya di depan Fiona, lalu berkata, "Jika sudah
Enek dengan daging, minumlah sup ini untuk menghilangkan rasa enek itu."
Fiona mengangguk dan menelan makanan di mulutnya. Dia menatap Denzel sambil mengerutkan dahinya dan berkata, "Sebentar lagi, kita akan memiliki tiga bayi secara langsung, apakah kita mampu membesarkan mereka?"
Meskipun mengandung kembar tiga adalah hal yang baik, tetap saja, memiliki tiga anak sekaligus membuat Fiona sedikit khawatir akan kehidupan mereka di masa depan.
Apalagi, sebelumnya dia sempat mendengar bahwa ada keluarga di desa seberang yang memiliki anak kembar yang prematur. Mereka menginap di inkubator selama sebulan lebih dan menghabiskan uang sekitar dua ratusan juta rupiah.
Bagaimana dengan dia yang
Mengandung kembar tiga? Apakah anaknya juga akan prematur dan harus dirawat di inkubator, bukankah itu akan menghabiskan lebih banyak uang ...
Denzel melihat Fiona yang wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Dia meletakkan beberapa potong daging ke dalam mangkuk Fiona dan berkata, "Kedepannya, kamu hanya perlu fokus menjaga bayi kita, kamu tidak perlu khawatir tentang uang, aku akan menghasilkan banyak uang."
Saat berbicara, Denzel tiba-tiba teringat sesuatu. Dia menatap Fiona dan berkata, "Sebaiknya kamu minta cuti dari pabrik lebih lama lagi. Sekarang anak-anak kita kekurangan gizi. Dokter Laurence juga memintamu untuk istirahat lebih banyak dalam beberapa hari ini. Kamu diam di rumah saja."
Saat Denzel mengatakannya, nada bicaranya seperti tak terbantahkan, dia bukan sedang berdikusi dengan Fiona.
Denzel tidak bisa membiarkan gadis ini terus bersikap keras kepala.
Saat ini, Fiona juga khawatir dengan bayi-bayi di perutnya. Setelah mendengar perkataan Denzel, dia terdiam sejenak, lalu berkata, "Boleh, tapi aku tidak tahu apakah pabrik mau memberiku cuti selama itu."
Denzel tidak menyatakan setuju atau tidak, "Jika mereka tidak memberimu cuti, aku akan pergi ke sana dan memberitahu mereka kalau istriku sedang hamil dan perlu untuk merawat bayinya di rumah, istriku juga akan berhenti dari pekerjaannya."
Sejak awal, berdasarkan situasi sekarang, Fiona sudah tidak cocok untuk bekerja.
Namun, kalau Denzel belum stabil, Fiona pasti tidak mau mengundurkan diri.
Oleh sebab itu, Denzel hanya bisa memintanya untuk mengambil cuti.
Begitu pekerjaannya sudah stabil, dia dia akan meminta Fiona untuk mengundurkan diri.
Lagipula, setelah perutnya makin besar, seharusnya orang pabrik juga paham dan meminta Fiona untuk mundur tanpa harus Denzel yang mengatakannya.
Ketika mendengar perkataan Denzel, Fiona merasa segan untuk membantah. Bagaimanapun, yang harus diutamakan sekarang adalah kesehatan para bayi.
Kalau begitu, Fiona hanya bisa mencari alasan untuk cuti, dia akan kembali bekerja setelah nutrisi bayi-bayinya terpenuhi.
Saat Fiona merenung, dia sudah menghabiskan semua makanan yang berada di mangkuknya. Dia pun
Memberikan mangkuk kosongnya kepada Denzel. "Aku mau tambah semangkuk lagi!"
Denzel segera mengangguk, "Baik, akan segera aku isi."
Setelah mengatakan itu, Denzel mengisi semangkuk nasi penuh dari wadah nasi dan memberinya kepada Fiona.
Setelah selesai makan, Denzel menyetir ke pasar sayur untuk membeli sayur dalam jumlah yang lumayan banyak. Setelah itu, dia pun membawa Fiona kembali ke rumah.
Ketika melewati pabrik produksi kertas tempat Fiona bekerja, Denzel menatap Fiona dan menyuruhnya untuk meminta kepada pabrik selama seminggu.
Setelah kembali ke desa, Denzel mengembalikan mobil kepada Daniel, lalu keduanya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Denzel membereskan rumahnya. Dia pun mulai menyiapkan makan malam ketika melihat waktu sudah mulai malam.
Sekarang, seluruh fokus utama hidupnya telah berpusat kepada Fiona dan bayi yang berada di perutnya.
Setelah sibuk seharian dan selesai makan malam, Fiona keluar jalan-jalan untuk mencerna makanan. Denzel baru bisa menyempatkan diri untuk tinggal di rumah dan pergi ke ruang angkasa untuk melihat pertumbuhan stroberi.
Pada saat ini, stroberi di ruang angkasa sudah mulai berbunga, jumlahnya juga jauh lebih banyak dibanding minggu pertama. Stroberi ini diperkirakan akan matang semua pada malam berikutnya.
Pada saat yang sama, Denzel menyadari bahwa setelah berbuah sebanyak dua kali, bibit stroberi yang ditransplantasi pertama kali itu telah layu.
Tampaknya, meskipun dapat menumbuhkan tanaman dengann cepat, ruang ini memiliki batasan. Satu bibit hanya bisa menghasilkan buah sebanyak dua kali.
Setelah menyirami bibit stroberi di ruang angkasa, Denzel keluar dan pergi ke halaman belakang untuk melihat stroberi yang ditransplantasi semalam.
Stroberi yang ditransplantasi ini satu kelompok dengan stroberi yang berada di ruang angkasa. Jika diukur dengan kecepatan pertumbuhan stroberi di ruang angkasa, stroberi ini seharusnya juga sudah berbunga.
Namun sayangnya, sekarang sama sekali tidak ada ciri-ciri yang
Menunjukkan bahwa tanaman ini akan berbunga.
Hal ini membuktikan bahwa stroberi yang ditanam di luar tidak memiliki kecepatan pertumbuhan secepat stroberi yang tumbuh di dalam ruang angkasa.
Denzel sedikit kecewa, tapi dia tetap mengambil mata air ajaib dari ruangan dan menyirami stroberi-stroberi ini.
Setidaknya, stroberi-stroberi ini tidak terlihat memburuk, mereka hanya tumbuh sedikit lebih lambat.
Mengenai seberapa lambat pertumbuhannya, dia harus pelan-pelan menunggu dan memperhatikannya.
Dalam sekejap,
hari sudah berganti.
Setelah sarapan, Denzel menyapa mengambil uang dari Fiona, lalu pergi ke sebuah toko di desa.
Semalam, ketika Denzel mengembalikan van kepada Daniel, Daniel berkata bahwa hari ini dirinya akan menggunakan mobil untuk membeli stok di kabupaten.
Jadi, hari ini Denzel tidak bisa meminjam mobil van milik Daniel.
Namun, hari ini Denzel juga tidak berniat untuk meminjam mobil itu.
Dia hanya menumpang di mobil van Daniel untuk pergi ke kabupaten dan menyewa sebuah truk.
Truk yang memiliki kapasitas besar itu dapat diisi dengan semua stroberi di ruang angkasa sekaligus, dia tidak perlu bolak balik.
Semalam, Denzel terpaksa
Meminjam mobil van Daniel agar dapat menjual stroberi.
Karena dia tidak memiliki uang sepersen pun pada saat itu, dia bahkan harus meminta kantong plastik dari orang lain.
Sekarang dia tak perlu merepotkan orang lain terus-menerus, karena dia telah memiliki modal.
Dalam perjalanan ke kabupaten, Denzel duduk di samping kursi pengemudi. Dia menatap Daniel yang sedang menyetir dan berkata, "Oh iya, paman tahu tidak, di mana aku bisa menyewa mobil di kabupaten? Aku ingin menyewa sebuah truk."
Denzel tidak begitu mengenal daerah kabupaten.
Namun, Daniel yang sering keluar masuk kabupaten pasti jauh lebih familier. Denzel bisa mencari tahu
Tentang hal tersebut pada Daniel, daripada dirinya sembarang berkeliaran di kabupaten.
ya." "Sewa mobil ... aku pikirkan dulu,
Setelah Daniel berkata, dia mengerutkan keningnya sejenak.
Dengan cepat, dia pun mengingat sesuatu, "Ah, sepertinya ada perusahaan rental mobil yang lumayan besar di Jalan Juanda, aku tahu karena pernah melewatinya beberapa kali."
Saat Daniel mengatakannya, dia berbalik untuk menatap Denzel dan bertanya, " Denzel, kamu mau sewa mobil untuk apa?"
"Untuk menjual buah dan meraup keuntungan," jawab Denzel dengan sungguh-sungguh.
Daniel mengangkat alisnya dan melihat Denzel yang tampak serius itu,
"Dasar anak ini, kamu sekarang benar-benar bertobat?"
Denzel melihat tatapan Daniel, dia pun sedikit tertawa dan berkata, "Sudahlah." Setelah mengatakannya, Denzel sibuk mengingatkan Daniel dengan berkata, "Paman, lihat jalan, aku tidak ingin terjadi apa-apa begitu bertobat."
Daniel baru sadar dan berbalik untuk menatap jalan, "Haizz! Jangan khawatir, aku sudah melewati jalan ini berkali-kali. Kalau begitu, aku akan menurunkanmu di Jalan Juanda."
"Baik, terima kasih Paman."
"Tidak perlu sungkan! Semalam kamu mengisi bensin mobilku hingga penuh, aku yang tidak enak jika tidak mengantarmu sekarang."
"Itu sudah seharusnya."
Keduanya lanjut mengobrol.
Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di lokasi yang telah disebutkan oleh Daniel.
Daniel memarkir mobil van miliknya di pinggir dan menunjuk-nunjuk sebelah kiri, "Itu dia, Perusahaan Rental Mobil Jedita, kamu bisa pergi ke sana untuk melihat-lihat."
Denzel menuruti arah yang ditunjuk Daniel dan mengangguk, dia segera membuka pintu mobil dan turun. Denzel berkata, "Baik, aku akan ke sana untuk melihat-lihat, terima kasih Paman."
Setelah berpamitan dengan Daniel, Denzel pun turun dari mobil dan berjalan ke arah Perusahaan Rental Mobil Jedita.
Saat Denzel turun dari mobil, lokasinya tidak jauh dari perusahaan rental mobil itu. Dia pun tiba di depan pintu perusahaan rental mobil itu
Setelah berjalan selama beberapa menit.
Skala toko ini tidak kecil, ada banyak mobil yang terparkir di depan gerbang.
Ada mobil sedan, van, truk pikap, truk kecil, bahkan ada mobil karavan yang besar.
Pada saat ini, seorang pria paruh baya di toko melihat Denzel yang berdiri di depan pintu. Dia segera membuka pintunya dan berjalan ke arah Denzel.
"Anak muda, apakah kamu mau menyewa mobil?"
Pria itu berjalan ke arah Denzel dan menyapa dengan senyuman.
Pada saat ini, Denzel baru saja memperhatikan truk putih yang tidak jauh dari sana. Saat mendengar pria itu menyapanya, Denzel mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah itu, lalu bertanya, "Paman, bagaimana cara
Untuk menyewa mobil itu?"
Klaim
Pria itu melihat arah yang ditunjuk Denzel dan berkata, "Mobil itu adalah truk tipe kotak ringan, harga sewanya lebih tinggi, seharga tiga ratus ribu rupiah per hari."
Mendengar perkataan orang itu, Denzel berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah, aku mau menyewa mobil itu."
Truk yang kompartemen mobilnya tertutup sangat cocok dengan dirinya yang harus memetik stroberi dari ruang angkasa, sehingga tidak akan ada yang mengetahuinya.
Denzel masih bisa menerima harga sewa sebesar tiga ratus ribu rupiah per hari.
Paman itu tidak menyangka Denzel akan setuju dengan semudah itu. Dia merasa sedikit aneh. Setelah dia sadar, dia segera berkata dengan tersenyum,
"Baik, kamu sangat lugas. Kalau begitu, ikut aku masuk untuk membayar uang muka dan mengisi formulir. Kamu bisa langsung membawa pergi mobil itu."
"Oke."
Setelah mengatakannya, keduanya masuk ke dalam toko.
Meskipun biaya sewanya cukup murah, biaya deposit mobil ini cukup tinggi, yaitu satu juta rupiah.
Denzel membawa 1,4 juta rupiah.
Begitu membayar uang deposit itu, uangnya hanya tersisa 400 ribu rupiah.
Untungnya, uang deposit itu akan dikembalikan saat mengembalikan mobil. Kalau tidak, setelah menyewa mobil, Denzel tidak memiliki uang untuk melakukan hal lain.
Setelah membayar uang deposit dan mengisi formulir identitas, Denzel pun
Mengambil kunci mobil dan berjalan ke luar toko, lalu membawa mobil itu pergi.
Setelah menyetir ke luar toko, Denzel memutar arah dan menuju ke pasar asosiasi petani di Jalan Nusantoro.
Sekarang Denzel sudah mempunyai mobil. Dia harus mencari beberapa keranjang untuk mengisi stroberi.
Saat menuju ke arah Jalan Nusantoro, Denzel merenung sejenak.
Dia memikirkan apakah dirinya perlu membeli beberapa jenis bibit sayur dan buah atau tidak.
Setelah menjual stroberi kali ini, dia tidak akan menjualnya lagi dalam waktu dekat.
Bagaimanapun, stroberi di ruang angkasa memiliki sumber yang tidak jelas. Dia tidak bisa menjualnya berkali-kali, karena akan mudah ketahuan.
Namun, Denzen bertanya-tanya mengenai bibit apakah yang harus ditanamnya selain stroberi.
Sayur dan buah-buahan biasa mudah menyebabkan masalah, itu juga tidak terlalu menguntungkan.
Oleh sebab itu, tanaman selanjutnya yang mau ditanam harus memiliki harga satuan yang tinggi, tidak apa-apa jika itu membutuhkan waktu pertumbuhan yang lebih lama.
Sambil merenung, Denzel menyetir ke Jalan Purnama yang berada di sekitar Jalan Nusantoro.
Itu adalah jalan yang harus dilewati ketika hendak pergi ke pasar asosiasi petani. Di jalan itu, terdapat berbagai toko grosir bibit bunga dan rumput.
Ketika Denzel melewatinya, dia juga memperhatikan toko-toko di sekitar.
Denzel belum menemukan jenis tanaman yang cocok untuk ditanam di dalam ruang angkasa.
Denzel mengendarai truknya dan melewati sebuah toko. Tiba-tiba, dia tersadar dan memundurkan mobilnya.
Denzel berbalik dan melihat tulisan di kaca toko itu, bunyinya, "Toko kami menjual bibit ginseng."
Hmm?
Ginseng?!!