Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELARIAN SANG RATU YANG TERFITNAH
POV Maria Joanna
Dunia seolah runtuh tepat saat aku baru saja merasakan hangatnya pelukan Ibu. Layar tablet di tangan Sebastian terus memutar berita yang memuakkan itu: Wajahku disandingkan dengan foto mendiang Kakek—Kaisar China—dengan label "Pembunuh" yang tertulis dalam huruf Mandarin besar.
"Ini fitnah! Bagaimana mungkin aku membunuh kakekku sendiri sementara aku berada di puncak gunung ini melawan Adrian?!" teriakku, suaraku bergema di antara sisa-sisa reruntuhan Biara Montserrat.
Ibu menggenggam tanganku erat. Matanya yang baru saja bersinar karena reuni kami, kini kembali menajam. "Ini adalah rencana Jenderal Zhao, Maria. Dia sudah lama mengincar tahta itu. Kakekmu wafat karena usia, atau mungkin racun, tapi Zhao membutuhkan kambing hitam untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan kau, sang pewaris berdarah campuran, adalah target yang paling sempurna."
Ayah, Raja Arthur, segera menarikku menuju helikopter militer yang masih bersiaga. "Kita tidak punya waktu untuk berdebat. Begitu Zhao mengambil alih, seluruh aset China di Eropa akan digunakan untuk memburumu. Interpol akan segera mengeluarkan Red Notice. Kita harus keluar dari wilayah udara Spanyol sebelum mereka membekukan jalur penerbangan kerajaan."
Aku menoleh ke arah Ibu. "Ibu ikut dengan kami?"
"Tidak, Maria," Ibu menggeleng, sebuah keputusan pahit terlihat di wajahnya. "Jika aku ikut, kita akan lebih mudah dilacak. Aku akan pergi ke markas rahasia 'El Halcon' bersama Hector untuk mengumpulkan bukti konspirasi Zhao. Kau harus ke Beijing. Kau harus menunjukkan wajahmu di depan rakyat China dan membuktikan bahwa darah Julia bukanlah darah seorang pembunuh."
Di dalam Kota Terlarang, Beijing, Jenderal Zhao duduk di kursi yang seharusnya milik keponakannya. Ia menyesap teh hitamnya sambil menatap layar monitor yang melacak pergerakan aset-aset militer di seluruh dunia.
"Apakah perintah eksekusi sudah disebarkan?" tanya Zhao tanpa menoleh.
"Sudah, Jenderal," jawab bawahannya. "Setiap agen kita di Eropa telah diinstruksikan untuk menembak di tempat jika melihat Maria Joanna. Kami juga telah menekan pemerintah Spanyol melalui jalur ekonomi agar menyerahkan Raja Arthur sebagai kaki tangan pembunuhan."
Zhao menyeringai. "Bagus. Biarkan Singa Spanyol itu mengaum sesuka hati. Di hadapan kekuatan Naga yang sedang bangkit, mereka hanyalah kerikil. Maria mungkin selamat dari Adrian, tapi dia tidak akan pernah selamat dari seluruh militer China yang kini menganggapnya sebagai musuh negara."
POV Maria Joanna
Aku duduk di dalam jet pribadi yang terbang rendah untuk menghindari radar. Di sampingku, Sebastian sedang sibuk dengan tiga laptop sekaligus, mencoba meretas jaringan komunikasi Interpol.
"Putri, namamu sudah masuk dalam daftar paling dicari," Sebastian menunjukkan layar monitornya. "Dalam satu jam, tidak akan ada pelabuhan atau bandara yang aman untukmu. Ayahmu sedang berusaha menggunakan pengaruh diplomatiknya, tapi Zhao sangat cepat."
Aku menatap tanganku yang masih membawa bekas darah Adrian. Kemarin aku adalah ART yang dihina, tadi malam aku adalah Putri yang bersatu dengan Ibunya, dan sekarang aku adalah buronan paling dicari di dunia. Kehidupan ini sungguh sarkastis, persis seperti kepribadian Adrian yang kini sudah membusuk.
"Sebastian, berapa banyak pengawal setia yang kita punya di Beijing?" tanyaku.
"Hanya sedikit, Putri. Sebagian besar sudah ditahan oleh Zhao. Tapi kita memiliki satu kartu as," Sebastian melirik ke arah Ayahku yang sedang berbicara di telepon satelit. "Faksi pendukung mendiang Kakekmu masih ada di bawah tanah. Mereka menunggu simbol. Mereka menunggu Singa Emas bertemu dengan Naga Merah."
Tiba-tiba, alarm pesawat berbunyi dengan nyaring. Jet kami berguncang hebat akibat ledakan yang terjadi di luar.
"Yang Mulia! Dua jet tempur tanpa tanda pengenal sedang mengejar kita di atas perbatasan Mediterania!" teriak pilot dari kokpit.
Arthur melompat menuju kursi kokpit, wajahnya penuh amarah yang dingin. "Mereka berani menyerang jet kedaulatan Spanyol di wilayah udara internasional?!"
"Mereka tidak peduli pada hukum lagi, Yang Mulia! Mereka ingin jet ini jatuh dan menganggapnya sebagai kecelakaan!" balas pilot.
Arthur menoleh ke arah Maria yang sedang memasang sabuk pengaman dengan wajah tegang namun penuh tekad. "Maria! Ambil parasut di bawah kursimu! Jika jet ini terkena telak, Sebastian akan membawamu terjun. Kalian harus mendarat di kapal kargo milik El Halcon yang sudah menunggu di bawah sana!"
"Ayah, bagaimana denganmu?!" teriak Maria.
"Aku akan tetap di sini untuk mengalihkan perhatian mereka! Sebagai Raja, mereka tidak akan berani menembak jatuh jet ini jika mereka tahu aku masih di dalam! Tapi jika mereka tahu kau ada di sini, mereka tidak akan ragu!"
POV Maria Joanna
Aku menggeleng keras. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Ayah!"
"Ini bukan permintaan, Maria! Ini perintah dari Rajamu!" bentak Arthur, namun matanya berkaca-kaca. "Pergilah ke Beijing. Bersihkan nama kita. Temui pamanmu yang lain, Laksamana Chen, di pelabuhan Shanghai. Dia satu-satunya orang yang bisa membantumu masuk ke Kota Terlarang."
Sebastian menarik paksa lenganku menuju pintu darurat. "Maafkan hamba, Putri! Kita harus pergi sekarang!"
Pintu darurat terbuka. Suara angin yang menderu kencang menghisap oksigen di sekitarku. Aku melihat Ayahku untuk terakhir kalinya sebelum Sebastian membawaku terjun ke kegelapan malam di atas laut Mediterania.
Saat aku melayang di udara, aku melihat salah satu rudal mengenai sayap jet pribadi Ayah. Ledakan api menerangi langit malam.
"AYAAAAHHHH!" teriakanku hilang ditelan badai.
Aku dan Sebastian jatuh ke laut yang dingin, namun saat aku berusaha berenang ke permukaan, sebuah jaring besar menarik kami ke atas sebuah kapal selam hitam yang muncul dari kedalaman air. Saat penutup kapal terbuka, sesosok pria berwajah dingin dengan bekas luka di mata kirinya menatapku
.
"Selamat datang di kapal selam The Phantom, Putri Maria," ucapnya. "Namaku Laksamana Chen. Ayahmu sudah membayar mahal nyawanya agar kau bisa sampai ke sini. Sekarang, saatnya naga kecil itu belajar cara membakar sebuah kekaisaran."
Apakah Arthur selamat dari ledakan jet tersebut? Ataukah Maria benar-benar sudah kehilangan ayahnya untuk selamanya?