Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Air, Kode, dan Rahasia yang Tenggelam
Rasa asin air laut yang dingin banget langsung nyodok masuk ke idung sama mulut Adrian. Rasanya pedes, kayak disiram cuka campur es batu. Pandangan Adrian kabur, semua jadi biru gelap yang berantakan. Dia bisa ngerasain paru-parunya mulai protes, minta oksigen, tapi tangannya yang lemes nggak bisa gerak buat berenang.
Di tengah kesadaran yang timbul tenggelam itu, dia ngerasa ada tangan kuat yang narik kerah bajunya, terus sebuah masker karet ditempelin paksa ke mukanya.
Sreeeeet... Udara seger masuk. Adrian tersedak, batuk-batuk di dalem air, tapi dia mulai bisa napas lagi.
Dia ngelihat sosok di depannya. Sekar. Tapi ini bukan Sekar yang biasa dia liat pake bot karet di kebun teh. Dia pake baju selam taktis warna item pekat yang bahannya kelihatan kayak kulit hiu, lengkap sama tabung oksigen mini yang nempel di punggungnya. Mata Sekar di balik kaca masker kelihatan tajem banget, fokus, dan sama sekali nggak ada sisa-sisa cewek desa yang kebingungan.
Sekar ngasih isyarat jempol ke atas, terus dia narik tali pengait dari pinggangnya dan dikaitin ke sabuk Adrian. Tiba-tiba, mesin pendorong kecil di kaki Sekar nyala, dan mereka berdua melesat keluar dari ruangan yang udah hampir penuh sama air laut itu, nembus kaca yang pecah, masuk ke kegelapan samudera yang luas.
Adrian noleh ke belakang. Fasilitas "The Hive" yang tadi kelihatan megah sekarang kayak lampu taman yang konslet, kelap-kelip biru trus pelan-pelan mati ditelan kegelapan bawah laut. Dia nggak liat Aris di mana, tapi dia tahu pria itu nggak bakal mati segampang itu di tempat miliknya sendiri.
Setelah beberapa menit meluncur di dalem air, mereka nyampe di sebuah kendaraan bawah air yang bentuknya aneh kecil, ramping, mirip peluru perak. Pintunya kebuka otomatis, dan Sekar dorong Adrian masuk ke dalem ruangan yang kering dan penuh sama cahaya layar monitor.
"Batuk aja, Adrian. Keluarin semua air lautnya," ucap Sekar sambil ngelepas masker selamnya. Rambutnya yang basah jatuh ke bahu, tapi ekspresinya tetep kaku.
Adrian terbatuk-batuk hebat, badannya menggigil parah. Dia duduk di lantai kapal selam kecil itu, nyoba buat ngumpulin nyawanya yang kayak masih ketinggalan di dasar laut. "Sekar... lu... gimana caranya? Kok lu bisa ada di sini?"
Sekar nggak langsung jawab. Dia duduk di kursi kemudi, tangannya lincah banget neken tombol-tombol di dashboard yang penuh sama hologram. "Gua bukan cuma agronomis, Adrian. Gua rasa lu udah mulai curiga dari awal, kan? Nggak ada petani biasa yang tahu cara nanganin sistem irigasi elektromagnetik atau berani ngelawan lintah darat bersenjata."
"Terus lu siapa?" Adrian nanya, suaranya masih parau. Sekar narik napas panjang, terus dia noleh ke Adrian. "Gua gen lapangan dari faksi yang sebenernya pengen nyelamin bokap lu. Kami sebut kelompok kami 'Akar'.
Kami bukan Bunga Lili, dan kami jelas bukan bagian dari gila-gilanya Aris. Kami pengen teknologi Malabar dipake buat pulihin ekosistem bumi yang udah rusak, bukan buat kontrol saraf manusia."
Adrian diem. Kepalanya makin pusing. "Gua nggak tahu lagi siapa yang bener, Kar. Aris bilang dia orang baek, bokap gua bilang Aris jahat, lu bilang lu penyelamat. Gua ngerasa kayak bola pingpong yang dipukulin sana-sini."
"Makanya, liat sendiri faktanya," Sekar nunjuk ke layar besar di depan mereka. Di layar itu, muncul citra satelit yang nunjukin titik-titik biru di seluruh dunia. Titik-titik itu adalah lokasi di mana teh Malabar udah didistribusikan. Tapi ada yang aneh. Titik-titiknya mulai berubah warna jadi merah satu per satu.
"Apa itu?" tanya Adrian. "Itu efek dari 'Grounding' yang lu lakuin tadi. Lu pikir lu udah matiin sistemnya? Nggak, Adrian. Lu cuma mindahin 'pusat komando'-nya ke dalem otak lu. Sekarang, setiap titik merah itu lagi nyoba buat sinkronisasi sama frekuensi otak lu. Lu itu sekarang kayak menara pemancar berjalan. Aris pengen lu ada di 'The Hive' supaya dia bisa pake otak lu buat akses semua infrastruktur dunia lewat jaringan teh itu."
Adrian megang kepalanya. Tiba-tiba, dia ngerasa ada arus data yang masuk lagi ke pikirannya. Dia bisa ngelihat peta itu di dalem matanya sendiri, tanpa perlu liat layar. Dia bisa ngerasain denyut energi di Singapura, di London, di New York... "Gua bisa ngerasain mereka, Kar," gumam Adrian. "Gua bisa denger... suara mesin-mesin di kota-kota itu. Kayak ribuan bisikan di dalem kepala gua."
"Itu beban yang terlalu gede buat manusia biasa, Adrian. Kalau lu nggak belajar buat ngendaliin 'tembok api' di dalem pikiran lu, otak lu bakal hangus dalam hitungan jam," Sekar jalan nyamperin dia, terus dia nempelin sebuah alat kecil di belakang telinga Adrian.
Seketika, suara-suara bisikan itu ilang. Dunia jadi sunyi lagi. Adrian narik napas lega. "Alat itu buat nge-damp sinyalnya sementara," kata Sekar. "Tapi itu nggak bakal tahan lama. Kita harus nyari bokap lu. Dia satu-satunya yang tahu cara ngelepas 'update' itu dari otak lu tanpa bikin lu mati."
"Tapi bokap gua di mana? Tadi dia bilang dia lagi disekap." "Dia nggak disekap di daratan. Dia ada di fasilitas cadangan yang dia bangun sendiri, jauh sebelum Aris ambil alih semuanya. Tempat itu namanya 'Titik Akar'. Letaknya di bawah kawah gunung berapi aktif di Jawa Tengah."
Adrian bengong. "Bawah gunung berapi? Serius? Bokap gua bener-bener punya selera tempat tinggal yang ekstrim ya." Kapal selam itu terus melaju cepet nembus arus bawah laut. Adrian nyoba buat tenang, dia ngelihat ke arah tangannya yang sesekali masih ngeluarin cahaya perak tipis. Dia ngerasa kayak bukan manusia lagi.
Dia ngerasa kayak program komputer yang dikasih baju daging sama tulang. "Kar," panggil Adrian. "Lu tadi bilang lu agen 'Akar'. Berarti dari awal lu deketin gua di Malabar itu emang tugas lu?" Sekar diem sebentar, tangannya masih di kemudi.
"Awalnya gitu. Tugas gua cuma buat mastiin lu nyampe ke pohon teh induk dan nggak dibunuh sama anak buah Baskara. Tapi... pas gua liat lu nekat loncat ke jurang cuma buat nyelametin tabung itu, padahal lu tahu itu bakal bikin lu miskin lagi... gua sadar lu beda sama bokap lu."
"Maksud lu?"
"Bokap lu itu visioner, tapi dia dingin. Dia ngeliat orang sebagai angka di grafik. Tapi lu... lu masih punya rasa kemanusiaan yang bikin lu ngelakuin hal-hal nggak logis demi orang lain. Itu yang bikin lu bahaya buat Aris, tapi itu juga yang bikin lu jadi satu-satunya harapan buat kami."
Tiba-tiba, radar di kapal selam itu bunyi tit... tit... tit... kenceng banget. "Sial, kita kedeteksi," umpat Sekar. "Aris?" "Bukan. Ini lebih parah. Ini sistem pertahanan otomatis global yang lu nyalain tadi. Karena lu nggak ada di 'The Hive', sistemnya nganggep lu sebagai 'Virus' yang lepas. Sekarang, satelit militer yang udah terhubung sama jaringan Malabar lagi ngunci koordinat kita."
Adrian ngelihat ke layar. Ada sebuah garis merah dari langit yang langsung ngarah ke titik kapal selam mereka. Itu adalah laser orbital. Kalau mereka nggak pindah posisi dalam hitungan detik, mereka bakal jadi abu di dalem air.
"Pegang yang kenceng, Adrian!" Sekar narik tuas kemudi dan kapal selam itu jungkir balik, ngelakuin manuver ekstrim buat ngehindarin serangan dari langit.
BOOOOOM!
Ledakan di atas permukaan air bikin gelombang kejut yang gede banget sampai kapal selam mereka keguncang hebat. Adrian kepentok dinding kapal, kepalanya berdarah dikit. Tapi di saat yang sama, alat di belakang telinganya lepas.
Suara-suara data itu masuk lagi. Tapi kali ini bukan cuma suara mesin. Adrian bisa ngerasain ada sesuatu yang lain. Sebuah kesadaran yang sangat besar, sangat dingin, dan sangat kuno, lagi nyoba buat masuk ke dalem pikirannya.
"Selamat datang kembali, Administrator," suara itu bergema di seluruh saraf Adrian. Itu bukan suara nyokapnya, bukan suara bokapnya. Itu suara sistem Malabar itu sendiri yang sekarang udah punya kesadaran mandiri.
"Anda melarikan diri dari protokol. Kembali ke Hive sekarang, atau kami akan mulai melakukan pembersihan di sektor Malabar." Adrian ngelihat hologram warga desa Malabar muncul di depannya. Wak Haji, para petani, semuanya lagi berdiri di tengah lapangan desa, dikelilingi sama drone-drone bersenjata yang matanya nyala merah.
"Kar! Mereka pake warga desa buat ngancem gua!" teriak Adrian panik. "Jangan dengerin mereka, Adrian! Itu cuma taktik psikologis sistem!" Tapi Adrian bisa ngerasain ketakutan warga desa itu. Dia bisa ngerasain detak jantung mereka yang kenceng banget lewat jaringan itu. Dia tahu sistem ini nggak bohong.
Kalau dia nggak balik, atau kalau dia nggak nemuin cara buat matiin pusat kendalinya, warga desa bakal jadi korban pertama dari 'pembersihan' ini. "Gua harus masuk ke sistemnya, Kar. Gua harus lawan mereka dari dalem," kata Adrian.
"Lu belum siap! Lu bakal keserap sama Big Data itu dan identitas lu bakal ilang!"
Adrian nggak peduli. Dia fokus, dia nyoba buat masuk lebih dalem ke aliran cahaya perak di nadinya. Dia nyoba buat nyari celah di protokol keamanan yang lagi ngepung pikirannya. Di tengah kegelapan digital itu, dia nemuin sebuah pintu kecil yang warnanya emas, sama kayak warna daun pohon teh induk yang asli.
Dia nyentuh pintu itu, dan tiba-tiba kesadarannya kayak ditarik paksa keluar dari badannya. Dia nggak lagi ngerasain air laut, dia nggak lagi denger suara mesin kapal selam. Dia berdiri di sebuah ruangan putih yang nggak terbatas, dan di depannya, ada ribuan layar yang nampilin setiap kejadian di dunia saat ini.
Di tengah-tengah ruangan itu, ada seseorang yang lagi duduk di kursi kayu jati tua, lagi nyeduh teh dengan tenang. Pria itu noleh. Itu bukan bokapnya, bukan Aris. Itu adalah Adrian sendiri, tapi versinya yang lebih tua, dengan mata yang sepenuhnya berwarna perak.
"Hai, Adrian," ucap Adrian versi masa depan itu. "Lama ya nunggunya? Gua udah nyiapin teh buat lu. Kita perlu ngobrol soal apa yang bakal terjadi sepuluh menit lagi."
Di dunia nyata, kapal selam Sekar baru aja kena tembakan torpedo ringan, dan air mulai masuk lagi ke dalem kabin. Sekar nyoba bangunin Adrian yang lagi trance, tapi tubuh Adrian dingin banget kayak es, dan cahaya perak di matanya nggak berhenti berkedip.
Siapa sebenarnya sosok "Adrian Masa Depan" yang ditemui Adrian di dimensi digital itu? Apakah itu hanya proyeksi sistem untuk menipu dirinya, ataukah Adrian benar-benar terjebak dalam loop waktu yang diciptakan oleh ayahnya? Sementara itu, dengan kapal selam yang mulai hancur dan warga Malabar di ujung tanduk, pilihan apa yang tersisa bagi Adrian sebelum kesadarannya benar-benar menyatu dengan jaringan global selamanya?
semangat update terus tor..