Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Hari Sabtu terasa sejuk. Brian terbangun dan mendapati jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, membuatnya sedikit kebingungan. Biasanya, di hari libur ia baru akan dibangunkan Amayah sekitar pukul delapan. Namun kali ini, ia terbangun dengan sendirinya—bahkan lebih awal dari biasanya.
Karena rasa ingin buang air yang tak tertahankan, Brian segera menuju kamar mandi. Namun begitu sampai, ia mendapati kamar mandi masih digunakan seseorang. Ia pun menunggu di luar beberapa menit.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Orang yang keluar adalah Amayah. Ia hanya menutupi tubuhnya dengan handuk, rambut hitamnya tergerai bebas, tidak dikuncir seperti biasanya. Saat melihat Brian berdiri di hadapannya, Amayah terkejut. Brian sendiri hanya menatapnya dengan ekspresi datar, meski terlihat kaku.
Wajah Amayah langsung memerah. Dengan ekspresi marah bercampur malu, ia melempar pakaian kotornya ke arah wajah Brian.
"Dasar mesum!"
"Aku hanya ingin menggunakan kamar mandi. Apa salahnya?" tanya Brian bingung sambil menyingkirkan pakaian kotor itu dari wajahnya.
"Salahnya kau menunggu di sini! Aku tidak memakai pakaian," balas Amayah kesal.
"Justru aku yang bertanya, mengapa kau keluar tanpa mengenakan pakaian lengkap?" Brian membalas, sedikit kesal.
"Aku mengira kau tidak akan bangun sepagi ini," jawab Amayah menyindir. "Jadi kupikir aman."
Ucapan itu membuat Brian tersinggung. "Jangan seenaknya hanya karena aku sering bangun terakhir. Aku juga bisa bangun lebih pagi darimu."
"Terserah aku!" Amayah mendengus, cemberut.
Brian baru menyadari sesuatu. "Tunggu. Kenapa kau mandi di rumahku?"
Amayah melipat tangan dan memejamkan mata. "Pipa air di rumahku rusak. Jadi aku mandi di sini sampai petugas selesai memperbaikinya. Tante Emilia juga sudah mengizinkan," jawabnya datar.
"Begitu ya."
"Pokoknya kau tetap mesum," tegas Amayah.
"Iya, iya. Sekarang aku mau masuk kamar mandi," ujar Brian sambil melangkah masuk.
Namun begitu di dalam, Brian terhenti. Pandangannya tertuju pada sebuah bra yang masih tergantung di gantungan.
"Hei, Amayah. Pakaian dalammu ketinggalan. Mau aku keluarkan?" katanya santai.
"JANGAN!" teriak Amayah panik. "Jangan sentuh itu atau aku akan mengecapmu sebagai orang mesum seumur hidupmu!"
"Apa sih? Aku cuma mau membantu," balas Brian kesal.
"Tetap saja tidak sopan jika pria menyentuh pakaian dalam wanita!" seru Amayah, wajahnya semakin memerah.
"Kalau begitu ambil sendiri. Cepat," kata Brian datar.
Dengan langkah ragu dan wajah gugup, Amayah perlahan masuk ke kamar mandi. Kesadarannya bahwa ia dan Brian berada di ruangan sempit yang sama membuat jantungnya berdegup kencang.
Saat Amayah hendak mengambil bra-nya, suara tiba-tiba terdengar dari luar.
"Brian?" panggil Emilia yang baru masuk rumah.
Keduanya membeku.
Tanpa berpikir panjang, Brian segera menutup dan mengunci pintu kamar mandi. Amayah refleks memberontak.
"Hei, apa yang—"
Namun Brian cepat menutup mulut Amayah dengan tangannya dan mendorongnya perlahan hingga bersandar ke dinding.
"Ssst. Jangan berisik," bisik Brian panik.
Amayah terkejut. Wajahnya langsung memanas saat menyadari jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
"Ada apa, Tante?" teriak Brian, berusaha terdengar normal.
"Kamu lagi di kamar mandi, ya? Tante mau ngajakmu ke kota nanti siang," sahut Emilia dari luar.
Brian baru menyadari betapa dekatnya ia dengan Amayah. Jantungnya berdegup kencang. Ia pun segera sadar bahwa tindakannya barusan mungkin membuat Amayah tidak nyaman.
"M-maaf…" gumam Brian, lalu melepaskan tangannya dan menjauh.
"Hm…" Amayah hanya menunduk, menutupi wajahnya dengan rambut.
"Ada kegiatan apa, Tante?" tanya Brian.
"Ada deh. Mau ikut atau tidak?"
"Malas sekali…" jawab Brian spontan.
"Kalau menolak, Amayah pasti akan memarahimu karena bermalas-malasan padahal Tante mengajakmu," ujar Emilia menggoda.
Brian terdiam, lalu menghela napas. "Baiklah, aku ikut."
"Hahaha, kamu mudah sekali ditaklukkan kalau Tante bawa nama Amayah," tawa Emilia.
Dengan senyum nakal, Brian berkata, "Soalnya kalau dia marah, iblis pun bisa kapok."
Cubitan keras langsung mendarat di lengan Brian.
"Aargh!"
"Ada apa?!" tanya Emilia panik.
"P-pakaianku jatuh," jawab Brian menahan sakit.
"Oh begitu. Kita berangkat jam sembilan, ya!" seru Emilia.
"Iya!" balas Brian cepat.
Amayah akhirnya melepas cubitannya. Pipi masih memerah, ia memalingkan wajah, jelas belum sepenuhnya tenang.
Begitu Emilia pergi ke kamarnya, Brian membuka pintu kamar mandi. Amayah segera keluar dengan wajah tertunduk.
Namun sebelum pergi, ia berhenti sejenak. "Dasar Brian bodoh," katanya kesal.
Brian hanya menatap punggungnya dengan ekspresi heran, lalu mengunci kembali pintu kamar mandi.
"Apa yang barusan kulakukan…" keluhnya pelan, merasa malu setelah mengingat kejadian tadi.
Di sisi lain, setelah berganti pakaian, Amayah merebahkan diri di sofa sambil memeluk bantal erat. Wajahnya masih terasa panas, dan kejadian tadi terus terulang di kepalanya—hingga Emilia yang melihatnya pun kebingungan dengan sikap Amayah yang tidak seperti biasanya.
---
Beberapa jam kemudian, Brian bersama Emilia dan Sophia tiba di sebuah mal yang ramai oleh pengunjung. Namun, bukan keramaian itu yang menjadi masalah utama, melainkan keberadaan Emilia dan Sophia yang langsung menjadi sorotan publik.
Orang-orang yang melintas seketika memperlambat langkah, bahkan ada yang berhenti untuk menatap mereka dari kejauhan. Bisik-bisik pun terdengar di sana-sini.
"Itu bukannya artis dari film Zollywood?"
"Model majalah terkenal itu, ya? Apa dia akan bekerja di sini?"
"Cantik sekali…! Apalagi putrinya, imut!"
Mendengar itu semua, Brian hanya bisa menggeleng pelan. "Bagaimana caranya Tante bisa tetap nyaman diperhatikan oleh orang sebanyak ini?" tanyanya heran.
"Tentu saja dengan rasa percaya diri," jawab Emilia santai. "Tante dan Sophia sudah terbiasa, jadi itu bukan masalah bagi kami."
Tak lama kemudian, mereka tiba di area dekat pusat mal. Di sana telah berkumpul banyak orang, lengkap dengan peralatan pemotretan. Suasananya begitu sibuk dan riuh. Emilia segera berbalik menghadap Brian dan Sophia.
"Sophia, main bersama paman dulu ya. Mama mau bekerja," ujar Emilia lembut.
Mendengarnya, wajah Sophia langsung berbinar. "Yeay! Main bersama paman!"
"Ternyata aku diajak ke sini hanya untuk menjadi pengasuh," gumam Brian dengan senyum heran.
"Kalau begitu, tante pergi dulu, ya. Jaga Sophia!" seru Emilia sambil melangkah pergi seolah-olah tidak peduli dengan reaksi Brian.
Brian menghela napas singkat, lalu menggenggam tangan Sophia. "Mau main ke mana?" tanyanya santai.
"Ayo ke tempat bermain!" jawab Sophia penuh semangat.
"Tempat bermain? Ah, paman tahu. Ayo," kata Brian.
"Ayo!" seru Sophia antusias.
Mereka pun berjalan menuju tempat yang terlintas di pikiran Brian. Letaknya tidak terlalu jauh, hanya perlu menaiki beberapa lantai. Namun di tengah perjalanan, langkah mereka terhenti oleh sebuah suara.
"Brian?"
Brian dan Sophia menoleh ke samping. Ternyata Lena yang memanggilnya.
Ia melangkah mendekat dengan keanggunan yang tenang. Kemeja sifon putih membalut tubuhnya, lengannya digulung asal hingga siku, lalu dimasukkan rapi ke dalam rok midi plisket berwarna merah muda pucat yang menjuntai hingga betis. Di bahunya tersampir tas selempang kulit cokelat tua dengan rantai emas yang berkilau samar terkena cahaya. Sepasang sepatu hak tinggi model pointed-toe berwarna senada melengkapi penampilannya. Tanpa aksesori mencolok, Lena tampak sebagai definisi kecantikan yang sederhana dan bersahaja.
Brian tampak terkejut. "Lena?"
"Anak ini…" gumam Lena pelan sambil menatap Sophia, meski tetap terdengar oleh Brian.
"Dia keponakanku," ujar Brian santai. "Ayo, perkenalkan dirimu, Sophia."
Sophia sempat terlihat bingung, namun segera tersenyum manis. "Namaku Sophia Isabella Martinez! Usiaku enam tahun. Salam kenal!" ucapnya ceria.
"Wah…! Imut sekali~" puji Lena sambil menunduk sedikit, ekspresinya berbinar.
"Aku tidak menyangka Brian yang sering tidur di kelas punya keponakan seimut ini," tambahnya sambil tersenyum lebar.
Brian menghela napas. "Berhenti mengungkit kebiasaanku di sekolah…" katanya lesu.
"Sophia sedang apa bersama paman?" tanya Lena penasaran.
"Sophia dan paman mau main ke tempat bermain!" jawab Sophia bersemangat.
"Kami sedang menuju playground," tambah Brian datar.
Lena akhirnya memahami situasinya. Ia tersenyum manis. "Kalau tidak keberatan, bolehkah aku ikut bersama kalian?"
"Memangnya kau tidak ada kesibukan?" tanya Brian heran.
"Aku hanya menemani bibiku berbelanja," jawab Lena santai. "Tapi dia bertemu teman lamanya dan sekarang sedang asyik mengobrol, jadi aku memutuskan berkeliling mal sendirian."
Brian mengangguk kecil. "Sophia, bolehkah kak Lena ikut dengan kita?" tanyanya.
"Boleh!" jawab Sophia singkat namun ceria.
"Yeay! Ayo pergi!" seru Lena sambil mengulurkan tangannya.
Sophia langsung menggenggam tangan Lena. Kini mereka bertiga berjalan berdampingan, bergandengan tangan, tampak seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis—dan kembali menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar mereka.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Setelah perjalanan singkat, akhirnya mereka tiba di Playground, tempat bermain khusus anak-anak seperti Sophia. Begitu masuk, Lena dan Sophia langsung menunjukkan antusiasme yang berlebihan, seolah baru pertama kali melihat tempat semacam itu.
"Wah, keren sekali!" seru Sophia dengan suara riang.
Lena ikut bersemangat. "Kita main yang mana dulu, ya…"
Brian menatap mereka dengan ekspresi heran. "Ini tempat bermain anak-anak, loh. Jangan terlalu terbawa suasana," ujarnya datar ketika melihat Lena justru lebih heboh dari Sophia.
Mendengarnya, Lena tersenyum lebar. "Kalau sesekali boleh saja, kan?" tanyanya dengan senyum manis.
Brian hanya bisa menghela napas pasrah. "Kalau begitu, aku beli tiketnya dulu," ucapnya sambil meninggalkan mereka berdua.
Setelah Brian pergi, Lena berjongkok dan menatap Sophia. "Sophia mau main yang mana dulu?"
"Sophia mau main yang itu!" jawabnya ceria sambil menunjuk sebuah wahana.
Melihat arah yang ditunjuk Sophia, sebuah ide jahil langsung terlintas di benak Lena. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Sophia, membuat gadis kecil itu tertawa kecil dan tersenyum lebar.
"Hihihi…"
Ketika Brian kembali, ia langsung menyadari gelagat aneh mereka. "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya datar.
"Tidak ada apa-apa. Tiketnya sudah dibeli?" tanya Lena santai.
"Sudah. Ayo pergi," jawab Brian singkat.
Mereka pun mulai menyusuri Playground. Lena dan Sophia tampak sangat antusias, mata mereka berbinar melihat berbagai wahana. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah kolam besar yang dipenuhi bola warna-warni.
Tanpa peringatan, Lena mendorong Brian ke dalam kolam bola. Brian yang tidak siap langsung terjatuh dan tenggelam di antara bola-bola plastik itu.
Melihatnya, Lena dan Sophia tertawa puas.
"Paman jatuh! Hahaha!" seru Sophia sambil tertawa riang.
"Hahaha, kamu lucu sekali, Brian…" tawa Lena tak tertahankan saat melihat ekspresi bingung Brian ketika bangkit.
Brian menatap mereka datar, lalu sebuah niat jahil muncul. Dengan cepat ia meraih lengan Lena dan menariknya masuk ke kolam bola.
"Eh?!" seru Lena.
Namun karena tarikan yang terlalu kuat, Brian justru ikut kembali terjatuh dan tenggelam bersama Lena.
Sophia tertawa semakin keras melihat dua orang dewasa itu terkapar di antara bola-bola.
"Kamu kurang ajar, Brian!" protes Lena kesal, meski tanpa amarah.
"Itu namanya pembalasan," jawab Brian santai.
Saat mereka berdua berusaha bangkit, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ketika akhirnya duduk, wajah mereka bertemu sangat dekat. Keduanya terkejut.
Brian bisa melihat jelas mata biru Lena yang cerah dan indah. Sementara Lena menatap mata oranye Brian yang terasa hangat.
Mereka terdiam sejenak, memproses situasi yang canggung itu.
"Ah… maaf," ucap Lena sambil memalingkan wajahnya, pipinya sedikit merona.
Brian pun ikut mengalihkan pandangan, ekspresinya tetap datar, meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Paman, Kak Lena, ayo main seluncuran!" seru Sophia ceria.
Mendengarnya, Lena segera menggelengkan kepala kecil, berusaha melupakan kejadian tadi. "Ayo!" jawabnya kembali bersemangat.
Mereka pun melanjutkan petualangan, mencoba hampir setiap wahana. Brian lebih banyak menemani, sementara Lena dan Sophia terlihat cepat akur sejak awal.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Keceriaan mereka seolah tidak ada habisnya. Sesekali Brian ikut bermain, meski ia cepat merasa lelah meskipun tidak banyak bergerak.
Brian memperhatikan Lena yang dengan mudah mengendalikan Sophia. "Kamu seperti ibunya saja," ujarnya datar.
Lena sedikit tersipu, lalu tersenyum manis. "Kalau begitu, kamu mau jadi papanya?" tanyanya iseng.
Wajah Brian langsung memerah. Jantungnya berdetak kencang. "E-eh… maksudnya?"
"Tidak ada," balas Lena cepat sambil tersenyum nakal.
Brian memejamkan mata dan menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Tak lama kemudian, suara pengumuman terdengar di seluruh area.
"Sebentar lagi Playground akan ditutup. Kami mohon seluruh pengunjung segera meninggalkan area."
"Eh, sudah mau tutup?" tanya Lena kaget.
Brian mengecek jam tangannya. "Sudah setengah lima… Kita bermain terlalu lama."
"Benar juga, tapi bibiku belum menghubungiku," gumam Lena sambil mengecek ponselnya.
"Kalau begitu, ayo pulang," ucap Brian datar.
Namun Sophia langsung cemberut. "Sophia belum mau pulang…"
Ekspresi cerianya menghilang, berganti murung. Menyadarinya, Lena langsung berlutut dan mengelus kepala Sophia dengan lembut.
"Sophia, kita sudah main sangattt lama," bujuk Lena lembut. "Paman dan Kak Lena juga sudah capek. Sebentar lagi tempat ini tutup. Memangnya Sophia mau tidur di sini bareng hantu taman bermain?"
"Sophia tidak mau…" jawabnya, sedikit ketakutan namun masih sedih.
"Nah, makanya kita pulang dulu. Nanti kita bisa ke sini lagi. Jadi jangan sedih, ya?" ucap Lena penuh kasih.
Sophia mengusap matanya lalu mengangguk pelan. "Ya…"
Lena tersenyum manis. Brian hanya diam, namun ia senang melihat bagaimana Lena menghadapi Sophia dengan sabar.
Tiba-tiba, suara perut keroncongan terdengar dari arah Brian.
Sophia langsung tertawa. "Apa itu, Paman?" tanyanya geli.
Melihat tawa Sophia, Brian dan Lena ikut tersenyum.
"Kalau begitu kita makan dulu. Sophia mau makan apa?" tanya Lena santai.
"Sophia mau makan daging!" jawabnya ceria.
Lena langsung menggandeng tangan Sophia menuju sebuah restoran. Brian hanya bisa terdiam, sedikit kebingungan melihat betapa cepatnya keputusan diambil.
Mereka pun makan bersama. Lena dengan antusias menyuapi Sophia, sementara Brian menikmati suasana itu meski hanya dengan memperhatikan.
Namun tiba-tiba, Lena memotong daging dan mengarahkannya ke Brian.
"Ayo, Aaa~"
"E-eh…?" Brian terkejut.
"Ayo, buka mulutmu," ucap Lena lembut.
Karena terus didesak, Brian akhirnya menuruti dan membuka mulutnya. Lena menyuapinya sambil tersenyum.
"Anak pintar~," katanya manis.
Setelah mengunyah, Brian berkata, "Aku bukan anak kecil."
"Tapi di mataku kamu lucu dan menggemaskan seperti anak kecil," balas Lena santai.
Wajah Brian kembali memanas. Ia tidak tahu apakah itu pujian atau ejekan.
Makan malam mereka diisi dengan tawa dan candaan. Lena terus menemukan cara untuk menghibur Sophia, sekaligus menjahili Brian hingga membuatnya malu berkali-kali.
Sore itu menjadi momen yang spesial bagi mereka bertiga.
Bersambung.
semangat terus bang!!!