Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 badai di dalam mangkuk
Pagi itu, Sekte Awan Merah tidak menyadari bahwa fondasi mereka baru saja diguncang oleh lima puluh mangkuk bubur gandum hambar.
Di lapangan latihan murid luar, suasana biasanya dipenuhi dengan suara keluhan dan napas yang terengah-engah. Namun, pagi ini berbeda. Lima puluh murid yang tadi subuh menghabiskan bubur buatan Han Shuo tampak seperti kerasukan roh peperangan.
"Lihat itu! Si kurus Zhang!" teriak salah seorang instruktur. "Dia biasanya tidak bisa mengangkat palu godam sepuluh kali, tapi sekarang dia sudah melakukannya lima puluh kali tanpa berkeringat!"
Zhang, seorang murid luar yang biasanya paling lemah, merasa seolah-olah ada api kecil yang menyala di tulang belakangnya. Setiap kali dia mengayunkan palu, energi hangat mengalir dari perutnya menuju lengannya. Rasa lelah yang biasanya menghimpitnya mendadak sirna, digantikan oleh dorongan adrenalin yang murni.
Bukan hanya Zhang. Empat puluh sembilan murid lainnya mulai menunjukkan gejala yang sama: kulit mereka memerah, mata mereka tajam, dan basis kultivasi mereka yang stagnan bertahun-tahun di Tahap Pembersihan Tingkat Satu mendadak melonjak ke ambang Tingkat Dua.
Mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja mengonsumsi sari pati Harimau Bertaring Kristal—binatang yang energinya mampu menghancurkan dinding batu. Meski sudah diencerkan, bagi tubuh murid luar yang "lapar" akan energi, itu adalah anugerah dewa.
Di sudut lain sekte, di dalam kegelapan gudang kayu, Han Shuo sedang bermeditasi. Ia bisa merasakan sesuatu yang aneh. Melalui Kitab Rasa Semesta, ia memiliki koneksi samar dengan "rasa" yang ia ciptakan. Ia bisa merasakan energi dari bubur itu yang kini mengalir di dalam tubuh lima puluh orang tersebut.
Seni Kuliner Jiwa: Ikatan Rasa.
Han Shuo membuka matanya. "Jadi ini maksud dari bab tentang 'Memberi Makan Dunia'. Jika aku bisa mengontrol apa yang mereka makan, aku bisa mengontrol bagaimana mereka berkembang."
Tiba-tiba, pintu gudangnya digedor dengan keras. Han Shuo segera menyembunyikan kitabnya. Saat pintu terbuka, Li Mei masuk dengan wajah yang lebih cemas dari sebelumnya.
"Han Shuo! Apa yang sebenarnya kau masukkan ke dalam bubur itu?!" tuntut Li Mei. "Seluruh area latihan murid luar sedang kacau. Para instruktur mengira mereka semua memakan obat terlarang. Mereka sedang melakukan pemeriksaan darah sekarang!"
Han Shuo berdiri dengan tenang. "Hanya sedikit nutrisi, Nona Li. Efeknya akan hilang dalam beberapa jam. Energi itu akan terserap sepenuhnya ke dalam sumsum tulang mereka, tidak meninggalkan jejak kimia seperti pil alkimia."
Li Mei mendekat, memojokkan Han Shuo ke dinding kayu. "Kau tidak mengerti. Jika mereka tahu ini karena masakanmu, kau tidak akan hanya berurusan dengan Wang He. Para Penatua akan menangkapmu dan membedah kepalamu untuk mencari tahu resepnya!"
Han Shuo menatap mata Li Mei. "Itulah sebabnya aku membutuhkanmu, Nona Li. Sebagai murid elit Aula Pengobatan, kau bisa mengatakan bahwa itu adalah 'eksperimen nutrisi masal' yang legal. Jika kau menjaminnya, mereka tidak akan berani bertanya lebih lanjut."
Li Mei terdiam. Ia merasa dirinya semakin terseret jauh ke dalam pusaran rahasia Han Shuo. "Kenapa aku harus membantumu lagi?"
"Karena kau sudah mencicipi sup itu," bisik Han Shuo. "Kau tahu bahwa jalan yang kutawarkan jauh lebih cepat daripada memurnikan pil selama berhari-hari. Kau ingin tahu rahasia di balik 'titik balik rasa', bukan?"
Li Mei menggigit bibir bawahnya. Rasa haus akan pengetahuan alkimia yang lebih tinggi mengalahkan logika keselamatannya. "Baik. Tapi kau berhutang padaku sebuah resep. Resep yang benar-benar bisa kusebut sebagai karyaku sendiri."
Sementara Li Mei pergi untuk meredam kecurigaan para instruktur, Han Shuo memutuskan untuk tidak membuang waktu. Ia tahu Wang He tidak akan tinggal diam. Ancaman tentang "Turnamen Dapur Sekte" adalah masalah serius.
Di Sekte Awan Merah, Turnamen Dapur bukan sekadar lomba masak. Ini adalah tempat di mana para murid elit dan Penatua memilih pelayan pribadi atau "Koki Kultivasi" mereka. Pemenangnya akan mendapatkan status yang hampir setara dengan murid dalam, akses ke bahan-bahan kelas satu, dan yang paling penting: perlindungan hukum dari faksi-faksi sekte.
Han Shuo memerlukan "Bumbu Dewa".
Menurut Kitab Rasa Semesta, untuk memenangkan hati (dan perut) para kultivator tingkat tinggi, seseorang tidak hanya butuh rasa, tapi juga "Emosi Rasa".
"Bahan yang kubutuhkan selanjutnya adalah Garam Kristal Laut Dalam dan Intisari Cabai Api Neraka," gumam Han Shuo sambil memeriksa catatan di otaknya.
Garam tersebut ada di gudang rahasia Aula Penegak Disiplin—tempat yang dikuasai keluarga Wang. Sedangkan Cabai Api Neraka hanya tumbuh di dekat kawah gunung berapi di belakang sekte yang dijaga oleh binatang buas api.
Han Shuo mengambil pisau dapurnya. Ia merasakan berat pisaunya kini berbeda. Setelah mencapai Tahap Penyulangan Qi, ia bisa menyalurkan energinya ke dalam baja pisau tersebut.
Teknik Mengasah Jiwa.
Ia mulai mengasah pisaunya di atas batu asah hitam. Setiap gesekan mengeluarkan percikan api yang aneh. Ia membayangkan setiap gesekan itu adalah cara ia mengikis kesombongan Wang He dan ketidakadilan yang ia terima selama ini sebagai pelayan rendahan.
Sore harinya, saat Han Shuo sedang mengumpulkan kayu bakar, ia dihadang oleh sekelompok murid luar. Di depan mereka berdiri Zhang, murid kurus yang tadi pagi mendadak kuat.
Zhang menatap Han Shuo dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak tampak marah, melainkan penuh rasa syukur.
"Han Shuo," suara Zhang bergetar. "Bubur itu... itu perbuatanmu, kan?"
Han Shuo tetap diam, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi.
Zhang berlutut, diikuti oleh empat murid lainnya yang tadi juga memakan bubur tersebut. "Kami merasakannya. Saat kami memakan bubur itu, ada suara di kepala kami yang menyuruh kami untuk terus berlatih. Kami merasa... hidup kembali. Selama bertahun-tahun kami dihina sebagai sampah, tapi pagi ini, kami merasa seperti naga!"
Han Shuo terkejut. Ia tidak menyangka "ikatan rasa" akan menciptakan kesetiaan seperti ini.
"Bangunlah," kata Han Shuo tenang. "Itu hanya bubur biasa. Mungkin kalian hanya sedang beruntung."
"Tidak," Zhang menggeleng. "Kami tahu Wang He akan menyerangmu di turnamen nanti. Kami memang lemah, tapi kami punya lima puluh orang. Jika Tuan membutuhkan apa pun—bahan masakan, informasi, atau pengalihan—kami akan melakukannya."
Han Shuo menatap mereka satu per satu. Ia melihat sebuah peluang. Ia tidak bisa bergerak sendiri di sekte ini. Ia butuh jaringan.
"Baiklah," ucap Han Shuo akhirnya. "Jika kalian benar-benar ingin membalas budi, aku butuh informasi tentang jadwal patroli di Gudang Aula Penegak Disiplin malam ini. Dan aku butuh seseorang yang bisa mengalihkan perhatian penjaga di kaki Gunung Api."
Mata Zhang berbinar. "Serahkan pada kami, Tuan Han!"
Malam itu, operasi penyelundupan bumbu pun dimulai.
Dengan bantuan informasi dari Zhang, Han Shuo berhasil menyelinap ke dekat Gudang Aula Penegak Disiplin. Ia bergerak seperti asap, memanfaatkan teknik pernapasan yang ia pelajari dari Kitab Rasa Semesta untuk menyamarkan aroma tubuhnya menjadi bau tanah dan kayu kering.
Namun, saat ia nyaris mencapai jendela gudang, ia mendengar percakapan di dalam.
"Tuan Muda Wang He, semuanya sudah siap. Kami telah mencampur racun Tanpa Rasa ke dalam stok minyak goreng di dapur utama. Siapa pun yang memasak menggunakan minyak itu di turnamen nanti, masakannya akan berubah menjadi racun mematikan dalam waktu satu jam setelah dimakan."
Itu suara pelayan setia keluarga Wang.
"Bagus," sahut Wang He dengan tawa dingin. "Han Shuo pikir dia bisa mempermalukanku dan tetap hidup? Di turnamen nanti, dia bukan hanya akan kalah, tapi dia akan dituduh mencoba meracuni para Penatua. Hukuman matinya akan menjadi tontonan yang sangat menyenangkan."
Han Shuo yang mendengarkan dari balik dinding merasakan amarah yang dingin. Mereka tidak hanya mengincar nyawanya, tapi mereka berencana menodai seni memasak yang ia cintai dengan racun murahan.
Kalian ingin bermain dengan racun? batin Han Shuo. Maka aku akan menunjukkan pada kalian apa itu arti sebenarnya dari 'Rasa yang Menghancurkan'.
Han Shuo membatalkan niatnya mencuri garam. Ia memiliki rencana yang lebih baik. Ia segera mundur dan menuju ke Gunung Api.
Di kaki Gunung Api, Zhang dan teman-temannya telah menyalakan serangkaian petasan dan menciptakan keributan kecil di sisi timur, memancing para penjaga untuk menjauh dari jalur pendakian utama.
Han Shuo mendaki lereng yang panas membara. Setiap langkahnya membuat sol sepatunya mulai meleleh. Udara di sini penuh dengan belerang yang mencekik.
Di depan pintu masuk kawah, tumbuh sebuah tanaman kecil dengan buah berwarna merah darah yang menyala di kegelapan. Cabai Api Neraka.
Tanaman itu dijaga oleh seekor Salamander Api yang sedang tidur. Binatang itu tidak sebesar harimau kemarin, tapi ia bisa menyemburkan api yang mampu melelehkan besi.
Han Shuo tidak menggunakan kekerasan. Ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan biru—sisa dari sup Harimau Bertaring Kristal yang ia simpan. Ia melemparkan botol itu ke arah berlawanan.
Aroma energi dingin yang ekstrem dari sup harimau segera membangunkan Salamander tersebut. Binatang itu, yang haus akan keseimbangan suhu, segera mengejar botol itu ke arah bawah lereng.
Dengan kecepatan kilat, Han Shuo memetik tiga buah Cabai Api Neraka. Panas dari cabai itu segera membakar telapak tangannya meskipun ia sudah melapisinya dengan Qi.
"Berhasil," bisiknya.
Dengan Cabai Api Neraka di tangan, dan pengetahuan tentang rencana racun Wang He, Han Shuo kembali ke gubuknya sebelum fajar menyingsing.
Di dalam gubuk, ia mulai meramu bumbu yang akan mengguncang seluruh Sekte Awan Merah. Ia tidak akan menggunakan minyak goreng yang sudah diracuni. Ia akan menciptakan minyaknya sendiri dari lemak Harimau Bertaring Kristal yang ia campur dengan cabai api ini.
Sembilan Putaran Api: Lapisan Ketiga - Kristalisasi Rasa.
Saat fajar menyingsing, sebuah aroma yang sangat pedas namun sangat menggoda keluar dari gubuk Han Shuo, membuat burung-burung yang terbang di atasnya mendadak jatuh pingsan karena mabuk aroma.
Han Shuo menatap matahari terbit dengan mata yang membara. "Wang He, perjamuan kematian yang kau siapkan... akan menjadi hidangan penutup bagi kehancuranmu sendiri."