NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30 tarian di atas magma dan neraka es

Aula Takhta Kekaisaran Naga Biru yang megah itu bergetar. Bukan karena gempa bumi, melainkan karena Niat yang dipancarkan oleh Peramal Agung dari atas singgasananya. Pria itu tidak bergerak satu inci pun, namun matanya yang bersinar putih menatap lantai arena seolah-olah dia adalah dewa yang sedang menata ulang papan catur.

"Bosan," gumam Peramal Agung, suaranya menggema ke seluruh ruangan. "Pertarungan koki di atas lantai datar terlalu... manusiawi. Jika kau ingin menyelamatkan ayahmu, Han Shuo, kau harus membuktikan bahwa kau bisa memasak di mana saja. Bahkan di neraka sekalipun."

Peramal Agung menjentikkan jarinya.

KRAKKKK!

Lantai porselen putih yang indah itu terbelah. Suara gemuruh yang mengerikan terdengar dari perut bumi. Han Shuo melompat mundur, menghindari retakan yang tiba-tiba menganga di bawah kakinya.

Dari retakan itu, uap panas berbau belerang menyembur keluar. Detik berikutnya, lava pijar berwarna merah oranye mulai naik, membanjiri lantai aula. Dalam hitungan detik, lantai yang kokoh itu berubah menjadi danau magma yang mendidih.

Hanya ada beberapa pilar batu hitam yang menyembul dari dalam magma, menjadi satu-satunya tempat berpijak.

"Tema Hidangan: Harmoni dalam Kehancuran," suara Peramal Agung terdengar geli. "Masaklah Sup Naga Lima Elemen. Bahan-bahannya... ada di sana."

Han Shuo melihat ke sekeliling. Bahan-bahan masakan itu—Daging Kadal Api, Teratai Es, Jamur Petir—tersebar di pilar-pilar yang berbeda. Jarak antar pilar itu sekitar lima hingga sepuluh meter, dan di bawahnya, magma siap melelehkan tulang dalam sekejap.

Di seberang arena, Boneka Han Feng berdiri tegak di atas sebuah pilar sempit. Panas magma tidak membuatnya berkeringat. Kulit porselennya justru memantulkan cahaya merah lava dengan indah namun mengerikan.

"Target Terkunci. Memulai Mode Pembantaian."

Boneka Han Feng tidak menunggu. Ia melompat.

Bagian 1: Kuali Sebagai Perisai

Han Shuo baru saja mendarat di pilar terdekat ketika bayangan ayahnya menutupi cahaya. Han Feng turun dengan pisau dapur raksasanya terayun vertikal.

"Teknik Pemotong Gunung: Belahan Semeru!"

Han Shuo tidak bisa menghindar karena pijakannya terlalu kecil. Ia mengangkat Kuali Naga Merah-nya di atas kepala.

DONGGGG!

Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang membuat magma di sekitar mereka muncrat setinggi tiga meter. Lutut Han Shuo gemetar. Kekuatan fisik boneka itu setara dengan monster tingkat Jiwa Baru (Nascent Soul). Kualinya bertahan, tapi pilar batu di bawah kakinya mulai retak.

"Sial! Dia terlalu kuat!" Han Shuo menggerutu.

Ia memanfaatkan momentum benturan itu untuk melompat mundur ke pilar lain. Namun, Han Feng mengejarnya. Boneka itu tidak melompat biasa; ia berlari di atas magma! Sepatu porselennya mengeluarkan lapisan Qi dingin yang membekukan permukaan lava hanya sepersekian detik sebelum meleleh kembali, cukup untuk menjadi pijakan.

"Dia bisa berjalan di atas api?!" Han Shuo terbelalak.

Han Shuo mendarat di pilar yang memiliki Daging Kadal Api. Ia menyambar daging itu. Tapi Han Feng sudah ada di depannya, menebas horizontal.

Han Shuo menunduk, merasakan angin tebasan memotong beberapa helai rambutnya. Ia melakukan sapuan kaki, mencoba menjatuhkan boneka itu.

Kaki Han Shuo menghantam kaki porselen Han Feng.

TAK!

Rasanya seperti menendang tiang besi. Boneka itu tidak bergeming.

Han Feng menatap ke bawah. Matanya yang kosong bersinar biru.

"Teknik Mencincang: Hujan Seribu Pisau."

Tangan Han Feng menjadi kabur. Ia melancarkan ratusan tusukan dalam satu detik.

Han Shuo terpaksa menggunakan Langkah Bayangan secara maksimal, menari di ujung pilar sempit itu. Ia menggunakan daging kadal api di tangannya sebagai perisai darurat—membiarkan daging itu terpotong-potong oleh serangan ayahnya.

"Terima kasih sudah memotongnya untukku, Ayah!" Han Shuo menyeringai nekat.

Ia menendang potongan-potongan daging yang melayang di udara itu masuk ke dalam kualinya yang terbuka.

"Ying, kau pasti bangga melihat ini," gumam Han Shuo. Ia menyalakan Api Jantung Bumi di bawah kualinya sambil terus melompat menghindari tebasan maut.

Bagian 2: Perubahan Iklim Ekstrem

"Terlalu panas," komentar Peramal Agung dari singgasananya. "Mari kita dinginkan suasana."

Ia memutar tangannya.

Dalam sekejap, suhu ruangan anjlok drastis. Magma yang mendidih di bawah tiba-tiba membeku. Permukaannya menjadi es hitam yang licin dan tajam. Uap panas berubah menjadi badai salju yang menusuk tulang.

"Apa-apaan ini?!" Han Shuo hampir terpeleset saat mendarat di pilar yang kini tertutup lapisan es tipis.

Perubahan suhu ekstrem ini bukan hanya berbahaya bagi tubuh, tapi juga bagi masakan. Sup di dalam kuali Han Shuo yang baru mendidih terancam kehilangan suhunya. Jika sup itu dingin, rasanya akan rusak, dan Rasa Kepulangan yang ia rencanakan tidak akan bekerja.

"Aku harus menjaga suhu kuali!" Han Shuo memeluk kualinya, mengalirkan seluruh Qi apinya.

Namun, Han Feng tidak peduli dengan dingin. Justru, di lingkungan ini, boneka itu semakin cepat.

"Mode Elemen Es: Aktif."

Pisau Han Feng berubah warna menjadi biru pucat. Ia mengayunkan pisaunya, mengirimkan gelombang energi berbentuk bulan sabit yang membekukan udara yang dilewatinya.

Han Shuo melompat, tapi ujung jubahnya terkena serangan itu. Kain jubahnya membeku instan dan pecah menjadi serbuk es.

"Aku butuh Teratai Es untuk menyeimbangkan sup ini!" Han Shuo melihat bunga itu tumbuh di pilar terjauh.

Ia berlari melintasi danau es hitam. Permukaannya licin luar biasa. Han Shuo harus menggunakan Qi di telapak kakinya seperti paku untuk mencengkeram es.

Han Feng muncul di depannya, menghalangi jalan.

"Kau tidak akan lewat, Anak Durhaka," suara boneka itu terdengar, meniru suara Han Feng yang asli namun dengan nada yang menyakitkan hati.

"Kau bukan ayahku!" Han Shuo berteriak.

Ia melakukan manuver nekat. Ia melemparkan Kuali Naga Merah-nya ke arah wajah Han Feng.

Boneka itu menangkap kuali itu dengan satu tangan.

"Kesempatan!"

Han Shuo meluncur di bawah kaki Han Feng, menebas pergelangan kaki boneka itu dengan Pisau Bulan Sabit.

CRING!

Hanya ada goresan kecil di porselen itu. Tapi itu cukup membuat keseimbangan boneka terganggu di atas es yang licin. Han Feng tergelincir.

Han Shuo menangkap kembali kualinya yang jatuh, lalu menyambar Teratai Es di pilar belakangnya.

"Dapat!"

Bagian 3: Memasak di Tengah Badai

Sekarang Han Shuo memiliki daging dan sayuran. Tapi ia butuh air. Di arena magma dan es ini, air cair adalah barang langka.

"Pikir, Han Shuo, pikir!"

Ia melihat ke langit-langit. Stalaktit es mulai mencair karena sisa panas magma yang terperangkap, meneteskan air.

Han Shuo melompat ke udara, menampung tetesan air itu dengan kualinya sambil terus bergerak menghindari serangan jarak jauh Han Feng yang kini melemparkan pisau-pisau es.

"Teknik Pengendalian Air: Pusaran Langit!"

Han Shuo memutar kualinya, menciptakan gaya sentrifugal yang memisahkan kotoran dari air tetesan itu.

Lalu, ia memasukkan Kecap Air Mata Bunda.

Begitu kecap itu masuk, reaksi ajaib terjadi. Aroma yang keluar dari kuali itu membentuk perisai transparan di sekeliling Han Shuo. Serangan es Han Feng yang mengenai perisai aroma itu... mencair.

Peramal Agung menegakkan duduknya. "Aroma apa itu? Itu bukan Qi... itu emosi?"

Boneka Han Feng tiba-tiba berhenti bergerak. Kristal jiwa di dadanya berkedip tidak beraturan.

"Error... Error... Rasa Terdeteksi... Memori... Memori..."

Suara boneka itu berubah. Bukan lagi mekanis, tapi suara manusia yang sedang kebingungan.

"Shuo... er?"

Hati Han Shuo mencelos. "Ayah? Kau di sana?"

"JANGAN TERTIPU!" teriak Peramal Agung.

Peramal Agung membanting tongkatnya. Lantai arena berubah lagi. Kali ini, separuh menjadi magma, separuh menjadi es. Dan di tengahnya, pusaran angin puting beliung mulai terbentuk.

Boneka Han Feng tersentak kembali ke mode tempur. Matanya kembali kosong.

"Target Menggunakan Trik Mental. Eliminasi Segera!"

Boneka itu mengangkat kedua tangannya. Pisau naga di tangan kanannya membara dengan api, tangan kirinya membentuk cakar es.

"Teknik Gabungan: Naga Kembar Neraka!"

Dua naga energi—satu api, satu es—meluncur ke arah Han Shuo. Ini adalah teknik tingkat Koki Dewa. Tidak ada tempat untuk lari.

Han Shuo tidak lari. Ia meletakkan kualinya di tengah-tengah perbatasan antara magma dan es.

"Jika kau ingin menghancurkanku dengan dua elemen, maka aku akan menggunakan dua elemen itu untuk mematangkan masakanku!"

Han Shuo membuka kuda-kudanya. Ia menggunakan Teknik Wajan Tai Chi.

Tangan kirinya menangkap naga api, tangan kanannya menangkap naga es. Ia tidak menahan ledakannya, ia mengalirkannya.

"Putaran Yin-Yang: Pembalikan Rasa!"

Han Shuo memutar tubuhnya, memaksa kedua naga energi itu bertabrakan... tepat di bawah kualinya.

BOOOOOM!

Ledakan itu dahsyat. Uap putih menutupi seluruh arena. Peramal Agung melindungi wajahnya dengan lengan jubahnya.

Bagian 4: Sup Harmoni di Titik Nol

Ketika uap mulai menipis, Han Shuo masih berdiri. Pakaiannya compang-camping, kulitnya penuh luka bakar dan goresan es. Tapi kualinya... kualinya bersinar dengan cahaya keemasan yang tenang.

Di dalamnya, Sup Naga Lima Elemen telah matang sempurna. Energi ledakan tadi justru menyatukan rasa daging api dan teratai es secara instan (Flash Pressure Cooking).

Han Shuo mengambil mangkuk, menyendok sup itu. Ia berjalan tertatih-tatih menuju Boneka Han Feng yang berdiri kaku, kehabisan energi setelah serangan besar tadi.

Peramal Agung mencoba menggerakkan boneka itu lagi. "Bunuh dia! Kenapa diam saja?!"

Tapi boneka itu tidak bergerak. Aroma dari sup Han Shuo telah masuk ke dalam sistem ventilasi boneka itu, merembes ke dalam kristal jiwa.

Han Shuo berdiri di depan ayahnya. Tinggi mereka hampir sama sekarang.

"Ayah," kata Han Shuo lembut. "Ibu bilang kau paling suka sup yang sedikit hangus tapi dingin di tenggorokan. Ini dia."

Han Shuo menyuapkan sesendok sup ke mulut kaku boneka itu.

Cairan sup itu mengalir masuk.

Di dalam Penjara Jiwa (kristal di dada boneka), jiwa Han Feng yang asli sedang dirantai dalam kegelapan. Ia telah disiksa selama bertahun-tahun, lupa siapa dirinya, lupa wajah anaknya.

Namun, saat rasa sup itu menyentuh kesadarannya...

Rantai itu retak.

Rasa kecap asin buatan istrinya. Rasa hangus dari perjuangan anaknya. Rasa dingin dan panas yang seimbang.

"Mei..." bisik jiwa Han Feng, memanggil nama istrinya.

Di dunia nyata, mata boneka itu berkedip. Warna biru neon yang dingin perlahan berubah menjadi warna cokelat hangat—warna mata asli Han Feng.

Boneka itu bergetar hebat. Tangan porselennya terangkat, gemetar, mencoba menyentuh wajah Han Shuo.

"Shuo... er? Kau... sudah besar..."

Han Shuo menjatuhkan mangkuk dan sendoknya. Ia memeluk tubuh keras dan dingin itu sambil menangis. "Aku di sini, Ayah. Aku di sini."

Bagian 5: Kemurkaan Sang Dalang

"MENYENTUH SEKALI!"

Suara Peramal Agung memecah momen itu. Ia berdiri dari singgasananya, wajahnya merah padam karena marah.

"Kau pikir kau bisa mengambil bonekaku hanya dengan semangkuk sup?! Itu milikku! Jiwa itu milikku!"

Peramal Agung merapal mantra terlarang.

"Protokol Penghancuran Diri: Ledakan Inti Jiwa!"

Kristal di dada Han Feng mulai berbunyi. Tiit... Tiit... Tiit... Cahaya merah berkedip cepat.

"Ayah!" Han Shuo mencoba melepaskan kristal itu, tapi tertanam kuat.

Han Feng (yang kini sadar) mendorong Han Shuo menjauh.

"Lari, Nak! Dia akan meledakkan tubuh ini! Kekuatannya cukup untuk meratakan istana ini!" teriak Han Feng.

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" Han Shuo mencoba mendekat, tapi Han Feng menggunakan sisa kekuatannya untuk membuat dinding angin yang mendorong Han Shuo mundur.

"Dengarkan Ayah!" Han Feng tersenyum, senyum yang tulus meski di wajah kaku boneka. "Kau sudah membuktikan bahwa kau lebih hebat dariku. Masakanmu... adalah yang terbaik yang pernah kurasakan. Sekarang, biarkan Ayah melakukan tugas terakhir seorang koki: Membersihkan dapur yang kotor."

Han Feng berbalik menghadap Peramal Agung. Tubuhnya yang akan meledak bersinar terang.

"Kau ingin jiwa koki, Peramal?" teriak Han Feng. "Maka rasakanlah Niat Masak yang sebenarnya!"

Han Feng melompat ke arah singgasana Peramal Agung. Ia tidak berniat menyerang, ia berniat meledakkan dirinya tepat di wajah sang dalang.

"TIDAK! JANGAN MENDEKAT!" Peramal Agung panik, mengeluarkan segala macam perisai sihir.

BOOOOOOOOOOM!

Ledakan putih menyilaukan menelan Aula Takhta.

Han Shuo terlempar keluar dari pintu aula oleh gelombang kejut, jatuh berguling-guling di tangga marmer di luar.

Bagian 6: Pasca Ledakan

Debu dan puing berjatuhan. Aula Takhta hancur total. Bagian atapnya hilang, memperlihatkan langit yang kini mulai bersih dari awan hitam.

Han Shuo terbatuk-batuk, bangkit dari reruntuhan. "Ayah..."

Ia berlari kembali ke dalam puing-puing aula.

Di tempat singgasana tadi berdiri, kini hanya ada kawah besar. Peramal Agung tidak terlihat—mungkin terluka parah atau melarikan diri menggunakan teleportasi darurat.

Di tengah kawah itu, Han Shuo menemukan sesuatu.

Kepala boneka Han Feng yang sudah retak parah, dan di sampingnya... sekeping kristal jiwa yang redup tapi masih utuh.

Han Shuo jatuh berlutut, mengambil kristal itu. Hangat. Masih ada denyut kehidupan yang sangat lemah di dalamnya.

[Sistem Notifikasi: Jiwa Han Feng Terdeteksi (Kritis). Segera masukkan ke dalam Wadah Pengawet.]

Han Shuo dengan gemetar membuka Kotak Bumbu Raja. Kotak itu memiliki ruang hampa yang bisa menghentikan waktu. Ia memasukkan sisa jiwa ayahnya ke sana.

"Kau selamat, Ayah. Kau selamat," isak Han Shuo.

Epilog Bab 30: Sinyal Ungu

Tiba-tiba, suara lonceng raksasa terdengar dari menara barat.

DONG... DONG... DONG...

Suaranya jernih, membawa serta serbuk Ragi Kebangkitan yang disebarkan Mei Lin.

Di seluruh Ibukota, orang-orang yang selama ini berjalan dengan tatapan kosong mulai berhenti. Mereka berkedip. Seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk yang panjang.

"Di mana aku?"

"Apa yang terjadi?"

"Kenapa ada ledakan di istana?"

Kekuasaan hipnotis Peramal Agung telah patah.

Han Shuo berdiri di atas reruntuhan istana. Ia mengangkat Kuali Naga Merah-nya tinggi-tinggi. Asap ungu mengepul darinya—tanda kemenangan, tanda perlawanan.

Namun, di langit jauh di atas, sebuah retakan dimensi terbuka.

Suara Peramal Agung terdengar, lemah tapi penuh kebencian, bergema dari dimensi lain.

"Ini belum berakhir, Han Shuo! Kau menghancurkan wadahku di dunia ini, tapi Asosiasi Gourmet Kegelapan yang asli ada di Benua Atas. Kami akan menunggumu. Dan saat itu tiba, kami akan memakan jiwamu perlahan-lahan!"

Han Shuo menatap langit dengan tatapan membunuh.

"Tunggu aku," kata Han Shuo dingin. "Aku akan datang. Dan aku akan membawa menu balas dendam yang paling pedas."

Ying, Mei Lin, dan Xiao Hua berlari menaiki tangga istana, menemukan Han Shuo berdiri sendirian di tengah puing-puing sebagai pemenang.

Babak Final selesai. Han Shuo bukan lagi sekadar koki desa. Dia kini adalah Legenda Koki Naga.

* Hasil Pertempuran:

* Boneka Han Feng hancur, namun jiwanya selamat (disimpan di Kotak Bumbu Raja).

* Peramal Agung terluka parah dan melarikan diri ke Benua Atas.

* Kekuasaan Gourmet Kegelapan di Ibukota runtuh.

* Kultivasi: Inti Emas Puncak (Peak Golden Core).

* Item Baru: Sisa Jiwa Han Feng (Quest Item untuk Arc selanjutnya: Mencari tubuh baru).

* Status Dunia: Penduduk Ibukota sadar, Han Shuo menjadi pahlawan nasional.

Transisi ke Arc 4: Benua Atas & Dewa Masak

Cerita di Benua Bawah (Kekaisaran Naga Biru) telah selesai. Han Shuo harus pergi ke dunia yang lebih luas, di mana para Dewa Masak benar-benar ada, bahan makanan adalah monster legendaris, dan persaingan jauh lebih brutal.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!