Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Rumah Bu Santi
Pagi itu panasnya aneh. Bukan matahari yang terik banget, tapi kepala aku yang sudah keburu penuh sebelum jam sepuluh. Rara nelpon lagi. Nada suaranya pendek. Buru-buru. Kayak aku ini gangguan. “Aku udah di jalan,” kataku akhirnya, padahal tas baru setengah kebuka. “Ya jangan lama. Bu Santi udah nunggu,” jawabnya, lalu sambungan mati. Aku berdiri sebentar di depan cermin. Rambut dikuncir asal, wajah kelihatan capek walau baru berangkat. Aku tarik napas, nyoba netral. Nggak mau mikir macam-macam. Mungkin dia cuma lagi banyak pikiran.
Rumah Bu Santi nggak jauh dari sekolah. Gangnya sempit, motor harus pelan. Aku parkir agak jauh karena depan rumahnya sudah penuh motor lain. Ada motor Faris. Ada satu motor yang aku nggak kenal. Aku jalan sambil ngerapihin tas, nyoba nyiapin diri. Di teras, Bu Santi lagi duduk di kursi plastik, pegang kipas kecil. Mukanya ramah, tapi kelihatan lelah. “Oh, Naya. Masuk, masuk,” katanya.
Rara duduk di lantai, bersandar ke meja kecil. HP di tangannya nggak lepas. Dia cuma nengok sekilas ke arahku. Nggak senyum. Nggak nyapa. Aku duduk agak samping. Biasa. Posisi aman. “Kita bahas teknis diklat ya,” kata Bu Santi sambil buka map. “Ini tinggal beberapa hari.” Aku ngangguk. Fokus.
Awalnya biasa aja. Bu Santi nanya soal logistik, tenda, konsumsi. Aku jawab pelan-pelan, urut. Rara sesekali nimpalin. Semua masih normal. Sampai Bu Santi nanya soal daftar pembagian tugas. “Yang ini siapa yang pegang?” tanya beliau, nunjuk satu kertas.
Aku refleks buka mulut. “Aku, Bu.” Belum selesai kalimatku, Rara nyela. “Sebenernya itu aku yang ngatur, Bu. Tapi nanti Naya bantu.” Aku diem. Kata bantu itu nyangkut di kepala. Padahal aku yang dari awal nyatet, nyusun, dan ngecek ulang. Bu Santi cuma ngangguk. “Oh, ya sudah. Yang penting jalan.” Aku nyoba tahan. Nggak usah dibesar-besarin.
Mungkin cuma salah ngomong. Tapi pas masuk ke pembahasan berikutnya, nada Rara mulai berubah. “Ini kenapa belum dicetak?” katanya, agak tinggi. Bukan ke Bu Santi. Ke aku. Aku nengok. “Rencananya sore ini, Ra. Aku nunggu data terakhir.”
“Lah, kan kemarin udah aku kirim.”
“Yang itu belum lengkap. Yang jam malam—”
“Ya kenapa nggak bilang dari kemarin?” potongnya. Nada suaranya naik satu tingkat. Bu Santi ngelirik kami bergantian. “Pelan-pelan,” katanya, masih tenang. “Namanya juga persiapan.” Aku nunduk. Jantung mulai nggak enak. Ada rasa panas naik ke leher.
Aku jawab pelan, “Aku kira nanti sekalian hari ini, biar nggak bolak-balik.” Rara mendesah. Kedengaran jelas. “Kamu tuh kalau kerja jangan nunggu-nunggu,” katanya. “Ini acara gede.” Kalimatnya sederhana. Tapi cara ngomongnya bikin perutku langsung kencang. Kayak aku ini ceroboh. Kayak aku ini nggak mikir. Padahal aku capek. Dari kemarin. Aku pengen jelasin. Tapi rasanya percuma. Aku cuma ngangguk. “Iya.” Satu kata. Aman. Pembahasan lanjut, tapi suasananya sudah beda. Setiap aku jawab, Rara nyelipin komentar. Kadang kecil. Kadang nyeletuk.
“Oh, itu nanti dicek lagi ya. Takutnya lupa. Kemarin aja salah catat. Ini jangan sampai kejadian lagi.” Nggak ada yang keras. Tapi cukup buat bikin aku ngerasa kecil. Bu Santi beberapa kali nyoba netralin. “Yang penting sekarang diberesin,” katanya. “Atau nanti dibagi lagi.” Aku tahu Bu Santi nggak bermaksud apa-apa. Tapi aku juga tahu, dari sudut pandangnya, Rara kelihatan lebih siap. Lebih vokal. Lebih kelihatan kerja. Sementara aku cuma duduk, jawab kalau ditanya. Ada momen kecil yang bikin dadaku agak sesak.
Bu Santi bilang, “Nanti kalau ada apa-apa, koordinasi ke Rara ya.”
Aku reflek nengok. “Iya, Bu.”
Padahal selama ini, orang-orang ke aku. Telepon aku. Tanya aku. Sekarang arahnya pelan-pelan geser. Aku nggak marah. Lebih ke bingung. Kapan berubahnya? Pas rapat hampir selesai, Rara berdiri duluan.
“Aku keluar bentar ya, Bu,” katanya.
“Angkat telepon.” Tanpa nunggu jawaban, dia ke luar rumah.
Bu Santi ngeliat aku. “Kamu nggak apa-apa, Naya?”
Pertanyaan itu bikin tenggorokanku kering. “Nggak apa-apa, Bu,” jawabku cepat. Terlalu cepat.
Beliau diem sebentar. “Kalau capek, bilang. Jangan dipendem.” Aku senyum tipis.
Senyum kebiasaan. “Iya, Bu.” Padahal aku sendiri nggak yakin. Rapat selesai. Aku pamit. Di luar, Rara masih nelpon. Aku lewat aja. Nggak nyapa. Dia juga nggak. Di motor, helm belum kupasang. Aku duduk sebentar. Panas aspal naik ke kaki. Kepala rasanya berat.
Aku muter ulang kejadian barusan. Nyari di mana salahku. Mungkin aku memang kurang komunikatif. Mungkin aku terlalu ngerjain sendiri tanpa banyak ngomong. Tapi aku juga nggak pernah berniat nutupin apa pun. Aku nyalain motor, jalan pelan keluar gang. Angin kena muka, tapi nggak bikin lega.
Sampai rumah, aku langsung duduk di lantai. Tas aku lempar ke pojokan. Kepala bersandar ke dinding. Aku baru sadar, dada aku sesak dari tadi. Bukan marah. Bukan sedih yang meledak. Lebih ke perasaan nggak dianggap, tapi juga nggak bisa protes. Aku mikir, mungkin aku terlalu santai. Terlalu sering ketawa.
Terlalu sering “nggak apa-apa”. Mungkin orang jadi lupa aku juga kerja. Aku tarik napas panjang. “Besok aja,” gumamku ke diri sendiri. Besok mungkin lebih baik.Atau mungkin sama aja. Aku belum tahu. Yang jelas, sejak pagi itu, ada sesuatu yang mulai retak kecil. Nggak kelihatan. Tapi kerasa. Dan aku belum ngerti, itu bakal ke mana.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭