NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 – Pertemuan Takdir di Tengah Bahaya

BAB 9 – Pertemuan Takdir di Tengah Bahaya

Malam terasa lebih sunyi dari biasanya di rumah kontrakan kecil itu. Angin berhembus pelan, membuat seng atap berbunyi berderit tipis. Alisha Pratiwi baru saja selesai mencuci piring ketika ibunya menutup jendela dapur dengan cepat.

“Lis, pintu depan sudah dikunci?” tanya ibunya.

“Sudah, Bu. Kenapa sih Ibu tegang banget?” Alisha mencoba tersenyum, walau perasaannya ikut tidak enak.

Ibunya tidak langsung menjawab. “Ibu cuma nggak tenang. Sejak ada orang asing itu, rasanya rumah kita diperhatikan.”

Alisha terdiam. Ia juga merasakan hal yang sama. Beberapa hari lalu, dua pria berdiri lama di depan gang. Pura-pura main ponsel, padahal jelas mengawasi rumah mereka.

Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar pelan dari luar pagar.

Alisha membeku.

Mobil itu berhenti tepat di depan rumah.

“Bu…” bisiknya pelan.

Ibunya langsung mematikan lampu ruang tamu. “Jangan buka tirai.”

Jantung Alisha berdetak keras sampai terasa di telinganya sendiri. Tangannya dingin. Ia tetap mendekat ke jendela dan mengintip dari celah kecil.

Dua pria turun dari mobil hitam. Wajah mereka tidak jelas, tapi tubuh mereka besar dan gerakannya seperti orang yang sudah tahu mau ke mana.

“Bu… mereka turun,” suara Alisha makin pelan.

Salah satu pria menunjuk pagar rumah.

Pria kedua langsung memanjat.

“Ibu…” napas Alisha mulai tidak teratur.

“Masuk kamar sekarang!” bisik ibunya panik.

Alisha mundur, tapi kakinya terasa berat. Ia tidak bisa bergerak cepat. Pikirannya kosong. Yang ada cuma bayangan buruk—bagaimana kalau mereka masuk? Bagaimana kalau mereka membawa senjata?

Tiba-tiba suara keras menggema dari arah jalan.

“HEY!”

Kedua pria itu menoleh.

Di bawah lampu jalan berdiri seorang pemuda. Jaket hitam, bahu tegap, wajah tegas.

“Cari siapa kalian?” suaranya tenang tapi keras.

“Pergi lo!” bentak salah satu pria.

Alisha masih berdiri di balik tirai. Tangannya gemetar. Ia belum pernah melihat pemuda itu sebelumnya.

“Turun dari pagar,” kata pemuda itu lagi.

Salah satu pria langsung mengeluarkan pisau kecil yang memantulkan cahaya lampu jalan.

Darah Alisha seperti berhenti mengalir. Ia refleks menutup mulut supaya tidak berteriak.

Pria itu menyerang lebih dulu.

Gerakannya cepat. Tapi pemuda itu lebih cepat.

Satu pukulan keras membuat pria pertama terhuyung. Pisau terjatuh ke tanah.

Pria kedua mencoba menusuk dari samping. Pemuda itu menangkis, lalu menendang tangan lawannya sampai pisau terlempar jauh.

Suara pukulan terdengar jelas sampai ke dalam rumah.

Alisha memejamkan mata beberapa detik. Takut kalau yang roboh justru pemuda itu.

Ketika ia membuka mata lagi, kedua pria itu sudah terkapar.

“Balik ke bos kalian,” suara pemuda itu terdengar tegas. “Kalau datang lagi, urusannya beda.”

Kedua pria itu bangkit terburu-buru dan masuk ke mobil. Mesin menyala, lalu mobil pergi dengan cepat.

Sunyi kembali.

Alisha baru sadar ia menahan napas terlalu lama. Dadanya terasa sakit.

Pintu diketuk pelan dari luar.

“Sudah aman,” suara pemuda itu terdengar lebih lembut.

Alisha menoleh ke ibunya.

“Ibu takut…” bisik ibunya.

“Aku buka sedikit saja,” jawab Alisha.

Tangannya gemetar saat memutar kunci. Pintu terbuka beberapa senti.

Pemuda itu berdiri di sana. Wajahnya berkeringat, ada goresan kecil di pelipis.

“Mereka nggak akan balik malam ini,” katanya.

Alisha mengangguk pelan. “Terima kasih…”

Suara itu hampir tidak terdengar.

Ibunya ikut mendekat. “Nak, kamu nggak apa-apa?”

“Aman, Bu.”

Alisha menatapnya lebih jelas sekarang. Wajahnya tegas, tapi matanya tidak terlihat jahat. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sedikit tenang.

“Aku Alvaro,” ucapnya singkat.

“Alisha,” jawabnya pelan.

Alvaro berhenti sesaat. “Mereka sering datang?”

“Beberapa hari ini kelihatan,” jawab Alisha jujur. “Kami nggak kenal mereka.”

Alvaro terlihat berpikir. “Besok lapor polisi. Jangan ditunda.”

Alisha mengangguk. Lututnya masih terasa lemas.

“Kakak berdarah,” katanya tiba-tiba.

Alvaro menyentuh pelipisnya. “Cuma lecet.”

“Tunggu.”

Alisha masuk mengambil kotak P3K kecil. Tangannya masih gemetar saat membuka kapas.

“Boleh duduk?” tanyanya canggung.

Alvaro duduk di kursi kayu teras.

Saat Alisha membersihkan luka itu, jaraknya sangat dekat. Ia bisa mencium bau keringat dan parfum samar yang dipakai Alvaro. Anehnya, detak jantungnya belum juga normal.

“Tadi… aku kira kita bakal mati,” bisik Alisha tanpa sadar.

Alvaro menatapnya. “Nggak akan.”

“Kakak yakin?”

“Selama aku lihat, nggak.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat Alisha terdiam.

Setelah selesai, Alvaro berdiri.

“Kalau ada yang aneh lagi, hubungi polisi.”

Alisha ragu sejenak. “Kak… boleh minta nomor?”

Alvaro menatapnya beberapa detik, lalu menyebutkan nomor ponselnya.

“Cuma kalau darurat,” katanya tegas.

“Iya.”

Alvaro berjalan ke mobilnya. Mesin menyala, lalu ia pergi meninggalkan gang itu.

Alisha masih berdiri di teras, menatap jalan kosong.

Tangannya memegang ponsel erat.

Ibunya menariknya masuk. “Lis, Ibu takut ini belum selesai.”

Alisha ikut masuk. Ia mengunci pintu dua kali.

Di dalam kamar, ia duduk di ranjang tanpa mengganti baju. Tubuhnya lelah, tapi matanya sulit terpejam.

Bayangan pria memanjat pagar itu muncul lagi di kepalanya. Pisau yang berkilat. Suara bentakan. Pukulan.

Tangannya kembali dingin.

Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Alisha ragu beberapa detik sebelum membuka pesan itu.

Isinya hanya satu kalimat:

“Kamu nggak akan selalu seberuntung malam ini.”

Darahnya terasa turun ke kaki.

Ia berdiri cepat dan mengintip lewat jendela kamar.

Di ujung gang, mobil hitam itu kembali terlihat.

Lampunya mati.

Seseorang duduk di dalamnya.

Mengawasi.

# bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!