Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celesta Kembali
Hari ini cukup dingin untuk Sera meskipun dia berada di ruangan dengan suhu ruang yang terkontrol. Sera melihat ke kiri dan kanan ruang tengah yang nampak hening karena semua pekerja yang berada rumah ini jauh dari jangkauan matanya hingga terasa lebih sunyi.
Namun, bukan hanya itu saja menjadi tolak ukurnya tetapi juga firasat aneh yang menganggu pikiran nya, yaitu Celesta yang akan kembali dari Amerika menjadi pusat fikiran nya kembali muncul dengan cara tiba-tiba.
Sera menggelengkan kepalanya untuk menghalau perasaan ambigu itu, kemudian memencet salah satu tombol pada remot TV.
Beberapa drama mulai berputar di dalam pipih yang menempel pada tembok itu, Sera mulai merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa itu guna merileksasikan tubuhnya dan pikiran nya berkecamuk.
Sesaat memang menyenangkan, namun tak mampu meredakan semua resahnya, Sera kembali duduk tegak dari sandarannya, kemudian memencet tombol remot TV dengan cepat dan secara acak untuk melampiaskan rasa frustasi nya.
Hingga di satu titik dia menemukan berita entertainment yang terkenal, tetapi yang menjadi penasaran adalah orang yang diberitakan di dalamnya. Jari Sera berhenti memencet remot itu dan mulai memperhatikan, 'siapa kah yang sedang di bahas,'
"Wah! Celesta kembali ke tanah air, dan jemput langsung oleh kekasih yang merupakan CEO Ashford Sync beruntung sekali ya Celesta,"
Tulis tim kreatif berita memberikan timeline, yang sangat memukau di sisi bawah layar TV itu. Membuat Sera terdiam sejenak di buatnya, karena tidak tau harus berekspresi seperti apa dengan kejadian di hadapan nya. Namun, yang pasti pria di dalam layar itu adalah suaminya yang dia cintai secara sepihak.
Bagaimana tidak Sera ingat saat itu, ketika pria bernama Dominic mengatakan bahwa mereka tidak perlu menyentuh hubungan privasi masing-masing karena pria itu mencintai wanita lain. Dan Sera pun merasa tidak ada pentingnya cinta karena dia ingin bebas dari rumah Gunawan namun dia tiba-tiba jatuh cinta pada pria dingin dan tak memperdulikannya itu.
Sera kembali melirik sekilas meskipun rasa sangat sakit, dia melihat perempuan itu melambaikan tangan dan tersenyum ramah pada awak media yang menyoroti Celesta dan suaminya sembari merangkul tangan suaminya dengan mesra.
Meskipun saat itu raut wajah Dominic nampak datar tanpa ekspresi, namun rasa cemburu Sera tetap berkecamuk di hatinya, karena merasa Dominic tidak menolak dari rangkul itu.
Detik berikutnya perasaan terasa jijik dan muak kemudian mematikan layar TV dengan kasar yang masih mempertontonkan kemesraan suaminya dan Celesta,
"Apa yang kau pikirkan Sera," pekiknya dalam hati, lalu melemparkan remot TV ke sofa kosong di sebelahnya, dia kemudian menjambak rambutnya beberapa kali. Hingga rasa takut itu belum hilang juga Sera menangkupkan wajahnya di lututnya menutupnya dengan rambutnya tak ingin melihat di sekitarnya barang sejenak.
'dung...'
Sera terjaga tak kala mendengar suara lembut itu menganggu pendengarannya, tak sengaja dia terlelap di tempat itu selepas merutuki dirinya dengan berlinang air mata karena memikirkan masa depannya. Sera menengadah menoleh kearah pintu di balik tembok. Dia ingin memastikan siapa yang masuk kedalam rumah, Sera terpikirkan satu hal yaitu pekerja yang sedang lembur agar pekerjaan esok hari lebih santai.
"Ah... Tidak mungkin kan Dominic pasti pria itu sedang menghabiskan waktu dengan kekasih yang baru kembali ke tanah air,"ujar Sera dalam hati sembari menarik nafas dengan kasar.
Setelah beberapa saat orang yang tadi membuka pintu rumah menampakkan wajahnya, orang yang difikir Sera adalah pekerja lembur ternyata suaminya, Dominic yang dipikirnya sedang bercinta dengan Celesta yang merupakan kekasih lamanya.
Dia datang dengan langkah sempoyongan, mata yang memerah, dan pipi yang membengkak hingga ketelinganya. Dominic terpaksa bersandar pada tembok dengan jas hitam dan dasinya yang kusut tidak seperti biasanya selalu rapi dan elegan, hati Sera merasa ingin membantu namun melihat acara di TV tadi membuatnya ingin mengurungkan niatnya.
"Hish... Pasti pria ini pergi kepesta bersama wanita kecintanya itu,"ujar Sera mendengus, kini bukan rasa frustasi yang hadir tapi terasa sangat marah ketika menatap wajah kuyuh Dominic.
Namun, terdengar samar-samar suara Dominic yang memanggil Sera membuatnya penasaran dengannya, lalu menoleh kearah suaminya. Ketika dia baru saja ingin melangkah kakinya ke kamar yang berada di lantai dua, dia kemudian menoleh pada sumber suara. Terlihat lah tangan Dominic yang terulur keudara seperti benar-benar memanggilnya. Keinginan tahuan Sera semakin besar hingga wanita itu mendekati Dominic.
Sera menghampiri Dominic, kini mereka saling berhadapan dan benar saja. Suara itu dari bibir suaminya yang terus memangil dirinya,
"Sera mengapa kau mengacaukan pikiran ku," ujar Dominic kini terlihat sinis, mencengkram tangan Sera meskipun nampak tidak bertenaga, namun tetap saja seperti pemaksaan sepihak.
Sedangkan Sera yang menatap wajah Dominic terlihat kebingungan tentang pikiran pria yang ada di hadapannya. Belum sempat Sera menjawab perkataan Dominic tiba-tiba pria merasa pusing dan hampir muntah. Melihat itu Sera yang merasa iba dan tidak ingin mempersulit bibi Yuni yang merupakan pelayan di rumah itu dengan sigap membantu Dominic ke kamar tidurnya.
Dengan tertatih-tatih Sera membopong serta sedikit menyeret Dominic yang tubuh lebih berat dari Sera hingga menuju kamarnya. Sera membuka pintu kamar yang sebenernya adalah tempat terlarang bagi Sera, namun mau bagaimana lagi dari pada Dominic menyulitkan orang lain, Sera membanting tubuh suaminya keatas kasur dengan sprai berwarna gelap itu dengan nafas yang terengah-engah.
Baru saja Sera meletakkan kedua tangannya di pinggangnya untuk menghalau rasa lelah, namun tiba-tiba ada seseorang yang memeluk pinggangnya tanpa aba-aba, mendusel-duselnya seperti kucing yang sedang mencari perhatian. Sera melirik sekilas, karena merasa risih dengan sikap Dominic yang menurut keterlaluan.
Sera menepis tangan itu dengan kasar, namun bukannya berhenti hidung Dominic mulai menjelajah di tengkuk Sera, nafas yang hangat masih bercampur dengan minuman memabukkan itu menyentuh kulit Sera. Tangannya kembali mencengkeram erat ke pinggang Sera seolah tak ingin di tinggal oleh sang tuan, seolah tak ingin melepaskan penyatuan itu.
Sera mematung, pipinya memerah tak bisa mengendalikan logika lagi, ketika pria itu menjadi seperti kucing liar, dan terkadang menghisap lembut bagian kulit yang terbuka di balik baju gaun yang biasa Sera pakai di rumah.
Rasa malu makin menjadi membuat tapi sentuhan Dominic membuatnya bingung antara tetap tinggal atau menjauh dari pria yang nampak gila di matanya kini, Dominic makin mendekat membuat jarak mereka semakin menipis.
Sera akhirnya bersuara dengan pelan dan terbata-bata, "Lepaskan aku Dominic... Ini tidak sesuai dengan perjanjian, kamu mabuk..."