Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA RASA MASA LALU
Pulang dan beristirahatlah. Biar aku yang memikirkan bagaimana cara menghadapi dunia untuk kita. kamu hanya cukup... jangan lari dariku.
Dea tersenyum getir sambil menatap kaca jendela mobilnya. Pandangannya fokus pada kemudi, tapi benar saja. Semua tentang Vhirel tak bisa lepas dari ingatannya, termasuk pernyataan terakhir yang lelaki itu ucapkan.
"Aku gak akan pernah bisa lari dari kamu, Mas." Gumamnya lirih. "Karena bagaimanapun... kamu yang udah berhasil buat aku takut kehilangan segalanya, apalagi kamu."
Dea mendesis, ia membanting setir ke kanan saat mengambil salah satu persimpangan jalan menuju butiknya. "Meski aku gak yakin kamu akan menjadi milik aku pada akhirnya, tapi aku percaya... kamu bisa membawaku untuk menghadapi semua ini, Mas."
Krrrrk... krrrrk!
Dea tersentak saat mobil yang dikendarainya tiba-tiba berhenti. Untungnya, ia masih sempat membanting setir ke bahu jalan. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu, telapak tangannya dingin menempel di kemudi.
Ia berusaha menyalakan starter mobilnya, namun mobil itu mati. "Ya ampun.... apa-apaan, ini?!" gumamnya panik.
Kalau ada apa-apa... kabari aku.
Dea ingat juga pernyataan lain yang diucapkan Vhirel. Tanpa pikir panjang, ia segera meraih ponsel di konsol tengan. Namun, saat ia hendak menyalakan layar, geraknya terhenti. "Enggak." gelengnya. "Mas Vhirel bilang tadi, katanya dia sibuk. Aku gak mau ganggu dia. Aduuuuuh... gimana dong, ini?!"
Dea yang frustasi mulai keluar dari mobilnya. ia membanting pintu mobil, suaranya berdentum keras di bahu jalan yang sepi. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun. Dengan gerakan kasar, ia menarik tuas di bawah kemudi dan melangkah ke depan mobil.
Begitu kap terbuka, kepulan uap tipis menyambut wajahnya yang sudah merah padam. Dea terpaku. Ia menatap deretan komponen logam, selang-selang karet, dan kabel yang saling melilit dengan tatapan kosong. Jujur saja, baginya mesin itu tak lebih dari sekadar tumpukan besi rongsok yang tidak punya perasaan.
“Telepon Papa…” Dea bergumam lirih, lalu urung. Dadanya makin sesak. Tapi kalau Papa curiga aku ke butik dan nanya aku sekarang di mana… Pandangannya menyapu jalanan. Ini bukan arah ke butik. Ini jalan dari kantornya Mas Vhirel.
Dea menggigit kuku ibu jarinya, gelisah. Bisa-bisa Papa malah curiga. Ia mengembuskan napas panjang, menatap layar ponsel yang masih gelap. Jemarinya ragu, berputar-putar di udara, seolah berharap keputusan itu muncul dengan sendirinya. Gimana dong…
Sunyi menjawabnya.
Namun tak begitu lama, sebuah mobil perlahan menepi di depannya.
Dea refleks mundur setapak, jantungnya kembali berpacu. Pintu mobil itu terbuka, dan sesosok pria turun dengan langkah hati-hati, sorot matanya memeriksa keadaan sekitar sebelum akhirnya tertuju padanya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya dari jarak aman, suaranya terdengar tenang, nyaris menenangkan.
Dea tak langsung menjawab. Suasana seketika membeku. Ia terpaku, lidahnya mendadak kelu, sementara sepasang matanya membelalak tak percaya.
Di bawah naungan pohon jalan yang rindang, sorot mentari menyelinap di antara celah-celah dedaunan, perlahan menyingkap wajah pria itu. Garis rahangnya tegas dan terlalu akrab untuk diabaikan—dan cara ia sedikit memiringkan kepala, gerak kecil yang begitu khas, membuat napas Dea tertahan.
Perlahan, ingatan Dea terseret paksa ke beberapa tahun silam. Itu adalah sosok yang pernah mengisi hari-harinya dengan debar yang melelahkan, seseorang yang namanya sering ia tulis di lembar belakang buku catatan, namun tak pernah sempat ia sampaikan secara nyata.
“Kak Satria?” lirih Dea, suaranya nyaris hilang ditelan angin siang bolong.
Pria itu mengernyitkan dahi. "Kamu... kenal aku?"
"Uhm." Dea tersentak. Ia tertunduk gugup, berusaha membuang wajah merahnya dari balik rambutnya yang tergerai gelombang. Aduuuuuh... sial banget, si! Mana pernah dia kenal aku? Cuma aku yang tahu dia!
“Hei?” kata pria itu, suaranya ringan namun cukup untuk mengejutkan Dea.
Satria.
Nama itu kembali bergema di kepala Dea, membawa serta serpihan masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang. Kakak kelasnya dulu—yang senyumnya pernah membuat hari-hari sekolah terasa berbeda, yang keberadaannya diam-diam menumbuhkan kekaguman tanpa keberanian untuk diungkapkan.
"Tu-Tunggu." Sergah Satria dengan senyum yang mengembang. "Ka-Kamu... dulu pernah sekolah di SMA Pelita Bangsa?"
Dea terkesiap. Dadanya menghangat sekaligus bergetar. Nama sekolah itu—cara ia disebut—seperti kunci yang membuka pintu kenangan yang lama tertutup rapat. Ia kemudian mengangkat wajah, menatap Satria lebih saksama, mencari kepastian di wajah yang kini terasa semakin jelas “Iya,” jawabnya akhirnya, suara pelan namun mantap. “Ka-Kakak kenal saya?”
Satria tersenyum lebar lalu menunjuk ke arah Dea, seolah baru saja menemukan potongan terakhir dari teka-teki lama. “Sahabatnya Aqila?” tanyanya, nada suaranya naik, penuh keyakinan.
"I-Iya, Kak."
"Andrea, bukan?"
Dea kembali terkejut. Bagaimana bisa pria itu mengenalinya?
Detik berikutnya, Dea hanya mampu mengangguk tanpa suara. Gerakan kecil itu sudah cukup membuat senyum Satria semakin mengembang lebih lebar, matanya menyiratkan kepastian sekaligus kehangatan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Oh, ya. Mobil kamu kenapa?"
“O–oh…” Dea tergagap, lalu berbalik dan melangkah mendekati kap mobil yang sejak tadi ia biarkan terbuka. Tangannya sempat ragu sebelum menyentuh tepinya. “Mobil aku mogok, Kak.”
Satria ikut mengekor di belakangnya, langkahnya santai namun sigap. Ia lalu mencondongkan tubuh, melirik ke dalam mesin sekilas sebelum menatap Dea lagi.
“Boleh aku cek?” tanyanya, nada suaranya sopan, disertai senyum kecil yang menenangkan.
Dea hanya mengangguk tanpa suara. Kepalanya terasa ringan, seolah belum sepenuhnya hadir di tempat itu. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Masa lalu yang ia kira telah terkubur dalam, kini kembali muncul tanpa permisi—membuat hatinya bergetar oleh sesuatu yang tak pernah ia sadari masih bersisa.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,