Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 gema pedang yang patah dan sumpah di puncak salju
Puncak Pedang Patah berdiri tegak seperti jemari raksasa yang mencoba menggapai langit, namun terpotong di tengah jalan. Menurut legenda, ribuan tahun yang lalu, seorang dewa pedang bertarung melawan entitas dari luar angkasa di tempat ini. Tebasan pedang terakhirnya tidak hanya membelah musuhnya, tetapi juga memotong puncak gunung ini menjadi dataran tinggi yang rata dan gersang.
Kini, tempat itu hanyalah hamparan batu hitam yang tertutup salju abadi. Ribuan pedang berkarat tertancap di tanah, sisa-sisa dari para peziarah dan pendekar yang mencoba memahami "Niat Pedang" yang tertinggal, namun justru berakhir menjadi bagian dari pemandangan sunyi tersebut.
Xing Shenyuan berdiri di tepi dataran tinggi itu. Angin di sini bertiup sangat kencang, membawa serpihan es yang setajam silet. Namun, saat angin itu mendekati tubuhnya, serpihan es tersebut seolah menabrak dinding transparan dan jatuh tak berdaya. Zirah Bayangan Bintang di balik jubahnya berdenyut pelan, menyerap tekanan lingkungan dan mengubahnya menjadi energi pasif.
"Tempat ini... penuh dengan penyesalan," gumam Shenyuan. Matanya yang memiliki lingkaran ungu tipis menatap ribuan pedang di depannya. Baginya, setiap pedang itu memancarkan sisa-sisa jiwa yang redup.
"Guru, aku merasakan ribuan mata menatap kita, tapi tidak ada satu pun orang di sini," Xiaoyue merapat di samping Shenyuan, tangannya menggenggam busur kayu hitamnya erat-erat. Suhu di sini jauh lebih ekstrem daripada di Sekte Lembah Hijau. Bahkan api birunya seolah menciut karena tekanan Niat Pedang yang memenuhi udara.
"Itu adalah Gema Jiwa, Xiaoyue. Pedang-pedang ini merindukan tuan mereka," sahut Shenyuan. "Tetaplah di belakangku. Jangan menyentuh apa pun. Niat Pedang di sini cukup kuat untuk memotong meridian seorang ahli Inti Emas dalam sekejap."
Login: Altar Pedang Tanpa Nama
Shenyuan berjalan menuju pusat dataran tinggi, di mana terdapat sebuah bongkahan batu besar yang dikelilingi oleh tujuh pedang raksasa yang masih utuh meski sudah berlumuran karat. Di atas batu itu, terdapat cekungan kecil yang menyerupai tempat meletakkan lentera.
Ia merasakan resonansi yang kuat antara Lentera Abadi miliknya dengan tempat ini. Seolah-olah, lentera itu adalah kunci yang selama ini dicari oleh gunung ini.
> [Sistem Login Harian Makam Bintang]
> [Lokasi: Altar Pedang Patah (Area Warisan Kuno)]
> [Status: Siap untuk Check-in.]
>
"Login," perintah Shenyuan dalam hati.
> [Ding! Check-in berhasil!]
> [Selamat, Tuan mendapatkan: "Inti Besi Bintang Jatuh" (Material Tingkat Surga) dan "Pahami Niat Pedang Kuno: Tebasan Pemutus Takdir" (Sekali Pakai).]
> [Deskripsi Item:]
> * Inti Besi Bintang Jatuh: Logam murni dari luar angkasa yang mengandung energi astral padat. Sangat cocok untuk menempa ulang rangka Lentera Abadi agar mampu menampung api yang lebih panas.
> * Tebasan Pemutus Takdir: Sebuah serangan satu kali yang menyimpan 10% kekuatan dewa pedang masa lalu. Hanya bisa digunakan di wilayah Puncak Pedang Patah.
>
Shenyuan menatap Inti Besi Bintang Jatuh yang muncul di tangannya. Logam itu berwarna perak gelap dan terasa sangat berat, hampir seberat gunung kecil. Ia segera memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan. Ini adalah potongan teka-teki terakhir untuk memperkuat lenteranya sebelum ia melakukan terobosan penuh ke Ranah Jiwa Baru Lahir.
Tamu yang Tak Diundang: Sekte Pedang Langit
Keheningan di puncak gunung tiba-tiba pecah oleh suara siulan pedang yang membelah udara. Dari arah timur, lima sosok terbang menggunakan pedang terbang mereka, mendarat dengan anggun beberapa puluh meter dari posisi Shenyuan.
Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman awan biru di lengan—seragam Sekte Pedang Langit, sekte nomor satu di bawah naungan Kekaisaran Pusat. Pria di depan mereka, seorang pemuda dengan wajah arogan, adalah Lu Chen, murid inti yang telah mencapai Ranah Inti Emas Tahap Akhir.
"Siapa kalian?!" Lu Chen membentak, tangannya masih memegang gagang pedang di pinggangnya. "Beraninya orang asing memasuki area terlarang Sekte Pedang Langit? Apakah kalian tidak tahu bahwa tempat ini telah diklaim oleh leluhur kami sejak sebulan yang lalu?"
Shenyuan bahkan tidak menoleh. Ia sedang sibuk mengamati pola formasi di bawah kakinya. "Gunung ini sudah ada jauh sebelum sekte kalian lahir. Mengklaimnya adalah bentuk kesombongan yang bodoh."
Wajah Lu Chen memerah. Di depannya, pria berjubah hitam ini tampak tidak memiliki kultivasi yang jelas—zirah Shenyuan menyembunyikan auranya dengan sempurna—sehingga Lu Chen menganggapnya sebagai orang yang hanya memiliki sedikit trik penyamaran.
"Gembong pencuri!" teriak Lu Chen. "Serahkan apa yang baru saja kau ambil dari altar itu, atau aku akan memastikan kau menjadi mayat ke-1001 yang tertancap di puncak ini!"
Xiaoyue melangkah maju, api birunya mulai berkobar di sekitar busurnya. "Beraninya kau bicara seperti itu pada Guruku! Mundur sekarang, atau aku akan membakar pedang mainanmu itu menjadi cair!"
"Anak kecil yang sombong!" Lu Chen mencabut pedangnya. "Tangkap mereka! Bawa wanita kecil itu ke sekte untuk dijadikan pelayan tungku, dan penggal kepala pria itu!"
Demonstrasi Kekuatan: Tangan Penghancur Bintang yang Terpusat
Empat murid lainnya bergerak maju dengan formasi pedang. Mereka adalah ahli Inti Emas Tahap Menengah. Pedang mereka memancarkan cahaya putih yang tajam, menciptakan jaring energi yang mengepung Shenyuan dan Xiaoyue.
"Xiaoyue, perhatikan baik-baik," ucap Shenyuan dengan suara tenang yang menembus kebisingan angin. "Jangan pernah menyebarkan energimu terlalu luas jika kau bisa memadatkannya menjadi satu titik."
Shenyuan tidak mencabut senjata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya menghadap ke arah murid-murid yang menyerang.
"Tangan Penghancur Bintang: Tarikan Gravitasi."
Tiba-tiba, udara di depan Shenyuan seolah-olah tersedot ke dalam lubang hitam. Jaring pedang milik para murid itu hancur seketika, terhisap oleh tekanan gravitasi yang luar biasa. Murid-murid itu berteriak saat tubuh mereka ditarik paksa ke arah telapak tangan Shenyuan.
Brak!
Sebelum mereka menyentuh Shenyuan, ia memutar tangannya. Gaya tariknya berubah menjadi gaya dorong yang masif.
"Enyah."
Gelombang kejut transparan meledak. Keempat murid itu terlempar ke belakang seperti daun kering ditiup badai, menghantam pilar-pilar batu dengan keras hingga mereka pingsan seketika.
Lu Chen membeku. Ia tidak melihat adanya fluktuasi Qi yang besar, namun serangan itu menghancurkan formasi mereka dengan mudah. "Kau... siapa kau sebenarnya? Kau bukan ahli Inti Emas biasa!"
Shenyuan melangkah maju, setiap langkahnya membuat tanah bergetar. "Aku adalah seseorang yang sudah cukup bersabar dengan kesombongan keluarga Xing dan anjing-anjing pengikutnya. Katakan padaku, Lu Chen, apakah Leluhur Jian Chen masih hidup setelah aku melepaskannya dari makam?"
Mendengar nama leluhur tertingginya disebut dengan nada meremehkan, Lu Chen gemetar hebat. "Kau... kau adalah 'Iblis Makam' yang dibicarakan itu? Pangeran Terbuang?"
"Nama itu sudah tidak ada," sahut Shenyuan. Ia kini berdiri hanya satu meter di depan Lu Chen. Tekanan auranya meledak sejenak—hanya sedikit, namun cukup untuk membuat Lu Chen jatuh berlutut, tulang-tulangnya berderit karena beratnya aura Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir.
"Kembalilah ke sektemu," bisik Shenyuan di telinga Lu Chen. "Katakan pada mereka bahwa Puncak Pedang Patah kini adalah properti Makam Bintang Agung. Jika ada yang berani melangkah ke sini lagi, aku tidak akan hanya menghancurkan pedang mereka, tapi juga jalur kultivasi mereka."
Shenyuan menjentikkan jarinya, dan Lu Chen terlempar menuruni gunung, diikuti oleh teman-temannya yang pingsan oleh aliran angin yang diciptakan Shenyuan.
Di Ibu Kota: Racun yang Merambat
Suara teriakan dan denting pedang terdengar di halaman Istana Pangeran Ketiga. Pangeran Mahkota Xing Jian telah mengirim pasukan "Pemeriksa Keamanan" untuk menggeledah kediaman adiknya, Xing Feng.
Xing Feng berdiri di depan pintunya, matanya berkilat ungu gelap. Ia memegang pedang yang kini diselimuti oleh kabut dingin yang berasal dari energi yang ditanam Su Yan.
"Kakak Tertua sudah keterlaluan!" teriak Xing Feng. "Menggeledah kediamanku tanpa izin Kaisar adalah penghinaan!"
Di sudut gelap koridor istana, Su Yan memperhatikan keributan itu dengan senyum puas. Ia baru saja "secara tidak sengaja" menjatuhkan sebuah surat palsu yang menyatakan bahwa Xing Feng berencana meracuni minuman Kaisar saat perjamuan musim dingin nanti.
"Semakin mereka bertarung, semakin lemah fondasi kekaisaran ini," batin Su Yan. Ia menyentuh Jarum Penebus Jiwa di lengannya. Ia telah menyiapkan langkah berikutnya: memastikan bahwa Kaisar sendiri mulai merasa tidak aman di dalam istananya.
Penutup Bab: Penempaan Ulang
Kembali di Puncak Pedang Patah, Shenyuan duduk bersila di tengah badai salju yang kini semakin ganas. Di depannya, Lentera Abadi melayang, dikelilingi oleh Inti Besi Bintang Jatuh.
Ia mulai membakar logam itu menggunakan api dari inti Dantian-nya yang telah dimurnikan. Proses ini akan memakan waktu beberapa hari.
"Xiaoyue, jaga area ini. Jika ada yang mendekat dalam radius satu mil, jangan ragu untuk menyerang," perintah Shenyuan.
"Baik, Guru!" Xiaoyue duduk di atas sebuah batu besar, menatap ke bawah gunung dengan kewaspadaan penuh.
Shenyuan memejamkan matanya, fokus sepenuhnya pada lenteranya. Ia bisa merasakan bahwa dengan logam baru ini, lenteranya akan mampu memproyeksikan "Wilayah Makam" ke mana pun ia pergi. Ia tidak akan lagi terbatas oleh jarak dari Makam Bintang.
"Ayah... tunggu aku," bisik Shenyuan di tengah deru angin. "Saat lentera ini menyala kembali dengan sempurna, seluruh kekaisaranmu akan berada dalam bayang-bayangku."
Di langit, bintang-bintang tampak berputar lebih cepat, seolah-olah seluruh alam semesta sedang bersiap untuk kelahiran seorang penguasa baru yang lahir dari sisa-sisa kematian.
* Item Diperoleh: Inti Besi Bintang Jatuh, Tebasan Pemutus Takdir (Buff Area).
* Kondisi Ibu Kota: Konflik terbuka antara Pangeran 1 dan Pangeran 3 dimulai.
* Tujuan Berikutnya: Menempa ulang Lentera Abadi dan mencari pintu masuk Lantai Bawah Tanah Ketiga.