NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Batal Cerai

Siang itu suasana di kantor Samudra masih seperti biasa tenang namun sibuk. Beberapa berkas menumpuk di meja kerjanya, menunggu untuk diperiksa dan ditandatangani.

Samudra baru saja selesai menandatangani satu dokumen ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk. Ia melirik layar ponselnya. Dari Mama. Tumben?

Samudra membuka pesan itu tanpa banyak berpikir.

Mama:

Sam, gimana? Kamu sudah ngomong sama Samira kalau kamu mau menceraikannya?

Begitu membaca kalimat itu, tangan Samudra langsung menegang.

Jarinya tanpa sadar meremas ponsel yang ia pegang. Cerai?

Kata itu kembali muncul di kepalanya seperti sesuatu yang tiba-tiba terasa asing.

Beberapa waktu lalu, mungkin ia masih bisa memikirkannya dengan tenang. Bahkan hampir menganggapnya sebagai keputusan yang logis.

Namun sekarang…

Samudra justru merasakan sesuatu yang berbeda. Beberapa hari terakhir ini, ia seperti melihat sisi lain dari kehidupannya sendiri.

Tentang Samira yang selalu yang selalu menjalankan tugas sebagai istri dan ibu yang baik. Tentang Binar yang sudah tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Tentang makan malam sederhana yang justru terasa hangat.

Semua itu berputar di kepalanya. Apakah ia benar-benar sanggup jika harus menceraikan Samira?

Jujur saja… Samudra mulai diliputi kebimbangan. Membayangkan hal itu saja sudah membuat dadanya terasa sesak.

Padahal baru beberapa hari ini ia merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan perasaan memiliki keluarga yang utuh.

Masa iya setelah baru merasakan itu… ia harus menghancurkannya sendiri?

Tidak.

Samudra menggeleng pelan. Pikirannya tiba-tiba melayang ke kemungkinan lain yang membuatnya jauh lebih tidak nyaman.

Bagaimana jika setelah bercerai, Samira menikah lagi dengan laki-laki lain? Laki-laki itu tinggal bersama mereka.

Binar memanggilnya… Ayah.

Sekejap dada Samudra terasa seperti diremas.

“Tidak…,” gumamnya pelan.

Ia bahkan tidak bisa membayangkannya. Bayangan itu saja sudah membuat emosinya naik.

Tidak. Aku tidak mau berbagi Samira dan Binar dengan laki-laki lain.

Samira dan Binar… milikku.

Hanya milikku.

Percakapan dengan orangtuanya beberapa waktu lalu, Samudra merasa begitu yakin dengan sesuatu. Ia mengambil ponselnya lagi. Lalu mengetik balasan dengan cepat.

Samudra:

Sam nggak jadi cerai sama Samira.

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan mengetik.

Samudra:

Sampai kapan pun Samira tetap jadi istri Sam.

Setelah itu ia langsung menekan tombol kirim.

Pesan itu terkirim.

Samudra meletakkan kembali ponselnya di meja. Dadanya masih terasa sedikit berdebar.

Namun di dalam hatinya, ada perasaan yang aneh. Seperti sebuah keputusan yang akhirnya jelas. Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar. Balasan dari ibunya datang dengan cepat.

Mama:

Sam, kamu serius?

Samudra menatap layar itu tanpa langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia mengetik lagi.

Samudra:

Serius.

Beberapa saat tidak ada balasan. Namun tidak lama kemudian, ponsel Samudra kembali bergetar.

Kali ini bukan pesan. Panggilan telepon. Mamanya menelepon. Samudra menatap layar ponselnya beberapa detik.

Ia tahu percakapan ini tidak akan mudah. Namun akhirnya ia mengangkat panggilan itu.

“Assalamualaikum, Ma.”

“Waalaikumsalam,” jawab ibunya dari seberang dengan nada yang terdengar serius.

“Sam, kamu kenapa tiba-tiba berubah pikiran?”

Samudra terdiam sesaat. Tangannya tanpa sadar mengetuk meja perlahan.

“Aku sudah pikirkan baik-baik, Ma,” jawabnya akhirnya.

“Samira tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku yang harus memperbaiki semuanya.”

Di seberang sana ibunya terdengar menghela napas.

“Tapi Sam—”

“Mama dulu yang bilang kalau pernikahan itu harus dijaga, kan?” potong Samudra pelan.

Kalimat itu membuat ibunya terdiam sejenak. Samudra melanjutkan,

“Aku cuma… baru sadar sekarang.”

Suaranya sedikit lebih pelan.

“Samira sudah melakukan banyak hal untuk rumah ini.”

Ia teringat Samira yang selalu bangun lebih pagi dari siapa pun.

Menyiapkan sarapan.

Mengurus Binar.

Menunggu dirinya pulang setiap malam.

Hal-hal kecil yang selama ini tidak pernah benar-benar ia perhatikan.

“Mama cuma nggak mau kamu menyesal nanti,” kata ibunya akhirnya.

Samudra tersenyum tipis.

“Aku justru takut menyesal kalau aku benar-benar menceraikannya.”

Di ujung sana, ibunya kembali terdiam. Beberapa saat kemudian ia berkata dengan nada yang lebih lembut,

“Kalau itu memang keputusan kamu… Mama tidak bisa memaksa.”

Samudra menghela napas lega.

“Terima kasih, Ma.”

Namun sebelum menutup telepon, ibunya berkata lagi,

“Tapi Sam…”

“Iya?”

“Kamu juga harus belajar jadi suami yang lebih baik.”

Kalimat itu membuat Samudra terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum kecil.

“Iya, Ma.”

Setelah telepon ditutup, Samudra menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tatapannya mengarah ke jendela besar di ruang kerjanya. Di dalam kepalanya, hanya ada satu bayangan.

Samira.

@@@

Sementara itu, di rumah orang tua Samudra. Suasana ruang keluarga siang itu cukup tenang. Raka sedang duduk santai di sofa sambil membaca koran, sementara Sinta baru saja meletakkan ponselnya di meja.

Tiba-tiba saja wanita itu melompat kecil dengan wajah yang begitu bahagia.

Melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba seperti itu, Raka sampai menurunkan korannya dan menatapnya dengan heran.

“Kamu kenapa sih, Mah? Kok kelihatan senang banget begitu?” tanya Raka penasaran.

Sinta langsung menoleh kepadanya dengan wajah yang masih berseri-seri.

“Samudra sama Samira nggak jadi cerai, Pah! Mama senang banget dengarnya,” ujar Sinta dengan nada penuh lega.

Raka hanya mengulum senyum tipis mendengar kabar itu. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut. Justru seolah sudah menduga sejak awal.

“Hmm… Papa sudah tahu itu bakal terjadi,” jawabnya santai.

Sinta langsung menatap suaminya dengan alis terangkat.

“Maksud Papa?”

Raka melipat korannya lalu meletakkannya di meja.

“Samudra itu keras kepala, iya. Egois juga kadang,” katanya pelan. “Tapi Papa tahu satu hal.”

Sinta menunggu kelanjutannya.

“Dia nggak akan bisa hidup tanpa Samira.”

Sinta terdiam sejenak. Sebenarnya ia juga menyadari hal itu.

Selama ini Samira selalu ada untuk Samudra mengurus rumah, menjaga Binar, bahkan tetap sabar menghadapi sikap dingin putra mereka.

Tanpa sadar, Samudra memang sudah bergantung pada wanita itu. Hanya saja egonya terlalu besar untuk mengakuinya.

“Papa yakin, Samudra cuma butuh waktu buat sadar,” lanjut Raka.

Sinta tersenyum kecil.

“Iya juga sih,” gumamnya.

Namun beberapa detik kemudian ekspresi Sinta berubah sedikit serius.

“Tapi Mama tetap takut, Pah.”

Raka menoleh.

“Takut kenapa?”

“Takut Samira yang capek.”

Kalimat itu membuat Raka terdiam. Sinta melanjutkan dengan nada pelan,

“Samira itu terlalu sabar. Mama takut kalau suatu hari dia benar-benar lelah menghadapi Samudra.”

Raka menghela napas pelan. Ia memahami maksud istrinya. Kesabaran seseorang memang ada batasnya.

“Makanya,” kata Raka akhirnya, “sekarang tinggal Samudra yang harus berubah.”

Sinta mengangguk pelan. Namun tiba-tiba ia kembali tersenyum.

“Tapi Mama tetap lega. Setidaknya mereka nggak jadi cerai.”

Raka ikut tersenyum tipis.

“Iya. Demi Binar juga.”

Menyebut nama cucu mereka membuat wajah Sinta langsung melembut.

“Binar pasti sedih banget kalau sampai orang tuanya bercerai.”

Raka mengangguk setuju. Beberapa saat kemudian Sinta mengambil ponselnya lagi.

Raka memperhatikannya.

“Mau ngapain lagi?”

“Mau kirim pesan ke Samira.”

Raka mengerutkan kening.

“Ngapain?”

Sinta tersenyum penuh arti.

“Ya sekadar nanya kabar. Sama bilang suruh jadi kesini."

Raka terkekeh kecil.

“Bilang juga Opanya udah kangen sama Bibi, gitu."

Sinta langsung memukul pelan lengan suaminya.

“Siap Opanya Bibi!”

Namun setelah itu ia mengetik pesan di ponselnya. Tak lama kemudian pesan itu terkirim.

Sinta:

Samira, kamu lagi di jemput Bibi, ya? Mama sama Papa kangen Binar. Kalau sempat nanti sore jadi main ke sini, ya.

Setelah mengirim pesan itu, Sinta tersenyum puas. Raka hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.

Di dalam hati, ia sebenarnya berharap hal yang sama. Semoga setelah ini, Samudra benar-benar belajar menghargai istrinya.

Karena perempuan seperti Samira… tidak mudah ditemukan dua kali.

@@@

Pukul dua siang, mobil yang dikendarai Samira melaju pelan di jalan menuju rumah orang tua Samudra. Matahari siang itu terasa cukup terik, namun di dalam mobil suasananya justru hangat.

Sesuai dengan ucapannya semalam, hari ini Samira memang berencana berkunjung ke rumah mertuanya.

Di kursi belakang, Binar duduk dengan sabuk pengaman yang terpasang rapi. Anak kecil itu terlihat memainkan boneka kecil yang ia bawa dari rumah.

Beberapa saat kemudian Binar mengangkat kepalanya dan menatap ibunya dari kaca spion.

“Mama, kita mau ke mana?” tanya Binar penasaran.

Samira tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.

“Kita mau ke rumah Oma, sayang,” jawabnya lembut. “Binar senang nggak kalau main ke rumah Oma dan Opa?”

Mata Binar langsung berbinar.

“Senang!” jawabnya cepat.

“Binar juga kangen sama Oma.”

Samira tertawa kecil.

“Kalau gitu nanti kita main yang lama ya di sana.”

“Iya!” sahut Binar dengan penuh semangat.

Tak lama kemudian mobil Samira mulai memasuki halaman rumah besar milik orang tua Samudra.

Rumah itu sudah sangat familiar bagi Samira. Sejak menikah dengan Samudra, ia cukup sering datang ke tempat itu, meskipun belakangan kunjungan mereka memang tidak terlalu sering.

Samira memarkir mobilnya dengan rapi di halaman. Belum sempat ia turun dari mobil, pintu rumah sudah terbuka dari dalam.

Sinta keluar dengan wajah yang begitu cerah. Begitu melihat mobil Samira, wanita itu langsung tersenyum lebar.

“Bibi!” panggilnya dengan nada penuh rindu.

Pintu mobil belakang segera terbuka. Binar turun dengan langkah kecilnya yang cepat.

“Oma!” serunya senang.

Sinta langsung membuka kedua tangannya, dan Binar segera berlari kecil memeluknya.

“Ya ampun, cucu Oma,” ujar Sinta sambil mencium pipi Binar berkali-kali.

“Bibi kangen nggak sama Oma?”

“Kangen!” jawab Binar dengan suara ceria.

Sementara itu Samira baru saja turun dari kursi pengemudi. Ia berjalan mendekat sambil tersenyum sopan.

“Assalamualaikum, Ma.”

“Waalaikumsalam,” jawab Sinta cepat sambil menoleh padanya.

Sinta kemudian menghampiri Samira dan memegang kedua tangannya dengan hangat.

“Kamu sehat, Samira?”

“Alhamdulillah sehat, Ma.”

“Samudra nggak ikut?” tanya Sinta basa basi padahal ia tahu anaknya pasti masih dikantor.

Samira menggeleng pelan.

“Mas Samudra masih di kantor, Ma. Katanya hari ini agak sibuk.”

“Oh begitu,” gumam Sinta.

Namun senyum di wajahnya tidak memudar.

“Sudah, ayo masuk dulu. Papa juga ada di dalam.”

Binar yang sejak tadi masih menempel pada Sinta langsung menarik tangan neneknya.

“Oma, Binar mau lihat kolam ikan!”

Sinta tertawa kecil.

“Ya sudah, nanti kita lihat sama-sama.”

Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, Raka sedang duduk santai sambil menonton televisi.

Begitu melihat mereka masuk, pria itu langsung mematikan televisinya.

“Loh, cucu Opa datang,” ujarnya dengan senyum lebar.

“Opaaa!” seru Binar sambil berlari kecil ke arahnya.

Raka langsung mengangkat Binar ke dalam pelukannya.

“Wah, sudah besar ya cucu Opa.”

Binar tertawa kecil.

“Binar kemarin makan es krim sama Papa!”

Raka mengangkat alisnya.

“Dengan Papa Samudra?”

Binar mengangguk semangat.

“Iya! Terus makan steak juga.”

Mendengar cerita itu, Raka dan Sinta saling bertukar pandang sebentar. Senyum kecil muncul di wajah mereka.

Samira yang berdiri di dekat mereka hanya tersenyum kecil, tanpa menyadari arti pandangan kedua orang tua Samudra itu.

Raka kemudian menurunkan Binar dari gendongannya.

“Sudah, sana main di taman belakang. Tapi hati-hati ya.”

“Iya, Opa!”

Binar langsung berlari kecil menuju halaman belakang rumah dengan penuh semangat.

Setelah Binar pergi, suasana ruang keluarga tiba-tiba terasa sedikit lebih tenang.

Sinta menoleh pada Samira.

“Ayo duduk dulu, Samira.”

Samira mengangguk lalu duduk di sofa.

Namun baru saja ia duduk, Sinta tiba-tiba berkata pelan,

“Samira… Mama mau tanya sesuatu.”

Samira langsung menoleh dengan sedikit bingung.

“Iya, Ma?”

Sinta menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya,

“Samudra… akhir-akhir ini berubah ya?”

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kaku bener kek kanebo kering😑
Itz_zara: Hahahha biasalah😆
total 1 replies
Sutri Ana
hhmmm manis bangeeet samudra, seneng deh 🥰🥰🥰
Sutri Ana
pokoknya ceritanya seruuu 🥰🥰🥰
Sutri Ana
🥰🥰🥰
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Sutri Ana
samudera belum menyadari cintanya utk Samira 😇😇
Itz_zara: Masih ketutup gengsi dan ketidakpekaan🙏
total 1 replies
Sutri Ana
samudra mmg egonya segede gunung Semeru 😇😄😄
Itz_zara: Kalo Samira sabarnya seluas samudra🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!