NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 kota seribu rasa dan seni mengolah sampah

Ibukota Pusat, Kota Naga Emas, bukan sekadar pusat pemerintahan. Ia adalah kuali raksasa tempat segala budaya, ambisi, dan aroma di benua ini bercampur menjadi satu. Tembok kotanya setinggi seratus meter, dilapisi kuningan yang berkilau di bawah terik matahari, memberikan kesan bahwa kota ini tidak bisa ditembus, baik oleh musuh maupun oleh kemiskinan.

Namun, begitu Han Shuo dan Ying melewati gerbang utama, pemandangan berubah. Ibukota terbagi menjadi beberapa lapisan melingkar. Di pusat adalah Istana Kaisar yang megah, namun di pinggirannya—di Distrik Akar—segala sesuatu terasa kumuh, berisik, dan berbau tajam.

"Selamat datang di tempat di mana harga nyawa lebih murah daripada harga seekor bebek panggang istana," gumam Ying, menarik tudung kepalanya lebih rendah.

Han Shuo tidak menjawab. Penciumannya sedang bekerja lembur. Ia mencium aroma jinten dari barat, minyak wijen dari timur, dan... bau busuk dari tumpukan limbah makanan di sudut jalan.

Bagian 1: Pemerasan di Pasar Bawah

Mereka berjalan menuju Pasar Sayur Pusat untuk mencari informasi tentang pendaftaran Turnamen Koki Dewa. Namun, suasana pasar sedang mencekam.

Seorang kakek tua penjual tahu goreng sedang bersujud di tanah. Keranjang tahunya terguling, isinya hancur terinjak-injak. Di depannya berdiri tiga pria kekar dengan pakaian kumal namun membawa senjata tajam yang berkarat. Pemimpin mereka, seorang pria dengan mata satu yang disebut Liu si Pisau Tumpul, sedang memegang sebuah golok besar yang penuh noda cokelat.

"Kakek tua, sudah kubilang pajak perlindungan minggu ini naik menjadi lima koin perak!" teriak Liu. "Jika kau tidak bisa bayar, maka tanganmu yang akan menjadi pengganti tahu ini!"

"Ampun, Tuan... minggu ini sepi, semua orang menabung untuk menonton turnamen..." rintih si kakek.

Liu mengangkat goloknya. Penonton di sekitar hanya diam, takut ikut campur. Namun, sebelum golok itu turun, sebuah benda melesat di udara.

TING!

Sebuah sumpit kayu menancap tepat di lubang kecil pada mata golok Liu, menghentikan ayunannya dengan kekuatan yang begitu besar hingga lengan Liu bergetar hebat.

"Siapa?!" teriak Liu geram.

Han Shuo melangkah maju, tangannya masih memegang kotak bekal kayu. "Pisau yang berkarat hanya akan merusak tekstur daging. Dan kau... kau bahkan tidak tahu cara memegang pisau dengan benar."

Bagian 2: Tantangan Geng Pisau Karat

"Koki pengelana lagi?" Liu meludah ke tanah. "Kau pikir dengan sedikit sihir sumpit kau bisa pahlawan di sini? Ini wilayah Geng Pisau Karat. Semua bahan makanan yang masuk ke Ibukota harus melewati kami!"

Han Shuo tersenyum tipis. "Oh? Kalau begitu, kalian pasti punya akses ke bahan terbaik. Sayangnya, aku melihat kalian hanya membuang-buang potensi."

Liu tertawa terbahak-bahak. "Begini saja, bocah. Kau ingin menyelamatkan kakek ini? Kita lakukan dengan cara Ibukota. Duel Masak Jalanan. Tapi aku yang menentukan bahannya."

Liu menunjuk ke arah tong sampah besar di belakang restoran mewah "Paviliun Giok" yang ada di seberang jalan. Di sana terdapat kepala ikan yang sudah mulai dihinggapi lalat, batang sayuran yang layu, dan kulit kentang yang kotor.

"Masak sesuatu dari sampah itu. Jika juri—orang-orang pasar ini—mengatakan masakanmu lebih enak dari sup daging sapiku, aku akan melepaskan kakek ini. Jika tidak... kau dan asisten cantikmu itu akan menjadi pelayan di markas kami selamanya."

"Sepakat," kata Han Shuo tanpa ragu.

Bagian 3: Mengolah "Sampah" Menjadi Emas

Ying mendekati Han Shuo, wajahnya cemas. "Bos, itu benar-benar sampah. Tidak ada energi roh di dalamnya. Bagaimana cara memasaknya?"

"Bahan yang dibuang bukan berarti tidak memiliki rasa, Ying. Mereka hanya kehilangan 'semangat'-nya. Tugas koki adalah memanggil kembali semangat itu."

Han Shuo mulai bergerak. Ia mengambil kepala ikan kakap yang sudah pucat, beberapa batang seledri yang layu, dan sisa-sisa kerak nasi dari pembuangan Paviliun Giok.

Penonton mulai berbisik. "Dia benar-benar akan memasak itu? Dia gila."

Liu si Pisau Tumpul mulai memasak dengan sombong. Ia menggunakan daging sapi segar (hasil curiannya) dan rempah-rempah mahal. Aroma sup dagingnya yang kuat mulai menyebar, menggoda perut orang-orang pasar yang kelaparan.

Han Shuo mengaktifkan Mata Wawasan. Ia melihat bahwa di dalam kepala ikan yang "busuk" itu, masih ada kantong kecil kolagen dan sumsum yang kaya akan rasa gurih jika diproses dengan suhu yang tepat.

* Tahap Pembersihan: Han Shuo tidak menggunakan air biasa. Ia menggunakan Qi-nya untuk menggetarkan molekul air, menciptakan efek "Pembersihan Ultrasonik" yang merontokkan semua bakteri dan kotoran dari kepala ikan dalam sekejap.

* Tahap Ekstraksi: Ia menghancurkan kepala ikan itu dengan tangan kosong. KRAK! Lalu ia memasukkannya ke dalam kuali kecil yang sudah ia panaskan dengan Api Jantung Bumi hingga berwarna putih membara.

* Teknik Rahasia: "Kaldu Putih Keabadian".

Han Shuo menambahkan kulit jeruk kering yang ia temukan di tumpukan sampah sebagai penawar bau amis. Ia tidak menggunakan garam, melainkan mengekstraksi rasa asin dari air laut yang tertinggal di pori-pori kulit ikan tersebut.

Tiba-tiba, dari kuali Han Shuo muncul uap berwarna perak kebiruan. Aroma yang keluar bukan lagi bau sampah, melainkan aroma laut yang segar, seperti angin pantai di pagi hari.

Bagian 4: Penilaian Rakyat

Waktu habis. Liu menyajikan semangkuk besar Sup Daging Sapi yang berminyak dan merah.

"Silakan cicipi! Ini adalah rasa kekuasaan!" teriak Liu.

Orang-orang pasar memakannya dengan lahap. Rasa pedas dan gurih dari daging sapi memang sulit ditolak oleh mereka yang jarang makan daging.

Lalu giliran Han Shuo. Ia hanya menyajikan cangkir-cangkir kecil berisi cairan putih pekat yang terlihat seperti susu. Nama masakannya: "Sari Pati Lautan Terlupakan".

Seorang kuli angkut pasar mengambil satu cangkir. Begitu cairan itu menyentuh lidahnya, matanya terbelalak. Ia merasa seolah-olah seluruh kelelahannya setelah memikul beban seharian hilang seketika.

"Ini... ini bukan sekadar sup," gumam kuli itu. "Rasanya sangat murni. Seperti... seperti doa seorang ibu."

Satu per satu orang pasar mulai mencicipi. Keheningan jatuh di seluruh pasar. Sup milik Liu yang tadi terasa enak, sekarang terasa sangat berminyak, berat, dan "kotor" jika dibandingkan dengan kemurnian sup Han Shuo.

"Aku memilih sup putih ini!" teriak seorang anak kecil.

"Aku juga!"

"Ini adalah keajaiban!"

Liu pucat pasi. "Tidak mungkin! Kau menggunakan sihir hitam!"

Ia hendak menyerang Han Shuo dengan goloknya, namun seorang pria tua dengan pakaian pelayan yang rapi keluar dari kerumunan. Pria itu memiliki aura yang sangat kuat—seorang kultivator Inti Emas Puncak.

"Dia tidak menggunakan sihir," suara pria tua itu tenang namun berwibawa. "Dia menggunakan teknik Resonansi Molekul. Dia memurnikan esensi bahan hingga ke tingkat paling dasar. Anak muda, siapa gurumu?"

Liu yang melihat pria tua itu langsung berlutut ketakutan. "Manajer Wei! Apa yang Anda lakukan di sini?"

Manajer Wei adalah pengelola Paviliun Giok, salah satu restoran paling berpengaruh yang dimiliki oleh Keluarga Kekaisaran.

"Aku mencium sesuatu yang lebih hebat dari masakan kepalaku sendiri," kata Manajer Wei, matanya menatap tajam ke arah Han Shuo. "Liu, pergi dari sini sebelum aku melaporkan gengmu ke pengawal kota karena merusak ketenangan pasar."

Liu dan anak buahnya lari terbirit-birit, meninggalkan golok berkarat mereka.

Bagian 5: Undangan ke Langit

Manajer Wei mendekati Han Shuo dan mencicipi sisa sup di kuali. Ia terdiam selama satu menit penuh.

"Luar biasa. Menggunakan Api Jantung Bumi hanya untuk memasak sampah pasar... Kau benar-benar seorang penghina sekaligus jenius," Wei terkekeh. "Kau datang untuk Turnamen Koki Dewa, bukan?"

"Benar," jawab Han Shuo tenang.

"Pendaftaran resmi sudah ditutup tiga hari lalu," kata Wei, membuat Ying terkejut. "Namun... ada jalur khusus. Jalur Penantang Liar. Besok, di alun-alun utama, akan ada tes untuk mereka yang ingin masuk lewat jalur belakang. Kau harus mengalahkan tiga koki istana berturut-turut."

Wei mengeluarkan sebuah koin emas dengan lambang naga yang sedang memegang pisau. "Bawa ini. Ini adalah tiketmu untuk masuk ke gerbang turnamen. Tapi ingat, di sana kau tidak akan memasak untuk rakyat jelata. Kau akan memasak untuk para bangsawan yang lidahnya sudah mati rasa karena kemewahan. Jika kau gagal memuaskan mereka, hukumannya adalah kematian."

Han Shuo menerima koin itu. "Lidah yang mati rasa adalah tantangan terbaik bagi seorang koki."

Wei tersenyum, lalu berbalik dan menghilang di kerumunan.

Malam di Ibukota

Malam itu, Han Shuo dan Ying menginap di sebuah kuil tua yang terbengkalai. Han Shuo duduk bersila, menatap koin emas di tangannya.

Sistem di kepalanya berdenting:

[Misi Baru Terdeteksi: Patahkan Lidah Emas!]

[Tujuan: Memenangkan Tes Penantang Liar dengan skor sempurna.]

[Hadiah: Peningkatan Kontrol Api + Resep 'Nasi Goreng Surgawi'.]

"Bos," panggil Ying sambil membersihkan belatinya. "Pria tua tadi... dia sangat kuat. Dan dia bilang koki istana adalah monster. Apa kau yakin kita siap?"

Han Shuo berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap istana yang bercahaya di kejauhan.

"Kekuatan mereka berasal dari bahan yang mahal, Ying. Kekuatanku berasal dari pemahaman tentang kehidupan. Di dalam kuali, semua orang setara."

Tiba-tiba, sebuah bayangan melesat di atap kuil. Han Shuo merasakannya. Bukan musuh, tapi sebuah surat yang dijatuhkan dengan teknik Qi.

Han Shuo memungut surat itu. Isinya hanya satu kalimat pendek:

"Peramal Agung menunggumu di babak final. Jangan mati sebelum menyajikan hidangan terakhir."

Poin Penting:

* Filosofi Memasak: Han Shuo menunjukkan bahwa teknik (purnifikasi Qi) bisa mengalahkan kualitas bahan mentah. Ini memperkuat posisinya sebagai koki yang "merakyat" namun memiliki teknik "Dewa".

* Dunia Baru: Ibukota diperkenalkan sebagai tempat yang sangat kompetitif dan penuh intrik politik.

* Karakter Baru: Manajer Wei, sosok misterius yang mungkin menjadi sekutu atau juri yang adil di masa depan.

Statistik Han Shuo:

* Kultivasi: Inti Emas 15% (Meningkat setelah memurnikan esensi sampah).

* Alat: Kuali Naga Merah, Pisau Bulan Sabit, Koin Naga Emas.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!