Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Basket Putri
Suasana di meja kantin yang ditempati geng Norah terasa lebih berat dari biasanya. Revelyn sedang asyik mengunyah Truffle Fries pesanannya, sesekali mencocolnya ke saus keju dengan gaya elegan namun acuh tak acuh.
"Norah... Kamu kenapa sih? Tidak seperti biasanya?" tanya Revelyn sambil terus mengunyah. "Apa kamu sedang tidak enak badan? Kamu diam saja dari tadi."
"Gak apa, Rev..." jawab Norah pendek. Pikirannya masih melayang pada kejadian semalam di rumahnya dan bagaimana ibunya menatap Greta.
Tiba-tiba Zev, salah satu anggota tim basket yang duduk tak jauh dari mereka, menyela sambil memutar-mutar kunci lokernya. "Heh, itu di kelas kalian ada cowok baru ya? Nanti ada pertandingan basket, lumayan nih kalau direkrut."
"Siapa?" tanya Revelyn, mulai tertarik.
"Itu loh... yang tinggi... lebih tinggi dari Luca," jawab Zev sambil memberikan gestur tangan yang menggambarkan tinggi badan di atas rata-rata.
"Oh... Leon Weiss?" Revelyn memutar bola matanya, tampak tidak terlalu antusias. "Ah, dia gak asik. Awalnya aku mau incar dia buat jadi gebetan sih, tapi tingkahnya agak aneh... apalagi kalau sudah menyangkut Greta. Kayaknya dia terlalu memerhatikan si 'Tikus kecil' itu."
Norah yang mendengar nama Greta disebut lagi hanya terdiam, jarinya mengaduk-aduk minumannya tanpa minat.
"Ya gak apa-apalah... suka kali dia sama Greta?" Zev terkekeh, tidak menyadari ketegangan di antara para gadis itu. "Tapi serius, kita lagi kurang orang jago nih. Pertandingan nanti gak main-main soalnya. Aku lihat-lihat sih badannya kelihatan kuat banget, tinggi juga... dan cakep," ledek Zev ke arah Revelyn sambil menaik-turunkan alisnya.
Revelyn hanya mendengus, namun matanya diam-diam melirik ke arah Leon yang sedang berjalan sendirian di koridor kantin. Sementara itu, Norah merasa semakin terpojok. Leon yang misterius dan Luca yang protektif—kenapa semua perhatian pria di sekolah ini seolah tersedot ke arah Greta?.
"Kalian juga loh... Sebentar lagi ada pertandingan lawan St. George's School, kalian sudah pada persiapan belum?" ucap Zev mengingatkan. St. George's adalah rival abadi mereka di Vancouver, dan pertandingan ini selalu menjadi sorotan besar.
Revelyn terdiam sejenak, matanya berkilat licik. Ia meletakkan garpunya perlahan. "Zev, idemu bagus juga...!"
Zev memandang bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hah? Ide yang mana?"
Revelyn tidak memedulikan Zev dan langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Norah. "Norah... bagaimana kalau kita ajak Greta masuk ke tim basket putri sekolah kita? Dengan begitu, Luca dan Leon gak akan bisa ikut campur di lapangan! Dia akan berada di bawah kendali kita selama latihan."
"Hey... hey... tapi bantuin bujuk Leon dong buat masuk tim basket putra juga. Kita butuh tinggi badannya," sela Zev, masih berusaha memperjuangkan kebutuhan timnya.
Plakk! Revelyn memukul lengan Zev dengan kipasnya. "Diam dulu, Zev! Kalau Greta masuk tim putri, Leon pasti bakal tertarik buat gabung tim putra supaya bisa sering lihat dia. Itu satu paket!"
Revelyn kembali menatap Norah dengan ambisius. "Bagaimana, Norah? Bayangkan kita bisa memberi dia 'latihan fisik' yang sangat berat dengan alasan disiplin atlet. Dia tidak akan bisa mengadu pada siapapun karena ini urusan tim."
Norah hanya melihat minumannya dengan tatapan kosong, seolah beban pikirannya tentang rahasia Ibunya semalam belum hilang. "Terserah kamu, Rev... aku ikut saja," jawabnya pelan.
"Yeahh! Oke nanti kita ajak dia, harus sampai dapat!" ucap Revelyn penuh semangat sambil membayangkan Greta yang kelelahan berlari di lapangan di bawah perintahnya.
Bel masuk berbunyi nyaring, memanggil seluruh siswa untuk kembali ke rutinitas pelajaran. Greta sudah duduk rapi di bangkunya, mencoba menenangkan diri setelah kejadian di kantin tadi. Ia menoleh ke samping, bangku Luca masih kosong—sepertinya pemuda itu masih tertahan di lapangan basket atau sengaja membolos beberapa menit awal.
Norah dan Revelyn melangkah masuk ke kelas dengan ritme kaki yang sengaja dibuat kompak. Begitu melihat sosok Greta yang duduk sendirian tanpa tamengnya, mata Revelyn berkilat.
"Kesempatan emas, Norah... Luca belum datang... Ayoo!" bisik Revelyn penuh semangat. Ia menarik lengan Norah, memaksa sahabatnya itu mengikuti langkahnya menuju meja belakang.
Greta yang sedang merapikan alat tulisnya langsung tersentak. Ia memasang muka takut, bahunya menciut saat melihat dua gadis paling berkuasa di kelas itu berdiri di hadapannya.
"Halo... Greta..." ucap Revelyn dengan nada manis yang dibuat-buat, lalu tanpa permisi langsung duduk di kursi kosong tepat di sampingnya.
"I... iya Revelyn, ada apa...?" tanya Greta gugup, jemarinya meremas pinggiran buku catatannya.
"Begini... jadi kita kekurangan orang untuk tim basket putri sekolah. Gimana kalau kamu ikut? Yaa... mau ya!" ucap Revelyn sambil tiba-tiba merangkul lengan Greta dengan akrab, seolah mereka adalah sahabat karib.
Greta meringis pelan, merasa tidak nyaman dengan kontak fisik yang tiba-tiba itu. "Ah... ta... tapi kalian tahu kan... aku kemarin tidak bisa memasukkan bola sama sekali..." ucap Greta berusaha menolak secara halus, teringat kejadian memalukan saat olahraga sebelumnya.
"Justru itu, kita akan melatihmu, Greta," Norah menyela dengan suara dingin, berdiri di sisi lain meja sehingga Greta merasa terkepung.
Di bangku seberang, Leon Weiss tampak tenang dengan posisi duduk yang santai. Ia memegang sebuah buku komik di depan wajahnya, namun matanya sama sekali tidak bergerak membaca barisan kata di sana. Ia diam-diam mendengarkan setiap intonasi ketakutan Greta dan nada memaksa dari Revelyn. Leon melirik tipis dari balik komiknya, memperhatikan bagaimana tangan Revelyn mencengkeram lengan Greta sedikit terlalu kuat.
"Ayolah, jangan menolak. Ini perintah dari kapten tim, lho," tekan Revelyn lagi sambil tersenyum lebar, namun matanya tidak ikut tersenyum.
Greta masih terdiam membeku. Ia bisa merasakan aura licik yang memancar dari senyuman Revelyn. Di dalam kepalanya, ia membayangkan lapangan basket yang luas akan menjadi tempat penyiksaan baru baginya tanpa ada orang yang bisa menolong.
"Mau ya, Greta... Latihannya nggak capek kok... Paling lari-lari aja sebentar," bujuk Revelyn dengan nada yang terdengar sangat tulus, padahal ia sudah membayangkan Greta yang pingsan kelelahan. Revelyn langsung mengeluarkan selembar kertas formulir dari balik bukunya. "Tanda tangan di sini, Greta... nanti bagian lainnya biar aku saja yang isi!"
Greta tetap bergeming, matanya menatap nanar pada kertas itu. Merasa ajakannya tidak segera direspon, Revelyn menyenggol lengan Norah dan menarik ujung bajunya, memberi kode agar Norah membantunya.
Norah menghela napas panjang, tampak sedikit enggan namun akhirnya ia menatap Greta dengan tajam. "Greta... kalau kamu nggak tanda tangan... nanti aku laporin ke ibuku, ya?"
Mendengar nama Ibu Norah, raut muka Greta seketika berubah pucat pasi. Ketakutannya terhadap rahasia masa lalunya dan kekuasaan keluarga Norah jauh lebih besar daripada rasa lelah bermain basket. Tanpa sepatah kata pun, tangan Greta yang gemetar langsung menyambar pulpen miliknya dan membubuhkan tanda tangan di formulir itu.
"Yeahh! Greta keren banget! Nanti kita kabarin lebih lanjut ya jadwalnya!" seru Revelyn penuh kemenangan sambil menyambar kembali kertas itu.
Di seberang ruangan, Leon Weiss yang sejak tadi menyembunyikan wajah di balik komik, tampak mengerutkan dahi sedalam-dalamnya. Kenapa Greta tiba-tiba sekali takut dengan ibu Norah? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? pikir Leon. Ia mulai menyadari bahwa ancaman terhadap Greta bukan sekadar perundungan biasa, tapi ada sesuatu yang lebih gelap yang melibatkan keluarga Norah.
Tepat saat Revelyn sedang merayakan keberhasilannya, pintu kelas terbuka dengan dentuman pelan. Luca Blight melangkah masuk dengan tangan di saku celana, auranya yang dingin langsung memenuhi ruangan.
Revelyn yang melihat kedatangan Luca langsung tersentak kaget. Ia segera menarik lengan Norah dengan terburu-buru. "Ayo Norah, balik ke tempat duduk!" bisiknya panik. Mereka berdua setengah berlari kembali ke bangku mereka di kejauhan sebelum Luca sempat menyadari apa yang baru saja mereka lakukan pada Greta.
Luca berjalan perlahan menuju bangkunya, namun matanya langsung tertuju pada Greta yang masih memegang pulpen dengan tangan gemetar dan tatapan kosong.
Luca menghempaskan tasnya ke atas meja dengan kasar, membuat Greta sedikit tersentak. Ia menoleh tajam ke arah Revelyn dan Norah yang di kejauhan tampak sibuk sendiri—berpura-pura membaca buku namun sesekali melirik dengan wajah salting (salah tingkah).
"Apa yang mereka berdua lakukan kali ini, Greta?" tanya Luca penasaran, suaranya rendah namun penuh selidik.
"Mereka mengajakku untuk bergabung tim basket sekolah putri..." jawab Greta pelan, matanya tidak berani menatap Luca.
"Lalu...? Kamu gak mau kan?" sahut Luca cepat. Ia tahu betul Greta tidak suka menjadi pusat perhatian, apalagi berolahraga berat.
"A... aku terpaksa... mau, Luca..." ucap Greta dengan nada pasrah.
"Kenapa??" Luca bertanya dengan raut kaget sekaligus tidak percaya.
Greta menunduk, meremas ujung roknya. "Jika Norah membawa orang tuanya, aku gak bisa berbuat apa-apa..."
Mendengar alasan itu, rahang Luca mengeras. Ia mengepalkan tangannya di atas meja. "Sialan... Norah itu... selalu menggunakan kekuatan keluarganya untuk menekan orang lain."
Luca kemudian terdiam sejenak, memikirkan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan. Di Jarvis Academy, peraturan klub olahraga sangat ketat. "Tempat latihan basket putri dan putra itu berbeda gedung, Greta. Dan tidak ada cowok yang bisa masuk ke sana sama sekali saat latihan berlangsung, bahkan guru pria pun dilarang masuk. Bagaimana jika mereka melakukan hal-hal aneh kepadamu di dalam sana?"
Greta hanya bisa terdiam, ketakutan yang sama juga menghantuinya. Tanpa perlindungan Luca di dalam gedung olahraga putri, ia akan menjadi sasaran empuk bagi Revelyn dan Norah.
Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan berakhirnya penderitaan di dalam kelas, namun awal dari kecemasan baru bagi Greta. Ia dan Clara berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, melewati koridor yang mulai ramai oleh siswa yang ingin segera pulang.
"Dasar Norah dan Revelyn...!" ucap Clara dengan nada tinggi, wajahnya memerah kesal setelah mendengar seluruh cerita Greta tentang paksaan masuk tim basket tadi. "Mereka benar-benar licik! Memanfaatkan kelemahanmu dengan membawa-bawa nama orang tua itu benar-benar rendah!"
Clara kemudian menghela napas panjang sambil melihat tubuhnya sendiri. "Maaf ya Greta, aku tidak bisa menemanimu masuk tim basket... Kau lihat badanku ini? Mungkin aku harus diet besar-besaran agar badanku bisa langsing seperti Norah dan Revelyn baru bisa lolos seleksi."
Greta tertawa kecil, suara tawanya terdengar lebih tulus kali ini. Ia merangkul lengan sahabatnya itu dengan erat. "Tidak apa-apa Clara... Kamu jangan diet ya. Kamu sudah lucu seperti itu..."
"Lucu? Maksudmu aku seperti badut yang bulat begitu?" jawab Clara sambil mengerucutkan bibirnya, berpura-pura tersinggung.
"B... bukan! Maksudku panda... Iya, panda! Panda kan sangat lucu dan disukai semua orang, Clara," ralat Greta cepat dengan wajah polos yang menggemaskan.
Melihat ekspresi jujur Greta, kekesalan Clara langsung luntur. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak gemas. "Duh, kau ini! Kenapa bisa ada gadis semanis ini sih?" ucap Clara sambil mencubit kedua pipi Greta dengan gemas hingga wajah Greta sedikit tertarik.
Langkah mereka terhenti tepat di depan halte bus yang mulai dipadati siswa. Angin sore Vancouver berhembus pelan, memainkan helai rambut keduanya. Greta melirik jam tangannya, menyadari bahwa waktu kebebasannya sebagai "Greta" di sekolah akan segera berganti dengan bayang-bayang identitas aslinya.
"Greta, busku sudah datang!" seru Clara sambil menunjuk bus kota yang perlahan menepi dengan suara deru mesin yang berat.
Clara berbalik, memberikan pelukan singkat namun hangat kepada sahabatnya itu. "Ingat ya, jangan terlalu dipikirkan soal tim basket atau si Revelyn itu. Dan kalau ada apa-apa, langsung telepon aku, oke? Kamu kan sudah punya ponsel 'Pangeran' sekarang!" goda Clara sambil mengedipkan sebelah mata.
Greta hanya bisa tersenyum simpul, mencoba menutupi rasa canggung yang masih tersisa. "Iya, Clara. Hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa besok."
"Sampai jumpa besok, Panda!" teriak Clara ceria dari pintu bus yang terbuka, sambil melambaikan tangan dengan penuh semangat sebelum akhirnya menghilang di balik pintu yang tertutup.
Greta berdiri mematung di pinggir trotoar, terus melambaikan tangan sampai bus itu menjauh dan hilang di belokan jalan. Begitu sosok Clara benar-benar hilang dari pandangan, senyum di wajah Greta perlahan luntur, digantikan oleh tatapan yang menyimpan beban berat.
Ia menghela napas panjang, merogoh saku kemejanya dan menyentuh permukaan dingin ponsel pemberian Eleanor. Di tengah keramaian halte yang dipenuhi tawa siswa lain, Greta merasa dunianya mendadak sunyi.
oke lanjut thor.. seru ceita nya