Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.
Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.
Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.
Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁
Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Harus Di Operasi.
Nyonya Dinata menangis dalam dekapan Andrea. Mereka kini tengah berada di salah satu rumah sakit, tempat dimana Audrey biasa melakukan pemeriksaan.
Sudah hampir satu jam Audrey berada di dalam ruang IGD, namun pintu ruangan itu belum juga terbuka.
“Ya, Tuhan. Tolong lindungi putriku.”
Tak henti nyonya Dinata memanjatkan doa, berharap sang pemilik hidup berbaik hati memberikan keajaibannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, ma?”
Arthur yang sedari tadi berdiri memandangi pintu ruang IGD, kini mendekat ke arah sang mama yang sedang duduk di atas kursi besi bersama Andrea.
Sang mama bukannya menjawab, namun semakin terisak.
“Rea.”
Pria itu menatap gadis yang sedang memeluk sang mama.
“Katakan apa yang terjadi.”
Andrea menelan ludahnya kasar. Tatapan Arthur begitu menikam, seakan mengulitinya hidup-hidup.
“Tu-tuan, itu tadi aku sedang menyiram bunga, tiba-tiba nona berbicara dan memanggil namaku.”
Andrea kemudian menceritakan apa saja yang di katakan Audrey kepadanya.
“Kamu yakin?” Arthur tak lantas percaya dengan ucapan gadis yang telah merawat sang adik selama tiga bulan terakhir ini.
Sebelum Andrea kembali bersuara, nyonya Dinata terlebih dulu menjawab pertanyaan sang putra.
“Yang di katakan Rea benar adanya, Arth. Audrey bahkan meminta Andrea berjanji di hadapan mama.”
“Apa Audrey bisa bicara sepanjang itu?” Arthur masih belum percaya.
“Mama juga terkejut, Arth, tetapi itulah kenyataannya. Mama seperti merasa jika diamnya adikmu selama ini, bukan karena sakit, tetapi dia menyimpan kesedihannya sendirian.”
Tangis nyonya Dinata kembali pecah. Ia membayangkan bagaimana selama ini sang putri menahan sakit hatinya. Tanpa mau orang lain tau.
“Arth, mama yakin adikmu, selama ini adikmu menyimpan ketakutannya sendiri. Dia takut jika tidak ada yang akan menerima anaknya setelah lahir nanti.”
Andrea kembali mendekap tubuh sang nyonya dari samping. Ia melihat begitu besar kasih sayang seorang ibu pada diri majikannya itu. Kasih sayang yang sudah lama ia rindukan, ibu dan ayahnya meninggal dalam kecelakaan tiga tahun lalu.
Arthur menarik dan membuang nafasnya kasar. Ia pun ikut mengambil tempat di samping sang mama.
“Maafkan aku, ma. Andai aku tidak lalai dalam menjaga Audrey, semua ini tidak akan terjadi.”
Sungguh Arthur sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa tidak becus menjaga sang adik.
Nyonya Dinata beralih mendekap sang putra.
“Kita berdoa saja, Arth. Semoga Tuhan bermurah hati memberikan keajaibannya pada Audrey.”
“Andai aku bisa menggantikan posisi Audrey, ma. Ingin rasanya aku berada di dalam sana.”
Cairan bening ikut menetes dari manik mata pria tampan itu. Ia bukan pria lemah, namun semenjak adiknya membisu, tanpa disadari Arthur berubah menjadi pria lemah. Ia sering menangis jika mengingat nasib sang adik.
Lama ketiganya larut dalam kesedihan, tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka. Seorang suster meminta salah satu keluarga pasien untuk masuk, dan berbicara dengan dokter.
Arthur pun bergegas, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan sang adik.
“Kami harus segera melakukan tindakan operasi, pak. Agar bayi dalam kandungan nona Audrey dapat diselamatkan.” Ucap dokter kandungan yang selama ini menangani Audrey.
“Tolong lakukan yang terbaik, dok. Aku ingin, mereka berdua selamat.” Ucap Arthur sembari menatap sang adik yang terbujur lemah tak berdaya di atas bangkar.
“Kami akan mengusahakan yang terbaik, pak. Dan untuk hasil akhir, kita semua hanya bisa berdoa. Hanya Tuhan yang menentukan semuanya.”
Arthur menganggukkan kepalanya. Pandangan pria itu tak lepas dari Audrey.
“Silahkan ikut dengan suster untuk menandatangani beberapa prosedur, pak.”
“Baiklah, dok. Aku titipkan adikku padamu.”
Arthur mengikuti suster keluar dari ruang IGD untuk menandatangani beberapa berkas, dan mengurus administrasi.
“Arth., bagaimana?”
Tanya sang mama saat melihat Arthur keluar ruangan.
“Aku harus mengurus administrasi dulu, ma. Nanti kita bicara.”
Pria itu melangkah pergi, tanpa menunggu jawaban sang mama. Di benaknya hanya satu, sang adik cepat mendapatkan penanganan.
Beberapa saat berlalu, Arthur pun kembali. Disusul dua orang perawat.
Tak lama kemudian, pintu ruang IGD kembali terbuka. Nampak dua orang perawat tadi, mendorong tempat tidur yang di tempati oleh Audrey.
“Arth, Audrey mau di bawa kemana?”
Nyonya Dinata panik.
“Audrey akan di operasi, ma.”
Wanita paruh baya itu tersentak. Ia menggeleng tak percaya. Tubuhnya sedikit limbung, untung saja Andrea dengan sigap menyanggahnya.
“Tapi, Arth.”
“Kita harus menyelamatkan bayinya, ma.”
Arthur pun mengajak sang mama dan Andrea mengikuti kemana suster membawa tubuh Audrey.
“Duduklah, ma.” Pria itu menuntun sang mama agar kembali duduk. Kini mereka telah berada di depan ruang operasi.
Arthur melirik arloji mahal yang melingkari pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
“Ma, sebaiknya mama dan Rea pergi makan malam dulu. Biar aku menunggu Audrey disini.”
Ucap Arthur dengan berjongkok di hadapan sang mama.
Namun, wanita paruh baya itu menolak. Ia tidak mau sedetik pun meninggalkan sang putri.
“Rea, tolong belikan sesuatu untuk mama.”
Arthur bangkit dan merogoh saku. Ia keluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribu. Lalu menyerahkan pada Andrea.
“Belikan juga untukku dan untukmu.”
Andrea mengangguk. Ia kemudian pergi ke kantin rumah sakit.
Hampir dua puluh menit, Andrea kembali dengan membawa dua kantong plastik.
“Tuan.” Ia menyerahkan satu kantong yang lebih besar kepada Arthur.
“Terima kasih.”
Pria itu melihat, ada roti dan juga air mineral di dalam kantong plastik.
Arthur membukakan air mineral itu untuk sang mama.
“Minumlah sedikit, ma.”
Nyonya Dinata mengangguk dan menerima pemberian sang putra.
Satu jam berlalu, sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi.
Nyonya Dinata dan Andrea saling pandang, mereka pun mengucap syukur bersama.
“Arth.”
Wanita paruh baya itu mengusap lengan sang putra. Pria tampan duduk bersandar, sembari memejamkan matanya.
“Iya, ma?”
“Anak Audrey sudah lahir.”
Arthur seketika menegakkan tubuhnya.
“Benarkah?”
Nyonya Dinata mengangguk. Mereka kemudian saling memeluk.
“Percaya padaku, ma. Audrey dan bayinya pasti akan baik-baik saja.”
Tak berselang lama, pintu ruang operasi terbuka. Seorang suster keluar dengan menggendong seorang bayi.
“Sus, mau di bawa kemana bayi itu?” Tanya Arthur mendekat.
“Adik bayinya harus di letakkan di dalam inkubator, pak.”
Tanpa menunggu jawaban Arthur, suster itu berlalu begitu saja. Bagaimana pun, keadaan bayi itu lebih penting.
“Mama dan Rea tunggu disini.”
Arthur mengikuti langkah suster itu. Ia sudah berjanji kepada sang adik akan menjaga anaknya. Arthur tak ingin kecolongan lagi. Ia tidak mau terjadi hal buruk dengan bayi itu. Tak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Sebisa mungkin, Arthur akan melakukan yang terbaik untuk keponakannya.
“Meski aku sangat membenci pria bejat yang telah melecehkan adikku, hingga membuatnya depresi, tetapi aku tidak akan membencimu, nak. Kamu tidak bersalah. Bukan ingin mu untuk hadir di dunia ini.”
.
.
Bersambung
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an