Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Nasi Goreng dan Pengakuan di Bawah Bintang
Mobil Aston Martin abu-abu metalik itu melesat membelah jalanan Sudirman yang mulai lengang. Tidak ada supir, tidak ada bodyguard. Hanya ada Damian di balik kemudi dan Kara di kursi penumpang.
Hening. Tapi bukan keheningan canggung seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ini keheningan yang nyaman.
Kara membuka jendela mobil sedikit, membiarkan angin malam Jakarta menerpa wajahnya yang masih full make-up. Dia menghela napas panjang, melepaskan sisa-sisa ketegangan.
"Puas?" tanya Damian tanpa menoleh, matanya fokus ke jalan tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Kara menoleh, lalu tertawa kecil. "Puas banget. Kamu liat muka Rio tadi? Kayak orang liat hantu. Dan Clarissa... aku yakin dia lagi packing koper sambil nangis sekarang."
"Mereka pantas mendapatkannya," jawab Damian santai. "Jadi, Nona CEO, kita mau rayakan kemenangan ini di mana? Restoran Prancis? Omakase Jepang?"
Kara perutnya berbunyi. Kruyuk.
Dia memegang perutnya malu. Seharian ini dia belum makan karena stress menyiapkan konferensi pers.
"Jujur, Dam. Aku lagi nggak pengen makanan mahal yang porsinya seuprit," kata Kara. "Aku pengen yang berminyak, pedes, banyak kerupuknya, dan dimasak pake wajan item gosong."
Damian menaikkan alisnya. "Jangan bilang kamu mau..."
"Nasi Goreng Tek-tek Pak Dul. Di Fatmawati. Itu langganan aku waktu masih jadi istri Rio—eh, maksudnya waktu masih susah."
Damian menghela napas pasrah, tapi dia memutar setirnya. "Oke. Asal kamu janji nggak bakal sakit perut besoknya. Kalau CEO Anindita sakit perut, IHSG bisa goyang."
Kara tertawa lepas. Tawa yang sangat renyah dan bahagia.
Warung Tenda Nasi Goreng Pak Dul.
Pemandangan itu cukup absurd.
Sebuah supercar seharga miliaran parkir di sebelah gerobak nasi goreng. Dua orang manusia dengan pakaian pesta—Kara dengan gaun elegan dan Damian dengan tuksedo Armani—duduk di bangku plastik warna biru yang agak reyot.
"Nasi goreng gila dua, Pak. Pedesnya level setan," pesan Kara semangat.
"Siap, Neng! Waduh, tumben bawa pacar ganteng bener. Mobilnya juga kinclong," goda Pak Dul sambil mengoseng nasi dengan bunyi teng-teng-teng yang khas.
Damian tampak sedikit out of place. Dia mengelap sendoknya dengan tisu basah berkali-kali.
"Tenang aja, Pak CEO. Kuman di sini ramah-ramah kok," ledek Kara.
Tak lama, dua piring nasi goreng mengepul tersaji di meja yang dilapisi terpal plastik. Aromanya... surga dunia.
Damian mencoba satu suap dengan ragu. Dia mengunyah pelan. Matanya membesar sedikit.
"Enak," gumamnya.
"Kan aku bilang apa," Kara menyantap makanannya dengan lahap. Tidak ada jaim (jaga image). Dia makan seperti orang kelaparan.
Damian berhenti makan. Dia justru asyik memandangi Kara.
Wanita ini... sejam yang lalu dia menghancurkan hidup mantan suaminya dengan dingin di TV nasional. Sekarang, dia makan nasi goreng pinggir jalan dengan mulut belepotan kecap, terlihat sangat manusiawi dan menggemaskan.
"Kenapa liatin aku gitu?" tanya Kara, sadar diperhatikan.
Damian mengambil tisu, lalu membersihkan sudut bibir Kara. Gerakannya lembut.
"Nggak apa-apa. Cuma mikir... Rio bener-bener bodoh melepaskan wanita yang bisa diajak susah dan seneng kayak kamu."
Kara terdiam. Dia meletakkan sendoknya. Suasana mendadak serius.
"Dam," panggil Kara pelan.
"Hm?"
"Soal di panggung tadi..." Kara menatap mata Damian lekat-lekat. "Ucapan kamu. 'Wanita yang saya cintai'. Itu... itu cuma script buat bikin media heboh, kan? Biar saham kita naik?"
Damian meletakkan sendoknya. Dia meminum teh manis hangatnya sejenak, lalu menatap Kara.
"Kara," suara Damian rendah dan deep. "Saya pebisnis. Saya sering bohong soal angka, soal strategi, soal negosiasi. Tapi ada satu hal yang pantang saya jadikan mainan."
"Apa?"
"Perasaan saya sendiri."
Damian mengeluarkan dompetnya, menaruh lembaran uang seratus ribu di meja (tanpa minta kembalian), lalu berdiri.
"Ayo ikut aku sebentar."
Mereka tidak langsung pulang. Damian memarkirkan mobilnya di sebuah area agak tinggi di daerah selatan Jakarta, di mana kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit terlihat indah di kejauhan.
Mereka duduk di kap mesin mobil Aston Martin yang hangat. Langit malam ini cerah setelah badai beberapa hari lalu. Bintang-bintang terlihat samar.
"Aku serius, Ra," ucap Damian, memecah keheningan. Dia tidak menatap Kara, tapi menatap langit.
"Awalnya aku cuma penasaran. Siapa sih janda Anindita yang viral ini? Pas ketemu di pesta, aku kira kamu cuma anak manja yang sombong. Tapi pas kita kejebak badai di Bali... pas aku liat kamu nangis kemarin malem karena dihujat..."
Damian menoleh ke Kara.
"Aku sadar, kamu itu petarung. Kamu kuat, tapi kamu juga butuh tempat buat istirahat. Dan aku... aku pengen jadi tempat itu."
Jantung Kara berdegup kencang. Ini bukan gombalan Rio yang penuh janji manis palsu. Ini adalah pernyataan dari pria dewasa yang tahu apa yang dia mau.
"Tapi aku janda, Dam. Reputasiku cacat. Masa laluku rumit," Kara menunduk, insecurity-nya muncul.
Damian meraih dagu Kara, memaksanya mendongak.
"Aku nggak peduli masa lalu kamu. Yang aku peduliin masa depan kita."
"Jadi, Kara Anindita..." Damian menatap bibir Kara, lalu kembali ke matanya. "Maukah kamu kasih kesempatan buat pria kaku dan dingin ini buat bahagiain kamu? Dengan cara yang bener?"
Mata Kara berkaca-kaca. Dia tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah dia berikan pada laki-laki.
"Pria kaku ini ternyata jago gombal juga ya," bisik Kara.
"Itu artinya iya?"
"Iya, Pak CEO."
Damian tersenyum lega. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya. Kara memejamkan mata, membiarkan aroma woody Damian memenuhi rongga napasnya.
Bibir mereka bertemu.
Lembut. Hangat. Manis.
Ciuman itu tidak terburu-buru. Itu adalah ciuman pengesahan. Ciuman yang menghapus semua jejak rasa sakit dari bibir Kara yang pernah disia-siakan Rio.
Di bawah langit Jakarta, di atas kap mobil mewah, dan dengan perut kenyang nasi goreng, Kara Anindita akhirnya menemukan "Rumah"-nya yang sesungguhnya.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏