Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceni Tak Memiliki Ranah Kultivasi
"Gak salah nih, kakek kamu mengangkat ayahmu menjadi wakil nya.?" Ucap Ceni tak habis pikir.
"Sebenarnya itu adalah karena paksaan ibu, dulu ibu sangat mencintai ayah tapi keluarga ibu semua menentang nya sebab mereka pikir ayah tidak lah cocok dengan ibu, tapi ibuku bersikeras untuk di nikahkan dengan ayah, mau tidak mau kakek dengan terpaksa menuruti keinginan ibu, setelah menikah kakek pun mengangkat Ayah menjadi wakil nya supaya derajat keluarga ayah terangkat dan terbukti berkat dukungan keluarga pihak ibu, keluarga Ying berhasil memanjat kesetaraan menjadi bangsawan, itu hanya karena kakek tidak mau putri kesayangan nya hidup melarat dan menderita di keluarga yg pas-pasan itu." Ucap Ying Zu.
"Lalu dimana kakek mu sekarang.?" Tanya Ceni.
"Kediaman keluarga jenderal berada di sayap kiri tak jauh dari kediaman panglima perang, sebab kaisar masih lah kerabat dekat kakek lebih tepat nya saudara kakek, kami jarang berkunjung sebab ibu melarang, karena kalau sudah berada di sana aku Pasti akan mengadu pada kakek tentang penderitaan ibu , karena niat ku sudah di ketahui ibu maka dari itulah ibu tak pernah mengunjungi kakek dan nenek, setiap kakek dan nenek ingin berkunjung, ibu pasti mencari alasan dengan dalih ada kegiatan atau menghadiri pesta, tapi nenek tau itu semua hanya akal-akalan ibu saja tidak ingin bertemu keluarga nya, maka dari itu lah nenek dan kakek tidak pernah lagi menghubungi ibu lewat surat, karena kakek dan nenek pikir ibu tidak ingin di ganggu." Ucap Ying Zu panjang lebar.
"Ying Zu, ibu mu naif sekali, sudah di sakiti masih bertahan, tapi apa rencana mu sekarang,? Tak mungkin kan kau diam saja setelah apa yg mereka lakukan padamu.?" Ucap Ceni tak habis pikir.
"Kali ini aku akan membalas mereka, sekarang tujuan ku bukan lagi kediaman Ying, tapi kediaman kakek dan nenek di istana." Ucap Ying Zu menggebu-gebu.
"Bagus Ying Zu, aku dukung keinginan mu, di karena kan aku tidak punya tujuan, aku akan membantu mu kali ini." Ucap Ceni tersenyum.
"Terimakasih nona, andai saja nona tidak ada pasti aku sudah mati dengan hina di tangan para bandit itu." Ucap Ying Zu bersukur.
"Sama-sama Ying Zu, anggap saja aku sahabat mu di dunia ini." Ucap Ceni menepuk pelan bahu Ying Zu.
.
Setelah cukup lama kedua gadis beda usia itu beristirahat kini mereka hendak melanjutkan kembali perjalanan mereka yg tertunda, di karena kan letak istana kekaisaran sangat jauh dari jarak mereka saat ini yg bahkan bisa memakan waktu berhari-hari lama nya, jadi mereka pun tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
"Tapi sebelum itu kita menuju sungai terlebih dahulu, lihat lah dirimu itu Ying Zu, pakaian mu bahkan tak layak pakai." Ucap Ceni.
Ying Zu pun melihat penampilan nya saat ini dengan pakaian yg penuh robekan sana sini akibat sabetan pedang, sanggul rambut yg tadi nya rapi kini sudah seperti singa.
"Tapi dengan apa aku akan mengganti nya, barang-barang ku bahkan aku tak tau ada di mana, aku sendiri tak punya uang sama sekali." Gumam Ying Zu prihatin pada diri nya sendiri.
Gumaman Ying Zu pun dapat Ceni dengar.
"Jangan khawatir Ying Zu, aku punya baju ganti, yg penting sekarang bersih kan dulu dirimu, agar layak di pandang mata." Ucap Ceni yg saat ini sudah Menaiki kuda nya.
Ying Zu pun mau tak mau, mengikuti Ceni dari belakang sebab saat ini Hanya Ceni yg Ying Zu punya.
.
Hanya berjarak 100 meter ternyata ada sungai yg air nya jernih mengalir tenang di penuhi bebatuan, sehingga dapat terlihat dasar nya.
"Ying Zu, kita berhenti di sini, bersih kan dulu tubuh mu, ini pakaian mu." Ucap Ceni yg sejak tadi sudah mengeluarkan set hanfu dengan warna biru muda dari ruang penyimpanan nya.
"Terimakasih nona." Ucap Ying Zu, lalu Ying Zu pun langsung meninggalkan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan dalaman nya saja.
Ying Zu pun langsung menceburkan diri nya ke dalam sungai tersebut.
"Ying Zu, tangkap ini." Teriak Ceni melempar kan sebotol sabun mandi pada Ying Zu.
HAP
Ying Zu pun berhasil menangkap botol itu, sejenak ia tertegun sambil membolak-balik botol itu dengan dahi berkerut.
"Em nona, ini apa.?" Tanya Ying Zu dengan bingung.
"Itu botol sabun mandi, Ying Zu, Balur kan ke seluruh tubuh mu." Ucap Ceni.
"Bagaimana membuka nya.?" tanya Ying Zu menggaruk kepala nya yg tak gatal itu.
"Hais dasar orang kuno." Gumam Ceni.
Ceni pun mendekat ke tepi sungai menghampiri Ying Zu yg saat ini sudah menepi sambil duduk di atas bebatuan.
Ceni pun mengambil botol itu kembali lalu membuka nya Setelah itu memberikan nya pada Ying Zu.
"Ini wangi sekali nona, pertama kali dalam hidup ku mencium aroma sabun sewangi ini." Ucap Ying Zu yg sedang asik mencium aroma botol sabun itu hingga terpejam-pejam.
"Kapan kau akan mandi Ying Zu, kita tidak bisa berlama-lama di sini." Ucap Ceni jengah.
Ying Zu pun tersenyum kikuk, lalu mulai membersihkan diri nya.
Beberapa saat kemudian, Ying Zu Pun telah selesai menggunakan pakaian yg di berikan oleh Ceni.
Tanpa membuang waktu lagi, kedua nya pun menunggangi kuda mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju istana kekaisaran.
"Kenapa aku seakan merasakan keberadaan mu juga di dunia Ara, huh apa yg ku pikir kan, mana mungkin orang yg sudah mati hidup kembali, apalagi ini jaman kuno, reinkarnasi hanya ada di buku novel." Batin Ceni berisik padahal mulut nya diam.
Ceni yg saat ini berada di belakang Ying Zu pun tak mengurangi kewaspadaan nya sedikit pun ketika memasuki area pegunungan sebab di dunia kultivasi ini begitu banyak para bandit gunung yg menunggu untuk merampok siapa saja yg melintas kalau menarik di mata nya.
" Nona, maaf sebelumnya, boleh aku bertanya?" Ucap Ying Zu tiba-tiba berbicara yg saat ini sejajar berada di samping Ceni.
" Silahkan." Ucap Ceni.
" Apa ranah kultivasi nona.?" Tanya Ying Zu yg ia yakini ceni pasti berbeda di ranah yg lebih tinggi dari nya sebab bisa dengan mudah mengalahkan ketua bandit yg berada di ranah jenderal.
" Aku tak memiliki ranah kultivasi." Jawab Ceni jujur.
"Hah APAAA,! apa nona Bercanda.?" Ucap Ying Zu tak percaya sambil menatap Ceni dengan horror.
"Buat apa aku bercanda Ying Zu, apa yg ku katakan itulah kenyataan nya, aku tak memiliki ranah kultivasi apapun." Ucap Ceni mengangkat kedua bahu nya acuh.
"Aku baru tiba di jaman ini, mana mungkin memiliki kultivasi, cara belajar nya saja aku tidak tau." Batin Ceni menghela nafasnya lelah lalu menggeleng pelan.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪