NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Rina membanting pintu kamarnya, tidak memedulikan bunyi debum keras yang mungkin membuat jantung Bunda mencelos. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, menenggelamkan wajah di bantal yang dingin. Air matanya pecah. Segala ambisinya seolah hendak dirampas oleh sosok "Ustadz Rohman" yang bahkan wajahnya saja tidak ia ketahui.

​Tak lama, pintu berderit pelan. Imron masuk dengan langkah hati-hati. Ia melihat adik bungsunya yang mungil itu tampak sangat rapuh di antara tumpukan buku referensi S2-nya.

​"Sudah, Dek. Gak usah sedih, ada Cacak di sini," ucap Imron lembut. Ia duduk di pinggir kasur, lalu menarik bahu Rina agar bersandar padanya. "Namanya juga kita terlahir jadi orang Madura, ya gini. Kerjaannya cuma dijodoh-jodohin. Kamu tahu sendiri kan, di kampung kita, perempuan punya gelar tinggi itu kadang malah dianggap beban kalau belum laku."

​Imron memeluk adiknya erat, mencoba menyalurkan kekuatan.

​"Aku kesal banget, Cak! Masak aku disuruh nikah sekarang? Aku tuh mau nikah sama orang China atau minimal yang seleranya internasional, bukan orang jelek dan miskin!" tangis Rina meledak lagi di pelukan kakaknya. "Aku mau cari yang ganteng, yang kulitnya putih, yang pintar bisnis, yang bisa ajak aku keliling dunia. Bukan yang cuma bisa ceramah di depan santri terus suruh aku pakai daster di dapur!"

​Rina mendongak, matanya sembab namun menyala. "Cak, aku serius. Kalau sampai Ayah maksa, aku beneran mau kabur ke Jakarta atau sekalian berangkat ke London pakai beasiswa itu. Aku nggak mau nasibku berakhir tragis cuma karena menuruti gengsi keluarga."

​Imron menghela napas panjang, mengelus rambut adiknya. "Cacak paham. Cacak juga sampai sekarang belum nikah karena malas dijodohin sama anak juragan tanah sebelah. Tapi Dek, kamu harus tahu satu hal..."

​Imron menggantung kalimatnya, membuat Rina mengerutkan kening.

​"Apa, Cak?"

​"Ustadz Rohman itu... dia bukan ustadz sembarangan yang cuma di kampung. Kabarnya dia lulusan Mesir dan sekarang lagi rintis bisnis ekspor. Tapi ya itu, tetap saja namanya perjodohan," Imron berusaha objektif meskipun dia tetap di pihak adiknya.

​Rina berdecak sinis, "Halah, palingan juga itu cuma bumbu biar aku mau. Pokoknya aku tetap nggak mau! Aku mau yang vibes-nya CEO di drama Korea atau pengusaha muda sukses, bukan yang gaya hidupnya kaku. Lagian, aku nggak mau dilarang-larang kuliah lagi!"

​"Iya, iya. Cacak bakal pasang badan buat kamu. Nanti malam Cacak coba ngomong lagi sama Ayah pas Bunda sudah tidur. Ayah itu cuma takut kamu keasyikan belajar sampai lupa kodrat, padahal mah Ayah cuma gengsi karena sering disindir tetangga," pungkas Imron sembari menghapus sisa air mata di pipi Rina.

​Namun, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Bunda rupanya berdiri di sana. Beliau mendengar setiap kata-kata Rina, termasuk keinginan Rina yang ingin mencari suami "orang China" atau "CEO". Bunda terdiam, meremas ujung daster batiknya dengan raut wajah yang sulit ditebak.

...*****...

Keesokan paginya, sekitar pukul 10.00 WIB, matahari Madura mulai terasa menyengat. Namun, Rina terpaksa harus keluar rumah karena ada keperluan mendesak. Ia mengenakan gamis biru muda yang elegan dengan kerudung biru senada. Kulitnya yang putih susu tampak kontras dengan teriknya cuaca, membuatnya menjadi pusat perhatian para pemuda yang sedang nongkrong di pinggir jalan dekat kompleks Masjid Jamik.

​Rina melangkah menuju sebuah warung kelontong.

​"Mau beli napa empian, Bing? (Mau beli apa kamu, Nak?)" tanya ibu pemilik warung dengan logat Madura yang kental.

​"Saya beli pembalut, Buk. Tujuh ya, dibungkus," ucap Rina lembut sambil jemarinya lincah memainkan ponsel, mencoba mengabaikan tatapan mata di sekitarnya.

​Di seberang jalan, gerombolan laki-laki yang sedang duduk-duduk di atas motor mulai berbisik-bisik heboh melihat kecantikan Rina.

​"Eh, jeriah reng dimma mak cek raddinna, kolekna cek mornangah? (Eh, itu orang mana kok cantik sekali, kulitnya sangat bening?)" tanya Rehan kepada Dion yang sedang duduk santai di atas motor Ninja-nya.

​"Reng dieh jeriah, anakna Pak RT, alekna Imron (Orang sini itu, anaknya Pak RT, adiknya Imron)," jawab Dion sambil terus memperhatikan gerak-gerik Rina.

​Saat Rina baru saja menerima bungkusan belanjaannya, tiba-tiba Imron muncul. Rupanya kakaknya itu juga sedang ingin membeli rokok.

​"Dek, tumben keluar rumah? Biasanya enggak?" tanya Imron heran melihat adiknya yang biasanya 'anak rumahan' itu ada di warung.

​Belum sempat Rina menjawab, teman-teman Imron yang nongkrong tadi langsung menghampiri. "Woy, Imron! Bekna bede dieh? (Woy, Imron! Kamu ada di sini?)"

​Rina yang merasa risih menjadi tontonan banyak laki-laki langsung berbisik pada kakaknya. "Cak, Adek pulang duluan ya. Ini Salsa katanya mau main ke rumah," ucap Rina sedikit mengeraskan suaranya agar teman-teman kakaknya tidak berani macam-macam.

​Namun, tepat saat Rina hendak melangkah pergi, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan warung. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap.

​Pintu mobil terbuka. Keluarlah sosok pria yang membuat siapa pun yang melihatnya akan menahan napas. Pria itu mengenakan sarung BHS premium, kemeja koko putih bersih yang disetrika rapi, dan peci hitam yang bertengger gagah. Kulitnya kuning langsat bersih, hidungnya mancung seperti keturunan Arab, dengan tatapan mata tajam namun memancarkan wibawa yang luar biasa.

​Tingginya sangat mencolok, sekitar 187 cm, membuat Rina yang hanya setinggi 143 cm itu terlihat sangat mungil jika berdiri di dekatnya. Pria itu adalah Ustadz Rohman. Meskipun dipanggil 'Ustadz' dan mengajar di pesantren milik pamannya, Kyai Ibrahim, ia sebenarnya adalah seorang Gus (anak kyai) terkenal dari Jawa Tengah yang memiliki kharisma luar biasa.

​Rina tertegun di tempat. Jantungnya berdegup tidak keruan.

Siapa laki-laki ganteng ini? batinnya. Sosok di depannya ini benar-benar menghancurkan ekspektasi buruknya tentang "Ustadz" yang kaku, jelek, atau "kere". Pria ini terlihat jauh lebih berkelas daripada CEO yang sering ia tonton di drama Korea.

​"Cak... Adek... Adek mau pulang sekarang. Ini teman Adek sudah ada di rumah," ujar Rina terbata-bata saat ponselnya bergetar menerima SMS dari Salsa. Ia berusaha menundukkan pandangannya, namun matanya seolah tak bisa lepas dari sosok pria yang baru turun dari mobil tersebut.

​Ustadz Rohman sempat melirik ke arah Imron dan Rina, lalu memberikan senyum tipis yang sangat sopan sebelum melangkah menuju masjid. Senyum itu sukses membuat lutut Rina terasa lemas.

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!