"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng yang Mengeras
Gema bentakan Adrian masih terasa bergetar di udara Suite Ritz-Carlton yang pengap oleh ketegangan. Maya berdiri mematung, menatap suaminya dengan sorot mata yang perlahan berubah. Amarah yang tadi meluap di mata Adrian perlahan mendingin, berganti menjadi sebuah ketegasan yang sangat gelap dan solid. Adrian merapikan kemejanya, menarik napas panjang, lalu menatap pintu tempat Valerie baru saja menghilang.
"Kamu pikir aku selemah itu, May?" suara Adrian kini datar, sedingin es. "Kamu pikir aku tidak tahu siapa Valerie sejak detik pertama dia menyapaku di bar?"
Maya tertegun, matanya membelalak. "Mas... kamu tahu?"
"Aku Adrian Ardilwilaga. Tidak ada satu pun bidak yang bergerak di papan catur ini tanpa aku tahu siapa yang menggerakkannya," Adrian melangkah mendekati Maya, berdiri begitu dekat hingga Maya bisa merasakan hawa panas dari tubuh suaminya. "Aku membiarkan dia mendekat untuk melihat sejauh mana Reza berani bermain. Tapi dia salah besar. Jika dia pikir dia bisa menggunakan wanita untuk menghancurkan fokusku pada Ardilwilaga Group, dia baru saja meremehkan pria yang membangun dinasti ini dari nol."
Adrian meraih dagu Maya, memaksanya menatap langsung ke matanya. "Dan kamu, May. Hentikan ketakutanmu. Aku tidak akan membiarkan Reza, atau siapa pun dari masa lalumu, menyentuh istana ini. Bukan karena aku sudah memaafkanmu, tapi karena di dalam sana, ada Arthur. Dan aku bersumpah demi nyawaku, tidak ada satu pun rahasia yang akan menghancurkan masa depan anak itu."
Maya merasakan sebuah kekuatan yang sudah lama tidak ia lihat dari Adrian kembali muncul. Selama ini ia mengira Adrian telah hampa karena rindu pada Sasha, namun ternyata, ancaman terhadap anaknya telah membangunkan singa yang sedang tertidur. Maya menarik napas lega, namun hatinya tetap waspada. Ia menggenggam tangan Adrian yang masih berada di dagunya.
"Kalau begitu, kita harus berhenti saling menyerang, Mas," bisik Maya dengan nada yang sangat lugas. "Reza bukan hanya ingin sahammu. Dia ingin kehormatanku. Dia ingin menghancurkan apa yang kita bangun selama sepuluh tahun ini. Jika kamu teguh dengan prinsipmu, aku pun akan berdiri di sampingmu dengan cara yang sama. Aku tidak akan membiarkan masa laluku yang busuk merusak takdir Arthur."
Malam itu, sebuah pakta baru lahir di atas reruntuhan kepercayaan mereka. Bukan pakta cinta, melainkan pakta perlindungan. Mereka kembali ke The Obsidian Towers bersama-sama, disambut oleh tangisan kecil Arthur dari kamar bayi. Begitu melihat bayi itu, segala ego dan luka seolah memudar, digantikan oleh naluri purba untuk melindungi.
Di kantor pusatnya yang tersembunyi, Reza Mahardika menatap layar monitor yang menunjukkan kegagalan Valerie untuk tetap berada di dalam suite tersebut. Ia menggeram pelan, menyadari bahwa umpan cantiknya telah ditolak mentah-mentah. "Kukuh sekali kamu, Adrian," gumam Reza dengan seringai licik. "Tapi prinsip tidak akan bisa menahan badai saat aku mulai membongkar siapa sebenarnya ibu dari bayi yang kamu peluk itu."
Reza segera merobek foto Valerie dan mengambil sebuah dokumen baru. Dokumen itu berisi tiket pesawat menuju Warsawa atas namanya sendiri. Jika ia tidak bisa menghancurkan Adrian dari dalam Jakarta, ia akan menjemput langsung sumber kebenaran itu di Polandia. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, Adrian telah memerintahkan tim keamanan tingkat tinggi untuk memantau setiap pergerakan Reza, bersiap untuk perang terbuka yang sesungguhnya.
"Siapkan pengacara dan tim intelijen," perintah Adrian pada asistennya melalui telepon satelit, sementara ia menatap Arthur yang kembali terlelap. "Siapa pun yang mencoba mengusik ketenangan anakku, pastikan mereka tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di dunia ini."
Garis peperangan telah ditarik. Maya dan Adrian, yang sebelumnya saling memanipulasi, kini berdiri memunggungi satu sama lain untuk menghadapi musuh yang sama. Mereka adalah dua predator yang sedang melindungi sarangnya, dan Reza Mahardika akan segera menyadari bahwa prinsip seorang bapak dan ketegasan seorang ibu adalah perpaduan yang paling mematikan.