Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bAB 27--Kemampuan Melihat Potensi Manusia Dan 75% Itu Besar Gak Sih?
Angin malam masih berhembus lembut di rooftop restoran.
Lampu kota seperti lautan bintang buatan manusia.
Alya masih memandangi pemandangan dengan mata berbinar. Ia tidak sadar… Rahmat sedang menatap layar transparan yang hanya bisa ia lihat sendiri.
[DING!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[MISI TERSELESAIKAN!]
[ Gunakan tiket VIP bersama orang pilihan anda]
[ Reward Tambahan:
-Akses update Sistem level 2
-Uang bonus RP 50.000.000
-fitur baru terbuka ; analisis potensi manusia
Catatan : selamat menikmati masa muda Tuan!
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menyipitkan mata. Sistem naik level, ia jadi penasaran apa saja yang akan diperoleh darinya.
[Apakah anda ingin menaikan level sistem]
“Upgrade.”
Tulisan biru itu berkedip.
[Memproses Pembaruan Sistem…]
[10%… 38%… 72%… 100%]
Detik berikutnya—kepala dia terasa sedikit lebih berat dari biasanya, bukan sakit, lebih seperti ruang pikiran dia makin melebar.
[Ding!]
[Selamat sistem berhasil ditingkatkan]
[Benefit yang tuan dapatkan
-Hadiah misi yang lebih tinggi
-Kemampuan Analisis barang yang lebih meningkat
-Kemampuan baru terbuka sekarang anda bisa melihat potensi manusia, hubungan masa depan dengan host.
-Kemampuan analisis potensi terbuka
-Kemampuan analisis resiko terbuka
[SISTEM ANALISIS NILAI LEVEL 2]
━━━━━━━━━━━━━━━
Host: Rahmat
Level ; 15
Kekuatan: 20
Kecerdasan: 30
Ketahanan: 20
Keberuntungan: 25
Ketampanan: 15
Total saldo ; 1,84 miliar.
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat mengangkat alis tipis. Lalu memilih menu pertama, sebuah sendok stainless di atas meja restoran langsung muncul datanya, lebih komplit daripada sebelumnya.
.
[SENDOK RESTORAN]
Nilai Pasar rp15.000
Nilai Produksi: Rp4.200
Margin Keuntungan Restoran: 61%
Potensi Penyusutan: Rendah
Rahmat tersenyum tipis. “Lebih detail…”
Ia beralih ke kemampuan kedua, ia sempat ragu sejenak, lalu tanpa sadar mata dia melirik Alya dan sistem bereaksi.
━━━━━━━━━━━━━━━
Nama: Alya Pramudita
Usia: 16 Tahun
Status: Siswi SMA Kelas XI IPA 1
Reputasi Sekolah: Populer – Akademik & Nonakademik
Latar Belakang: Putri Pemilik KolektorPremium.id
Nilai Kepribadian: 8.7/10
Tingkat Kepercayaan Diri: Tinggi
Tingkat Ketertarikan terhadap Host: 80% (Meningkat)
Tingkat kecocokan dengan Host : TINGGI
Potensi masa depan ; Tinggi (bisa menjadi idol, penyanyi solo, bahkan perawat)
Catatan ;
-berikan dukungan untuknya agar lebih percaya diri jika mengambil karir sebagai idol
-Puji suara dia dan bimbing dia, buat dia percaya diri bahwa dia memiliki suara yang lembut jika memilih karir sebagai penyanyi solo
(Setiap tuan berhasil membantu seseorang menuju potensi masa depan, tuan akan mendapatkan hadiah spesial)
Potensi hubungan dengan host di masa depan : Calon istri Host 75%
━━━━━━━━━━━━━━━
'Jadi sekarang aku seperti seorang manajemen SDM gitu?’ Tapi paling selain itu. ‘kalau aku berhasil membuat mereka sampai ke potensi terbaik, aku akan dapat hadiah spesial.’
Lalu matanya tanpa sengaja membaca sesuatu yang buat ia terkejut.
Rahmat membeku seketika. Hampir tersedak oleh minumannya sendiri. Ia masih bocah puber, melihat status seperti calon istri, tingkat ketertarikan yang semakin hari semakin tinggi tentu membuat dia terkejut.
Bahkan untuk orang seperti Rahmat hatinya sedikit berdetak.
“Calon… istri?”
Tangannya yang memegang gelas sedikit berhenti di udara. Untung saja ia cepat meneguk minumannya sebelum ekspresinya makin aneh.
Di depannya, Alya masih sibuk memotret pemandangan kota dan makanan, tentu saja sebagai bahan untuk diposting di media sosial.
Ia masih tidak sadar.
Rahmat menelan ludah pelan.
Tingkat ketertarikan: 80% (Meningkat)
Kecocokan: Tinggi
Potensi hubungan: Calon istri Host 75%
“Apa-apaan ini…” gumamnya dalam hati.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia ini masih anak SMA. Melihat angka-angka seperti itu rasanya… terlalu jauh.
Sistem benar-benar kelewatan.
“Rahmat?”
Suara Alya membuatnya tersentak.
“Iya?”
“Kamu kenapa? Dari tadi kelihatan kaget gitu.”
Rahmat cepat-cepat menutup tampilan sistem. Layar transparan itu lenyap seketika.
“Enggak. Cuma kepikiran sesuatu.”
Alya menyipitkan mata. “Mikirin apa?”
Rahmat terdiam sepersekian detik.
Masa iya dia bilang, ‘Sistem barusan bilang kamu calon istriku 75%.’
Bisa tamat dia malam ini.
“Cuma… sedikit masa depan,” jawabnya akhirnya.
Alya mengangkat alis. “Serius amat jawabnya.”
Rahmat mengalihkan pembicaraan. “Makanannya sudah datang, fokus situ aja.”
Alya mendengus pelan tapi menurut. Ia mulai memotong steak dengan hati-hati.
Rahmat mencoba kembali fokus pada makanan di depannya.
Tapi sulit.
Angin malam meniup lembut rambut Alya yang terurai. Ujung-ujungnya bergerak pelan, terkena cahaya lampu kota yang berpendar keemasan. Dari sudut ini, wajahnya terlihat lebih lembut daripada biasanya.
Tidak ada riasan berlebihan.
Hanya lip tint tipis dan maskara ringan.
Matanya—yang tadi berbinar melihat konser—masih menyimpan sisa euforia. Sorotnya hidup. Hangat. Penuh rasa ingin tahu.
Rahmat baru sadar.
Selama ini ia sering melihat Alya sebagai “gadis cerewet”, “teman biasa”, atau “partner untuk digoda”. Tapi malam ini berbeda.
Gaun sederhana yang ia kenakan—warna biru lembut—membuatnya terlihat lebih dewasa. Tidak mencolok, tapi elegan.
Tangannya kecil, jemarinya ramping saat memegang pisau steak dengan hati-hati. Cara ia tersenyum ketika puas dengan rasa makanan… natural.
Bukan senyum pencitraan.
Bukan senyum sosial media.
Senyum yang tulus.
Rahmat menelan ludah pelan. Pantas saja dia dijuluki bidadari sekolah dan begitu populer, mungkin mata rahmat yang katarak dari dulu.
*Ilustrasi Alya (my bini), by Ai*
“Kenapa sih kamu lihat-lihat gitu?” Alya tiba-tiba menoleh.
Rahmat langsung mengalihkan pandangan. “Nggak.”
“Bohong.”
Rahmat langsung mengalihkan pandangan. “Nggak.”
“Bohong.”
“Cuma memastikan kamu nggak tersedak.”
Alya memutar mata. “Alasan kamu makin lama makin aneh.”
Tapi pipi si gadis sedikit memerah. Jarang-jarang Rahmat melihatnya dengan mata … sedikit ketertarikan? Ia tidak mau terlalu percaya diri lagi setelah banyak peristiwa salah paham.
Rahmat terdiam, Sistem level dua masih terasa “asing” di kepalanya. Informasi yang muncul bukan lagi sekadar angka harga barang.
Ini menyangkut manusia.
Perasaan.
Kemungkinan masa depan.
Di sudut pikirannya, notifikasi kecil muncul kembali.
[Pengingat: Prediksi kenaikan saham PT Andalan Sentosa Finance 86% dalam 14 hari – Sisa waktu: 5 hari]
Rahmat menutupnya cepat benar juga,saham itu akan segera naik, ia sudah membelinya cukup lama sebelum malam ini, tepat setelah dia melunasi semua tunjangan biaya sang ibu yang di rumah sakit.
“Rahmat.”
“Iya?”
Alya menatapnya dengan ekspresi sedikit lebih lembut dari biasanya.
“Makasih, ya. Malam ini seru banget! Aku senang!” Jawabnya tersenyum ceria.
Rahmat berhenti mengunyah. Hanya satu kalimat sederhana.
Tapi entah kenapa membuat dadanya terasa… ringan.
Angin malam kembali berembus lembut. Lampu kota masih berkelip.
Dan untuk pertama kalinya sejak sistem muncul dalam hidupnya—Rahmat memikirkan hal normal sewajarnya untuk usia remaja.
“75% itu tinggi nggak sih…” ucapnya tanpa sadar.
Alya langsung menoleh. “Ha? Maksud?”
“Bukan apa-apa!!”
Ia buru-buru menggelengkan kepala kecil. Sekarang fokus dulu, permainan besar baru sedang dimulai dan level 2 baru saja membuka bab baru dalam hidupnya tanpa ia sadari.