NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 gemuruh di lembah tangis arwah

Malam ketujuh sejak kepulangan rombongan kekaisaran membawa atmosfer yang berbeda di Makam Bintang Agung. Langit di atas pemakaman tidak lagi berwarna kelabu, melainkan hitam pekat dengan kilatan petir ungu yang sesekali menyambar di balik awan. Ini bukan fenomena cuaca biasa, melainkan tanda bahwa energi dunia di tempat ini sedang ditarik secara paksa oleh sebuah pusaran tak kasat mata.

Di dalam gubuknya, Xing Shenyuan duduk mematung. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, namun wajahnya tetap tenang laksana permukaan telaga di tengah hutan purba.

Saat ini, di dalam tubuhnya, sedang terjadi revolusi besar. Siklus kedelapan dari Kompresi Sembilan Siklus telah selesai, dan ia baru saja memasuki tahap kritis dari siklus kesembilan. Qi yang semula berbentuk cair kini telah memadat menjadi kristal-kristal mikroskopis yang memancarkan cahaya keemasan. Setiap kristal itu membawa berat yang setara dengan satu tetes air laut yang dikompres menjadi sebutir pasir.

"Satu dorongan lagi," bisik Shenyuan dalam hati.

Meridiannya bergetar hebat. Rasa sakit yang muncul seperti ditusuk jutaan jarum perak tidak membuatnya goyah sedikit pun. Sebaliknya, ia menggunakan rasa sakit itu sebagai pemacu untuk mempertajam fokus mentalnya. Sutra Hati Kaisar Naga berputar di pusat jiwanya, memandu aliran energi yang liar agar tetap berada pada jalurnya.

Jika seorang kultivator biasa melihat apa yang dilakukan Shenyuan, mereka akan menganggapnya gila. Menunda terobosan ke Ranah Inti Emas demi memadatkan energi di Ranah Pembentukan Pondasi adalah tindakan yang sangat berisiko. Salah sedikit saja, tubuh akan meledak karena tidak mampu menahan kepadatan energi yang melampaui batas kapasitas manusia.

Akan tetapi, Shenyuan memiliki Tubuh Kekacauan Primordial. Otot dan tulangnya terus-menerus diperkuat oleh energi yang ia kompres, menjadikannya wadah yang cukup kokoh untuk menampung kekuatan yang bisa menghancurkan kota.

Sementara itu, dua mil dari gubuk Shenyuan, di sebuah area yang dikenal sebagai Lembah Tangis Arwah, tiga bayangan bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang mampu menyerap cahaya, membuat keberadaan mereka hampir mustahil dideteksi oleh mata telanjang maupun indra spiritual.

"Apakah kita benar-benar harus membunuh pangeran buangan itu? Bukankah dia hanya seorang cacat?" tanya salah satu bayangan dengan suara rendah.

"Perintah Tuan Muda Ye adalah mutlak," jawab pemimpin mereka, seorang pria dengan codet di mata kirinya. "Tuan Muda merasa ada yang tidak beres dengan bocah itu. Lebih baik menghilangkannya sekarang daripada menjadi duri di masa depan. Ingat, jangan tinggalkan jejak. Gunakan racun penghancur tulang setelah dia mati."

Ketiga orang ini adalah Trio Bayangan Darah, pembunuh bayaran tingkat tinggi yang disewa secara rahasia oleh Ye Chen dari Sekte Pedang Langit. Pemimpin mereka berada di Ranah Inti Emas Tahap Menengah, sedangkan dua lainnya berada di Tahap Awal. Bagi Ye Chen, mengirim tiga ahli Inti Emas untuk membunuh satu pemuda cacat adalah sebuah kepastian yang berlebihan.

Langkah mereka terhenti ketika mereka memasuki wilayah lembah yang penuh dengan nisan-nisan tua yang miring. Di sini, angin mengeluarkan suara seperti tangisan wanita, sebuah fenomena yang berasal dari celah-celah batu purba.

Tiba-tiba, sebuah suara tenang menyapa mereka dari kegelapan.

"Kalian terlambat sepuluh menit dari perkiraanku."

Ketiga pembunuh itu tersentak. Mereka segera membentuk formasi pertahanan, menghunus belati panjang yang memancarkan aura dingin.

Di atas sebuah nisan raksasa, Xing Shenyuan duduk santai dengan satu kaki ditekuk. Ia tidak lagi memegang sapu lidi, melainkan hanya sebuah ranting pohon kering yang ia pungut di jalan. Matanya berkilat dalam kegelapan, memancarkan aura yang membuat bulu kuduk Trio Bayangan Darah berdiri.

"Bagaimana kau bisa tahu kami datang?" pemimpin pembunuh itu bertanya, suaranya penuh kewaspadaan. Ia tidak merasakan fluktuasi Qi yang kuat dari Shenyuan, namun instingnya berteriak bahwa pemuda di depannya ini adalah pemangsa yang berbahaya.

Shenyuan turun dari nisan dengan gerakan yang sangat halus, seolah-olah berat tubuhnya tidak ada. "Udara di makam ini adalah milikku. Setiap napas asing yang masuk akan bergetar di telingaku seperti guntur."

"Sombong! Mati kau!"

Dua pembunuh di samping pemimpinnya melesat maju. Mereka bergerak dari dua arah berbeda, menciptakan jaring serangan belati yang mengincar tenggorokan dan jantung Shenyuan. Gerakan mereka sangat cepat, khas dari praktisi Inti Emas yang menguasai teknik peringanan tubuh.

Shenyuan tidak menghunus senjata. Ia hanya menggerakkan ranting pohon di tangannya.

Wusss!

Ranting itu membelah udara dengan suara yang tajam. Meskipun hanya sepotong kayu kering, di tangan Shenyuan, benda itu membawa beban dari energi yang telah dikompres sembilan kali.

Prak! Prak!

Dua suara patah tulang terdengar bersamaan. Dua pembunuh itu terpental ke belakang, belati mereka hancur berkeping-keping. Mereka jatuh tersungkur di tanah dengan dada yang melesat ke dalam, padahal Shenyuan hanya menyentuh mereka dengan ujung ranting.

"Uhuk!" Salah satu dari mereka memuntahkan darah hitam. "Kekuatan macam apa ini... kau... kau bukan Pembentukan Pondasi!"

Pemimpin pembunuh, si mata codet, gemetar hebat. Ia melihat kedua rekannya tewas dalam satu serangan sederhana. Ia segera menggigit pil merah di mulutnya, sebuah obat terlarang yang membakar umur untuk meningkatkan kekuatan Qi-nya secara instan.

"Aku akan membawamu bersamaku ke neraka!"

Ia meledakkan seluruh energinya, menciptakan badai pedang dari Qi darah yang menyelimuti seluruh area lembah. Tanah di sekitarnya retak, dan nisan-nisan tua itu hancur menjadi debu.

Shenyuan hanya menghela napas. "Pondasi yang dipaksakan dengan obat... benar-benar tidak sedap dipandang."

Ia melangkah maju. Setiap langkahnya seolah-olah menekan seluruh dunia. Badai pedang yang diciptakan si pembunuh seketika meredup saat mendekati radius tiga meter dari tubuh Shenyuan. Aura Sutra Hati Kaisar Naga yang pasif sudah cukup untuk menekan energi rendah seperti itu.

Shenyuan mengangkat dua jarinya, membentuk pedang spiritual.

"Potong."

Satu garis cahaya keemasan tipis melesat membelah kegelapan. Cahaya itu begitu murni, begitu padat, sehingga seolah-olah memotong ruang itu sendiri.

Si mata codet bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian yang sempurna tepat di tengah, bersama dengan nisan besar di belakangnya. Tidak ada darah yang muncrat; panas dari energi Shenyuan telah menutup luka itu seketika.

Shenyuan kembali tenang. Ia membuang ranting kayu yang kini telah hangus menjadi abu karena tidak kuat menahan aliran energinya.

[Ding! Pertempuran terdeteksi. Lokasi: Lembah Tangis Arwah. Persyaratan tercapai. Apakah Anda ingin Masuk Log?]

"Masuk Log."

[Ding! Masuk Log berhasil. Hadiah: "Langkah Bayangan Naga" (Teknik Pergerakan Tingkat Dewa) dan "Mata Kebenaran Ilahi" (Kemampuan Pasif).]

Seketika, pandangan Shenyuan berubah. Dengan Mata Kebenaran Ilahi, ia tidak lagi melihat dunia sebagai tumpukan materi. Ia melihat aliran energi, titik-titik lemah pada objek, serta jejak-jejak keberadaan yang ditinggalkan oleh makhluk hidup.

Ia menoleh ke arah sebuah semak berduri di tepi lembah.

"Masih ada satu lagi? Dan sepertinya kau bukan bagian dari mereka," ucap Shenyuan dengan nada dingin.

Sesosok mungil keluar dari balik bayangan. Itu adalah seorang gadis muda, mungkin baru berusia tujuh belas tahun. Ia mengenakan pakaian kulit yang ketat, rambutnya dikuncir kuda, dan wajahnya kotor oleh debu. Di punggungnya terdapat busur besar yang terbuat dari tulang binatang buas.

Gadis itu gemetar, matanya menatap mayat Trio Bayangan Darah dengan ngeri, lalu beralih pada Shenyuan seolah-olah pemuda itu adalah iblis yang merangkak keluar dari liang kubur.

"Aku... aku hanya mencari tanaman obat! Aku tidak melihat apa-apa! Aku bersumpah!" seru gadis itu dengan suara bergetar.

Shenyuan mengamati gadis itu dengan Mata Kebenaran Ilahi. Namanya adalah Lin Xiaoyue. Yang mengejutkan Shenyuan bukan identitasnya, melainkan fakta bahwa gadis ini memiliki Garis Darah Burung Feniks Biru yang tertidur di dalam tubuhnya. Sebuah garis darah legendaris yang sangat langka.

"Siapa yang mengirimmu ke sini, Lin Xiaoyue?" tanya Shenyuan sambil berjalan mendekat.

"Tidak ada! Aku dari desa di kaki gunung. Ibuku sakit parah, dan tabib bilang aku butuh Rumput Embun Jiwa yang hanya tumbuh di makam ini saat bulan purnama," jelasnya sambil menangis.

Shenyuan berhenti. Ia bisa merasakan kejujuran dalam detak jantung gadis itu. Ia juga melihat bahwa Xiaoyue memiliki kultivasi yang sangat rendah, hampir tidak mencapai Ranah Pemurnian Qi Tahap Ketiga. Mengingat betapa bahayanya makam ini, fakta bahwa dia bisa sampai sejauh ini adalah sebuah keajaiban—atau mungkin keberuntungan yang dibawa oleh garis darahnya.

"Makam ini bukan tempat untuk anak kecil," ujar Shenyuan. Ia mengeluarkan sebuah botol giok kecil dari cincin penyimpanannya—salah satu pil yang ia murnikan di Taman Obat Terlarang tempo hari. "Ini. Berikan pada ibumu. Satu butir sudah cukup untuk menyembuhkan penyakit apa pun di dunia fana."

Xiaoyue menerima botol itu dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu apa isinya, tapi ia bisa merasakan energi hangat yang memancar dari botol tersebut.

"Kenapa... kenapa kau membantuku?" tanya Xiaoyue ragu.

Shenyuan menatap langit. Awan hitam mulai memudar, menandakan bahwa proses kompresi siklus kesembilannya telah mencapai titik akhir yang sempurna.

"Anggap saja ini investasi," jawab Shenyuan misterius. "Suatu hari nanti, garis darahmu akan bangkit. Saat itu terjadi, kau akan ingat siapa yang memberimu kesempatan untuk tetap hidup malam ini."

Shenyuan melambaikan tangannya, dan sebuah hembusan angin lembut membawa Xiaoyue keluar dari area lembah dengan kecepatan tinggi namun aman.

Kini, Shenyuan sendirian lagi.

Ia duduk bersila di tengah Lembah Tangis Arwah. Esensi energi dari pertarungan tadi dan sisa-sisa energi di lembah tersebut mulai tersedot masuk ke dalam tubuhnya.

Deg! Deg! Deg!

Jantungnya berdetak seperti genderang perang.

Siklus kesembilan akhirnya terkunci.

Di dalam tubuhnya, tidak ada lagi gas atau cairan energi. Yang ada hanyalah sebuah ruang hampa kecil di pusat dantian-nya yang memancarkan cahaya ungu-keemasan yang sangat padat. Ini bukan Inti Emas biasa. Ini adalah Inti Kekacauan Sempurna.

Meskipun secara formal ranah kultivasinya masih tercatat sebagai Puncak Pembentukan Pondasi, kekuatan murni yang dimilikinya sekarang sudah bisa menekan kultivator Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) tahap awal.

Shenyuan berdiri. Ia merasa setiap serat ototnya mengandung kekuatan ledak yang mampu meruntuhkan gunung.

"Ye Chen... kau mengirim anjing-anjing ini untuk mengujiku," gumam Shenyuan sambil menatap ke arah ibu kota yang jauh di ufuk. "Kau ingin aku mati agar posisimu aman. Namun, kau tidak sadar bahwa dengan melakukan ini, kau baru saja mempercepat kehancuran sektemu sendiri."

Shenyuan tidak segera kembali ke gubuknya. Ia memejamkan mata, membiarkan Langkah Bayangan Naga meresap ke dalam ingatannya. Dalam sekejap, tubuhnya menghilang, meninggalkan sisa-sisa bayangan naga yang perlahan memudar di udara.

Ia bergerak di antara nisan-nisan dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia. Tidak ada suara, tidak ada angin yang terganggu. Ia adalah bagian dari bayangan itu sendiri.

Keesokan paginya, Gu Qingcheng datang berkunjung seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat gerbang Lembah Tangis Arwah yang hancur berkeping-keping. Ia berlari masuk dan menemukan bekas pertarungan yang mengerikan.

Ia melihat mayat Trio Bayangan Darah. Ia mengenali simbol pada pakaian mereka.

"Pembunuh Bayaran dari faksi bayaran Sekte Pedang Langit?" bisik Qingcheng dengan wajah pucat.

Ia kemudian melihat bekas tebasan cahaya di nisan raksasa. Tebasan itu begitu bersih, begitu murni, sehingga tidak mungkin dihasilkan oleh sembarang orang.

"Siapa... siapa yang bisa membunuh tiga ahli Inti Emas dengan satu serangan seperti ini?"

Qingcheng segera berlari menuju gubuk Shenyuan. Ia menemukan pemuda itu sedang duduk tenang di depan gubuk, perlahan-lahan mengasah sapu lidinya yang baru dengan batu asahan.

"Xing Shenyuan!" teriak Qingcheng sambil terengah-engah. "Apakah kau baik-baik saja? Semalam ada pertempuran besar di lembah sebelah!"

Shenyuan mendongak, memberikan senyum polos yang biasa. "Pertempuran? Ah, pantas saja aku mendengar suara gaduh semalam. Aku pikir itu hanya suara guntur. Aku tidur sangat nyenyak sampai tidak berani keluar."

Qingcheng menatapnya dengan curiga, tapi ia tidak menemukan luka sedikit pun di tubuh Shenyuan. Pakaiannya pun rapi, tanpa noda darah atau debu pertempuran.

"Kau... kau benar-benar tidak melihat apa-apa?" desak Qingcheng.

"Tidak, Komandan. Tapi aku menemukan ini di depan pintu pagi ini," Shenyuan menyerahkan sebilah belati yang sudah patah—milik salah satu pembunuh.

Qingcheng mengambil belati itu, jantungnya berdebu kencang. Jika Shenyuan bukan pelakunya, berarti ada seorang ahli tersembunyi yang menjaga pangeran ini dari balik bayangan. Seorang ahli yang kekuatannya mungkin jauh di atas master sektenya sendiri.

"Tetaplah di sini," perintah Qingcheng dengan suara tegas. "Aku harus melaporkan ini pada Dewan Kekaisaran. Sesuatu yang sangat besar sedang terjadi di Makam Bintang Agung, dan aku khawatir kau hanyalah umpan dalam permainan yang lebih besar."

Shenyuan hanya mengangguk patuh. Saat Qingcheng pergi dengan terburu-buru, Shenyuan kembali fokus pada sapunya.

"Permainan yang lebih besar?" Shenyuan terkekeh sendiri. "Sayang sekali, Komandan. Akulah yang menulis aturan permainannya sekarang."

Dengan pondasi yang telah sempurna, langkah Shenyuan selanjutnya bukan lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang membangun otoritasnya sendiri di dunia yang telah membuangnya.

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!