Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alexander Mengetahui Rumahnya
Alexander menarik napas dalam-dalam, merasa seperti beban berat terangkat dari pundaknya setelah mendengar kata-katanya.
"Terima kasih, Emi." Ia tersenyum padanya dan menginjak pedal gas.
Kendaraan itu perlahan kembali bergerak.
"Baik. Katakan padaku, kau tinggal di mana?" tanya Alexander, fokus pada jalan di depan.
Emily memintanya kembali ke kafe karena ia tidak ingat alamat rumah barunya, ia hanya ingat cara menuju kesana dari kafe.
Lima belas menit kemudian, kendaraan Alexander berhenti di depan rumah Emily. Ia terdiam tak berkata-kata saat melihat gerbangnya.
Setelah beberapa detik, Alexander yang berusaha menekan keterkejutannya, menoleh kepadanya.
"Disinilah kau tinggal sekarang?" tanyanya.
"Ya, aku tinggal di sini..." jawab Emily dengan semangat. Ia ingin mengundangnya mampir. Namun sedetik kemudian, ia teringat aturan kontrak sewa yang menyatakan ia tidak boleh membawa teman atau keluarga ke rooftop.
Alexander tidak berkata apa-apa, hanya diam memandang senyum indahnya saat ia berbicara.
"Terima kasih banyak untuk kopi dan tumpangannya, Alexander. Aku sangat menghargainya." Senyumnya semakin lebar, membuat jantung Alexander berdegup kencang.
"Tidak perlu sungkan," ia melambaikan tangannya sambil tersenyum padanya. "Tempat yang bagus untuk tinggal, Emi. Tapi tempat ini terlihat mahal, bukan?" tanyanya.
"Ehm, yah, kau mungkin salah paham. Ini bukan rumahku, dan aku tidak menyewa seluruh rumah. Aku hanya menyewa rooftop selama setahun," Emily buru-buru menjelaskan. Ia khawatir Alexander salah paham dan mengira ia memiliki rumah di kawasan mahal ini.
"Oh, begitu..." Senyum tipis hampir tak terlihat muncul di bibirnya sebelum ia bertanya, "Sejak kapan kau tinggal di sini?"
"Aku pindah tadi pagi."
Alexander kembali menatap gerbang besar itu. Ia masih ingat gadis ini mengatakan mungkin ia akan menjadi tunawisma karena meninggalkan rumah mantan tunangannya.
"Aku senang kau akhirnya menemukan tempat tinggal, Emi," ucapnya tulus. Setidaknya sekarang ia tidak perlu tinggal di 3Flower. Tidak aman bagi wanita seperti dirinya tinggal sendirian di sana.
"Terima kasih. Aku sangat beruntung pemiliknya tiba-tiba pindah ke kota lain dan meninggalkan tempat baru ini untukku," Emily tersenyum saat mengingat betapa kesalnya Tuan Rogers pagi tadi karena harus menyewakan tempat barunya kepadanya.
"Kau memang beruntung. Semoga kau tidak perlu membayar mahal untuk menyewa tempat di sini," kata Alexander dengan nada khawatir.
"Hahaha, iya, kan? Keberuntunganku akhirnya kembali setelah apa yang terjadi padaku beberapa hari ini. Yah, tenang saja, biaya sewanya cukup murah. Pemilik rumahnya sepertinya tahu aku sedang—" suaranya terhenti, dan ia memutuskan untuk tidak menceritakan kesulitan keuangannya kepadanya.
Alexander tidak ingin bertanya lebih jauh, meskipun ia tahu apa yang terjadi padanya. "Senang mendengarnya. Jika suatu saat kau punya masalah, jangan ragu untuk meneleponku."
"Terima kasih, Alexander." Emily merasakan jantungnya berdebar mendengar kata-kata tulusnya. Khawatir wajahnya memerah, ia buru-buru pamit, "Aku akan masuk sekarang. Terima kasih atas tumpangannya."
"Boleh aku mampir ke rumahmu?" tanya Alexander santai, tetapi Emily merasa tegang mendengarnya.
"Alexander, maaf sekali. Pemilik rumah melarangku membawa tamu atau keluarga ke atas," ia tersenyum tipis padanya.
Alexander tampak terkesan mendengar itu. "Ah, jadi ada aturan seperti itu?"
"Iya. Itu sebabnya aku tidak bisa membiarkanmu masuk. Kalau kau ingin bertemu denganku, kita bisa bertemu di kafe. Atau, kau bisa meneleponku jika kau lewat area ini."
"Tentu."
---
Begitu Emily turun dari mobil, senyum Alexander menghilang, dan ekspresinya perlahan menggelap. Tatapan tajamnya tetap terpaku pada Emily saat ia masuk melalui pintu kecil itu.
Alih-alih langsung menjalankan mobilnya, ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan mendesak.
Panggilan itu tersambung pada dering pertama dan suara seorang pria terdengar dari seberang sana, menyapanya dengan sopan.
"Halo, Ryan. Katakan padaku, bagaimana Emily Ainsley bisa tinggal di rumahku?" tanya Alexander tenang namun tegas. Tatapannya ke arah gerbang rumahnya jelas menunjukkan ia juga bingung.
"Bos, ini..." suara Ryan terdengar terlalu tegang untuk menjawab. Alih-alih menjawab, ia bertanya, “Bos, maaf aku bertanya. Tapi bagaimana kau sudah tahu tentang itu? Apakah Nona Emily yang memberitahumu?"
"Ryan, apa yang kau lakukan?! Jangan mencoba membingungkanku dengan pertanyaan bodohmu! Jawab pertanyaanku," kata Alexander, jelas terdengar kesal.
Alexander masih ingat percakapan terakhirnya dengan Ryan. Ia tidak pernah memintanya mencarikan tempat untuk Emily, jadi kenapa gadis itu kini tinggal di rumahnya?
Dan sejauh yang ia tahu, asistennya Barry-lah yang menempati rooftop di atas rumahnya.
‘Apakah Emily juga mengenal Barry? Apa mereka tinggal bersama di atas sana? Kenapa Barry tidak mengatakan apa-apa?’ Begitu banyak pertanyaan kini menari-nari di pikirannya, membuatnya semakin bingung.
Memikirkan Emily mengenal Barry dan mungkin tinggal bersama di bawah satu atap saja sudah cukup membuat Alexander kesal.
"Bos..." jawab Ryan gugup. "Kau masih ingat bahwa kau mengirim Barry ke Port City, bukan?"
"Apa hubungannya itu dengan Emily tinggal di rooftop?" tanya Alexander singkat.
"Bos, ketika aku mengetahui bahwa Nona Emily kesulitan mencari tempat tinggal, aku ingat Barry harus meninggalkan rumah itu dan pindah ke kota lain. Jadi, aku mengambil inisiatif untuk mengatur agar Nona Emily menyewa tempat barunya..."
Lalu Ryan menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana ia meyakinkan Barry untuk menyewakan rumahnya kepada seseorang yang bisa membersihkan dan merawat kamar yang ia tinggalkan. Setelah Barry setuju, ia memastikan agen properti diberi tahu.
"Pagi ini, Nona Emily bertemu Barry, mereka menandatangani kontrak. Dan begitu saja, sekarang Nona Emily adalah penyewa di rooftop..." Ryan mengakhiri penjelasannya dengan perasaan bersalah.
Saat tidak mendengar jawaban dari Alexander, Ryan menambahkan, “Bos, maaf jika aku mengatur sesuatu untuk Nona Emily tanpa berkonsultasi atau meminta persetujuanmu. Aku hanya merasa kasihan padanya. Dan juga karena aku bisa melihat bahwa kau tertarik padanya."
Mendengar kata-kata terakhir Ryan cukup membuat Alexander merasa seperti tersambar petir.
‘Apa aku tertarik padanya?’ Alexander bertanya dalam hati, mencubit alisnya.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk