NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 11 — Perburuan Dimulai

Pintu kamar Jean terbuka tiba-tiba, membentur dinding dengan bunyi berat yang membuat udara seolah ikut bergetar. Jean yang sejak pagi gelisah dan mondar-mandir langsung menoleh. Wajahnya tampak pucat, matanya merah karena semalaman tak tidur. Ketika Elizabeth melangkah masuk dengan tenang, jantungnya seperti jatuh ke dasar perut.

Tanpa mengucapkan salam atau basa-basi, Elizabeth melemparkan sebuah tas hitam ke atas tempat tidur. Tas itu menghantam kasur empuk dan terbuka, menumpahkan isinya begitu saja. Ponsel, laptop, dan kamera milik Jean. Benda-benda itu tergelincir pelan di atas seprai putih, seolah tak menyadari betapa besar kepanikan yang akan mereka timbulkan.

Jean terperanjat. Ia segera meraih ponselnya, tangannya gemetar saat menekan tombol daya. Tanpa memperdulikan Elizabeth yang berdiri diam di dekatnya, ia membuka folder tersembunyi yang selama ini ia jaga seperti harta karun rahasia. Jari-jarinya bergerak cepat, napasnya memburu. Namun layar yang menyala terang itu hanya menampilkan ruang kosong.

“A-apa ini? Tidak ada apapun. Ba-bagaimana bisa?” gumamnya dengan panik. 

Ia membuka galeri lain, berpindah ke folder cadangan, namun sama seperti tadi, semuanya benar-benar kosong.. Wajahnya semakin tegang ketika ia meraih laptop dan menyalakannya dengan tergesa-gesa. Ia memeriksa satu demi satu file, berharap ada yang terlewat.

“Aku sudah menghapus semuanya,” kata Elizabeth tiba-tiba. Ia tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Terima kasih sudah meminjamkannya kepadaku.” 

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan suara keras, antara marah dan panik.

Elizabeth akhirnya melangkah maju, satu langkah saja, tetapi cukup untuk membuat Jean tanpa sadar mundur dengan sendirinya. Wajahnya tetap tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi seperti itu.

“Aku hanya membersihkan sampah,” jawabnya datar.

Amarah Jean sempat melonjak. Ia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Kau tidak punya hak—”

Kalimat itu terputus ketika tatapan Elizabeth berubah. Tidak ada teriakan atau ancaman yang dilontarkan. Hanya sepasang mata yang begitu dingin dan kosong, seolah kehidupan seseorang bukanlah sesuatu yang berarti di hadapannya.

Napas Jean tersendat. Amarahnya runtuh secepat ia muncul. Ia baru menyadari bahwa perempuan di hadapannya bukan lagi sosok yang bisa ia tekan atau ia permainkan. Ada sesuatu yang berbeda dalam diri Elijah, sesuatu yang membuat ruangan itu terasa lebih sempit dan lebih dingin.

“Kita… kita bisa bicarakan ini baik-baik,” katanya terbata. “Aku … aku hanya penasaran. Ke-kenapa kau menghapus semuanya?” 

“Kenapa? Apakah kau takut semua kejahatanmu akan terbongkar? Atau … kau takut jika teman-temanmu itu akan menghajarmu jika mereka tahu bahwa file-file itu telah hilang?” tebak Elizabeth benar. 

Jean menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tak mampu membalas dengan tawa atau ejekan.

“Ma-maaf,” gumamnya lemah. “Aku minta maaf, Elijah. Kumohon, ma-maafkan aku. K-kau tahu, kan? Aku … aku terbawa pengaruh buruk mereka.”

Elizabeth memandangnya beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya. Wajahnya tak menunjukkan kemarahan, hanya keputusan yang sudah bulat.

“Tidak akan pernah ada pengampunan untukmu,” ucapnya akhirnya. “Untukmu maupun teman-temanmu.”

Jean menelan ludah. “Tolong… jangan hancurkan aku. Jangan—”

“Aku tidak tertarik untuk menghancurkanmu,” potong Elizabeth tenang. “Aku hanya ingin kalian semua berada di tempat yang sama.”

Jean mengangkat kepala perlahan, kebingungan bercampur takut. “Untuk apa? Si-siapa kau sebenarnya? Ke-kenapa kau melakukan ini padaku? El-Elijah tidak akan berani untuk—”

“Tentu saja, karena kau menganggapnya sebagai wanita lemah yang mudah kau tindas dan kau manfaatkan bukan?” sela Elizabeth. Urat rahangnya menegang, menahan kesal. 

Ia maju selangkah lebih dekat. “Bagimu, tubuh ini tak ada bedanya dengan benda yang bisa kau jamah sesuka hati, kan? Aku benar-benar sudah muak dengan sikapmu ini, sampai-sampai aku ingin membunuhmu sekarang juga,” kata Elizabeth dingin dan tegas. 

Jean jatuh berlutut di hadapannya dengan tangan gemetar. “A-aku tahu salah, a-aku sudah salah besar, Elijah. A-aku akan melakukan apapun, t-tapi kumohon lepaskan aku. Aku … aku hanyalah pria biasa yang mudah terpengaruh oleh mereka. Percayalah kepadaku, Elijah,” katanya memohon sambil berderai air mata. 

Namun, alih-alih merasa iba. Elizabeth justru menepis tangannya dengan kasar hingga Jean jatuh terduduk ke samping. “Bagaimana, ya? Aku tidak bisa lagi memercayai ucapan badjingan sepertimu,” katanya berjongkok dengan mata yang menatap Jean tajam. 

Jean kembali memohon. “Kumohon, Elijah. Kumohon beri aku satu kesempatan lagi, aku bersumpah. Aku pasti akan melakukan apapun untukmu,” katanya putus asa. Ia bahkan bersujud di hadapan Elizabeth. 

“Baiklah,” kata Elizabeth sambil berdiri lagi. “Bawa mereka ke tempat yang sepi. Tak peduli cara apa yang kau gunakan, aku ingin kau membawa mereka semua ke hadapanku. Apa kau mampu?” tanya Elizabeth tak yakin. 

Keheningan menggantung berat di antara mereka.

“Jika kau bisa membawa mereka semua. Aku mungkin akan mengampunimu,” lanjutnya dengan nada yang hampir terdengar lembut. “Dan jika tidak, kau tahu jawabannya bukan?”

Janji itu terdengar manis, tetapi sesuatu dalam cara Elizabeth mengucapkannya membuat bulu kuduk Jean berdiri. Ia mencoba membaca wajah perempuan itu, mencari celah kebohongan atau tanda bahwa ini hanya gertakan. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang tak tergoyahkan.

Jean sadar bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya. “Baik,” katanya akhirnya dengan suara serak. “Aku akan mencoba menghubungi mereka.”

Elizabeth mengangguk singkat. “Bagus.”

Jean menggenggam ponselnya yang kini bersih dari segala file yang selama ini menjadi tamengnya. Ia mulai berpikir keras, mencari cara agar teman-temannya datang tanpa curiga, mungkin dengan dalih pesta lagi, atau urusan bisnis kecil-kecilan. Apapun itu asalkan mereka berkumpul di satu tempat.

Sementara itu, Elizabeth berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Jangan mencoba menipuku,” katanya pelan. “Kau tidak akan menyukai akibatnya.”

Pintu tertutup dengan bunyi lirih dan Jean berdiri sendirian di tengah kamar mewahnya yang mendadak terasa menyesakkan. 

Pendingin ruangan menyala seperti biasa, tetapi keringat dingin tetap mengalir di pelipisnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang nyata, bukan ketakutan karena tertangkap, melainkan karena diburu.

“Sial, sial, sial!” makinya keras sambil menjambak rambutnya sendiri, frustasi. Ia terjebak dalam posisi yang sulit. “Tidak, tidak, aku tidak boleh diam saja. Aku tidak boleh dikalahkan oleh gadis kampung itu.” 

Jean kemudian meraih ponselnya, lalu menghubungi satu orang. “Aku butuh sesuatu, ini sangat penting,” katanya cepat dan langsung mengakhiri panggilan begitu saja. 

Lalu, Jean berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan satu botol wine dan membuka tutupnya dengan kasar. “Kau pikir kau sudah hebat dengan mengancamku, ya? Kita lihat saja, siapa yang akan membunuh siapa,” katanya sambil menenggak wine itu langsung dari botolnya. 

1
awesome moment
mesti mengumpulkan ingatan utk merangkai cerita meski cm sekedar baca
Night Watcher
mood ku mulai hilang tor, karna terlalu lama teka teki sulivan.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!