NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 01

"Brian, ayo kita mampir ke rumah tetangga," ujar seorang wanita.

Brian yang sedang duduk santai di sofa sambil bermain gim pun bangkit perlahan. "Baiklah, Bu," balasnya datar.

Ia berjalan bersama kedua orang tuanya menuju rumah di seberang. Setelah menekan bel, beberapa detik kemudian, seorang wanita berambut hitam pendek dan matanya yang hitam seperti kopi membuka pintu.

"Ah, kalian pasti keluarga baru di perumahan ini," sambut wanita itu ramah, dengan suara yang lembut dan tenang.

Ibu Brian tersenyum. "Ya, kami hanya ingin mampir dan berkenalan."

"Oh, begitu ya? Sebentar, saya panggilkan dulu putri saya," kata wanita itu sebelum masuk kembali ke dalam rumah.

Ketika ia kembali, ia membawa seorang anak perempuan dengan rambut hitam pendek yang tampak berantakan. Ekspresi anak itu kosong dan murung, seolah tidak ada kehidupan dalam matanya.

"Nama saya Abigail Barbara, dan ini putri saya, Abigail Amayah," ujar wanita itu.

Barbara menyentuh pundak putrinya dengan lembut. "Ayo, kenalkan dirimu."

Namun, Amayah tetap diam. Ia menunduk, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada siapa pun di sekelilingnya. Brian menatapnya dengan tatapan datar—tak jauh berbeda dengan ekspresi anak itu.

"Maaf ya, Amayah memang agak pemalu," ucap Barbara mencoba mencairkan suasana.

"Tidak apa-apa, putra kami juga begitu kok," tambah Ayah Brian.

Brian terus memperhatikan gadis bernama Amayah itu. Ada sesuatu yang terasa ‘salah’ padanya, meski ia sendiri tidak tahu apa. Namun, ia juga tidak peduli. Tidak ada yang membuatnya ingin terlibat dengannya.

Setelah itu, ketiga orang dewasa itu melanjutkan obrolan hangat. Namun, suasana antara Brian dan Amayah begitu hening dan suram. Tak ada suara, tak ada gerakan berarti, tak ada ketertarikan.

Tak lama kemudian matahari terbenam. Kedua keluarga pun berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.

"Brian, kamu harus bisa berbaur dengan tetangga. Kalau kamu kesulitan saat kami tidak ada, siapa yang akan membantumu?" kata Ibu Brian.

"Berhenti menganggap aku anak kecil, Bu. Aku bisa hidup mandiri," balas Brian datar.

"Tapi tetap saja—"

"Sudah, sudah... ayo makan malam," potong Ayah Brian menenangkan.

"Baiklah..."

---

Keesokan paginya adalah hari di mana Brian berpisah dengan kedua orang tuanya. Mereka harus bekerja di luar negeri sangat lama.

"Brian, kalau kamu kesulitan, minta tolonglah pada orang lain. Kamu harus bisa mempercayai orang lain, jangan terlalu menutup diri," pesan Ibu Brian.

"Dan jaga pola makan, pola tidur, serta rutin berolahraga. Jangan lupa belajar juga," tambahnya.

Brian hanya menatap ibunya dengan bingung. "Aku sudah bilang, aku bisa hidup mandiri. Jadi Ibu tidak perlu khawatir."

"Tetap saja Ibu akan khawatir. Kalau ada apa-apa, hubungi kami, ya..."

Ibu Brian memeluk putranya erat—kehangatan yang jarang dirasakan Brian sejak kecil.

"Kalau sewaktu-waktu kamu tidak bisa menghubungi kami, datangi saja Hannah. Dia mengurus cabang perusahaan di sini," kata Ayah Brian.

"Iya, iya, bu, hati-hati di jalan," jawab Brian letih.

Setelah melambaikan tangan perpisahan, mobil orang tuanya menjauh. Brian menatap kepergian mereka tanpa ekspresi, meski hatinya sedikit terasa kosong.

"Apakah ini... yang disebut kasih sayang keluarga?"

"Aku tidak begitu mengerti."

Brian menatap langit. "Mempercayai orang lain, huh? Aku pernah melakukannya... tapi kepercayaanku hancur."

"Sejak kejadian itu, aku tidak percaya siapa pun. Aku hanya percaya orang terdekatku."

Beberapa hari lalu, kejadian yang tidak dapat ia lupakan membuatnya menutup hati dari dunia luar. Kesendirian menjadi tempat aman untuknya.

Saat mengunci pagar rumah, ia mendengar langkah kaki. Ketika menoleh, ia melihat Amayah sedang berjalan menuju sekolah, mengenakan kaus putih, rok pendek, dan membawa tas ransel. Brian mengabaikannya dan kembali masuk.

"Aku akan mulai sekolah hari Senin... malas sekali," gumamnya. "Bayangkan seorang murid baru tiba-tiba mengacak-acak peringkat teratas padahal baru bergabung di awal semester kedua."

"Uniknya di sini, aku yang seharusnya masih sekolah dasar kini tiba-tiba menjadi SMP. Sistem sekolah yang begitu berbeda jauh dengan Indonesia."

"Mending bermain gim daripada sekolah."

---

Hari Senin pun tiba. Hari pertama Brian di sekolah barunya. Karena nilai tes masuknya sempurna, ia ditempatkan di kelas unggulan.

"Baik, silakan perkenalkan diri dulu," ucap wali kelas.

Brian menatap seluruh murid. "Nama saya Brian Narendra, dari Indonesia. Salam kenal."

Bisik-bisik mulai terdengar.

"Dia yang nilainya sempurna itu, kan?"

"Sehebat apa ya?"

Guru menenangkan kelas. "Jangan berisik."

"Silakan duduk di kursi kosong," katanya ramah.

"Ya..." jawab Brian.

Ia duduk di barisan belakang. Tak lama, siswa di sebelahnya menyenggolnya pelan.

"Hei, namamu Brian, kan? Aku John. Mau berteman denganku?" bisiknya.

Brian pura-pura tidak mendengar. Ia tidak ingin terlibat dengan siapa pun.

Pelajaran dimulai. Namun John terus saja mengganggu—melempar kertas, menjatuhkan penghapus, mengikuti Brian ke mana pun, bahkan saat ke toilet. Kesal, Brian mengelabuinya dengan mengambil rute berbelok-belok hingga John tersesat.

Saat pelajaran matematika berlangsung, Brian tertidur. Usaha John membangunkannya tidak berhasil. Guru matematika, Tuan Jimmy, akhirnya menyadarinya.

"Hei, Brian! Bangun!"

Brian terbangun ketika pundaknya digoyang. "Ah, maaf..."

Bisik-bisik kembali pecah.

"Berani tidur di pelajaran Pak Jimmy?"

"Guru killer loh!"

"Sebagai hukuman, kerjakan soal di depan," perintah Jimmy tegas.

Lesu, Brian bangkit. Namun langkahnya tetap santai, seolah tekanan tidak berarti apa pun.

"Kalau dia salah, poinnya dikurangi. Jika poinnya rendah, maka akan dipindahkan ke kelas yang lebih rendah," bisik seorang siswi.

Brian mengambil spidol.

"Aku sudah sering diremehkan. Tidak masalah," gumamnya dalam hati.

"Kalau kuingat-ingat... sistem sekolah ini cukup menekan. Poin menentukan kasta kelas—A paling unggul, lalu B, C, D. Seperti akademi kerajaan di novel fantasi," pikirnya.

Beberapa detik kemudian, seluruh kelas terdiam. Brian menjawab soal itu dengan sempurna. Bahkan Pak Jimmy pun tidak menemukan celah untuk mengkritik.

"Bagus. Jawabanmu sempurna. Beri tepuk tangan," katanya.

Kelas pun bertepuk tangan. Brian kembali duduk tanpa ekspresi.

John berseru pelan, "Kau keren sekali! Pantas berada di kelas ini!"

Brian tidak menggubris dan kembali tidur hingga melewati jam istirahat.

---

Saat istirahat kedua, Brian mencari tempat tenang untuk makan, ia melarikan diri dari teman sekelasnya yang tampak ingin menganggu murid baru sepertinya. Kantin penuh. Ia memutuskan menuju halaman belakang—spot sepi yang terlihat menarik di peta sekolah.

Namun sebelum tiba, ia mendengar suara seseorang menjerit kesakitan. Ia mendekat, mengintip, memastikan aman.

Seorang siswa tergeletak—wajahnya babak belur, pakaiannya kotor.

"Penindasan?" gumam Brian.

Namun saat ia melihat pelakunya, matanya membesar.

"Amayah...?!"

Dengan ekspresi dingin nan menyeramkan, Amayah menghajar anak itu tanpa henti. Bahkan ketika korban sudah tidak sadarkan diri, ia masih sempat menatapnya kosong sebelum pergi begitu saja.

Brian tak bisa berkata apa-apa. Tetangganya yang murung itu—ternyata pelaku penindasan.

Ia menenangkan diri dan pergi. Ia memilih untuk makan di kelas.

"Jadi... kami satu sekolah. Satu angkatan? Atau dia kakak kelasku?" pikirnya.

Saat makan camilannya di kelas, John datang lagi dan menatap makanannya serius.

"Jadi makanan orang jenius itu keripik, roti, biskuit, dan minuman bersoda ya..." gumamnya keras.

Brian tetap makan tanpa peduli.

"Tunggu, aku juga sering makan itu. Tapi kenapa nilaiku tetap jelek...? Ah! Aku harus makan lebih sering! Betul!"

Brian menghela napas. Namun ia teringat sesuatu.

"Hei, kau kenal Abigail Amayah?" tanyanya tiba-tiba.

John terkejut. Orang yang selalu mengabaikannya kini bertanya duluan.

"Akhirnya kau bicara padaku! Aku bosan diabaikan!"

"Jawab saja."

John mengangguk. "Akhir-akhir ini dia sering dikaitkan dengan rumor penindasan. Tapi tidak ada bukti. CCTV tidak pernah menangkapnya, katanya dia melakukan kekerasan di luar sekolah, tapi kurang bukti. Pengakuan korban pun dipatahkan begitu saja."

"Dia tidak pernah dihukum. Itu yang kudengar."

"Dia kelas berapa?"

"Seangkatan dengan kita. Kelas 6-D."

Brian terdiam sejenak. "Berarti nilainya sangat rendah..." gumamnya.

"Hah?" John bingung.

"Tidak apa-apa."

"Mengapa tanya dia? Kau tertarik? Aku akan mendukung hubungan kalian!" seru John.

"Siapa yang bilang begitu? Dan tolong berhenti menggangguku."

"Baiklah! Tapi kalau butuh bantuan, John siap menjadi teman!"

Brian menatapnya serius. "Kenapa kau bersikeras ingin berteman denganku?"

John terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Karena kau terlihat kesepian," ujarnya—setengah mengejek.

"Menjengkelkan," gumam Brian.

"Hahaha, kau marah!"

Tanpa sadar, Brian telah melanggar aturan yang ia buat untuk dirinya sendiri—ia mulai berinteraksi dengan orang lain.

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Malamnya, saat sedang menonton film, perut Brian berbunyi. Ia ke dapur dan melihat makanan yang tersisa.

"Hanya buah... Aku tidak bisa memasak dengan ini semua..."

Ia memutuskan pergi ke minimarket terdekat. Namun ketika mengambil sepeda di garasi, ia melihat seseorang berdiri di depan rumah—Barbara.

"Selamat malam, Brian," sapanya dengan senyum hangat.

"Selamat malam..."

"Mau pergi ke mana malam-malam begini?" tanyanya lembut.

"Ke minimarket," jawab Brian datar.

"Begitu..."

Brian mulai curiga. "Ada keperluan apa?"

Barbara menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Ini soal Amayah..."

---

Keesokan paginya, Brian terbangun dengan rasa gelisah yang masih mengendap di dadanya. Ingatannya kembali pada percakapannya semalam dengan Barbara, ibu Amayah.

"Aku tidak ingin terlibat dengan siapapun… bahkan tetanggaku sendiri."

"Tapi, kenapa aku merasa terseret dalam kasus ini? Padahal aku tidak perlu ikut campur."

Semua itu berawal ketika Barbara menceritakan tentang Amayah.

“Sejujurnya, saya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Barbara pelan. “Tapi saya selalu menerima laporan bahwa Amayah melakukan tindakan kekerasan. Sebagai orang tua satu-satunya, tentu saja saya tak bisa langsung percaya. Itu sebabnya saya selalu berusaha menjaga dan mengawasinya.”

Nada suaranya bergetar lirih. “Amayah yang saya kenal… seolah sudah menghilang. Dulu, ia anak yang baik, ceria, dan suka bercerita. Kepada saya, kepada ayahnya… selalu ada hal yang ingin ia bagikan. Tapi sejak ayahnya meninggal, ia berubah drastis.”

Ekspresi cemas Barbara membuat Brian, tanpa sadar, ikut larut dalam keseriusan.

“Ia menjadi lebih pendiam. Tenang, tapi dengan cara yang membuat saya khawatir. Ia hampir tidak pernah tersenyum lagi. Saya sudah berusaha menghiburnya… tapi semua itu seperti tidak ada artinya.”

Barbara menunduk sedikit, suaranya memohon. “Saya tidak tahu bagaimana Amayah di sekolah. Dan setelah tahu bahwa kamu satu sekolah dengannya… saya berharap kamu bisa menjadi temannya. Saya tahu itu sulit, tapi saya memohon dengan segenap hati…”

“Saya hanya ingin melihat Amayah kembali menjadi dirinya yang dulu. Dan kalaupun tidak bisa… setidaknya, saya ingin melihatnya tersenyum lagi. Maaf sudah merepotkanmu…”

Brian sontak merasa bersalah melihat Barbara yang lebih dewasa darinya justru menunduk di hadapannya.

“Jangan menunduk seperti itu, Bu Barbara…” ucapnya pelan.

"Ibunya tidak tahu seperti apa Amayah di sekolah. Dia hanya tahu anaknya yang dulu… bukan yang sekarang. Tapi pasti ada alasan pribadi kenapa Amayah berubah seperti itu. Ibunya hanya polos—dia tidak mengerti bagaimana isi hati putrinya. Aku juga tidak tahu persis… tapi entah kenapa aku merasa mirip dengannya," batin Brian.

“Saya akan berusaha yang terbaik,” jawab Brian datar.

Barbara tersenyum tipis, tulus. “Terima kasih…”

Percakapan itu berakhir, namun malam itu Brian tidur dengan perasaan campur aduk—gelisah, bingung, dan penuh pikiran.

---

Kembali ke masa kini…

“Meski aku bilang begitu, tapi bagaimana caranya?!” gumam Brian sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Bicara dengannya saja sudah susah… mana mungkin aku bisa melakukan lebih dari itu?”

Ia membuka jendela dan menatap rumah Amayah.

“Tapi… apa yang ‘dia’ lakukan padaku waktu itu… mungkin aku harus melakukan hal yang sama.”

“Kebaikan tidak selalu datang padaku. Kadang… harus aku sendiri yang memulainya.”

"‘Tidak ada salahnya menolongnya, kan?’ Itu pasti yang akan Kayla katakan," ucap Brian sambil tersenyum tipis.

Tidak sengaja, ia melihat Amayah sudah berjalan menuju sekolah—pagi sekali, lebih awal daripada siapa pun. Brian terpaku menatapnya, seperti ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

“Aku harap… aku bisa mengerti dia," katanya dengan datar.

---

Di sekolah, saat jam istirahat, Brian berkeliling mencari Amayah. Ia ingin mencoba mengajaknya bicara, mengingat permintaan Barbara semalam.

Namun itu tidak mudah. Amayah tak terlihat di kelas, dan tak ada di kantin. Mungkin, sama seperti dirinya, Amayah lebih suka tempat yang sepi.

Akhirnya Brian berjalan ke halaman sekolah—ke area taman yang jarang dikunjungi. Di tengahnya berdiri sebuah pohon besar yang cantik, jauh dari gedung utama. Tempat yang sunyi… dan cocok untuk menyendiri.

Brian menghela napas. "Mungkin dia sudah kembali ke kelas…"

Ia duduk di bangku, mulai memakan cemilannya. Namun tak lama kemudian, ada sesuatu yang membuatnya menoleh.

Bukan suara—melainkan kehadiran. Dari pantulan jendela gedung, ia melihat seseorang di balik pohon.

Amayah.

Ia duduk di tanah, memakan bekalnya tanpa suara. Brian cukup terkejut, tapi ia tetap diam dan melanjutkan mengunyah rotinya.

Suasana sunyi. Hening yang justru terasa berat.

Hingga akhirnya Brian membuka suara.

“Mengapa kau melakukan itu?” tanyanya datar.

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!