NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Penawar Terakhir

Esme tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam duka terlalu lama. Semangat ilmuwannya bangkit kembali, kali ini dipicu oleh keputusasaan dan rasa cinta yang mendalam. Dia tahu bahwa waktu adalah musuhnya. Semakin lama AL berada dalam wujud predator puncaknya, semakin dalam sel-sel Enigma akan menghapus sisa-sisa kemanusiaannya hingga tidak ada lagi jalan kembali.

"Aku yang menciptakanmu, Aleksander. Dan aku juga yang harus membawamu pulang," bisik Esme sambil menyeka air matanya dengan kasar.

Selama tiga hari tiga malam, Esme tidak keluar dari laboratorium kecilnya. Pondok itu kini dipenuhi aroma bahan kimia yang menyengat, bercampur dengan aroma herbal dari hutan. Ocan tetap setia berada di sampingnya, meski kucing itu tampak gelisah setiap kali mendengar suara raungan dari kejauhan yang semakin sering terdengar setiap malam.

Esme mencampurkan ekstrak tanaman langka yang ia temukan di lereng bukit dengan serum penstabil yang ia bawa dari laboratorium pusat. Jari-jemarinya yang gemetar dengan telaten meneteskan cairan demi cairan ke dalam tabung reaksi. Dia tidak lagi menggunakan instruksi lama; dia memasukkan variabel baru ke dalam rumusnya: variabel yang berkaitan dengan detak jantung dan emosi manusia.

"Berhasil..." gumam Esme saat melihat cairan di dalam tabung berubah menjadi warna biru langit yang jernih. "Ini harus berhasil."

Tanpa menunggu fajar, Esme bersiap. Dia mengenakan sepatu botnya, membawa tas medis, dan yang paling penting, dia membawa pita rambut merah yang baru—warna yang sama dengan yang pernah AL berikan pada nya. Dia tahu AL masih menyimpan sisa-sisa memorinya lewat pita yang lama, dan dia harus menggunakan itu sebagai "pancingan" emosional.

Esme masuk kembali ke hutan yang kini terasa jauh lebih mengancam. Suasana hutan tampak berubah; hewan-hewan kecil menghilang, seolah-olah seluruh penghuni hutan sedang bersembunyi dari sang raja baru yang haus darah.

Esme sampai di sebuah tebing tinggi di mana terdapat sebuah gua gelap yang dikelilingi oleh bangkai-bangkai hewan. Aroma amis darah tercium tajam. Di mulut gua itu, sesosok bayangan besar sedang mendekam. Otot-otot punggungnya yang tanpa pakaian tampak menonjol, berkilat di bawah cahaya bulan yang mulai meredup.

"Aleksander..." panggil Esme, suaranya bergetar namun penuh ketegasan.

Makhluk itu berbalik dengan kecepatan yang mematikan. AL—atau apa pun yang mendiami tubuh itu sekarang—menggeram sangat rendah. Dia merangkak dengan empat kaki, matanya yang kuning berpendar tajam dalam kegelapan. Tidak ada sisa kemanusiaan di wajahnya yang kini lebih tirus dan liar.

AL menerjang. Esme tidak lari. Dia berdiri diam, memegang tabung penawar itu di tangan kanannya dan pita merah di tangan kirinya.

"Ingat ini, Aleksander?" Esme mengangkat pita merah itu tinggi-tinggi. "Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang kau adalah suamiku. Apakah kau akan membiarkan monster ini memakan semua kenangan kita?"

AL berhenti hanya beberapa senti dari wajah Esme. Napasnya yang panas dan berbau darah menerpa wajah wanita itu. AL mengangkat tangannya, kuku-kukunya yang tajam bersiap untuk merobek leher Esme. Namun, saat melihat pita merah itu, gerakan AL terhenti. Kepalanya miring ke samping, sebuah kilatan kebingungan muncul di matanya yang liar.

Dia mengeluarkan suara rengekan kecil, suara yang lebih mirip binatang yang sedang terluka daripada predator yang lapar.

"Aku tahu kau masih di sana," isak Esme. "Aku tidak takut padamu, Aleksander. Karena kau adalah bensin dalam pernikahanku, ingat?"

Esme menggunakan kesempatan itu untuk mendekat. Dengan gerakan nekat, dia memeluk leher AL, menempelkan tubuh mungilnya pada dada bidang yang keras seperti batu itu. AL membeku. Tubuhnya yang besar bergetar hebat. Ingatan tentang pelukan di depan perapian, tentang suara tawa Esme, dan tentang ajaran-ajaran bodoh Bang Togar mulai menghantam dinding-dinding genetik Enigma-nya.

"Minum ini... kumohon," Esme membuka tutup tabung dan mengarahkannya ke mulut AL.

Insting AL awalnya menolak, dia mencoba memberontak, namun Esme memegang wajahnya dengan kedua tangan. "Lakukan ini untukku, Suamiku. Pulanglah padaku."

AL akhirnya menelan cairan biru itu. Seketika, reaksi hebat terjadi. AL mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dan dia jatuh berlutut sambil mencengkeram dadanya. Dia berteriak ke arah langit, suara raungan yang perlahan-lahan berubah kembali menjadi teriakan manusia yang penuh penderitaan.

Esme memeluknya erat, membiarkan AL meremas bahunya hingga memar. "Tidak apa-apa... aku di sini... Moa di sini..."

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, tubuh AL menjadi lemas. Napasnya mulai teratur. Kuku-kukunya memendek, dan pupil matanya perlahan-lahan melebar kembali menjadi bulat. AL mendongak, menatap Esme dengan mata yang kini dipenuhi oleh air mata dan kesadaran.

"Moa...?" bisik AL. Suaranya sangat lemah, namun itu adalah suara yang sangat dirindukan Esme.

"Iya, ini aku," Esme mencium dahi AL berkali-kali. "Kau sudah kembali."

AL melihat ke sekeliling, melihat bangkai hewan dan gua gelap itu, lalu dia melihat tangannya yang bersimbah darah. Dia tampak sangat ketakutan. "Aku... aku menyakitimu? Aku hampir memakanmu?"

"Tidak, kau tidak melakukannya," dusta Esme sambil tersenyum manis di tengah tangisnya. "Kau hanya sedang berjalan-jalan terlalu jauh di hutan."

AL memeluk Esme dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada Esme seperti anak kecil yang baru saja terbangun dari mimpi buruk. "Jangan pernah biarkan aku pergi lagi, Moa. Aku takut... aku sangat takut kehilangan suaramu."

Esme mengelus rambut AL yang kotor oleh tanah dan daun. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi. Mari kita pulang. Ocan merindukanmu, dan dapur kita sangat sepi tanpamu."

Mereka berjalan pulang dengan perlahan. AL yang masih lemas harus bersandar pada bahu mungil Esme. Saat mereka sampai di pondok, fajar baru saja menyingsing. Ocan sudah menunggu di atas pagar, mengeong keras seolah menyambut kepulangan sang raja.

Esme membersihkan tubuh AL, memberinya pakaian bersih, dan menyuapinya sup hangat. AL menolak untuk melepaskan tangan Esme barang sedetik pun. Dia terus menatap Esme seolah-olah jika dia berkedip, wanita itu akan hilang.

"Moa," panggil AL saat mereka berbaring di sofa, kelelahan namun merasa tenang.

"Ya, Aleksander?"

"Bang Togar benar," ucap AL pelan.

"Tentang apa?"

"Tentang cinta. Dia bilang cinta itu bensin. Tapi menurutku, cinta itu adalah pita merah ini," AL menunjukkan pita merah yang diberikan Esme tadi. "Ini yang menahanku agar tidak menjadi monster sepenuhnya. Terima kasih sudah mencintaiku, meskipun aku hampir menjadi beruang."

Esme tertawa kecil, mencium pipi AL dengan penuh kasih. "Kau bukan beruang. Kau suamiku yang paling hebat."

Namun, di tengah kedamaian itu, Esme tahu bahwa rahasia mereka tidak akan aman selamanya. Seseorang dari masa lalu Esme mulai melacak keberadaan "Subjek Enigma" yang hilang, dan sebuah helikopter hitam tanpa identitas terlihat melintasi perbatasan desa di pagi buta itu.

Apakah mereka akan bisa mempertahankan kebahagiaan ini, ataukah Esme harus menghadapi konsekuensi dari eksperimennya di depan publik?

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!