"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Api di Ujung Jari
Bab 30: Api di Ujung Jari
Fajar di Jakarta menyapa dengan mendung yang menggantung rendah, seolah langit ikut menahan napas menunggu ledakan yang telah disiapkan Anindya. Bab ini akan menjadi titik balik besar, di mana Anindya tidak lagi sekadar bertahan di balik bayangan, tetapi mulai membakar jembatan yang menghubungkan para penguasa korup.
Dinding kamar hotel kelas melati itu lembap dan berbau pembersih lantai murahan, namun bagi Anindya, ini adalah benteng pertahanannya yang paling aman untuk saat ini. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap layar televisi kecil yang hanya menampilkan semut-semut statis, sebelum akhirnya ia menyalakan ponsel rahasianya.
Tepat pukul 06.00 WIB, notifikasi mulai masuk bertubi-tubi. Ia tidak perlu membuka portal berita untuk tahu apa yang terjadi; getaran ponselnya sudah cukup memberi tahu bahwa Clarissa telah menepati janji.
Headline utama di portal berita Metropolis Daily—milik keluarga Clarissa—terpampang dengan huruf kapital yang mencolok: "SKANDAL PROYEK HITAM: BOCORNYA DOKUMEN SUAP ANTAR RAKSASA KONSTRUKSI".
Di bawahnya, foto buram Tuan Wijaya yang sedang bersalaman dengan seorang pejabat kementerian disandingkan dengan salinan digital "Proyek Hitam 09" yang melibatkan Pak Arman. Nama PT Mega Konstruksi dan Wijaya Group terseret dalam satu pusaran lumpur yang sama.
Anindya menarik napas panjang. Rasa sesak di dadanya sedikit berkurang, berganti dengan adrenalin yang dingin. Ia telah meledakkan bom itu. Sekarang, ia tinggal menunggu siapa yang akan terbakar lebih dulu.
Ponselnya berdering. Nama Pak Arman muncul di layar. Anindya membiarkannya berdering hingga masuk ke kotak suara. Ia tahu Pak Arman pasti sedang dalam kondisi panik luar biasa. Pria yang kemarin menganggapnya sebagai "aset" berharga, kini pasti sedang mengutuk hari di mana ia mempekerjakan Anindya.
Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk dari nomor Pak Arman:
"Kau menghancurkan karirku, Anindya. Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi sebenarnya. Aku mencoba melindungimu dari Wijaya, tapi kau justru menusukku dari belakang. Jangan harap kau bisa keluar dari hotel itu dengan selamat."
Anindya tersenyum tipis. Pak Arman membuat satu kesalahan lagi: dia mengonfirmasi bahwa dia tahu di mana Anindya berada. Itu artinya, sistem pelacakan perusahaan masih aktif di ponsel kantor yang sempat Anindya bawa. Dengan tenang, Anindya mengambil ponsel kantor itu, membungkusnya dengan alumunium foil, dan memasukkannya ke dalam tangki air toilet di lorong hotel.
Ia harus bergerak sekarang.
Anindya mengenakan jaket hoodie gelap dan masker medis. Ia menggendong tas ranselnya yang berisi semua bukti fisik asli—satu-satunya asuransi nyawanya. Ia keluar melalui pintu servis hotel, menghindari lobi yang mungkin sudah diawasi oleh orang-orang suruhan Wijaya atau intelijen suruhan Pak Arman.
Tujuannya sekarang adalah satu: Stasiun Senen. Ia harus memindahkan ayahnya ke tempat yang lebih jauh lagi. Ia menyadari bahwa Jakarta sudah terlalu panas untuknya. Namun, saat ia baru saja hendak memesan taksi, sebuah mobil SUV perak berhenti di depannya.
Kaca jendela turun. Satria berada di balik kemudi dengan wajah yang tampak sangat kuyu, matanya merah seolah tidak tidur berhari-hari.
"Masuk, Nin. Cepat!" perintah Satria dengan nada mendesak.
"Kau pikir aku masih percaya padamu setelah aku tahu tentang Black Rose Holdings?" Anindya mundur selangkah, tangannya meraba saku di mana ia menyimpan semprotan merica.
"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan itu sekarang! Ibuku sudah kehilangan akal. Dia baru saja mengirim orang untuk menjemput bapakmu di tempat persembunyian yang lama. Aku berhasil memindahkan beliau sebelum mereka sampai, tapi aku tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi!"
Anindya membeku. "Ayah... Ayah ada bersamamu?"
"Beliau di kursi belakang. Lihat sendiri!"
Anindya mengintip ke dalam kaca gelap. Di sana, Pak Rahardian duduk dengan wajah pucat, tampak bingung namun selamat. Tanpa pikir panjang lagi, Anindya masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, Satria langsung menginjak gas, membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan tinggi.
"Ke mana kita pergi?" tanya Anindya sambil menggenggam tangan ayahnya yang gemetar.
"Keluar dari kota ini. Aku punya sebuah vila kecil di kaki Gunung Salak atas nama orang lain. Tidak ada yang tahu tempat itu, bahkan Ayah atau Ibu sekalipun," jawab Satria tanpa menoleh. "Nin, mengenai Black Rose... itu bukan cara aku memperkaya diri. Itu adalah dana darurat yang aku kumpulkan untuk membayar semua ganti rugi keluarga korban kebakaran 2005. Aku tahu Ayah tidak akan pernah melakukannya, jadi aku melakukannya secara diam-diam."
Anindya terdiam. Ia ingin percaya, tapi pengkhianatan yang ia lihat di kantor PT Mega Konstruksi membuatnya sulit membuka hati. "Lalu kenapa Clarissa bilang kau memanfaatkanku?"
Satria tersenyum getir. "Clarissa ingin aku jatuh agar dia bisa bebas dari perjodohan tanpa terlihat seperti pihak yang bersalah. Dia menggunakanmu untuk memicu konflik antara aku dan ayahku. Di dunia ini, Nin, kau bukan satu-satunya orang yang punya agenda."
Anindya memejamkan mata. Kepalanya berdenyut. Ia merasa seperti pion yang sedang diperebutkan oleh banyak pemain besar. Namun, ia menyadari satu hal: selama ia memegang bukti-bukti asli di tasnya, dialah yang sebenarnya memegang kendali.
Di tengah perjalanan, radio mobil menyiarkan berita terbaru.
"Pihak kepolisian telah melakukan penggeledahan di kantor pusat Wijaya Group dan PT Mega Konstruksi pagi ini. Direktur Operasional PT Mega Konstruksi, Saudara Arman, dikabarkan telah melarikan diri dan kini berstatus DPO. Sementara itu, Tuan Wijaya Kusuma dikabarkan sedang menjalani pemeriksaan intensif di markas besar kepolisian..."
"Kau melakukannya, Nin," bisik Satria. "Kau benar-benar membakar rumah mereka.
"Ini baru permulaan, Satria," jawab Anindya dingin. "Mereka belum masuk penjara. Mereka masih punya pengacara, uang, dan koneksi. Aku baru saja menyulut api, aku belum melihat mereka menjadi abu."
Tiba-tiba, sebuah truk besar di depan mereka melakukan pengereman mendadak. Satria membanting setir ke kanan, namun dari arah belakang, sebuah mobil hitam lain—yang tampaknya sudah mengikuti mereka sejak tadi—sengaja menabrak bagian belakang SUV Satria.
Brakkk!
Mobil mereka terpelanting, berputar di atas aspal yang licin karena hujan. Anindya berteriak, mencoba melindungi ayahnya dengan tubuhnya sendiri. Mobil berhenti setelah menghantam pembatas jalan.
Dalam keadaan setengah sadar dan telinga yang berdenging, Anindya melihat beberapa pria berpakaian hitam keluar dari mobil yang menabrak mereka. Salah satu dari mereka memegang senjata api.
"Anindya... lari..." gumam Satria yang kepalanya membentur setir dan mengeluarkan darah.
Anindya melihat tas ranselnya tergeletak di lantai mobil. Ia melihat ayahnya yang pingsan. Rasa takut sempat menyergapnya, namun kemudian ia teringat wajah Nyonya Lastri yang meremehkannya. Ia teringat delapan tahun penderitaannya.
Ia tidak akan lari. Tidak kali ini.
Anindya mengambil botol parfum kaca berat dari tasnya dan sebuah korek api gas. Ia tahu ini gila, tapi ia tidak punya pilihan. Saat pintu mobil ditarik paksa dari luar, Anindya sudah siap.
"Berikan tas itu, atau bapakmu mati!" bentak salah satu pria itu.
Anindya menatap mata pria itu dengan tatapan iblis yang haus akan keadilan. "Kalian ingin api? Aku akan berikan kalian neraka."