Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Yang Terjadi Setelah Mati Bunuh Diri
Untung saja Rangga mampu menggenggam tangan perempuan itu. Dia lalu berusaha menariknya kembali ke atas.
"Jangan! Aku mohon lepaskan aku..." pinta perempuan itu dalam keadaan berlinang air mata. Tubuhnya menggantung di udara. Rangga memegangi tangannya dengan erat.
"Mirna akan sedih kalau kau melakukan ini. Apa kau tahu bagaimana kehidupan orang yang mati setelah bunuh diri? Bukannya lari dari masalah, mereka hanya akan masuk pada masalah baru..." ujar Rangga. "Ayo! Naiklah kembali. Aku tidak bisa menarikmu kalau kau tidak berusaha."
Perempuan itu menangis histeris. Tubuhnya bergetar, keringat panas dingin keluar, sebab ketinggian itu sebenarnya membuatnya takut.
"Kau pasti takut kan? Jatuh ke bawah itu pasti rasa sakitnya luar biasa. Tubuhmu bisa hancur berkeping-keping!" Rangga mengingatkan.
Setelah terdiam cukup lama, perempuan itu akhirnya bergerak. Dia mengerahkan tenaga untuk naik ke atas tebing lagi. Alhasil Rangga bisa menariknya dengan mudah. Kini keduanya terduduk di sana. Perempuan tersebut masih menangis tersedu-sedu.
"Ayo kita ke tempat yang lebih aman. Aku janji akan melindungimu," tutur Rangga.
Perempuan itu mengangguk. Dia dan Rangga melangkah pulang menyusuri jalanan setapak.
"Namamu siapa?" tanya Rangga.
"Dian," jawab Dian.
"Kau mau makan apa? Aku akan belikan makanan untukmu. Kau pasti lapar," tawar Rangga.
"Aku mau sate," sahut Dian yang mulai berhenti menangis.
Rangga tersenyum tipis. Dia merasa lega Dian memutuskan tidak jadi melompat dari tebing. "Maaf, kalau begitu aku akan memborgol tanganmu."
Dian mengangguk dan segera menyerahkan kedua tangannya.
"Mengenai masalah yang aku hadapi setelah bunuh diri, apa yang terjadi?" celetuk Dian. Sepertinya dia penasaran terkait hal itu.
"Dari ustadz yang aku kenal, katanya orang yang mati bunuh diri akan terus mengulang cara kematiannya sampai hari kiamat nanti. Bayangkan betapa tersiksanya itu. Apalagi kita manusia di bumi, nggak tahu kapan hari kiamat akan datang," terang Rangga. Dia tak menyangka obrolannya dengan Junaidi tahun lalu bisa berguna sekarang.
"Apa itu artinya Mirna juga tersiksa di sana?" imbuh Dian yang tampak menunduk sedih.
"Dia bisa lebih tenang kalau ada yang peduli padanya, mendoakannya. Siapa lagi kalau bukan kau?" tanggap Rangga.
Dian kembali menangis. Dia berucap, "Terima kasih... Aku nggak akan melupakan ini. Sekarang aku pasrah kalau harus di penjara..."
"Kita akan bicarakan itu pas di kantor. Kau sebaiknya tenangkan diri dulu. Aku juga akan merahasiakan tentang dirimu dari korban untuk sementara."
Dian mengagguk, Rangga segera membawanya ke kantor. Setibanya di sana, sudah ada beberapa rekan polisi Rangga yang lain datang. Mengingat hari sudah siang. Kala itu mereka semua sudah tahu yang terjadi karena Beben sudah bercerita.
Rangga juga tak melihat Fira lagi di kantor. Sepertinya orang tuanya sudah menjemputnya untuk pulang. Rangga sendiri merasa lega, karena jika Fira tahu kalau dirinya selama ini dikerjai oleh Dian, dia pasti akan marah besar. Untuk sekarang, Rangga ingin mendengar cerita dari sisi Dian terlebih dahulu. Fira dan Nadia pastinya juga butuh waktu untuk membaik.
"Siapa dia, Ga?" tanya Beben.
"Tersangka yang sudah mengganggu Nadia dan Fira. Tapi dia sudah menyerahkan dirinya," jawab Rangga.
"Jadi dia wanita?! Gila! Tega sekali kau menyakiti anak SMA. Perempuan lagi," timpal Pak Adi.
Dian langsung mendelik. Dia tentu tak suka tuduhan itu. "Mereka yang lebih dulu menyakiti adikku! Bahkan sampai meninggal! Mereka beruntung, aku tidak sampai membunuh!" geramnya.
"Dian... Sudah... Jangan dengarkan Pak Adi. Dia nggak tahu apa-apa. Ayo duduk ke dalam dulu. Aku akan segera membelikan satemu," kata Rangga sambil membawa Dian masuk ruang BAP.
Di sisi lain, Pak Adi menatap tajam Rangga. Dia lalu mengajak Rangga bicara empat mata.
"Kau kenapa memperlakukan pelaku begitu, hah?! Itu membuat mereka bertingkah tahu nggak!" omel Pak Adi. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia memarahi Rangga. "Kau itu selalu berbuat semaunya! Kalau suatu hari kau kena masalah, semua anggota polsek di sini juga kena!"
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄