PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Batas yang dilanggar
Mata Jihan yang melihatnya membulat seketika. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut melihat keberanian Olivia yang tidak tahu malu. Namun, ia segera menarik napas panjang, berusaha tetap tenang dan memasang wajah datar agar tidak dikira cemburu.
Tepat saat bibir Olivia hampir menyentuh milik William, ponsel di saku jas William bergetar dan berdering nyaring. Suara itu memecah ketegangan di antara mereka dan menghentikan gerakan Olivia seketika.
William segera menarik diri sedikit, merogoh ponselnya, dan melihat layar. Tanpa memedulikan kekecewaan di wajah Olivia, ia mengangkat panggilan itu.
"Apa?" tanya William singkat dengan nada bicara bisnis yang keras.
Olivia menghentakkan kakinya ke lantai, mengeluh dengan nada manja yang sangat kentara. "Ih, William! Siapa sih yang menelepon di saat seperti ini? Kau selalu saja terganggu!"
William menempelkan ponsel ke telinganya, mengabaikan rengekan Olivia sejenak. Suaranya berubah menjadi bariton yang otoriter dan dingin, ciri khas sang penguasa bisnis.
"Proyek di Paris?… Serahkan laporannya di mejaku. Aku akan membuat keputusannya dalam 10 menit. . Jangan ada kesalahan pada kalkulasi biaya logistik globalnya. Jika meleset satu persen saja, batalkan kontrak dengan vendor itu. Aku tidak peduli mereka dari mana. Mengerti? Kirim filenya sekarang."
Klik.
William mematikan ponselnya dengan gerakan tegas. Ia menoleh perlahan, menatap Olivia dengan tatapan yang sangat datar tatapan yang tidak menunjukkan sedikit pun gairah yang tadi dipamerkan Olivia.
Di dalam kepalanya, William sedang menghitung jarak. Apa yang terjadi antara dirinya dan olive adalah masa lalunya dalam permainan kotor yang bukan urusan Jihan.
William kemudian menoleh ke arah Jihan yang masih berdiri di sana dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca.
"Jihan," panggil William. "Pergilah duluan ke mobil. Rafael sudah menunggumu di lobi depan."
"Baiklah," jawab Jihan singkat tanpa perdebatan.
Aku juga tidak sudi melihat pemandangan yang merusak mata ini lebih lama lagi. Aku hanya ingin cepat pulang, mandi, dan mengistirahatkan tubuhku yang remuk ini. Dalam batinnya, Jihan merasa lega.
Jihan berbalik dan melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang, hingga sosoknya menghilang di balik pintu kaca lobi.
Melihat Jihan sudah pergi, Olivia langsung berubah. Ia tersenyum lebar, merasa menang. "Jihan sudah tidak ada. Akhirnya kita bebas, William..." Olivia mencondongkan tubuhnya kembali, matanya terpejam, mencoba meraih bibir William.
William justru mengulurkan tangan dan mendorong bahu Olivia hingga wanita itu mundur satu langkah.
"Olivia, apa yang kau lakukan?" desis William tajam. "Aku sudah mengatakannya berkali-kali. Sandiwara kita berakhir saat Anna sudah tidak ada.
Itu berarti hubungan kita juga berakhir."
Olivia tersentak. Matanya mulai berkaca-kaca, napasnya memburu karena marah dan sedih. "Kau tidak bisa melakukan ini padaku, William! Aku sudah mengorbankan segalanya untuk sandiwaramu ini! Aku meninggalkan kekasihku, merusak reputasiku sendiri demi terlihat sebagai wanitamu, aku selalu siap kapan pun kau menelepon... Aku melakukannya karena aku siap menggantikan posisi Anna di sisimu!"
William memberi jarak lebih jauh, raut wajahnya tampak muak. "Aku sudah menggantinya lebih dari cukup, Oliv. Aku sudah memberikanmu semuanya, koneksi di dunia hiburan yang membuatmu jadi model papan atas, karier yang cemerlang, mansion mewah, keamanan, materi yang tidak akan habis. Aku sudah sangat bertanggung jawab."
"Dan satu hal lagi," suara William merendah, terdengar sangat menyakitkan. "Kau tidak akan pernah bisa menggantikan Anna di hatiku. Aku menghargaimu karena kau adalah sahabatnya, tapi kau melanggar kesepakatan kita. Kau melampaui batas sandiwara dan terus mencoba mendekatiku terus menerus."
"Itu tidak cukup, William!" teriak Olivia dengan suara gemetar. "Aku kehilangan kehangatan dari kekasihku demi kau! Aku kesepian, dan kau juga kehilangan Anna! Kita berdua menderita, William... kita bisa saling menyembuhkan jika kita bersama!"
William mendesis, matanya berkilat marah. "Aku sudah membayar sandiwara itu dengan harga yang sangat mahal, Oliv. Soal kau kehilangan kekasihmu? Itu bukan tanggung jawabku. Dan jangan sekali-kali kau membawa nama Anna lagi!"
"Tidak, William! Kau memperlakukanku berbeda di luar sandiwara itu! Kau memberiku perhatian, kau memberiku harapan!" Olivia menangis sesenggukan. "Aku tidak bisa melupakan kenangan kita. Jangan membuat jarak seolah kita orang asing. Ingatlah saat kau terpuruk saat Anna meninggalkanmu lalu tiada... siapa yang ada di sisimu selain aku? Tidakkah ada sedikit saja ruang untukku?"
William terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jalanan malam yang gelap di balik kaca restoran. Ada keheningan panjang yang menyiksa sebelum ia menjawab.
"Aku sudah mencoba," ucap William pelan namun dingin. "Tapi tetap tidak bisa. Anna tetap berada di tempatnya di hatiku. Tak ada yang bisa menggantikan nya."
Olivia menghapus air matanya dengan kasar, tertawa getir di sela tangisnya. "Lalu bagaimana dengan Jihan? Kau menikah dengannya padahal di hatimu masih ada Anna?”
"Apa yang terjadi antara aku dan Jihan, itu sama sekali bukan urusanmu. Jangan pernah melewati batas lagi, Olivia," ucap William dingin, suaranya seperti es yang membeku, tak memberikan celah bagi Olivia untuk mendebat lebih jauh.
Namun, Olivia tidak menyerah. Ia justru menatap William dengan sorot mata yang dibuat-alih penuh ketakutan, air matanya sengaja dibiarkan mengalir untuk memancing simpati.
"William, kumohon dengarkan aku dan percayalah padaku... Jihan bukan wanita baik yang kau kira. Tadi di kamar mandi, dia... dia berbeda saat kau tidak ada , dia membentakku." isak Olivia dengan nada yang dilebih-lebihkan.
“Dia bahkan memperlakukanku dengan sangat kasar, menyuruhku merapikan gaunnya seolah aku ini pelayannya! Dia mengancamku, William... aku takut. Aku hanya ingin memastikan kau tidak jatuh ke tangan wanita yang salah."
William menyipitkan matanya. Sebuah kilatan ketidaksenangan muncul di wajahnya. Jihan mengancam Olivia? Pikirannya tentang Jihan mulai terusik oleh cerita manipulatif Olivia.
Di Dalam Mobil Marculles
Sementara itu, Jihan sudah duduk di kursi belakang mobil yang sunyi. Ia menyandarkan kepalanya.
William menyuruhku pergi hanya karena aku pengganggu,untuk melepaskan kerinduannya dengan Olivia dan berciuman. Itulah alasan dia begitu kasar padaku ini? dia hanya ingin menjaga perasaan wanita yang benar-benar ia cintai. batin Jihan getir.
Rasa sesak itu bukan karena cemburu, melainkan karena rasa sepi yang tiba-tiba menghimpit. Jihan melirik ke arah restoran tadi. Pikirannya melayang pada Zeiran. Ia pun merasakan rindu yang sama hebatnya, rindu yang ingin ia lepaskan pada kekasihnya. Ia juga teringat pada Jinan, kembarannya yang masih dalam kondisi kritis.
Aku tidak bisa menunda lagi. Besok, apa pun risikonya, aku harus menemui Jinan, tekadnya dalam hati.
Untuk mengalihkan rasa cemasnya, Jihan mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba membuat akun media sosial baru untuk mencari informasi atau sekadar membuang rasa bosan.
"Sangat membosankan... hidup ini benar-benar bisa membuatku gila," gumam Jihan sangat pelan sambil jemarinya bergerak di atas layar ponsel.
Rafael di kursi pengemudi memperhatikannya lewat spion tengah, mata elang Rafael menangkap setiap gerak-gerik Jihan. Ia melihat pantulan layar ponsel di mata Jihan dan mendengar gumamannya.
Rafael tetap diam, namun tatapannya sangat tajam, seolah sedang mencatat setiap tindakan mencurigakan sang Nyonya untuk dilaporkan pada tuannya.
Di koridor restoran the azure
Olivia memeluk William dengan sangat erat, bahunya naik-turun seiring isak tangis yang sengaja ia buat terdengar menyayat hati. "William... bagaimana jika Jihan menyerangku lagi? Dia menggunakan statusnya sebagai istrimu dan namamu untuk mengancamku. Aku takut sekali," bisiknya penuh drama.
William menarik napas tajam, mencoba menahan emosi yang mulai tersulut. "Itu tidak akan terjadi. Bukankah aku sudah menempatkan tim keamanan untuk menjagamu? Fasilitas itu lebih dari cukup untuk melindungimu dari siapa pun."
"Itu tidak cukup!" Olivia mendongak, matanya merah karena air mata buatan. "Hanya kau yang bisa melindungiku, William. Aku ingin bersamamu... jika aku menjadi istrimu, tidak akan ada yang berani menyentuhku!"
William terdiam, rahangnya mengeras karena kesal. "Olivia, stop. Lepaskan aku!" Dengan paksa, William melepaskan pelukan Olivia dan melangkah mundur, memberi jarak yang tegas.
"Dengarkan aku baik-baik. Tidak ada lagi sandiwara apa pun di antara kita. Jangan melewati batas! Tidak akan ada yang menyerangmu, dan aku sudah memberimu segalanya untuk menjamin hidupmu. Aku tidak ingin membahas masa lalu, apalagi masa depan denganmu. Jangan mengganggu stabilitas hidupku sekarang!"
"Aku tidak akan mengganggu stabilitasmu!" seru Olivia histeris. "Aku hanya ingin di sampingmu, mendukungmu, memberikan cinta yang kau butuhkan. Hanya aku yang bisa mencintaimu seperti itu, William!"
William menatapnya dengan pandangan dingin dan mati. "Aku tidak butuh cinta dalam hidupku, Oliv. Cinta sudah berakhir bagiku sejak lama. Aku tidak butuh banyak wanita. Fokusku hanya satu, kekaisaranku. Dan kau, Olivia... pergilah sekarang sebelum aku benar-benar marah padamu."
Olivia menggeleng keras, air mata terus mengalir. "Tidak, William! Ingat ini... ini belum berakhir. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuktikan padamu bahwa aku yang paling pantas disisimu."
William mengabaikannya, membalikkan tubuh untuk melangkah pergi menuju mobilnya. Namun, dengan gerakan cepat, Olivia kembali memeluk tubuh kokoh William dari belakang.
"Biarkan pelukan ini menjadi perpisahan malam kita," bisik Olivia dengan nada yang tiba-tiba tenang namun licik. "Aku akan selalu menunggumu jika Jihan mengecewakanmu nanti."
Sambil membenamkan wajahnya di pundak William, Olivia dengan sengaja menggesekkan bibirnya ke kerah kemeja putih William, meninggalkan bekas lipstik merah yang cukup mencolok tanpa disadari oleh pria itu.
William menyingkirkan tangan Olivia. "Hentikan, Oliv! Cukup!"
Tanpa menoleh lagi, William melangkah pergi dengan langkah lebar dan penuh amarah menuju mobilnya. Di belakangnya, Olivia berdiri tegak. Ia menghapus sisa air matanya, lalu sebuah senyuman penuh kemenangan terukir di wajahnya. Berharap bekas merah di kerah itu akan menjadi bom waktu bagi hubungan William dan Jihan malam ini.