Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 Tekanan yang Tidak Terucap
Malam itu tidak membawa hujan, hanya udara berat yang menempel di dinding rumah. Elena duduk di tepi ranjang, mendengarkan jam berdetak. Detaknya tidak berubah, namun jarak antar detik terasa memanjang. Marcus belum tidur. Ia tahu dari cara napas itu terdengar—tertahan, tidak pernah benar-benar jatuh.
“Elena,” panggil Marcus akhirnya.
Ia menoleh perlahan. “Ya?”
Marcus berdiri di ambang pintu, ragu seperti orang yang lupa bagaimana memulai percakapan. “Kau… masih merasa pusing?”
“Kadang,” jawab Elena jujur. “Tapi aku bisa mengatasinya.”
Marcus mengangguk. Ia mendekat, duduk di sisi ranjang, jaraknya terlalu dekat. Elena tidak bergerak. Ia membiarkan kehadiran itu menekan, seperti yang diinginkan Marcus—seolah ia masih bisa mengendalikan ruang.
“Kau percaya padaku, kan?” tanya Marcus pelan.
Pertanyaan itu datang terlambat. Bertahun-tahun terlambat.
“Tentu,” jawab Elena tanpa ragu di suara. Keheningan setelahnya adalah miliknya.
Marcus menghela napas, seolah beban besar baru saja dilepaskan. “Aku hanya ingin melindungimu.”
Elena menunduk. “Aku tahu.”
Ia tahu kalimat itu bohong. Dan Marcus tahu ia diterima.
*****
Beberapa menit kemudian, Marcus pergi ke kamar kerja. Elena tetap duduk, menghitung langkah hingga pintu terkunci. Ia menunggu sedikit lebih lama—waktu yang cukup agar kebiasaan kembali—lalu berdiri.
Di meja rias, ponselnya menyala dengan pesan baru.
Mereka mengubah cerita. Menyebut namamu.
Elena membaca dua kali. Tidak ada emosi yang melonjak. Hanya penyesuaian rencana.
Ia membalas. Biarkan. Aku siap.
*****
Keesokan paginya, Selene datang membawa senyum yang dipaksakan. “Kau kelihatan lebih segar.”
“Tidurku nyenyak,” kata Elena. “Kau?”
Selene tertawa kecil. “Kurang.”
Elena menangkap getaran di suaranya. Ketegangan selalu bocor lewat hal-hal kecil. Cara jari mengetuk meja. Cara mata menghindari tatapan. Cara kata-kata dipilih terlalu hati-hati.
“Marcus banyak bekerja,” lanjut Selene. “Tekanan besar.”
Elena mengangguk. “Tekanan selalu menguji.”
Selene menatapnya sejenak. “Dan orang-orang yang tidak kuat… biasanya membuat kesalahan.”
Elena tersenyum samar. “Benar.”
*****
Malam turun lagi. Marcus kembali lebih larut, bau kopi dan lelah melekat. Ia berhenti di ruang tamu, menatap Elena yang duduk dengan buku tertutup di pangkuan.
“Kau membaca?” tanyanya.
“Aku mendengarkan,” jawab Elena. “Buku audio.”
Marcus tertawa singkat. Tidak tulus. “Tentu.”
Ia duduk, jaraknya lebih jauh dari semalam. Ada tembok tipis yang tumbuh di antara mereka. Elena merasakannya—dan membiarkannya mengeras.
“Besok ada rapat penting,” kata Marcus. “Aku mungkin butuh tandatanganmu lagi.”
Elena mengangguk. “Siapkan saja.”
Marcus bangkit, ragu, lalu pergi tanpa menyentuhnya.
Elena menutup buku. Dalam senyap, ia merasakan tekanan berpindah arah. Bukan lagi menekan dirinya—melainkan mereka.
Tekanan itu tidak akan berhenti.
Ia akan memaksa pengakuan.
Atau kehancuran.
Dan Elena siap menerima keduanya.
*****
Larut malam, Elena terjaga tanpa bergerak. Ia mendengar Marcus berbalik di ranjang, gelisah. Untuk pertama kalinya, pria itu tidak tertidur lebih dulu. Ketakutan membuat seseorang kehilangan kebiasaan paling dasar.
Elena mengingat masa lalu—hari-hari ketika ia mempercayai Marcus tanpa syarat, ketika nama Selene hanya lewat sebagai kolega. Kepercayaan itu kini terasa asing, seperti pakaian lama yang tak lagi muat.
Ia tidak membencinya dengan api.
Ia membencinya dengan dingin.
Pagi akan datang membawa rapat, tanda tangan, dan senyum palsu. Marcus akan berpikir semuanya masih bisa dikendalikan. Selene akan percaya ia masih unggul.
Mereka salah.
Karena Elena tidak lagi menunggu kebenaran muncul.
Ia sedang menuntunnya keluar—perlahan, pasti, dan tanpa belas kasihan.
Dan saat kebenaran itu akhirnya berdiri di tengah cahaya,
tidak ada satu pun dari mereka yang akan bisa berpaling.