NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dialog Sunyi dengan Langit

Di luar ruang ICU, Aira tidak lagi duduk bersimpuh dalam kehancuran. Ia berdiri di dekat jendela besar di ujung koridor yang menghadap ke arah timur. Langit masih hitam pekat, namun di ufuk terjauh, gari tipis warna abu-abu mulai membelah kegelapan.

Aira memejamkan matanya. Kali ini, ia tidak membayangkan kutukan, tidak juga membayangkan nisan. Ia membayangkan Kara yang sedang berdiri di tengah padang rumput yang luas, hanya perlu berbalik arah untuk pulang.

“Tuhan...” suara hati Aira mulai menggema, sebuah monolog yang selama ini tertahan oleh rasa benci pada diri sendiri. “Dulu aku mengutuk mataku. Aku menyebutnya racun. Aku menyebutnya maut. Tapi hari ini, aku memohon... jika memang ada kekuatan dalam pandanganku, biarlah kali ini kekuatan itu menjadi cahaya yang menuntunnya kembali.”

Aira menarik napas panjang, membiarkan oksigen rumah sakit yang dingin memenuhi paru-parunya.

“Aku tidak lagi meminta Engkau menyembuhkannya seperti sediakala dalam sekejap. Aku hanya meminta Engkau menguatkan jantungnya untuk satu detakan lagi. Lalu satu detakan lagi. Aku rida jika dia tetap dalam gelap, asalkan dia tetap bernapas di duniaku. Aku rida menjadi tongkatnya selamanya, asalkan tangannya masih bisa kurasakan hangatnya.”

Pikiran Aira kini jernih. Ia mulai menerapkan apa yang diajarkan Kiai Mansur. Ia berhenti menjadi hakim atas takdirnya sendiri.

“Kalau Kara adalah Matahari yang harus redup agar bintang-bintang lain terlihat, maka biarlah aku menjadi malam yang menjaganya. Aku tidak akan lagi menyebut cintaku sebagai belati. Cintaku adalah doa. Dan doa tidak pernah membunuh, doa hanya akan menyembuhkan—kalau bukan fisiknya, maka jiwanya.”

Genta yang memperhatikannya dari jauh merasa heran. Aira tidak lagi tampak seperti gadis yang sedang menunggu berita kematian. Ada aura ketenangan yang aneh menyelimuti bahunya yang kecil.

"Ra?" Genta menghampiri, menyodorkan segelas air mineral. "Lu nggak istirahat? Muka lu... tenang banget. Padahal dokter tadi bilang..."

Aira menoleh dan tersenyum tipis. Senyum yang membuat Genta tertegun karena tidak ada sisa ketakutan di sana.

"Gue baru sadar, Gen. Selama ini gue terlalu sombong karena merasa bisa nentuin hidup atau matinya Kara lewat 'kutukan' gue. Sekarang gue sadar, Kara itu milik Tuhan. Dan Tuhan nggak mungkin salah naruh dia di tangan gue."

Aira kembali menatap pintu ICU. "Gue punya firasat kuat, Gen. Kara lagi dengerin doa kita. Dia lagi nego sama takdirnya di dalem sana. Dan gue... gue cuma perlu percaya kalau 'Samudera' ini cukup luas buat menampung semua rasa sakitnya sampai dia tenang."

Di dalam hatinya, Aira terus berbisik, “Ayo, Kara. Satu napas lagi. Aku sudah menyiapkan cerita tentang warna subuh pagi ini untukmu.”

***

Genta tidak bisa hanya diam berdiri melihat ketenangan Aira yang begitu magis. Ia merasa harus melakukan sesuatu, sesuatu yang lebih besar dari sekadar menunggu di koridor yang pengap. Ia mengambil ponselnya, jarinya menari cepat di atas layar, mengirimkan pesan singkat ke grup koordinasi teman-teman sekolah mereka.

"Kara masuk fase paling kritis. Gue butuh kalian sekarang. Bukan di sini, tapi di mana pun kalian berada. Tolong, satu menit saja, doakan dia."

Genta kemudian berpamitan singkat pada Aira dan orang tua Kara. Ia melangkah keluar menuju masjid rumah sakit yang terletak di area parkir bawah. Di sana, ia bertemu dengan beberapa teman sekelas Kara yang ternyata sejak tadi menunggu di pelataran, tidak berani naik karena takut mengganggu.

"Gimana kondisi Pak Pres, Gen?" tanya salah satu teman dengan suara bergetar.

"Lagi berjuang," jawab Genta pendek. Ia duduk bersila di selasar masjid, diikuti oleh teman-temannya yang lain. "Gue cuma mau minta satu hal. Jangan bahas kutukan, jangan bahas penyakit. Kita cuma perlu minta sama yang punya nyawa supaya Kara dikasih kekuatan buat satu tarikan napas lagi."

Di bawah temaram lampu masjid, Genta dan belasan siswa berseragam itu menundukkan kepala. Mereka yang biasanya ribut dengan urusan tugas dan pertandingan basket, kini terdiam dalam satu frekuensi yang sama. Ada yang merapal doa dengan suara lirih, ada yang hanya memejamkan mata dengan kepalan tangan kuat, mengirimkan seluruh energi positif mereka menuju lantai empat, tempat Kara berada.

Suasana itu menciptakan sebuah harmoni spiritual yang tak kasat mata.

Di depan jendela besar rumah sakit, Aira masih berdiri tegak. Ia tidak lagi meminta kesembuhan yang mustahil, ia hanya membisikkan janji pada langit bahwa ia akan menjadi Samudera yang paling sabar jika sang Matahari memilih untuk pulang kembali ke pelukannya. Suara hatinya tenang, seiring dengan detak jantungnya yang kini berirama dengan harapan.

Di kursi tunggu ICU, Ibu dan Ayah Kara duduk bergandengan tangan. Ibu Kara yang biasanya perfeksionis dan keras, kini hanya bersandar pada bahu suaminya, bibirnya bergerak tanpa henti melantunkan doa-doa keselamatan yang dulu pernah ia ajarkan pada Kara saat kecil. Mereka melepaskan segala gengsi dan ambisi, hanya menginginkan anak mereka kembali membuka mata.

Di sudut mushola kecil di dalam RS, Kakek Kara bersujud sangat lama. Dalam sujudnya, ia menyerahkan seluruh garis keturunannya pada rida Tuhan, memohon agar cucu kesayangannya diberikan ketabahan untuk menerima takdir baru yang mungkin akan sangat berat.

Dan di luar sana, di masjid bawah, di kamar-kamar kos, hingga di rumah-rumah teman sekolah mereka yang jauh, Genta dan teman-temannya terus mengetuk pintu langit. Mereka menjadi saksi bahwa di balik sosok Kara yang hebat, ada begitu banyak hati yang mencintainya tanpa syarat.

Malam itu, meski raga mereka terpisah di berbagai sudut, doa-doa mereka terbang ke arah yang sama. Menjadi sebuah kubah cahaya yang memayungi Kamar ICU, menjaga nyala api kecil di dada Kara agar tidak padam oleh badai komplikasi yang sedang mengamuk.

1
nini
suka banget novel ini. Pilhan kata2nya unik tapi menarik dan biqin penasaran. Novel yg beda dgn yg lain. semoga ada karya baru lagi. semangat kakak 😊
𝓝𝓲𝔃𝓪𝓻𝓪𝓪: terimakasii, sehat-sehat yaaa 🤗🤗
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!